Lima tahun sudah Nadira menjalani sebuah pernikahan. Lima tahun pula rahimnya dijadikan bahan cibiran, saat setiap kali mertuanya melontarkan kata-kata tajam. Mandul. Wanita bermasalah.
"Mas, aku sudah lelah menghadapi ibumu yang selalu menuduhku mandul. Padahal kenyataannya kamu jarang menyentuhku. Apa kamu menyembunyikan sesuatu dariku?" (Nadira)
Namun respon Ardian membuat Nadira terdiam.
"Sudahlah Nadira, gak usah di dengarkan ucapan Ibu. Jadi sabar saja. Lagian aku gak pernah menyembunyikan apapun darimu." (Ardian)
Bersabar, katanya.
Tapi sampai kapan kesabaran itu bisa bertahan?
Apakah dibalik ucapannya, Ardian menyembunyikan sebuah rahasia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah Yang Layak
Angin sejuk pagi itu menusuk tulang, meski matahari telah bertajuk di ufuk sana. Suara pedagang, derit sepeda, dan aroma tanah basah menyambutnya.
“Eh, Nadira. Tumben pulang ke kampung,” sebuah suara menyapa, bernada tajam. “Aku kira kamu sudah kayak kacang lupa kulitnya.”
Langkah Nadira terhenti.
Ratna.
Anak dari adik bapaknya. Sejak dulu, tatapan itu selalu sama. Datar, menyimpan dengki iri hati, yang tak suka yang tak pernah disembunyikan.
Nadira mengangkat wajah, senyum tipis terukir. “Enggak, Ratna. Aku sibuk, jadi jarang pulang.”
“Sibuk apa memangnya?” Ratna menyeringai. “Kamu kan cuma istri orang kaya, pastinya menghabiskan uang suamimu.”
“Aku buka usaha rumah makan. Jadi gak bisa sering ditinggal," ucap Nadira.
Ratna mendengus kecil. “Buat apa punya suami kalau masih kerja keras?”
Nadira menyilangkan tangan di depan dada. “Apa salahnya perempuan punya uang sendiri? Bangun usaha sendiri?” Ucapannya ringan, tapi tegas. “Biar gak bergantung penuh. Takutnya kalau suatu hari berpisah, gak kalang kabut.”
Ratna terdiam sesaat. Bibirnya bergerak, lalu tersenyum miring. “Oh… aku baru ingat.” Tawanya terdengar mengejek. “Kamu siap-siap begini karena belum punya anak, ya? Jadi kalau diceraikan, gak perlu repot cari uang lagi.”
Ada panas yang naik ke dada Nadira, tapi ia menahannya. Tatapannya lurus. “Kalau gak tahu apa-apa soal rumah tanggaku, lebih baik diam. Urus saja hidupmu sendiri. Hidup orang lain gak perlu ikut kamu atur.”
Ia berbalik pada abang tukang sayur. “Bang, berapa semuanya?”
“Dua ratus ribu.”
Kening Nadira berkerut. “Bang, saya belanja sedikit.”
Abang itu menghela napas. “Ibunya Neng kasbon berkali-kali, Neng. Katanya nanti dibayar.”
Degh.
“KASBON?”
“Iya, mau bayar apa enggak ini?”
Tatapan Nadira tak sengaja menoleh ke arah Ratna.
Ratna tampak gelagapan. Tatapannya beralih. “K-kenapa lihat-lihat?” Ia buru-buru menyodorkan uang. “Bang, ini saya bayar.” Lalu melangkah pergi terburu-buru, meninggalkan lembaran lima puluh ribu.
Pandangan Nadira mengikuti punggung itu sampai menghilang di tikungan.
“Neng, mau dibayar atau dikasbonkan?” tanya abang tukang sayur.
Nadira tersadar. Ia menatap pedagang itu. “Bayar semua, Bang. Tambah daging ayam, bayam, sama gambas.”
“Total dua ratus dua puluh lima.”
Nadira menyerahkan uang. “Ambil saja kembaliannya.”
Ia mengangkat kantong belanja, lalu berbalik pulang. Meski ia masih curiga dengan gelagap Ratna.
Tiba di rumah, Nadira berhenti di halaman. Pandangannya menyapu bangunan itu, dinding yang sama, atap yang sama. Tak ada perubahan berarti.
“Nduk, sudah belanjanya?” suara ibunya terdengar dari teras.
Nadira menoleh. Bu Rohiyah duduk di kursi kayu, tangannya memegang dada, batuk berat memecah suasana.
“Iya, Bu.” Nadira melangkah mendekat. “Bu, Dira mau tanya.”
“Tanya apa?”
“Bu... Bukannya aku sudah kirim uang? Harusnya cukup buat renovasi rumah ini.”
Bu Rohiyah menggeleng pelan. “Uang segitu lebih baik buat makan dua minggu.”
Langkah Nadira terhenti. “Dua minggu?” alisnya berkerut.
“Iya. Kalau uangnya habis, ibu sama bapak biasanya meramban. Ke sawah cari keong, kadang belut buat lauk makan.”
Napas Nadira tertahan. “Loh, kenapa begitu, Bu? Uang yang Nadira kirim harusnya cukup untuk berbulan-bulan.” Suaranya merendah. “Tadi abang tukang sayur nagih kasbon sampai seratus lima puluh ribu.”
Bu Rohiyah menatapnya bingung. “Kasbon apa, Nduk? Ibu gak pernah kasbon sebanyak itu. Paling lima ribu buat ikan asin atau ikan teri, itu pun selalu ibu bayar kalau Ibu ada uang.”
Lutut Nadira melemah. Ia terduduk di bangku. “Jadi… ibu pegang uang berapa selama ini?”
“Seratus ribu,” jawab Bu Rohiyah lirih. “Kata Ina, itu uang dari kamu.”
Kepala Nadira menggeleng perlahan. “Nadira gak pernah kirim segitu, Bu.” Tenggorokannya tercekat. “Nadira kirim enam juta.”
Bu Rohiyah terdiam. “Enam juta?”
Nadira mengangguk dan menatap ibunya yang jelas tak tahu apa-apa.
“Jadi selama lima tahun…” suara Nadira melemah, “ibu cuma pegang uang segitu?”
Tak ada jawaban.
Nadira bangkit. Rahangnya mengeras. “Dira akan ke rumah Bu Lek Ina sekarang, buat nanyain kemana semua uang yang Dira kirim.”
Bu Rohiyah buru-buru berdiri, meraih lengan Nadira. “Nduk, jangan. Sudah biarkan saja. Ibu gak apa-apa. Mungkin memang bukan rezeki ibu sama bapak.”
“Enggak, Bu.” Nadira melepaskan pegangan itu perlahan. “Ini gak benar.”
Ia melangkah pergi, langkahnya cepat, dadanya bergemuruh.
Selama lima tahun ini, uang itu selalu ia titipkan pada orang yang sama. Entah berapa banyak yang telah menguap tanpa pernah sampai ke tangan orang tuanya.
Tak lama, langkah Nadira melambat, lalu berhenti. Tatapannya tertumbuk pada rumah di hadapannya, dulu rumah itu seperti gubuk reyot. Sekarang... Rumah itu berdiri jauh lebih layak dibanding rumah kedua orang tuanya.
Matanya memerah. Rahangnya mengeras.
Langkahnya kembali bergerak.
Brak.
Tangannya menyapu meja kecil di ruang tamu. Perabotan terjatuh berserakan.
“Keluar!”
Suara panik terdengar. “Ada apa ini—” Bu Lek Ina terhenti saat melihatnya. “N-Nadira? Kamu sudah pulang? A-ayo, duduk dulu.”
“Gak perlu!” suara Nadira meninggi. “Gak perlu basa-basi Bulek, kemana uang yang aku kirim buat ibu sama bapak? Kata bulek hidup mereka sudah layak. Tapi kenapa gak ada yang berubah?”
Wajah Bu Lek Ina menegang. “Kamu ngomong apa? Uang itu sudah bulek kasih. Pasti orang tuamu boros.”
Nadira tertawa pendek, pahit. “Boros?” Matanya menyapu seisi rumah. “Kalau boros, rumah ibu bapak sudah layak. Ibu saya pakai baju bagus, bukan tambalan.”
Ratna maju satu langkah. “Kamu nuduh ibuku tilap uang? Ada bukti? Mentang-mentang jadi istri orang kaya, seenaknya nuduh.”
“Aku gak nuduh,” balas Nadira datar. “Aku mempertanyakan.” Tatapannya tajam. “Soal bukti, aku bisa cari. Aku punya kenalan di kota.”
Gugup itu terlihat. Terlalu jelas. Napas Nadira terasa sesak.
“Terus kamu mau apa?” suara Ratna meninggi. “Minta dikembalikan? Gak akan, mau nagih seribu kali ke kami. Gak akan kami kasih.”
Nadira mengangguk pelan. “Gitu ya?” ia tersenyum miring. “Kalau begitu, aku akan pakai caraku sendiri untuk merebut kembali.”
“Coba saja kalau bisa, saya tunggu!” seru Bulek Ina.
Nadira berbalik. Langkahnya cepat, dadanya naik turun bersama langkahnya menjauh dari rumah itu.
...
Langkah Nadira melambat saat pekarangan rumah itu kembali menyambutnya.
Di dalam, ibu dan bapaknya sudah duduk di ruang tengah.
“Nduk…”
Nadira berhenti melangkah. Pandangannya tertahan pada pakaian yang mereka kenakan. Kusam, lusuh. Matanya terasa panas.
Ia mendekat. “Ayo, Pak, Bu. Kita pindah dari sini. Ikut Nadira ke kota.”
Pak Salim menggeleng pelan. “Kami nyaman di sini, nduk.” Senyum tipis terbit di wajahnya. “Kami gak mau nyusahin kamu. Apalagi kamu sudah menikah.”
“Pak…” suara Nadira melemah.
“Iya, benar kata bapakmu,” sambung Bu Rohiyah pelan. Tangannya meremas ujung kain sarung. “Ibu sama bapak sudah terbiasa begini.”
Nadira menunduk. Dadanya terasa penuh. Ada banyak kata yang ingin keluar, tapi tertahan di tenggorokan. Matanya kembali basah, menatap kedua orang tuanya yang tetap memilih bertahan dalam sederhana, seolah semua yang terjadi selama ini tak pernah melukai mereka.
Nadira menunduk sejenak. Napasnya diatur pelan, lalu ia mengangkat wajah, menatap kedua orang tuanya bergantian. Jemarinya merogoh ponsel, satu nama ia tekan.
Tak lama sambungan terhubung.
“Assalamualaikum, Bu. Apa benar ibu yang menjual rumah di dekat sawah?”
“Iya, ada apa?”
“Saya Nadira, anak Pak Salim dan Bu Rohiyah. Saya mau beli. Berapa pun harganya.”
“Enam puluh jutaan. Rumahnya gak terlalu besar, Mbak. Mau lihat?”
Nadira menatap ibu dan bapaknya sekilas. Ada ragu di mata mereka. Ia kembali fokus pada ponsel. “Kirim saja fotonya. Hari ini kami pindah ke sana.”
“Baik.”
Sambungan terputus. Hening menyusup ke ruang tengah. Nadira menggenggam ponsel itu erat, menunggu.
Tak lama, layar menyala. Beberapa foto masuk berurutan. Sebuah rumah berdiri rapi, dindingnya bersih, atapnya utuh, halaman kecil dengan pagar sederhana. Layak. Nyaman.
Dada Nadira menghangat. Ia mengangkat ponsel itu, memperlihatkannya pada kedua orang tuanya.
“Kita pindah,” ucapnya pelan, namun pasti.
Bu Rohiyah terdiam, matanya berkaca-kaca. Pak Salim menghela napas panjang, seolah beban bertahun-tahun luruh perlahan.
...
Langkah mereka berhenti di depan rumah baru itu. Seorang perempuan paruh baya menyambut dengan senyum ramah.
“Silakan masuk, Mbak.”
Nadira mengangguk. Tatapannya menyapu halaman, lalu beralih pada berkas yang disodorkan.
“Saya beli langsung saja,” ucapnya tenang. “Saya transfer sekarang, tanpa cicil.”
“Baik, silakan ditandatangani.”
Pulpen itu bergerak di tangannya. Nama Nadira tercetak rapi sebagai pemilik rumah. Bukan atas nama ibu atau bapaknya, untuk antisipasi. Ia tak ingin rumah ini bernasib sama seperti uang yang selama ini ia kirim.
“Kalau ada masalah, tinggal hubungi saya saja, ya,” ucap pemilik rumah.
Nadira mengangguk.
Setelah semua selesai, ia berbalik menatap kedua orang tuanya yang masih berdiri canggung di ambang pintu.
“Ayo masuk, Pak. Bu. Ini rumah kalian.”
“Nduk…” suara Bu Rohiyah bergetar.
“Sudah, gak apa-apa,” potong Nadira lembut. “Aku punya banyak uang, jadi tenang saja.”
...****************...
“Bertahun-tahun kepercayaan menjelma kenyamanan bagi yang salah, sementara yang berhak tetap bertahan dalam kekurangan.”