NovelToon NovelToon
Malam Terlarang Dengan Om Asing

Malam Terlarang Dengan Om Asing

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Cinta Beda Dunia / One Night Stand / Hamil di luar nikah / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak
Popularitas:9.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nofiya Hayati

Senja terpaku saat matanya menangkap pacar dan sahabatnya bercumbu di balik semak hutan. Dengan langkah terpukul ia pergi menjauh hingga tersesat. Namun, sosok Sagara muncul, membelah kabut tebal seolah ditakdirkan menemuinya.
.
.
.
Senja mengerang pelan, refleks mendekat, menempel seperti magnet. Tangannya meraba, mencari sesuatu yang hangat. Jari-jarinya mencengkeram punggung kokoh Sagara. Napas mereka saling bercampur, tidak teratur, dan berat.

"Om…" Senja berbisik. Suaranya rapuh. "Aku dingin…"

"Aku di sini," jawab Sagara serak. "Tahan sedikit lagi."

Mereka tidak saling kenal, keduanya masih asing. Namun, malam itu... keduanya berbagi kehangatan di tengah hutan berselimut kabut tebal.

Satu malam mengubah hidup Senja.
Bukan karena cinta, melainkan karena kesalahan yang membuatnya kehilangan rumah, keluarga, dan tempat berpulang.

Sagara menikahinya bukan untuk memiliki. Ia hanya ingin bertanggung jawab… lalu pergi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nofiya Hayati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19

Sebuah mobil berhenti tepat di depan rumah Senja. Rumah yang pernah ia sebut tempat pulang. Rumah yang juga pernah menutup pintunya untuknya.

Senja tidak langsung turun. Tangannya mencengkeram tali tas kecil di pangkuannya. Nafasnya terasa pendek. Bukan karena takut akan Sagara, tapi karena takut pada dirinya sendiri yang akan goyah. Takut kembali menjadi gadis yang selalu menunduk, selalu mengalah.

“Kalau tidak siap, kita bisa kembali,” suara Sagara terdengar rendah.

Senja menggeleng pelan. “Tidak. Aku harus hadapi.”

Sagara tidak membantah. Ia hanya turun terlebih dulu, lalu membukakan Senja pintu. Tangannya terulur, tidak tergesa, tapi tegas.

Senja menyambut tangan Sagara tanpa ragu kendati canggung masih menggelitik samar. Ia turun perlahan. Kakinya sedikit gemetar saat menyentuh tanah. Bau tanah basah, tembok rumah yang kusam, suara motor lewat di kejauhan, semuanya terasa terlalu akrab sekaligus terlalu asing.

Pintu rumah terbuka sebelum mereka mengetuk. Winarti berdiri di sana. Wajahnya bukan wajah rindu. Bukan pula wajah marah. Tapi wajah seseorang yang sudah menyusun rencana.

“Masuk,” katanya singkat. Tidak ada pelukan. Tidak ada tanya kabar.

Senja melangkah masuk lebih dulu. Jantungnya berdegup makin kencang. Di ruang tamu, Pandi duduk di kursi kayu, rokok di tangan, wajahnya datar seperti tembok.

Riyan ada di sudut, bermain ponsel, hanya melirik sebentar lalu kembali menunduk cuek.

Sunyi yang terasa berat.

Winarti duduk, menyilangkan tangan. “Kami dengar kalian akan menikah.”

Senja terkejut kecil. “Dari mana Ibu tahu?”

“Nebak saja, dan kayaknya tebakan ibu benar.” Matanya melirik Sagara, bukan menilai, tapi menghitung nominal yang bisa dia keruk.

Senja sedikit menunduk. “Kami belum menentukan apa pun secara resmi.”

Pandi menghembuskan asap rokok.

“Kalau mau menikah, wali nikahnya bapakmu.”

Senja mengangkat wajah. Ia sudah menduga ini akan datang. Tapi tetap saja, dadanya terasa seperti ditekan.

“Ibu bilang... Bapak nggak mau,” ucap Senja lirih.

“Bisa berubah,” jawab Pandi pendek.

Winarti menyambung, lebih cepat.

“Tapi ya… wali nikah itu ada syaratnya. Tidak murah. Tidak gratis.”

Sagara akhirnya bersuara. “Langsung ke intinya.”

Winarti menatapnya tajam. “Kami keluarga. Tidak mau anak perempuan kami dinikahi sembarangan tanpa penghargaan.”

Senja mengeratkan jemarinya. “Penghargaan atau harga, Bu?”

Ruangan seketika membeku.

Winarti mendengus. "Kamu itu nggak ngerti." Ia lalu kembali menatap Sagara yang tampak tenang. "Jadi gini, sebagai orang tua perempuan, kami tentu ingin dihargai. Mahar itu harus pantas.”

Sagara mengangguk pelan. “Saya paham.”

“Bukan sekadar simbol,” lanjut Winarti. “Harus cukup besar. Supaya orang tahu anak kami tidak dinikahi sembarangan.”

Senja menunduk. Ia masih bisa menerima bagian ini. Meski terasa pahit, ini masih terdengar seperti adat, tapi nyatanya Winarti belum selesai.

“Lalu… karena Senja sudah tidak tinggal di sini,” katanya sambil menyilangkan tangan, “sudah sepantasnya kamu menggantikan perannya.”

Sagara menatap datar. “Maksud Ibu?”

“Uang belanja bulanan untuk kami. Untuk rumah ini,” jawab Winarti ringan.

Senja mendongak. “Bu…”

“Diam dulu,” potong Winarti cepat. “Kamu itu sudah bikin malu keluarga. Membawa aib pulang. Jangan sok suci," sengitnya.

Senja menelan ludah. Ucapan Winarti seakan membuatnya runtuh, menyisakan perih. “Aib itu bukan aku saja. Aib itu ketika anak diusir, lalu dijadikan alat tawar," ucapnya pelan, tapi berani.

"Itu karena perbuatan kotormu makanya kami bersikap seperti ini."

Senja terdiam.

Sagara tetap tenang. “Jumlah dan bentuknya bisa dibicarakan. Tapi saya perlu tahu tujuannya.”

Winarti tersenyum kecil. “Untuk hidup. Masa kamu tanya lagi.”

Lalu, dengan nada seolah sedang menyebutkan hal sepele, Winarti kembali berkata. “Dan satu lagi.”

Senja langsung merasa perutnya mual, tapi masih bisa ditahan. Bukan sekedar mual karena hamil, tapi seperti sebentuk firasat.

“Riyan.” Nama itu jatuh seperti beban. “Adiknya Senja. Masa depannya harus kamu tanggung.”

Senja refleks berdiri. “Bu… itu bukan tanggung jawab Om Sagara.”

Winarti ikut berdiri, menatap Senja tajam. “Justru itu tanggung jawabnya sekarang karena dia akan jadi suamimu.”

Sagara tetap pada posisi duduk tegapnya, suaranya tetap rendah. “Saya bertanggung jawab atas kehamilan Senja. Bukan atas seluruh hidup keluarga ini.”

Winarti mendengus. “Kalau tanggung jawab ya jangan setengah-setengah. Sekolahkan Riyan sampai S3. Di universitas ternama. Kalau bisa di kota besar. Kalau perlu ke luar negeri.”

Sunyi.

Bahkan Pandi berhenti mengisap rokok.

Senja gemetar. Tapi kali ini bukan karena takut, tapi karena marah yang terbungkus kelelahan.

“Bu,” katanya pelan, tapi tegas, “aku mau menikah. Bukan menjual hidupku… dan hidup orang lain.”

Winarti menertawakan kalimat itu kecil.

“Kamu itu masih bodoh. Nggak ngerti apa-apa.”

Sagara menatap Winarti tanpa emosi berlebih. “Yang Ibu sebutkan bukan syarat wali nikah,” katanya tenang. “Itu daftar kewajiban seumur hidup.”

Winarti terdiam sesaat. "Ini juga demi martabat Senja."

“Itu tidak ada hubungannya dengan martabat Senja. Itu soal memanfaatkan," timpal Sagara.

Pandi mengetuk rokoknya ke asbak. “Kalau tidak mau ikuti cara kami, jangan minta aku jadi wali.”

Sagara berdiri. Nada suaranya tetap tenang, tapi dingin. “Wali nikah bukan transaksi.”

Winarti tertawa kecil, miring. “Bagi orang seperti kami, semuanya transaksi.”

Senja mengangkat wajah. Matanya tidak lagi basah, tapi tegas. “Kalau begitu… aku tidak akan pulang dengan cara seperti ini.”

Winarti mengernyit. “Maksudmu?”

“Aku ingin Bapak menjadi wali karena niat, bukan karena uang. Kalau tidak, aku lebih baik mencari jalan lain.”

Riyan akhirnya mengangkat kepala. “Senja… kamu keras kepala. Nggak takut dosa apa?”

Senja menoleh padanya. “Sejak kapan keras kepala dianggap dosa, kalau selama ini aku selalu yang mengalah?”

Winarti berdiri. “Kamu lupa siapa yang melahirkanmu?”

Senja mendekat dengan langkah kecil dan sopan. “Aku tidak lupa. Tapi aku juga tidak lupa siapa yang mengusirku.”

Sunyi jatuh berat. Dan di saat itulah Sagara melangkah setengah langkah ke depan. Dia tidak mengancam, tidak meninggikan suara. “Hak Senja bukan untuk dinegosiasikan. Kalau Bapak dan Ibu ingin menjadi bagian dari hidupnya, silakan. Kalau tidak, kami tidak akan memaksa.”

Winarti menyipitkan mata. “Berani sekali bicara begitu.”

Sagara mengangguk kecil. “Karena saya datang bukan untuk meminta belas kasihan. Tapi untuk memastikan tidak ada yang melukai dia lagi.”

Pandi terdiam. Untuk pertama kalinya, bukan marah yang muncul di wajahnya, tapi ragu. Sosok Sagara tidak bisa dipandang remeh.

“Untuk mahar dan pernikahan, saya siap menjalankan sesuai hukum dan adat.

Tapi untuk permintaan lain… saya tidak bisa,” imbuh Sagara.

Winarti mendengus. “Berarti kamu tidak benar-benar bertanggung jawab.”

Sagara menggeleng pelan. “Justru karena saya bertanggung jawab, saya tidak membiarkan Senja terikat pada tuntutan yang tidak adil.”

Senja menoleh ke Sagara. Ada rasa hangat kecil menjalar di dadanya. Ia tidak melihat pria dewasa yang jauh dan menakutkan. Ia melihat seseorang yang berdiri sejajar dengannya, mendampinginya.

Bersambung~~

1
Ayuwidia
Wkkkk, mewakili gueeee. Makasih, Mak
Ayuwidia
Aku penasaran, kenapa Winarti dan Pandi bisa setega itu memperlakukan Senja. Beda banget sama perhatian mereka ke Rian 🤔
Ayuwidia
Baru diakui. Telat, terlambat!!!!
Ayuwidia
Ealah, adek nggak ada akhlak. Kok bisa, Senja punya adek semenyebalkan gini. Hidup lagi
Ayuwidia
Salah sendiri. Terlalu jumawa, sombong
Ayuwidia
Winarti serasa ditampar keras. Dan aku, tersenyum membayangkan wajahnya
Ayuwidia
Alhamdulillah, ikut senang. Semoga sakinah, mawadah, warahmah 🥰
Ayuwidia
Meski sederhana, tapi tulus dari dalam hati 🥰
NA_SaRi
kok bru diakui ya mak
NA_SaRi
lambene😩
NA_SaRi
klo Pengen dihormati, belajarnya caranya menghargai bapak🙃
NA_SaRi
Alhamdulillah 😍
NA_SaRi
netizen ya awooooohhh jempolnya kebangetan, bibirnya semoga kepedesan😩
NA_SaRi
betul, aku prnh mengalaminya
NA_SaRi
gengsi ga usah ditinggiin Napa mak😩
NA_SaRi
dari bab ini aku belajar bahwa ilmu tenang itu mahal, bahkan ga bisa dibeli dgn uang, membuat karakter seseorang jd elegan tanpa harus meninggi, aku harus banyak belajar dr om sagara
Ayuwidia
Kalimat penutup yg sangat mewakili orang2 sefrekuensi dgn Senja, keren 👍🏻
Ayuwidia
Ini selalu berlaku di kampung/ kompleks. Apalagi klw dihuni emak2 yang demen banget gibah. Ibarat kata, nggak gibah--nggak hidup
Nofi Kahza: iya, kalau nggak ada bahan gibah hidup mereka kurang seru..
total 1 replies
Ayuwidia
Part ini pasti ada yang menginspirasi
Nofi Kahza: hush! diem.
total 1 replies
Ayuwidia
Pfttttt jatuhnya pingin ngakak
Nofi Kahza: kampungnya ngampung banget🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!