Nethaniel adalah pria muda tampan, sukses, dan berkarisma. Lahir di tengah keluarga konglomerat dan hidup berkelimpahan. Namun ada yang kurang dan sulit diperoleh adalah pasangan hidup yang tulus mencintainya.
Ketika orang tua mendesak agar segera berkeluarga, dia tidak bisa mengelak. Dia harus menentukan pilihan, atau terima pasangan yang dipilih orang tua.
Dalam situasi terdesak, tanpa sengaja dia bertemu Athalia, gadis cantik sederhana dan menarik perhatiannya. Namun pertemuan mereka membawa Nethaniel pada pusaran konflik batin berkepanjangan dan menciptakan kekosongan batin, ketika Athalia menolaknya.
》Apa yang terjadi dengan Nethaniel dan Athalia?
》Ikuti kisahnya di Novel ini: "I Miss You Because I Love You."
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14. IMU coz ILU
...~•Happy Reading•~...
Ethan berjalan mendekati jendela dan berdiri lama di sana tanpa mengangkat krei. Sambil memasukan tangan di saku, dia terus berpikir tentang perubahan hatinya setelah bertemu Athalia.
'Kenapa bertahan jadi Niel? Jadilah Ethan, supaya bisa bertemu dengannya kapan saja.' Terdengar sayup-sayup bisikan dari dalam hatinya.
'Bisa bertemu kapan saja, tapi sesuatu yang dipaksakan tidak baik untuk kesehatan hati.' Ada suara lain yang menjawab.
Ethan terus berdialog dengan hatinya. Dia jadi khawatir respon Athalia, jika mengetahui nama aslinya. Sehingga walau sudah duduk di kursi kerja, dia tidak bisa bekerja, hanya duduk memandang layar laptop tanpa berpikir apa yang harus dikerjakan.
Ketika Rion masuk untuk melihatnya, Ethan tersentak. "Pak, mau makan di sini atau di luar?"
"Oh, sudah siang? Di sini saja. Saya tidak suka keluar." Ethan menyandarkan punggung dan menarik nafas panjang.
Hal yang sama terjadi dengan Athalia. Dia hanya menitip makan siang kepada Alea yang akan keluar, karena suasana hatinya sangat tidak baik.
~••~
Menjelang pulang kantor, Alea mendekati Athalia yang masih serius melihat layar komputer dan mengetik. "Talia, belum mau pulang? Ini sudah teng, loh." Bisik Alea sambil menepuk bahu Athalia.
"Belum Lea, kau pulang duluan, ya. Aku ngga enak pulang teng. Secara tadi masuk terlambat." Athalia meminta pengertian Alea. Dia tidak mau dianggap tidak tahu diri. Mentang-mentang tidak dimarahi, jadi seenaknya. Pulang tepat waktu seperti karyawan lain yang masuk tepat waktu.
"Sorry, aku ngga bisa temani. Sudah terlanjur janjian. Padahal, aku ingin sekali mengantarmu pulang, tapi sayang, harus duluan dan ngga ada helm." Bisik Alea sambil mengusap punggung Athalia, karena tahu dia sedang terbebani oleh sesuatu yang tidak bisa ditebak.
"Makasih, Lea. Tempat tinggalku dekat dari sini dan cuaca lagi baik. Aku mau naik ojol aja." Athalia menepuk tangan Alea.
"Sorry, aku ngga bisa cerita penyebab terlambat." Athalia melanjutkan dan berharap, Alea bisa mengerti.
"Ngga pa'pa. Tenang saja. Tapi kalau ada persoalan, jangan simpan sendiri." Alea mengingatkan.
"Iya, Lea. Makasih. Sampe besok."
"Sampe besok." Ucap Alea, lalu keluar meninggalkan Athalia yang kembali bekerja.
Athalia merasa sedikit lega, melihat beberapa karyawan masih bekerja, belum pulang, jadi ada teman. Walau itu Marci dan Sita, Athalia tetap bersyukur.
"Athalia, belum pulang?" Tanya supervisor yang keluar dari ruang kerja untuk pulang.
"Sebentar lagi, Pak." Ucap Athalia.
"Ayo pulang semua. Hari ini tidak ada yang boleh lembur." Supervisor yakin, Athalia sengaja pulang lebih lambat, karena terlambat masuk kerja.
Perintah supervisor tegas, sehingga semua karyawan yang masih tinggal jadi merapikan tas dan pulang. "Selamat sore, Pak." Mereka pamit lalu keluar ruangan. Begitu juga dengan Athalia. Dia segera merapikan meja dan mematikan komputer.
"Talia, pulang naik apa?" Tanya Tony yang berada di belakangnya.
"Ojol, Mas." Athalia menengok.
"Ehm, ehm. Ada yang pedekate..." Terdengar suara Sita berdehem.
"Sita, perlu amplas buat tenggorokanmu?" Tanya Tony santai. Sita mencibir kepadanya.
"Sorry, Talia. Aku ngga punya helm gandeng."
"Ngga apa, Mas. Bang ojol punya helm gandeng." Athalia jadi tersenyum melihat Tony berikan jempol.
"Talia, akhirnya bisa bertemu denganmu. Aku mencarimu beberapa hari ini. Aku kira kau sudah tidak kerja di sini." Sapaan tiba-tiba membuat Athalia terkejut. Dia melihat Hendry berjalan mendekat, seakan mereka akrab.
Tony yang mengira Hendry adalah pacar Athalia, jadi berjalan cepat menjauh. Padahal Athalia mau minta tolong, agar dia tidak berbicara dengan Hendry.
Marci dan Sita yang masih ada di belakangnya, makin berdehem dan hampir tertawa melihat Tony berjalan cepat.
Athalia terjebak dan tidak bisa menghindari Hendry. "Mari, aku antar pulang." Ajak Hendry percaya diri, seakan Athalia sudah menerima mau berteman dengannya.
"Talia, sudah siap?" Di menit yang sangat krusial, dia mendengar suara yang dikenal. Athalia segera menengok ke kiri.
"Iya, Mas. Sudah." Jawab Athalia lembut.
"Eh, anda siapa? Main tikung." Hendry jadi Emosi melihat respon Athalia berbeda pada Ethan yang berjalan mendekat.
"Siapa? Pacarmu?" Ethan tidak menanggapi Hendry, tapi bertanya kepada Athalia yang menatapnya dengan mata berbinar. Athalia menggeleng dan memberikan isyarat minta tolong dengan matanya.
"Kalau anda bukan pacarnya, tidak ada tikung- menikung..." Ucap Ethan cuek.
Sikap Ethan dan Hendry kepada Athalia membuat Marci dan Sita gatal lidah. "Mba Marci, ada yang laris manis." Sindir Sita.
Sebelum Marci membalas, Ethan menatap tajam. "Ada yang jualan di sini?" Bentak Ethan, karena melihat tatapan sinis mereka kepada Athalia.
"Ayo, pulang." Ethan mengajak Athalia sambil menggerakan tangan, seakan mereka sepasang kekasih.
Sontak Athalia memegang siku Ethan. "Apa saya pegang white cane?" Bisik Ethan.
"Lagi urgent, Pak. Jangan bercanda." Athalia balik berbisik.
"Kenapa ganti? Ke mana Masnya tadi?" Athalia makin mempererat pegangannya pada siku Ethan. Hal itu membuat Ethan hampir tertawa.
Athalia tidak berani melepaskan tangan dari siku Ethan, karena tahu sedang diperhatikan Hendry dari belakang. Suaranya terdengar jelas berbicara dengan sopir, minta dijemput.
Ethan bersyukur, sudah kirim pesan kepada sopir sejak masih di lift. Jadi dia tidak perlu mengeluarkan ponsel atau menunggu.
"Ya, cuma segitu, mau pamer gandengan." Hendry tidak melepaskan Ethan, karena melihat mobil yang menjemputnya biasa-biasa saja. Mobil yang dijuluki mobil sejuta umat.
Sehingga dengan pongah dia berjalan ke mobil inov yang sudah menunggunya di belakang mobil avans Ethan.
Dia masuk ke mobil lalu membuka jendela kaca. "Mau nikung, modal cuma segitu. Modal tampang Haha..." Hendry tertawa sambil memandang rendah Ethan, lalu menaikan kaca mobil.
Ethan cuek, seakan tidak mendengar. "Silahkan naik." Ethan menggerakan tangan mempersilahkan Athalia naik.
"Orang itu kenapa? Mentang-mentang..." Athalia tidak meneruskan.
"Orang mana?"
"Pak Hendry itu, Pak."
"Oh, dia, orang. Saya kira orang-orangan. Anda tahu namanya?"
"Tahu dari temannya yang panggil namanya..." Athalia menjelaskan pelan, karena mendengar nada tidak suka Ethan.
"Lain kali, mau diajak orangan itu ke mana pun, jangan ikut." Ucap Ethan tegas, karena dia tahu maksud terselubung Hendry mendekati Athalia.
"Iya, Pak. Terima kasih." Sikap Ethan membuat Athalia tidak berani berkata tidak sopan. "Oh iya, Pak. Saya turun di depan, ya." Ethan terkejut. "Kenapa?"
"Saya sudah pesan ojol, Pak."
"Cancel saja. Kami antar pulang."
"Tidak enak, Pak. Ojolnya sudah tunggu dari tadi."
"Bayarin saja. Biarkan dia cari penumpang lain."
"Tidak usah, Pak. Saya naik ojol saja. Tapi bapak tolong tunggu sampe orangan itu jauh, ya. Supaya dia tidak lihat saya naik ojol."
"Baiklah." Ethan menyerah, karena melihat Athalia teguh, mau naik ojol.
"Kalau sudah tahu mau naik ojol, pakai jacket. Bukan pakai cardigan seperti mau jaring ikan. Ini, pakai." Ucap Ethan setelah mengambil jaketnya yang sering dipakai menyamar dari kursi belakang.
Athalia menerima dengan kedua tangan sambil menatap Ethan. "Makasih, Mas." Ucap Athalia pelan dengan mata berembun, menahan haru.
...~•••~...
...~•○♡○•~...