NovelToon NovelToon
Bangkitnya Menantu Terhina

Bangkitnya Menantu Terhina

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: megga kaeng

Mereka menyebutnya menantu sampah.
Lelaki tanpa harta. Tanpa kekuasaan. Tanpa kehormatan.
Ia dipermalukan di meja makan, ditertawakan di depan pelayan, dan istrinya… memilih diam.
Tapi mereka lupa satu hal.
Darah yang mengalir di tubuhnya bukan darah biasa.
Saat ia mati dalam kehinaan, sesuatu bangkit bersamanya.
Bukan cinta. Bukan ampun.
Melainkan kutukan kuno yang menuntut darah keluarga itu satu per satu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon megga kaeng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25 – Kebenaran yang Terungkap

Malam semakin larut, namun udara di hutan tetap terasa dingin. Bintang-bintang yang biasa tampak terang di langit malam kini tertutup awan gelap yang menggulung perlahan. Hujan yang turun beberapa saat lalu kini hanya menyisakan jejak-jejak basah di tanah, menambah suasana suram yang menyelimuti perjalanan Defit dan Maya. Mereka berdiri, menatap Wuras yang berdiri beberapa langkah di depan mereka, wajahnya serius.

“Kebenaran yang terpendam selama ini...” Wuras memulai, suaranya dalam dan berat, seolah setiap kata yang keluar dari bibirnya adalah sesuatu yang sulit untuk diungkapkan. “Kalian tidak hanya berlari dari masa lalu. Kalian melarikan diri dari sebuah takdir yang jauh lebih besar dari apa yang bisa kalian bayangkan.”

Defit menatapnya dengan cemas, hatinya mulai gelisah. “Apa maksudmu? Apa yang kita lari dari?”

Wuras menghela napas panjang, lalu mengangkat tongkatnya ke udara. Simbol-simbol di ujung tongkat itu mulai bersinar lemah, menyinari wajahnya yang pucat. “Kalian berdua terhubung dengan lebih dari sekadar keturunan yang terbuang. Ada sesuatu yang jauh lebih besar dari itu. Darah kalian khususnya darahmu, Defit mengalir dari kekuatan kuno yang tidak bisa dihentikan. Kalian adalah bagian dari sesuatu yang lebih besar… dan sesuatu itu sedang bangkit.”

Maya menggigit bibirnya, cemas. “Apa yang sedang bangkit, Wuras?”

Wuras menundukkan kepala, seakan menghindari tatapan Maya. “Sesuatu yang seharusnya tetap terkubur dalam waktu. Sesuatu yang tidak boleh bangkit kekuatan yang akan menghancurkan siapa saja yang berani menentangnya.”

Defit merasakan sesuatu di dalam dirinya bergetar. Ia mengingat segala hal yang terjadi sejak ia kembali ke desa itu. Semua yang terjadi semua keputusan yang ia buat, semua langkah yang ia ambil seolah tidak dapat dipisahkan dari sesuatu yang lebih besar. Sesuatu yang lebih kuat dari dirinya.

“Kami tidak bisa lari dari takdir ini, bukan?” tanya Defit, suaranya berat, penuh kesadaran akan kenyataan pahit yang mulai terungkap.

Wuras mengangguk perlahan. “Tidak, Defit. Kalian berdua sudah terpilih. Kalian adalah kunci untuk menghentikan atau membangkitkan kekuatan ini. Dan keputusan kalian apa yang kalian pilih akan menentukan nasib dunia.”

Maya menggenggam tangan Defit, matanya mencari kepastian. “Tapi kenapa kita? Mengapa kita yang harus menghadapinya?”

Wuras menatap mereka dengan tatapan yang penuh penyesalan. “Karena darah kalian memiliki kekuatan untuk membangkitkan atau memusnahkan segalanya. Kekuatan yang terkubur jauh di bawah tanah ini di tempat yang tidak ada yang tahu, bahkan para penjaga sekalipun. Kalian terhubung dengan leluhur yang terlupakan, yang memiliki kekuatan untuk meruntuhkan dunia yang ada sekarang.”

Defit merasakan perasaan berat yang hampir tak tertahankan menghantam dadanya. Kekuatan yang selama ini dia bawa, yang selalu ia coba hindari, ternyata lebih besar dari yang ia kira. Dan kini, pilihan untuk bertahan hidup, untuk menemukan kedamaian, seakan terenggut dari tangannya.

“Lalu, apa yang harus kami lakukan?” tanya Defit dengan suara rendah. “Kami tidak bisa menghadapi kekuatan sebesar itu sendirian.”

Wuras mengangguk. “Kalian tidak akan sendirian. Tapi untuk menghentikan semuanya, kalian harus menyatukan dua hal kekuatan darah yang ada dalam diri kalian dan kebenaran yang telah lama disembunyikan. Hanya dengan itu kalian bisa mengalahkan kegelapan yang ada.”

Maya mengerutkan kening, bingung. “Kebenaran apa yang telah lama disembunyikan?”

Wuras menghela napas panjang, dan untuk pertama kalinya, ada secercah keraguan di matanya. “Kebenaran tentang leluhur kalian. Tentang apa yang terjadi berabad-abad yang lalu, ketika darah kalian pertama kali dipilih untuk membawa kekuatan ini. Mereka yang memilih kalian tidak ingin kalian tahu segalanya. Mereka takut kalian akan menghancurkan mereka, sama seperti kalian bisa menghancurkan dunia.”

“Apa maksudmu?” tanya Defit, semakin bingung. “Siapa yang memilih kami? Apa yang terjadi pada leluhur kami?”

Wuras menatap mereka dengan tatapan yang penuh kesedihan. “Mereka adalah penjaga kekuatan itu orang-orang yang tahu betul apa yang bisa terjadi jika darah kalian jatuh ke tangan yang salah. Mereka membuat keputusan untuk mengurung kekuatan itu dan melupakan kebenaran. Namun kekuatan itu tidak akan pernah mati. Ia akan selalu mencari jalan untuk bangkit. Dan kalian kalian adalah satu-satunya yang bisa menghentikannya.”

Keheningan meliputi mereka. Defit merasakan angin malam berhembus lebih kencang, seakan alam sendiri merespon beratnya kata-kata Wuras. Maya masih terdiam, wajahnya pucat, matanya kosong seolah mencoba menerima kenyataan yang tak bisa ia pahami.

“Apa yang harus kami lakukan sekarang?” tanya Maya akhirnya, suaranya penuh kecemasan.

Wuras menatap mereka dengan mata yang penuh ketegasan. “Kalian harus menuju ke tempat yang terlarang tempat di mana darah kalian pertama kali dipilih. Di sana, kebenaran akan terungkap. Dan hanya di sana, kalian akan mengetahui apakah kalian bisa menghentikan kekuatan itu atau malah membiarkannya menguasai dunia.”

Defit merasakan beban yang semakin menumpuk. “Di mana tempat itu?”

Wuras menunjuk ke arah hutan yang lebih dalam, ke arah yang gelap. “Di sana,” katanya, “tempat yang kalian sebut rumah, tempat di mana kalian tidak pernah merasa diterima, tempat yang menyembunyikan segalanya.”

Maya menggenggam tangan Defit lebih erat. “Kita harus pergi, Defit. Kita tidak bisa mundur sekarang.”

Defit menatap Maya, matanya penuh tekad. “Kita akan pergi. Kita akan menghadapinya, apapun yang terjadi.”

Dengan langkah yang lebih mantap, mereka melangkah ke dalam kegelapan, menuju ke tempat yang tak mereka kenal. Namun satu hal yang pasti mereka tidak akan mundur lagi.

Karena kebenaran, apapun itu, harus dihadapi.

1
kurnia
up thor
grandi
awal yang menarik semoga,
terus menarik ceritanya 👍
megga kaeng: trimakasih🙏
total 1 replies
grandi
jangan gantung ya thor🙏
megga kaeng: siap🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!