Pernikahan yang dikira Sarah akan membuatnya bahagia karena dia menikahi seseorang yang menjadi pacarnya selama tiga tahun. Tapi perkiraannya salah ternyata sosok yang selama ini menyandang status suaminya itu telah berkhianat dan berselingkuh dengan wanita yang lebih muda dari dirinya .
Bagaimana nasib pernikahannya? Apakah Sarah mampu mempertahankan pernikahannya atau justru dia harus menyerah .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tientien AQuariuzz Girllzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11
SELAMAT MEMBACA !!!
" Vania suka disini Nek, Vania disini punya teman untuk bermain dan rumahnya aku suka Nek hik hik hik ." Balas Vania dengan sesegukan
" Cup cup jangan nangis lagi ya . Kita di Jakarta tidak lama kok Nak setelah urusan Mama selesai kita akan kembali kesini lagi, kan Mama harus kerja kalau nggak kerja terus yang nungguin butiknya siapa ?" Ucap Sarah sambil menenangkan hati anaknya .
Vania masih belum berhenti menangis dalam pelukan Mamanya, sebenarnya Sarah juga sudah nyawan disini dan hidupnya sedikit lebih baik dengan sedikit lupa dengan suaminya tapi dia juga harus bertanggung jawab bagaimanapun dirinya masih status istrinya orang.
" Mama berjanji nggak akan lama Nak kita akan kesini lagi mau ya pulang ke Jakarta dulu ?" Tanya Sarah lagi setelah melihat anaknya sudah lebih tenang .
" Tapi janji nggak akan lama ya Ma, Vania juga akan bersekolah disini bareng Mbak Tasya sama Mbak Riri juga Ma kata mereka berdua sekolahnya dekat dari rumah ini ." Balas Vania mendongakkan kepalanya melihat wajah Mamanya .
" Ya Sayang , Mama janji kalau urusannya Mama sudah selesai kita akan menepat disini selamanya tapi seandainya Papa nggak ikut bagaimana sayang ?" Tanya Sarah dengan pelan dia juga takut sampai Vania nggak mau pisah sama Papanya .
" Nggak apa apa Ma, lagian sekarang Papa sudah sibuk kerja terus dan sudah nggak mau main sama Vania lagi Ma lebih baik kita disini Ma. Mama, Nenek Marni, Nenek Leni, Kakek Imam, Mbak Tasya sama Mbak Riri , Vania nggak apa apa kalau nggak ada Papa Mah benar janji Vania nggak akan mencari Papa ." Balas Vania sambil mencurahkan hatinya yang juga sudah kecewa sama Papanya .
" Nggak boleh bicara begitu beliau tetap Papa Vania sampai kapan pun Sayang ." Tegur Sarah pelan sambil mengusap pipi vania yang masih basah oleh air matanya.
" Pak , tolong kalau melihat Ruko lantai satu atau dua kasih kabar ke aku ya Pak, Aku mau buka cabang disini Pak untuk biaya hidup kita kalau yang lanta lantai satu usahakan yang agak luas ya Pak !" Seru Sarah minta tolong kepada Pak Imam .
Akhirnya mereka pamit kepada Pak Imam sama Bu Leni, Sarah juga meminta mereka berdua untuk tinggal dirumahnya saja .
Di dalam taksi Sarah melamun melihat keluar jendela sambil memangku Vania yang sedang tidur dipangkuannya , Mbok Marni menenangkan Sarah untuk bersabar , Sedangkan dua orang yang jauh disana lagi bersenang senang sudah tidak peduli dengan istrinya sama anaknya lagi .
Pergi beberapa hari Arya juga lupa kasih kabar sama Sarah satu ucap pun nggak benar benar sudah dibutakan sama Cintanya Mutia .
Mutia selalu bisa membuat Arya lupa dengan hapenya dan berakhir Arya nggak pernah menghubungi istrinya .
" Mas, nanti sampainya diJakarta kamu harus segera ceraikan istri kamu yang kerjaannya cuma minta uang doang Mas, nggak kayak aku yang apa apa bisa sendiri dan bisa membantu kamu ya kan Mas !" Seru Mutia sambil menoleh ke arah Arya tapi ternyata Arya lagi melamun tidak mendengar ucapan Mutia .
" Mas mas !" Teriak Mutia agak keras dan membuat Arya kembali dari lamunannya .
" Apaan sih Sayang kok teriak teriak begitu aku masih dengar ya sayang !" Kesal Arya karena Mutia membuyarkan lamunannya dengan berteriak .
" Habisnya dari tadi Mas diajak bicara malah melamun, mikirin apa sih Mas . Apa Mas lagi mikir si Sarah itu yang bisanya hanya dirumah dan meminta uang sama kamu Mas !" Kesal Mutia yang di teriak in Arya dan semakin kesal saja sama Arya .
Kini mereka sudah bersiap siap untuk pulang ke Jakarta tapi Mutia meminta mengantarkannya membeli oleh oleh untuk teman temannya .
Sarah baru sampai rumahnya dia turun dari taksi sambil menggendong Vania dan Mbok Marni diminta untuk membayar ongkos taksi.
Sarah membawa Vania ke lantai dua dimana kamarnya Vania berada , Sarah menidurkannya dengan pelan pelan takut Vania bangun .
Sarah menatap Wajah Vania membayangkan anak sekecil itu akan berjauhan dengan Papanya tapi anaknya justru memilih untuk pergi jauh dan berteman dengan orang orang baru .
Dia keluar dari kamar anaknya dan menutup pintu dengan pelan dan masuk ke dalam kamarnya yang terasa sepi dan hampa, Dia duduk dipojok kasurnya sambil mengaktifkan hapenya dan ternyata chat satu kata pun dari suaminya nggak ada .
" Kamu benar benar sudah berubah dan tidak memperdulikan aku sama Vania lagi Mas hik hik hik ." Tangis Sarah pecah di dalam kamarnya dia diluar sana berusaha untuk tenang tapi ketika dia sendiri merasakan dadanya sesak dan penuh .
" Kamu akan menyesalinya Mas dan waktu itu tiba kamu sudah kehilangan aku sama anak kamu Mas. Jangan salahkan aku kalau Vania sampai menjauh dari kamu Mas ." Ucap lirih Sarah sambil menepuk nepuk dadanya yang sesak .
Sarah mengusap air matanya dan masuk ke dalam kamar mandinya untuk membersihkan dirinya .
Dibawah Mbok Marni menyapu dan mengepal lantainya karena sudah tiga hari nggak dibersihkan .
Malam harinya Sarah sudah masuk kedalam kamarnya untuk tidur karena sudah larut malam dan suaminya belum pulang juga , Sarah melebarkan selimutnya dan masuk ke dalam selimut tapi baru saja mau memejamkan matanya terdengar seseorang membuka pintu kamarnya dan dia tau yang masuk adalah suaminya sendiri .
Dia pura pura tidur males harus bertemu dengan suaminya bejatnya itu . Dia bersumpah tidak akan mau disentuhnya lagi .
Setelah Arya keluar dari kamar mandi dia berjalan kearah balkon kamarnya, menelpon Mutia tanpa dia sadari Sarah bangun merekam semua yang diucapkan suaminya, sayang sekali dia tidak bisa mendengar suara yang disebrang sana .
Dia tadi siang juga dapat Wa dari Amel anak buah suaminya yang bersedia membantu mencarikan bukti untuknya .
Sarah mendengar kalau Arya sudah mau menutup telponnya dia segera naik ke kasur dan masuk ke dalam selimutnya lagi .
Keesokan paginya Sarah bangun dari tidurnya ternyata suaminya lebih memilih tidur di sofa didalam kamarnya, Sarah kecewa tapi lebih ke senang karena suaminya sudah menjauh dari dirinya .
" Selamat pagi Mbok !"
" selamat pagi Nak." ya sekarang Sarah memanggilnya nama saja tapi Mbok lebih suka memanggilnya dengan sebutan Nak .
" Mbok saja yang masak ya aku lagu malas membuat sarapan Mbok mulai sekarang Mbok yang akan membuat Sarapan aku sudah nggak mau meladeninya lagi ."
" Baik Nak, sana kamu ke kamarnya Vania saja daripada melihat suami kamu lagi sarapan !" Perintah Mbok kepada Sarah .
Didalam kamarnya Arya baru bangun dia terkejut karena matahari sudah sangat tinggi dan sudah jam tujuh .
" Kenapa Sarah nggak membangunkan aku sih jadi telatkan ke perusahaannya !" Kesan Arya langsung mandi dan keluarnya dari kamar mandi belum disiapkan baju sama Sarah , itu tambah membuat kesal Arya .
" Pagi Mbok, Sarah kemana Mbok ?" Tanya Arya dengan muka yang kesal dan marahnya karena Sarah pagi ini tidak membangunkannya dan nggak menyiapkan baju untuknya .