Shabila Diaskara adalah gadis polos dan lugu yang bersikap hiperaktif serta pecicilan demi menarik perhatian ayahnya—seorang Daddy yang membencinya karena kematian sang ibu saat melahirkan dirinya. Dalam sebuah insiden, Shabila berharap bisa merasakan kasih sayang seorang ayah sebelum akhirnya kehilangan kesadaran.
Saat terbangun, Shabila menyadari dirinya telah bertransmigrasi ke tubuh Aqila Weylin, gadis cantik namun pendiam dan cupu. Kini dipanggil “Aqila,” Shabila—yang akrab disapa Ila — mulai mengubah penampilan dan sikapnya sesuai kepribadiannya yang ceria dan manja.
Beruntung, kehidupan barunya justru memberinya keluarga yang penuh kasih. Sikap hiperaktif dan manja Ila membuat seluruh keluarga Aqila gemas, bukan marah. Setelah tak pernah merasakan cinta keluarga di kehidupan sebelumnya, Ila bertekad menikmati kesempatan kedua ini sepenuh hati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lyly little, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 **Perubahan si bungsu weylin **
Sore hari Ila sudah berada dikediaman Weylin, rumah elit yang berlantai dua, walaupun rumahnya tidak sebesar rumahnya dikehidupan dia sebelumnya tapi Ila bersyukur karena mempunyai keluarga lengkap dan sangat menyayangi dirinya. Ila tidak tau bahwa dia ber transmigrasi dia hanya mengira bahwa dia terlahir kembali tapi terlahirnya langsung gede.
Ila sedang menatap dirinya didepan cermin yang ada dikamarnya. Dia menelisik penampilan nya yang membuat dia kesal.
"lyuhhh Ila gak suka pake kacamata. "Ila melepaskan kacamata yang terpasang di wajahnya itu. Dia merombak
penampilannya agar terlihat seperti dirinya yang dikehidupan sebelum nya itu..
"Badan Ila tetap pendek dan pipi Ila juga bulat sama seperti dulu. "gumamnya.
Ila mengedarkan pandangan nya menatap seluruh isi walk in closet miliknya. Ila mencari pakaian yang cocok untuk dirinya. Dapat dilihat pakaian yang ada di walk in closet itu terlihat kuno, Ila kembali mengedarkan pandangan nya dan matanya tertuju pada baju kodok yang sepertinya sangat pas ditubuhnya. Ila mengambil baju tersebut dan memakainya lalu berjalan menuju cermin besar dan dia gerai rambutnya yang panjangnya.
"Perfect" gumamnya saat melihat penampilan nya, baju kudok yang pas ditubuhnya walau pun kaki nya hanya tertutup bagian paha atas saja dan rambut yang digerai.
Ila berlari keluar untuk mencari keberadaan sang ayah. Uhh Ila sungguh menginginkan kasih sayang seorang ayah.
"Ayahhhh... "Ila sedikit berlari menuruni anak tangga. Mereka yang berada diruang tamu menoleh mendengar suara Ila
Semua memandang Ila gemes karena penampilan nya yang sekarang tidak culun lagi bahkan sekarang terkesan seperti bocil yang menggemaskan.
"Jangan lari sayang, nant jatuh lagi.." peringkat Zeline kepada putrinya itu, dia takut kejadian kemarin terulang lagi dan membuat putrinya tidak akan mengingat mereka lagi
Ila hanya nyengir kuda menampilkan gigi rapi dan putihnya. Tapi Ila tidak mendengarkan dia masih berları dan menghampiri sang ayah yang sedang duduk disofa itu untuk menonton televisi. Ila duduk dipangkuan sang ayah dan memeluk ayahnya dengan manja.
"Ayah lihat, Ila cantik seperti bunda kan hihi." Ila terkikik
Bryan menatap putrinya itu dengan sayang, "princess ayah selalu cantik. "ucap Bryan lalu mengecup kening Ila.
Mereka semua gemes dengan perubahan si bungsu, sangat berubah dan manja tapi mereka senang karena dengan itu putri mereka tidak memendam sesuatu lagi. Mungkin sikap pendiam si bungsu akibat ada sesuatu yang dipendam nya tapi si bungsu hanya diam. Alzian dan Elzion tau adek mereka sering dibully disekolah tapi adek mereka itu selalu diam dan tidak mau mengatakan apapun kepada mereka berdua. Karena adek mereka masih SMP dan tidak satu sekolah dengan mereka jadi mereka tidak bisa menjaga adek mereka itu. Tapi sekarang adek mereka akan masuk SMA dan akan satu sekolah dengan mereka. Berarti mereka bisa menjaga adek mereka itu walaupun hanya setahun saja.
"Ila jelek, " jahil Elzion dan perutnya langsung kena sikut Alzian.
Ila cemberut lalu menenggelamkan wajahnya di dada bidang sang ayah. Bima merasa dada nya basah dan dia mengapit wajah sang putri. Bima melihat putrinya menangis.
"Princess kenapa hm?" tanya Ila lembut.
"Ara jelek hikss, "tangis Ila dan Bryan kembali menyenderkan kepala sang putri didada bidangnya.
"Princess ayah cantik sama seperti bunda, abang Elzion yang jelek sayang. "Bryan mengelus-ngelus rambut putrinya lembut.
Elzion melotot mendengar kalimat sang ayah, tidak biasanya ayahnya berkata seperti itu tapi tak urung dia begitu gemes dngan sikap manja sang adek.
'Bocil gue makin gemes aja,"Batin Brian.
Zeline yang baru datang dari dapur untuk mengambil puding kesukaan putrinya itu mengernyit heran saat melihat wajah sang putri basah.
"Sayang kamu kenapa, "tanya Zeline setelah meletakkan
puding itu dimeja.
Ila melirik kearah meja dan melihat apa yang barusan bunda nya itu bawa. Seketika wajahnya berbinar saat melihat puding dengan rasa yang sangat dia sukai, yaa kesukaan Shabila dan Aqila sama yaitu Stroberi.
"Woahh puding, Ila suka puding ." girangnya lalu turun dari pangkuan sang ayah.
Mereka yang tadi melihat Ila menangis tiba-tiba melongo dengan perubahan mod Ila yang begitu capat. Mereka tau bahwa Ila menyukai buah stroberi tapi biasanya dia tidak sesenang itu.
Ila memakan puding itu dengan lahap tanpa menawarkan nya pada mereka yang sedang menatap Ila gemes.
"Hati-hati makannya princess," ucap Alzian.
"Heh bocil, abang kok gak ditawarin," Elzion yang melihat Ila memakan puding dengan lahap menjadi ingin memakan juga.
"Ghakk, inhi phunyha Ila." mulut Ila penuh dengan puding sehingga membuat pipi chubby nya semakin bulat dan mereka gemes ingin menggigit pipi chubby itu
"Ditelan dulu sayang baru bicara." peringat sang bunda dan Ila hanya mengangguk
"Kenapa Ila tadi menangis mas?" tanya Radella pada suaminya itu.
"Biasalah," sahut Bryan dan Zeline langsung mengerti, siapa lagi yang suka jahil dirumah ini selain Elzion. Zeline menoleh dan menatap tajam anak keduanya itu.
Yang ditatap hanya nyengir, "cuma bercanda bun. "Elzion cengengesan.
Ila hanya acuh dengan pembicaraan abang dan bundanya itu, dia masih memakan puding dengan lahap tanpa menawari abang dan orang tuanya.
"Uhh liat ayah perut Ila besar seperti ingin meletus. "Ila menghadap ayahnya dan menepuk-nepuk pelan perut nya yang sedikit kembung karena kekenyangan setelah memakan puding Itu habis tak bersisa..
Mereka terkeken gemes dengan aduan Ila kepada sang ayah.
Bryan terkekeh pelan melihat tingkah putrinya. Tangannya refleks mengusap perut Ila yang sedikit membuncit.
“Makanya makan pelan-pelan, princess,” ujar Bryan lembut. “Perutnya kecil, tapi makannya kayak habis puasa setahun.”
Ila mengangguk serius. “Iya… lain kali Ila kunyah seribu kali.”
Elzion yang sejak tadi memperhatikan akhirnya menghela napas panjang. “Astaga, kenapa sih kamu aneh banget hari ini.”
Ila menoleh cepat. “Aneh tapi lucu kan?”
Elzion ingin menyangkal, tapi melihat senyum polos dan pipi chubby adiknya, ia hanya mendecih pelan.
“…Nyebelin,” gumamnya, meski sudut bibirnya terangkat tanpa sadar.
Elzion bangkit dari duduknya dan mendekat, lalu mencubit pelan pipi Ila
“Ini kenapa makin bulat sih?” gerutunya gemas. “Dulu pipinya nggak segini.”
“Aww!” Ila memekik kecil lalu langsung bersembunyi di balik punggung Ayahnya. “Ayah, abang jahil!”
Bryan langsung menatap Elzion tajam. “Jangan ganggu adikmu.”
Elzion mendengus. “Baru sehari udah bela-belain.”
Ila mengintip dari balik badan Bryan, lalu menjulurkan lidahnya ke arah Elzion.
“Wleee.”
“DEK—!”
Alzian yang sedari tadi diam terkekeh. “Lo kelihatan stress nya El.”
“Aku stress karena dia!” Elzion menunjuk Ila.
Ila mendekat ke Alzian, menatap wajahnya serius. “Abang Alzian baik.”
Elzion melotot. “Terus aku?”
Ila berpikir sejenak, lalu menjawab jujur, “Galak… muka Abang nyebelin.”
Bryan dan Zeline tertawa bersamaan.
“Kurang ajar,” gumam Elzion, tapi tangannya refleks mengacak rambut Ara dengan pelan.
Ila mendongak. “Abang sayang Ila?”
Elzion terdiam sepersekian detik. “…Jangan GR.”
“Tapi abang pegang kepala Ila,” sahutnya polos.
“ITU REFLEKS!”
Ila terkikik, lalu kembali memeluk Ayahnya.
Di dalam hati Bryan, ia tersenyum—rumah ini kini terasa jauh lebih hidup.
...****************...