"Amelia kita sudah menikah, ingat perjanjian kita jika pernikahan ini hanya sementara. Aku menikahimu karena terpaksa.. jangan berharap banyak dari pernikahan ini. Aku pun tidak akan menyentuhnya."ucap Rudi.
Amelia gadis berasal dari desa kidul, bertemu dengan Rudi pria asal ibukota,ia seorang kontraktor yang sedang membangun jalanan di desa Amelia.
Amelia terpaksa menerima lamaran Rudi karena ingin melunasi hutang kedua orang tuanya.
Rudi terpaksa menikahi Amelia karena tunangannya Sarah hilang entah ke mana menjelang 1 minggu pernikahan mereka.
Sementara undangan sudah menyebar kemana-mana.
Untuk menutupi aib keluarga Rudi memilih Amelia untuk ia nikahi.
"Apapun persyaratannya aku terima yang terpenting uang yang kamu janjikan harus tepati..." jawab Amelia tegas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur silawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 19 bertemu mantan mertua.
"Alhamdulillah kalian pulang juga.. kami sangat khawatirkan dengan kalian berdua. Kenapa melamar pekerjaan sampai seharian bahkan hingga malam?"tanya Gendis.
Hatinya lega melihat keponakannya pulang dengan selamat..
" Kami diterima kerja, dan langsung mulai kerja hari ini juga.."jawab Amelia dan kasih bersamaan.
Lapas hamdalah diucapkan oleh mahmudah dan Gendis..
"Alhamdulillahirobbilalamin... Kamu keterima kerja nak, Masya Allah kasih akhirnya kamu bisa merasakan bekerja di kota."seru Ibu mahmudah.
Hari sudah malam, mahmudah pamit bersama kasih untuk pulang ke rumahnya.
"Apa yang kamu bawa nak? "Tanya Mahmud .
"Di stasiun, kami menyempatkan diri belanja di mall.. Lia membeli beberapa potong pakaian, lia keterima menjadi asisten pribadi..
" Kalau aku tidak butuh pakaian baru sebenarnya.. karena dapat seragam,tapi aku dipaksa belli oleh Lia." Mahmudah membuka plastik yang berisikan pakaian.
"Masya Allah terlalu baik Lia dengan mu.. seperti saudara sendiri semoga Allah mudahkan segala rezekinya dan segala urusannya." Ucap Mahmudah.
Dirumah Bude Gendis Lia sedang menikmati makan malamnya.
Gendis menyodorkan amplop berlogokan pengadilan agama itu..
Lia hanya melirik saja ia meneruskan menikmati makan malamnya. Setelah ia selesai makan malam ia meneguk air minum yang sudah disediakan oleh Gendis..
Semalam membuka amplop tersebut Lia menarik nafas panjang.
"Bismillahirohmanirohim."ucap Lia, pelan-pelan sekali ia membuka amplop tersebut.
Lia membaca dengan teliti surat tersebut, setelah itu ia meletakkan di atas meja.
"Aku tidak perlu hadir di persidangan itu,biarkan hakim yang memutuskannya.. " dada Lia nyesek melihat surat itu.
Lia tahu Setiap keputusan yang ia ambil ada konsekuensi yang harus ia tanggung.
Mengambil keputusan menikah dengan laki-laki yang tidak ia cintai, dan belum lepas dari masa lalu.. langkah ini terpaksa Lia ambil demi menyelamatkan keluarganya..
Lia mengawali pernikahannya dengan tulus tidak ada niatnya untuk mempermainkan pernikahan.
Ia tidak ingin bercerai dengan Rudi, Tapi semua itu keinginan suami. Apa boleh buat Lia harus menerimanya.
"Lebih baik seperti itu supaya cepat putusnya." Hari Gendis pun sakit ia bisa merasakan sakit hati yang dirasakan Lia.
Sebelum tidur,seperti biasa Lia menulis untuk menabung bab.. kesempatan menulis di siang hari sudah tidak ada selain hari libur Sabtu dan Minggu.
"Nduk kita tidak jadi pulang kampung ? Bude tidak mau pulang sendiri, biarkan Bapak sama ibumu yang main ke sini.." ucap Gendis ia meletakkan toples berisi cemilan diatas mesin jahit yang ada dikamar itu..
" Mana baiknya saja Bude.. Ibu sama Bapak dan adik-adik berkunjung ke ibu kota, itu lebih baik.. sudah lama mereka tidak berkunjung kerumah Bude." Tidak mau mengganggu kegiatan keponakannya Gendis pergi meninggalkan kamar Lia.
Lia fokus menulis cerita bersambungnya yang pembacaannya semakin naik.
Begitupun buku kedua pembacanya puluhan ribu, sementara buku ketiga sudah terkontrak itu pun sudah banyak yang membaca.
Lia sangat semangat menulis hingga larut malam..
Pagi harinya Lia sudah siap-siap untuk berangkat bekerja dengan semangat 45.
Begitupun Asih ia sudah siap untuk mengais rezeki ibukota.
" Bude Lia berangkat kerja.. Bude hati-hati di ladang, sebelum jam 12.00 sudah pulang ke rumah istirahat tidur siang.." Gendis terharu diperhatikan oleh keponakannya.
Waktu Lia masih kecil Gendis sangat menyayangi Lia, apa saja yang Lia mau selalu dituruti oleh Gendis, bahkan setiap belum idul Fitri Gendis membeli Lia baju baru setiap lebaran tiba.
Sekarang apa yang Gendis lakukan itu kini berbalik padanya..
Apa yang Gendis tanam sekarang ia memetik buahnya.
Sang keponakan yang disayangi sepenuh hati dan tulus tanpa syarat.. telah menunjukkan perhatian dan kasih sayang yang tulus pada Gendis.
" Iya..! kamu hati-hati di jalan, jangan ngebut bawa motor.. sudah pulang jangan kemana-mana, langsung pulang ke rumah, cuaca sedang ekstrim hujan terus.." Gendis menyerahkan tas bekal untuk Lia.
Dengan senang hati Lia menerima tas yang berisikan bekal makan siang.
"Aku berangkat Bude." Lia dan Asih mencium takzim tangan Bude Gendis.
Lalu keduanya berangkat kerja dengan Hati yang riang.
Perjalanan Lia bertemu dengan Ainun dan Dewi.. beserta Denada dan Rudi.
Mereka menggunakan mobil Kamila.
" Heii.. Janda Miskin, mau ke mana? Pasti mau ngemis ya di lampu merah? Lagu-lagu pakaian baru.. jangan-jangan baju baru belinya kredit."Dewi dan Ainun tertawa kencang, padahal tidak lucu.
Rudi sempat terkesima melihat penampilan Lia yang sedikit berubah.. Lia lebih fresh. wajahnya terpancar aura positif..
"Sudah sih Bu berisik sekali? Heran saya, Lia pakaian bagus Dihina pakaian yang sederhana kalian hina juga.. Apa nggak capek menghina Ia terus? Perhatikan baik-baik Lia lebih cantik wajahnya lebih fresh, aura yang terpancar positif. Semenjak yang keluar dari rumah kita."ujar Denada, Ainun tidak berani berkomentar banyak jika di nada Putri sulungnya sudah berucap.
Kaca mobil masih terbuka Lia masih berhenti persis di sebelah kemudi..Ia ingin mendengarkan hinaan mantan mertua dan mantan suaminya.
Ia ingin memastikan tidak menyesal membenci kemerdekaan seumur hidup.
"Saya terlalu berharga jika berada di lampu merah...! " Sarkas Lia.
"Janda miskin dengar baik-baik.. Mas gue besok mau menikah dengan wanita karier, cantik dan kaya raya sudah pasti berpendidikan tinggi."seru Dewi, ia tidak mengindahkan tatapan horor dari Denanda.
"Alhamdulillahirobbilalam semoga pernikahan kedua Mas Rudi dengan wanita karier itu berjalan lancar, dan wanita karier itu tidak mengecewakan di kemudian harinya." Jawab Lia lantang sambil tersenyum sinis.
"Surat dari pengadilan sudah kamu terima kan? Tidak perlu hadir biar cepat proses perceraiannya." Sahut Ainun.
" Tenang saja, tanpa Ibu ajarin saya tahu mana yang baik untuk saya dan tidak.. menandatangani surat perceraian itu, gerbang Saya menuju masa depan yang gemilang. Bertahan di dalam rumah ibu yang sangat sederhana itu, adalah sebuah kesalahan dan ketololan saya."jawab Lia lantang.
Ainun geram Lia tanpa jeda menjawab semua ucapan pedas Ainun.
"Jalan Rudi.. kita tidak akan sampai tujuan jika mengikuti kemauan ibu dan Dewi." Rudi mengikuti perintah kakaknya Denada, untuk meneruskan perjalanan.
Sementara Lia dan kasih sudah meluncur ke jalan Raya Sambil tertawa terbaik mengejek menatap Ibu Ainun beserta anak-anaknya.
"Mereka tidak tahu saja ya, Lia.. wanita karir yang mereka banggakan, memiliki pentungan." Lia sudah menceritakan siapa Kamila pada kasih dan Asti.
"Aku akan menjadi penonton, cerita keluarga Rudi.. di mana peran utamanya Rudi dan Kamila, wanita karier yang dibanggakan." Ucap Lia.
Tak terasa mereka telah sampai di stasiun kereta api.
Kereta sudah penuh diisi oleh para pekerja kantoran.
Lia dan Asih memarkirkan sembarangan sepeda motor mereka di tempat penitipan motor.
Kedua lari menuju kereta yang sudah menunggu kehadiran mereka.
"Wah.. alhamdulillahirobbilalami masih kebagian tempat dudukku." Ucap Kasih.
Seperti biasa Lia menggunakan kesempatan tidur didalam kereta.. lumayan perjalanan mereka 45 menit.
Setiap detik sangat berarti bagi Lia untuk memejamkan matanya.
Semalaman suntuk ia menulis cerita hingga hampir pagi.
Asih hanya menggelengkan kepala melihat temannya itu sudah pulas dalam waktu 10 menit.
Ainun yang masih kesal karena belum bisa meluapkan emosinya pada Lia. Uring-uringan di sepanjang jalan .
" Kebiasaan Denada, orang lagi enak ngobrol main jalan Saja." Gerutu Ainun.
"bukan ngobrol tapi, mencela orang?? Aku tidak habis pikir dengan ibu dan Dewi.. kok bisa kalian punya mulut sepedas itu menghina orang yang tidak bersalah, jangan suka menyakiti hati orang.. kalau Lia minta apa yang ia rasa ibu dan Dewi rasakan pasti dikabul oleh Allah. Karena doa orang yang terzalimi itu langsung di kabul oleh Allah. Kalau tidak bisa mengucapkan kata-kata yang baik. Lebih baik diam."jawab Denada dengan nada dingin..
"Apa yang aku dan ibu katakan benar Mbak Nada..Lia memang wanita miskin? Apanya yang salah coba? Aku dan ibu hanya bicara fakta." Jawab Dewi.
"Jaga mulutmu jika bicara Dewi! Mulutmu itu harimau? jangan sampai mulutmu membawamu ke malapetaka yang besar." Bentak Nada.
Rudi diam tidak komentar sama sekali, pikirannya sedang kacau.. mau menikah malah proyek yang mereka menangkan di cancel pengerjaannya.