"Di kantor kita adalah rekan kerja, di rumah kita adalah orang asing, dan di ranjang... kita hanyalah dua raga yang tak punya jiwa."
Alsava Emily Claretta punya segalanya: jabatan tinggi sebagai COO Skyline Group, kecantikan yang memabukkan, dan status sebagai istri dari Garvi Darwin—sang "Dewa Yunani" sekaligus CEO perusahaan tempat ia bekerja. Namun, di balik kemewahan mansion Darwin, Sava hanyalah seorang wanita yang terkurung dalam kesepian.
Saat Garvi sibuk menjelajahi dunianya, Sava melarikan penatnya ke lantai dansa nightclub. Ia mengira hubungan mereka akan selamanya seperti itu—dingin, berjarak, dan penuh rahasia. Hingga suatu saat, rasa jenuh itu memuncak.
"Aku butuh hiburan, Win. Butuh kebebasan," ucap Sava.
Sava tidak tahu bahwa setiap langkahnya selalu dipantau oleh mata tajam Garvi dari kejauhan. Garvi tak ingin melepaskannya, namun ia juga tak berhenti menyakitinya. Saat satu kata perceraian terucap—permainan kekuasaan pun dimulai. Siapa yang akan lebih dulu berlutut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Jauh dari hiruk-pikuk Kota Medan yang menyesakkan dengan polusi dan ambisi, terdapat sebuah garis pantai tersembunyi yang jarang terjamah oleh wisatawan. Di sanalah, sebuah mobil travel car sederhana berhenti di tepi jalan aspal yang mulai berlubang.
Sava turun dari mobil tersebut, memberikan selembar uang tanpa meminta kembalian kepada sang sopir. Ia sengaja tidak menggunakan taksi, juga tidak memanggil Winata atau Roy. Ia tahu benar bahwa Garvi akan sangat mudah untuk melacak keberadaannya dan untuk pertama kalinya dalam empat tahun, Sava memilih untuk menjadi "tidak terlihat".
Langkahnya membawanya menuju sebuah bangunan minimalis yang berdiri kokoh di atas bukit kecil menghadap samudera. Sebuah vila kecil yang ia beli dua tahun lalu melalui perantara pihak ketiga, sebuah rahasia besar yang ia sembunyikan rapat-rapat dari suaminya yang posesif. Vila ini adalah satu-satunya jengkal tanah di dunia ini yang tidak dimiliki oleh Garvi Darwin.
Di dalam vila, suasana sangat tenang. Hanya ada suara detak jam dinding dan deburan ombak dari kejauhan. Sava masuk ke kamar utama, menanggalkan blus kerja sutra dan rok pensilnya yang kaku—pakaian yang selama ini menjadi zirah perangnya di dunia bisnis.
Ia melangkah ke depan cermin, menatap jejak kemerahan di lehernya yang mulai memudar namun masih menyisakan rasa perih di hati. Ia mengganti pakaiannya dengan sebuah long dress sederhana berbahan linen berwarna putih tulang. Tanpa riasan tebal, tanpa perhiasan mewah, hanya Alsava yang apa adanya.
Ia keluar dari vila dengan kaki telanjang. Begitu kakinya menyentuh pasir pantai yang hangat, sebuah helaan napas panjang lolos dari bibirnya. Ia berjalan perlahan menuju bibir pantai, membiarkan ombak tipis menerjang ujung kakinya yang jenjang.
Sava berjalan menunduk, memperhatikan bagaimana air laut menarik butiran pasir dari bawah telapak kakinya, persis seperti bagaimana hidupnya selama ini—terkikis perlahan oleh waktu dan pria bernama Garvi.
Deburan ombak itu seolah menjadi mesin waktu yang membawanya kembali ke belasan tahun silam.
Dunia mungkin mengira pernikahan mereka adalah dongeng modern-day royalty. Namun bagi Sava, ini adalah kutukan warisan. Kakeknya dan kakek Garvi adalah sahabat lama yang membangun kekaisaran bisnis bersama. Sebagai bentuk pengikat abadi, sebuah perjanjian perjodohan dibuat saat Sava masih belajar merangkak.
Setiap setahun sekali, mereka bertemu dalam acara keluarga besar. Garvi, yang menghabiskan masa mudanya di Swiss, selalu datang dengan aura pria Eropa yang bebas dan penuh teka-teki. Sava muda selalu melihat Garvi sebagai sosok kakak yang karismatik, hingga saat usianya menginjak 16 tahun—masa di mana ia seharusnya sedang menikmati indahnya cinta monyet di SMA—sebuah pesta pertunangan megah digelar.
"Kamu cantik hari ini, Ave," bisik Garvi saat itu, seorang pria dewasa berusia 24 tahun yang menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.
Padahal saat itu, Sava sedang berada dalam masa pendekatan yang manis dengan Arkan, kakak kelasnya yang selalu memberinya cokelat dan pujian tulus. Tapi demi kehormatan keluarga, Sava mengubur perasaannya pada Arkan sedalam mungkin. Ia mencoba menerima Garvi, mencoba belajar mencintai pria yang akan menjadi suaminya.
Hingga malam itu tiba…
Kejadian itu terjadi saat liburan keluarga di sebuah vila pegunungan. Sava yang berusia 16 tahun ingin memberikan kejutan kue ulang tahun untuk Garvi. Namun, apa yang ia temukan justru menghancurkan dunianya.
Ia berdiri di balik pintu kayu yang sedikit terbuka, mencium aroma alkohol dan parfum wanita yang menyengat. Di dalam sana, Garvi sedang duduk di sofa mewah, memangku seorang wanita berpakaian minim yang tertawa manja di lehernya. Garvi memegang gelas wiski, berbicara dengan teman-temannya sambil terbahak.
"Perjodohan ini? Oh, ayolah... kalian pikir aku akan benar-benar mencintai gadis kecil itu?" suara Garvi terdengar begitu dingin dan meremehkan. "Aku hanya menjalankan kewajiban. Skyline Group butuh koneksi keluarga Claretta. Setelah bisnis stabil, dia hanya akan jadi pajangan di rumahku. Aku adalah pria bebas, dan tidak ada satu pun wanita—termasuk Alsava—yang bisa mengikatku."
Sava yang saat itu berdiri memegang kotak kue, merasakan jantungnya seolah berhenti berdetak. Air mata jatuh tanpa suara, membasahi kotak karton di tangannya. Di detik itulah, rasa hormat dan keinginan untuk mencintai Garvi mati seketika.
"Kalau kamu ingin menjadikanku pajangan, Mas Garvi... maka aku akan menjadi pajangan yang paling dingin yang pernah kamu miliki," batin Sava saat itu.
Kembali ke masa sekarang, di pinggir pantai Medan yang sunyi, Sava berhenti melangkah. Ia menatap cakrawala di mana langit dan laut bertemu dalam warna jingga keunguan.
Sejak malam itu, Sava berjanji pada dirinya sendiri: ia tidak akan pernah menyerahkan hatinya kepada Garvi. Meskipun mereka menikah, meskipun mereka berbagi ranjang yang sama, meskipun tubuhnya bergetar di bawah sentuhan pria itu, jiwanya tetap berada di tempat yang tak terjangkau.
Ia mengorbankan masa mudanya untuk bekerja keras, membuktikan bahwa ia bukan sekadar "pajangan" bisnis. Ia menjadi COO yang tegas dan tak tersentuh, membangun benteng es di sekeliling hatinya agar tidak ada lagi rasa sakit yang bisa masuk.
"Biarkan hatiku mati," gumam Sava, suaranya hilang ditelan suara ombak. "Satu-satunya caraku untuk bertahan hidup bersamamu adalah dengan tidak mencintaimu sama sekali."
Ia menutup matanya, membiarkan angin laut menerbangkan rambutnya yang brunette. Di tempat ini, ia bukan Miss Sava sang COO, bukan pula Ave sang istri rahasia. Ia hanya seorang wanita yang lelah, yang sedang mengumpulkan kekuatan untuk benar-benar melepaskan diri dari rantai emas bernama Darwin.
**
Mansion Darwin, Medan. Pukul 21.30 WIB.
Gerbang besi raksasa Mansion Darwin terbuka dengan derit pelan saat Rolls-Royce hitam milik Garvi meluncur masuk. Lampu-lampu taman yang mewah menyinari pilar-pilar kokoh bangunan itu, namun bagi Garvi, keagungan rumahnya malam ini terasa mencekam. Biasanya, meski hubungan mereka dingin, ia akan melihat cahaya redup dari lampu kamar utama yang menandakan keberadaan Sava. Namun malam ini, seluruh lantai dua tampak gelap gulita.
Garvi melangkah masuk ke dalam rumah dengan terburu-buru. Jasnya sudah tersampir sembarangan di lengannya, dasinya sudah lama ia tanggalkan. Wajahnya yang rupawan bak dewa Yunani itu tampak kusut, sorot matanya yang biasanya tajam kini dipenuhi kegelisahan yang tak tertebak.
"Bibi Zuni!" teriak Garvi, suaranya menggema di ruang tamu yang luas.
Seorang wanita paruh baya dengan seragam rapi keluar dari arah dapur dengan wajah pucat dan gemetar.
"I-iya, Tuan Muda?"
"Di mana Ave? Mengapa kamarnya gelap? Apa dia sudah tidur?" tanya Garvi bertubi-tubi.
Bibi Zuni menundukkan kepala, jari-jarinya bertautan cemas. "Maaf, Tuan Muda... sejak sore tadi, Nyonya Muda belum pulang ke rumah. Bibi sudah mencoba menunggu di depan, tapi tidak ada tanda-tanda mobil Nyonya Muda datang."
Jantung Garvi seolah berhenti berdetak sesaat. "Belum pulang? Ini sudah hampir jam sepuluh malam! Apa dia menghubungimu?"
"Tidak ada, Tuan. Sama sekali tidak ada pesan," suara Bibi Zuni menciut.
Garvi segera merogoh ponsel dari saku celananya. Jemarinya dengan cepat menekan nomor ponsel pribadi Sava.
"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan..."
"Sial!" Garvi mengumpat keras, membuat Bibi Zuni tersentak kaget. Ia mencoba lagi, dan lagi. Hasilnya tetap sama. Sava sengaja mematikan ponselnya. Sesuatu yang tidak pernah dilakukan wanita itu sebelumnya, sesering apa pun mereka bertengkar.
Dalam waktu kurang dari lima belas menit, ketenangan malam di pusat kota Medan terus terusik. Garvi mengerahkan seluruh tim keamanan internal Skyline Group yang dilatih secara militer.
"Cari dia!" perintah Garvi melalui telepon kepada kepala keamanannya. "Cek semua CCTV di jalur menuju apartemen, cari taksi atau mobil travel mana pun yang melintas. Gunakan pelacak GPS di seluruh kendaraan perusahaan! Jika dalam satu jam kalian tidak menemukan lokasinya, jangan harap ada yang bisa tidur malam ini!"
Roy, yang baru saja tiba di mansion atas panggilan darurat Garvi, mencoba menenangkan bosnya.
"Tuan, tim IT sedang mencoba melakukan ping terakhir pada lokasi ponsel Nyonya. Tapi tampaknya Nyonya cukup cerdas untuk mencabut kartu SIM atau masuk ke area yang benar-benar tanpa sinyal."
Garvi mondar-mandir di ruang kerjanya seperti macan yang terperangkap dalam kandang emas. Posesifitasnya kini berubah menjadi ketakutan yang murni. Ia terbiasa mengendalikan orang lain, ia terbiasa memata-matai Sava melalui asisten atau CCTV, tapi saat ini, ia benar-benar kehilangan jejak. Sava telah menghilang dari radarnya.
"Panggil Winata ke sini. Sekarang!" bentak Garvi.
Tiga puluh menit kemudian, Winata tiba di Mansion Darwin. Ia masuk tanpa rasa takut, meskipun aura di dalam ruangan itu terasa sangat panas oleh amarah Garvi. Winata meletakkan tasnya di meja, menatap Garvi yang berdiri di dekat jendela dengan wajah frustrasi.
"Di mana Sava?" tanya Garvi tanpa basa-basi begitu Winata masuk.
Winata menghela napas panjang, ia melipat tangan di dada. "Aku tidak tahu, Garvi. Terakhir kali aku melihatnya, dia pergi bersamamu setelah rapat dengan Bank Global. Bukankah kamu yang seharusnya tahu dia di mana?"
"Dia pergi dari apartemen setelah kami... sedikit berdebat," suara Garvi melemah di akhir kalimat.
"Sedikit berdebat?" Winata tertawa hambar, tawa yang penuh sindiran. "Sava tidak akan mematikan ponsel dan menghilang hanya karena 'sedikit berdebat', Garvi. Apa yang kamu lakukan kali ini? Apa kamu memamerkan kemesraanmu dengan wanita lain lagi? Atau kamu menghinanya lagi di depan umum?"
"Aku hanya ingin dia tidak bertemu dengan Arkan lagi! Apa itu salah?!" teriak Garvi, membela diri dengan egonya yang terluka.
Winata melangkah maju, mendekati Garvi hingga jarak mereka hanya satu meter. Ia tidak lagi melihat Garvi sebagai CEO Skyline Group, tapi sebagai sahabat masa kecilnya yang sangat keras kepala.
"Garvi, dengarkan aku sebagai sahabatmu, bukan sebagai asisten kantormu," ucap Winata dengan nada bicara yang tajam dan emosional. "Kita sudah bersama sejak kecil. Aku tahu betapa posesifnya kamu sejak dulu. Tapi apa kamu tidak pernah sadar? Selama empat tahun ini, kamu memperlakukan Sava seperti piala, bukan seperti istri!"
Garvi terdiam, rahangnya mengeras.
"Kenapa kamu selalu menyakiti dia? Kenapa kamu membiarkan perempuan-perempuan murahan itu menghubungi ponselnya? Kamu pikir itu cara yang bagus untuk membuatnya cemburu? Tidak, Garvi! Itu adalah cara tercepat untuk membuat seorang wanita merasa tidak berharga!" Winata mulai berkaca-kaca karena marah. "Kamu pria yang paling cerdas dalam bisnis, tapi kenapa kamu sangat bodoh dalam menyelami perasaan istrimu sendiri?"
"Aku mencintainya, Win! Aku hanya tidak tahu cara menunjukkannya!" sela Garvi, suaranya parau.
"Itu bukan cinta, itu obsesi!" sahut Winata telak. "Cinta itu memberi rasa aman, bukan membuat dia merasa diawasi seperti buronan. Kalau Sava memilih untuk menghilang malam ini, itu karena dia sedang mencoba menyelamatkan sisa-sisa kewarasannya yang sudah kamu hancurkan."
Ruangan itu mendadak sunyi senyap. Roy hanya bisa menunduk di sudut ruangan, sementara Garvi terpaku mendengar kata-kata Winata. Untuk pertama kalinya, cermin manipulasi yang selama ini Garvi bangun mulai retak.
"Dia meminta cerai kemarin malam... dan tadi siang di apartemen aku hanya bertanya kenapa dia tidak bisa tersenyum saat bersamaku seperti saat dia bersama Arkan," bisik Garvi, suaranya terdengar sangat rapuh.
Winata tertegun sejenak, lalu ia menghela napas sedih. "Kalau begitu, bersyukurlah dia hanya menghilang malam ini. Jika kamu tidak segera berubah, dia akan benar-benar menghilang dari hidupmu untuk selamanya."
Garvi jatuh terduduk di kursi kebesarannya. Ia menutup wajah dengan kedua tangan. Di tengah kemegahan mansion triliunan rupiah ini, ia merasa menjadi pria paling miskin di dunia. Ia memiliki seluruh kota Medan di telapak tangannya, namun ia kehilangan satu-satunya orang yang paling ia butuhkan untuk bernapas.
"Cari dia sampai ketemu, Roy," perintah Garvi dengan suara yang hampir habis. "Bukan sebagai CEO... tapi cari dia karena dia adalah nyawaku."
Malam itu, di bawah langit Medan yang gelap, perburuan besar dimulai. Namun yang tidak disadari Garvi adalah, sejauh apa pun ia mencari secara fisik, jarak emosional yang telah ia ciptakan antara dirinya dan Sava mungkin sudah terlalu jauh untuk diseberangi.
***