NovelToon NovelToon
THE FORGOTTEN PAST

THE FORGOTTEN PAST

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horror Thriller-Horror / Dark Romance
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Mapple_Aurora

Bagaimana jika kepingan masa lalu yang kamu lupakan tiba-tiba saja menarikmu kembali ke dalam pusaran kenangan yang pernah terjadi namun terlupakan?

Bagian dari masa lalu yang tidak hanya membuatmu merasa hangat dan lebih hidup tetapi juga membawamu kembali kepada sesuatu yang mengerikan.

Karina merasa bahwa hidupnya baik-baik saja sejak meninggalkan desa kecilnya, ditambah lagi karirnya sebagai penulis yang semakin hari semakin melonjak.

Namun ketika suatu hari mendatangi undangan di rumah besar Hugo Fuller, sang miliarder yang kaya raya namun misterius, membuat hidup Karina seketika berubah. Karina menyerahkan dirinya pada pria itu demi membebaskan seorang wanita menyedihkan. Ia tidak hanya di sentuh, namun juga merasa bahwa ia pernah melakukan hal yang sama meskipun selama dua puluh empat tahun hidupnya ia tidak pernah berhubungan dengan pria manapun.

*
karya orisinal

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mapple_Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 22

Karina mendongak menatap lubang diatasnya yang mulai tertutup kembali. Sesaat kemudian ia menarik lengan jubahnya yang terasa terlalu panjang, perlahan ia menuruni tangga batu dengan cahaya dari senter kecil di tangan kirinya.

Tangga-tangga batu itu agak berlumut, menandakan sudah cukup lama tempat ini tidak pernah dilalui oleh orang lain.

Setelah menapaki anak tangga terakhir, Karina tiba di sebuah lorong panjang yang sunyi dan mencekam.

“Gelap, pengap, dan menakutkan,” gumamnya pelan. Sambil menguatkan diri, ia melangkah ke depan.

Baru beberapa langkah berjalan, rasa mual tiba-tiba menyerang perutnya. Secara refleks, Karina menutup mulut dengan tangan kanan, menekannya kuat-kuat agar tidak muntah di tempat ini.

Namun…

Rasa mual itu datang begitu tiba-tiba, membuat langkah Karina terhenti. Dadanya terasa sesak, tenggorokannya panas, seolah ada sesuatu yang memaksa keluar. Ia membungkuk, satu tangan menahan dinding lorong yang dingin, sementara tangan lainnya tetap menutup mulutnya.

Namun tubuhnya tak lagi bisa diajak berkompromi.

Cairan hangat lolos di sela jemarinya saat ia terbatuk keras. Karina tertegun ketika menyadari warna merah pekat yang menodai telapak tangannya. Napasnya memburu, pandangannya berkunang-kunang. Setetes demi setetes darah jatuh ke lantai batu, suaranya menggema pelan di lorong sunyi itu.

“Muntah darah, lagi? Apa… yang sebenarnya terjadi padaku?” bisiknya lirih, suaranya bergetar.

Ia menyeka bibirnya dengan punggung tangan, tetapi noda merah itu hanya semakin memperjelas kenyataan yang tak bisa ia pahami. Dengan lutut yang melemah, Karina bersandar pada dinding, berusaha mengatur napas, sementara rasa dingin perlahan merayap naik ke tengkuknya membawa firasat bahwa apapun yang terjadi padanya, ini baru permulaan.

Karina bersandar di dinding lorong itu selama lebih dari sepuluh menit. Setelah rasa mualnya sedikit berkurang, ia kembali melangkah.

Ia menyusuri lorong panjang itu, sesekali menoleh ke belakang, takut ada yang mengikutinya.

Seperti yang dikatakan Ranra, saat tiba di persimpangan, Karina berbelok ke kiri. Sepanjang perjalanan, ia tidak menemukan halangan apa pun.

Meski jalannya terbuka, rasa mual di perutnya kembali menyerang. Beberapa suap darah lagi tumpah sebelum ia akhirnya sampai di ujung lorong, di mana terlihat tangga menuju atas—sepertinya inilah jalan keluar yang dimaksud Ranra.

“Kenapa aku terus muntah?” gumam Karina sambil duduk di anak tangga pertama, tubuhnya menggigil dan lemas. Dalam dinginnya malam di lorong bawah tanah itu, ia memeluk erat dirinya sendiri. Ia tidak ingin menangis, tapi air matanya jatuh begitu saja.

Ia tak tahu mengapa Hugo membawanya dan mengurungnya, atau apakah ia pernah bersalah di masa lalu padanya, sehingga Ranra bahkan mengatakan lebih baik Karina tidak mengingat apa pun.

Semakin Karina berusaha melupakan, semakin kuat dorongan dalam dirinya untuk mengingat.

Ia memeluk lututnya, menenggelamkan kepala, dan menangis tersedu-sedu, dada terasa semakin sesak.

Tangisnya baru berhenti ketika sepasang sepatu mungil muncul di depannya. Ia mengangkat pandangannya dan mata melebar melihat seorang anak kecil bergaun putih berdiri di sana.

“Kamu…?” bisik Karina sambil melirik ke belakang anak itu. Tidak ada siapa pun. Apakah anak ini datang sendiri? Atau Hugo yang menyuruhnya?

Anak itu tetap diam. Ia hanya menunjuk ke atas, pada sebuah kotak persegi. Jika kotak itu dibuka, Karina akan segera menemukan jalan keluar.

“Kamu memintaku cepat pergi?” Tanya Karina seraya mengusap sisa-sisa air matanya.

Anak itu mengangguk.

Tangan Karina terulur, menyentuh rambut cokelat lurus anak itu. Ia sendiri tidak tahu mengapa melakukannya, hanya saja, secara aneh, sentuhan itu membuat tubuhnya yang tadi lemas terasa lebih bertenaga.

“Kamu siapa? Kenapa kamu ada di sini?” tanya Karina, enggan meninggalkan anak itu sendirian.

Tidak ada jawaban. Anak itu hanya terus menunjuk ke atas. Saat matanya terus menatap ke atas, Karina pun ikut mendongakkan kepala.

Ya… ia harus segera pergi sebelum pagi datang. Ini satu-satunya kesempatan yang ia punya.

“Baiklah, aku per–” ucap Karina, terhenti seketika saat menunduk kembali. Anak itu sudah menghilang. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling.

Sunyi dan suram. Tidak ada tanda-tanda keberadaan anak itu, seolah ia tidak pernah ada, seolah sejak awal Karina memang hanya sendirian di sini.

“Aku pasti berhalusinasi karena terlalu lelah,” gumam Karina sambil menggeleng. Ia segera menaiki tangga; duduk terlalu lama di sini hanya akan membuatnya semakin linglung, bahkan bisa saja pingsan. Jika itu terjadi, harapannya untuk pergi akan musnah.

Saat tiba tepat di bawah kotak persegi itu, Karina menahan gemetar di tangannya dan mulai menggeser kotak ke samping. Kotak itu cukup berat, tapi ia terus mendorongnya, melebar, hingga cukup untuk dilewati tubuhnya.

Karina menarik napas dalam-dalam, merasakan gemetar di seluruh tubuhnya saat mulai merayap melewati celah yang terbuka oleh kotak persegi. Ternyata masih ada ruang lagi. Sempit dan gelap. Tangan dan lututnya menempel pada lantai dingin.

Hembusan nafasnya terdengar nyaring di lorong sempit itu, dan jantungnya berdetak kencang. Ia berusaha menenangkan diri, sambil mengingat petunjuk Ranra. Sebuah celah kecil terbuka di depan matanya, dan ia merangkak keluar dengan hati-hati.

Di luar, udara malam menyapa wajahnya. Cahaya pucat lampu menerangi halaman belakang rumah besar Hugo, dan pagar tinggi berdiri kokoh di sekitarnya. Karina menarik napas panjang, merasakan kebebasan yang beberapa waktu terakhir jarang ia rasakan.

Ia menatap sekeliling, memastikan tidak ada seorang pun yang melihatnya. Lalu, mengingat petunjuk Ranra, ia melangkah ke arah timur, mencari rumah tanpa pintu, satu-satunya tempat yang bisa membantunya.

Meski tubuhnya lelah dan perutnya masih mual, Karina merasa ada secercah harapan yang baru saja lahir. Ia berdiri lalu menguatkan kakinya untuk terus melangkah.

“Hai Karina,"

Karina terhenti seketika, suara itu berat dan terdengar dari arah samping. Ia tidak tahu harus menoleh dulu atau tetap jalan cepat ke depan.

...***...

...like, komen dan vote ...

1
Maya Sari
Sangat menarik,seru ceritanya,bikin penasarn.
Maya Sari
Ceritanya seru….apa ada kelanjutan nya kk?
Nda
apakah yg berdiri di seberang jln itu hugo
Nda
makin penasaran thor,jangan sampe karina ketahuan Hugo.
sudah brusaha utk keluar,Mlah harus balik lagi😩
Nda
double up donk thor🤭,makin penasaran😩
Nda
duhh.. makin penasaran,apa jgn² benar Hugo itu vampir
Nda
novelmu keren thor
Nda
ditunggu double up-nya thor
Nda
duh,tunggu kelanjutanya thor makin penasaran,apakah itu fto karina🤭
lisa_lalisa
duhh, makin penasaran 😞
Nda
sebenarnya Hugo manusia vampir atau kanibal
di tunggu double up-nya thor
Kevin
Next thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!