Di sudut sepi Yogyakarta, di bawah naungan pohon beringin yang tua, terdapat sebuah warung tenda yang tidak terdaftar di peta manapun. Warung itu tidak memiliki nama, tidak memiliki daftar harga, dan hanya buka ketika lonceng tengah malam berdentang.
Pemiliknya adalah Pak Seno, seorang koki bisu dengan tatapan mata setenang telaga namun menyimpan ribuan rahasia. Pelanggannya bukanlah manusia yang kelaparan akan kenyang, melainkan arwah-arwah gentayangan yang kelaparan akan kenangan. Mereka datang untuk memakan "hidangan terakhir"—resep dari memori masa hidup yang menjadi kunci untuk melepaskan ikatan duniawi mereka.
Kehidupan sunyi Pak Seno berubah ketika Alya, seorang gadis remaja yang terluka jiwanya dan berniat mengakhiri hidup, tanpa sengaja melangkah masuk ke dalam warung itu. Alya bisa melihat mereka yang tak kasat mata. Alih-alih menjadi santapan makhluk halus, Alya justru terjebak menjadi asisten Pak Seno.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3: Bumbu dari Pasar Bubrah
Mencuci piring di warung hantu ternyata tidak semengerikan bayangan Alya. Justru sebaliknya, ada sesuatu yang terapeutik dari kegiatan itu.
Alya duduk di dingklik (kursi kecil) di belakang gerobak, menghadap dua ember besar. Satu berisi air sabun, satu berisi air bilasan. Anehnya, air di ember itu tidak pernah dingin meski udara malam Kotagede menusuk tulang. Airnya hangat suam-suam kuku, dan sabun cuci piringnya tidak berbau jeruk nipis kimiawi, melainkan berbau bunga kenanga yang lembut.
Setiap kali Alya menggosokkan spons ke piring kotor bekas hantu, noda lemak dan sisa makanan langsung luntur tanpa perlu tenaga ekstra. Dan yang lebih ajaib, rasa perih di luka sayatan pergelangan tangannya perlahan mereda setiap kali terkena air bilasan itu.
"Air apa ini?" gumam Alya, menatap pantulan wajahnya yang berantakan di permukaan air ember. "Rasanya kayak air doa."
Tring!
Lonceng kecil di gerobak berbunyi. Bukan tanda ada tamu, tapi tanda pengiriman barang.
Alya menoleh. Dia melihat sesuatu—atau seseorang—muncul dari balik batang pohon beringin.
Makhluk itu tingginya hanya sepinggang orang dewasa. Punggungnya bungkuk, kulitnya keriput seperti kulit salak, dan dia memakai caping lebar yang menutupi wajahnya. Dia memanggul keranjang anyaman bambu yang terlihat sangat berat di punggungnya.
Alya sontak mundur, nyaris menendang ember cucian. "Pak... itu..."
Seno menoleh, lalu melambaikan tangan dengan santai, mengisyaratkan bahwa makhluk itu tidak berbahaya. Seno mengambil sekantong uang koin dari laci—koin bolong jaman dulu, kepeng Cina, dan benggol Belanda—lalu menghampiri makhluk kerdil itu.
Makhluk itu menurunkan keranjangnya di atas lincak. Dia membuka capingnya sedikit, memperlihatkan sepasang mata kuning yang bersinar dan hidung panjang yang berkedut-kedut.
"Pesanan khusus, Koki Seno," suara makhluk itu terdengar seperti gesekan dua batu kali. "Langsung dipetik dari lereng Merapi sebelum kabut turun."
Seno mengangguk, menyerahkan kantong koin itu. Makhluk itu menerimanya, menghitungnya dengan cepat, lalu menyeringai lebar memperlihatkan gigi-gigi runcingnya yang jarang.
"Pas. Senang berbisnis denganmu. Hati-hati, malam ini 'Dia' sedang patroli mencari mangsa."
Setelah memberikan peringatan misterius itu, makhluk kerdil itu memakai kembali capingnya, mengangkat keranjang kosongnya, dan berjalan mundur ke dalam kegelapan. Dalam tiga langkah, dia lenyap ditelan bayangan pohon beringin.
Alya masih mematung dengan piring basah di tangan.
"Itu... siapa?"
Seno mengambil kapur tulisnya.
KURIR PASAR BUBRAH. SUPARDI NAMANYA.
"Pasar Bubrah?" Alya pernah mendengar mitos itu. Pasar gaib di gunung Merapi. "Jadi Bapak belanja bumbu di sana?"
Seno mengangguk. Dia mulai membongkar isi keranjang anyaman yang ditinggalkan Supardi tadi.
Alya mendekat, rasa ingin tahunya mengalahkan rasa takutnya.
Isi keranjang itu bukan sayuran biasa.
Ada cabai rawit, tapi warnanya bukan merah atau hijau, melainkan ungu gelap. Saat Seno mengangkatnya, cabai itu berpendar redup dalam gelap.
Ada juga ikatan daun yang mirip kemangi, tapi baunya seperti hujan pertama yang jatuh ke tanah kering (petrichor).
Lalu ada toples kaca berisi butiran kristal putih.
"Itu garam?" tanya Alya.
Seno menggeleng. Dia menulis lagi:
KRISTAL AIR MATA JANDA. PENGGANTI GARAM UNTUK MASAKAN YANG BUTUH RASA PAHIT.
Alya menelan ludah. "Bapak masak pakai air mata?"
Seno tersenyum misterius. Dia mengambil sebutir 'garam' itu, lalu menempelkannya ke ujung lidah Alya dengan cepat.
Alya kaget. Rasa asin meledak di mulutnya, diikuti rasa sedih yang tiba-tiba menyesakkan dada, seolah dia baru saja kehilangan seseorang yang dicintai. Alya terbatuk, matanya berair.
"Pahit..." Alya mengusap lidahnya.
Seno tertawa tanpa suara—bahunya berguncang. Dia menuangkan segelas air putih hangat untuk Alya.
MAKANAN DI SINI BUKAN UNTUK MENGENYANGKAN PERUT, TAPI UNTUK MENYENTUH JIWA. BUMBUNYA HARUS SESUAI EMOSI.
Seno menata bumbu-bumbu ajaib itu ke dalam rak gerobaknya. Dia memperlakukan bahan-bahan itu dengan hormat, seolah mereka adalah permata berharga.
Setelah semua rapi, Seno menatap Alya serius. Wajahnya yang biasanya tenang kini terlihat tegas. Dia menunjuk papan tulis hitam yang tergantung di tiang tenda, di samping menu kosong.
Seno menghapus tulisan lama, lalu menulis tiga baris kalimat dengan huruf kapital besar.
ATURAN KERJA:
1. JANGAN PERNAH TANYA NAMA TAMU. MEREKA SUDAH LUPA, JANGAN DIPAKSA INGAT.
2. JANGAN PERNAH MENCICIPI MAKANAN PESANAN TAMU. MAKANAN ITU KHUSUS UNTUK YANG MATI. BAGI YANG HIDUP, ITU RACUN.
3. JANGAN KELUAR DARI AREA TENDA SEBELUM AYAM BERKOKOK. DI LUAR SINAR LAMPU INI, KAMU TIDAK DILINDUNGI.
Alya membaca aturan itu satu per satu. Bulu kuduknya meremang saat membaca poin ketiga. Dia menatap batas cahaya lampu senthir di tanah. Di luar lingkaran cahaya kuning itu, malam tampak pekat dan... bergerak. Bayangan pohon beringin seolah memiliki mata yang mengawasi mereka.
"Kalau saya melanggar?" tanya Alya pelan.
Seno tidak menulis apa-apa. Dia hanya membuat gerakan tangan memotong leher, lalu menunjuk ke langit. Kamu lewat.
Alya mengangguk kaku. "Oke. Paham. Jangan keluar tenda."
Jam berdentang tiga kali. Pukul 03.00 dini hari.
Waktu paling rawan. Jam di mana batas dunia paling tipis.
"Pak," panggil Alya. Dia melihat Seno sedang mengiris bawang merah biasa (untuk campuran). "Sebenarnya Bapak ini siapa? Kenapa Bapak jualan buat hantu? Bapak... manusia kan?"
Pertanyaan itu membuat gerakan pisau Seno terhenti sejenak.
Dia menatap Alya. Tatapannya dalam dan sunyi, seperti laut yang menyimpan bangkai kapal. Ada rasa lelah ribuan tahun di sana.
Seno tidak menjawab. Dia kembali mengiris bawang, kali ini lebih cepat, seolah ingin melupakan pertanyaan itu.
Tiba-tiba, angin berhenti berhembus. Daun-daun beringin diam mematung. Suara jangkrik lenyap.
Kesunyian total.
Dari kejauhan, terdengar suara gemerincing gelang kaki.
Cring... cring... cring...
Suaranya halus, tapi semakin mendekat. Disertai bau melati yang sangat menyengat, bercampur bau anyir darah.
Seno langsung meletakkan pisaunya. Dia mematikan api kompor seketika.
Dia memberi isyarat pada Alya: Duduk. Tunduk. Jangan menatap mata.
Tamu berikutnya datang. Dan dari reaksi Seno yang tegang, Alya tahu ini bukan hantu mahasiswa atau tukang becak yang ramah. Ini sesuatu yang lain. Sesuatu yang tua dan berbahaya.
Seorang wanita berkebaya hijau lusuh berdiri di depan tenda. Dia cantik, luar biasa cantik, tapi punggungnya bolong, memperlihatkan organ dalam yang berdenyut busuk.
Sundel Bolong.
Wanita itu tidak berjalan masuk. Dia melayang.
Dia menatap Alya yang menunduk gemetar.
"Anak baru, Seno?" suaranya mendesis, manis tapi berbisa. "Baunya segar. Masih ada keinginan mati yang kuat di darahnya."
Seno melangkah maju, menghalangi pandangan hantu itu ke Alya. Dia menepuk meja pelan, meminta pesanan.
Hantu wanita itu tertawa kecil. "Sate gagak. Tujuh tusuk. Jangan matang-matang."
Seno mengangguk kaku. Dia kembali ke panggangan.
Alya memeluk lututnya di bawah meja cuci piring, menahan napas, berharap ayam jantan segera berkokok. Pekerjaan barunya ternyata jauh lebih menantang daripada sekadar mencuci piring kotor.
...****************...
...Bersambung.......
...Terima kasih telah membaca📖...
...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...
...****************...
terselip rasa kekeluargaan tanpa mereka sadari.
petualangan batin dan raga yang harus selalu bisa menempatkan diri, singkirkan keangkuhan,keserakahan dan hubungan yang erat saling melengkapi,menjaga dan empati serta simpati yang tinggi.👍
menunggu datang nya tamu wanita dlm foto itu
alya 😂
3 hari dalam ambang batas dunia nyata dan maya
belajar berdampingan
menghantarkan mereka pulang
mungkin hal yang tak pernah terpikirkan.
3 hari menyulam asa, dari keputus asaan.
haru, sedih dan gembira berbaur
ilmu yang berat baru saja terlewati
IKHLAS
jago sekali anda merayu eyang banaspati, amarah melunak ,melebur dalam cita rasa ,aroma khas nusantara.
kereen thor, tetap semangat yaa mengetik karya indah.
menyusun kalimat perkata dengan ketelitian ekstra
sepanjang apik runut no typo
ciamik
endah thor, ora bakal cukup ratusan mangsi
horor tapi beda, auranya gak menakutkan.
perjuangan remaja putri yang merasa tidak dapat kasih sayang ,kenyamanan hidup bersama keluarga.
diambang putus asa malah ketemu sosok misterius yang terbelenggu perjanjian , pertukaran nyawa demi sang terkasih, meski tragis ...
pada akhirnya cinta tak berpihak padanya.
hanya bisa memandang dari kejauhan.
ketulusan kasih tanpa perhitungan .
memendam bara asmara seorang diri ,menuangkan rasa lewat cita masakan ,walau beda alam.
semoga di penghujung pak seno bisa menemukan kebahagiaan sejati..
bersama alya saling membantu terlepas dari kerumitan sebuah janji
adakah semua ini terinspirasi dari sana thor? atau hanya suatu kebetulan belaka?
tapi kepala yang ditanam di undakan itu desas desusnya adalah seorang penghianat? benarkah ? atau hanya cerita dongeng untuk kita selalu bersikap baik ,tulus? sebab konon barang siapa yang menginjak undakan yang ada kepalanya itu sudah dianggap menginjak nginjak harga diri sebagai hukuman sang kepala?
yang memberi pelajaran berharga buat alya.
seburuk apapun keluarga adalah tempat pulang.
tempat yang nyaman dibanding keganasan hidup diluaran.