NovelToon NovelToon
One Night Stand With Mafia Boss

One Night Stand With Mafia Boss

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / One Night Stand / Psikopat itu cintaku / Mafia / Roman-Angst Mafia / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ririnamaku

Bijaklah dalam memilih bacaan.
Cerita ini hanya fiksi belaka!
-------------------------

Megan Ford, seorang agen elit CIA, mengira ia memiliki kendali penuh saat menodongkan pistol ke pelipis Bradley Brown, bos mafia berdarah dingin yang licin.

Namun, dalam hitungan detik, keadaan berbalik. Bradley,seorang manipulatif yang cerdas menaklukkan Megan dalam sebuah One Night Stand yang bukan didasari gairah, melainkan dominasi dan penghancuran harga diri.
Malam itu berakhir dengan kehancuran total bagi harga diri Megan.

Bradley memiliki bukti video yang bisa mengakhiri karier Megan di Langley kapan saja. Terjebak dalam pemerasan, Megan dipaksa hidup dalam "sangkar emas" Bradley.
Mampukah Megan dengan jiwa intelnya melarikan diri dari tahanan Bradley Brown?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ririnamaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 22

The Peninsula, New York — 08.00 AM

Atmosfer di dalam luxury suite itu berubah drastis dalam hitungan detik. Kehangatan pagi tadi menguap, digantikan oleh hawa dingin yang menusuk. Alice, yang menyadari perubahan raut wajah Arthur, melangkah mendekat dengan raut cemas yang dibuat-buat.

"Ada apa, Sayang? Kau tampak begitu tegang," tanya Alice, mencoba menyentuh lengan Arthur.

"Alice... pesan dari Langley baru saja masuk," suara Arthur terdengar berat, matanya masih terpaku pada layar ponsel. "Sistem biometrik bandara Dulles mendeteksi keberadaan Megan kemarin. Wajahnya teridentifikasi sebagai Megan, tapi dokumen perjalanannya menyatakan dia adalah Nora Alexander."

Alice tersentak dalam diam. "Bagaimana Bradley bisa seceroboh itu?" batinnya berteriak panik. Namun, ia segera mengatur napas.

"Tenanglah, Arthur. Mungkin itu hanya kesalahan sistem. Bukankah kau sendiri yang bilang Megan sedang dalam misi rahasia?"

"Tidak, Alice. Ada yang tidak beres," Arthur menepis tangan Alice, ia melangkah cepat menuju lemari untuk mengambil mantelnya. Mode Direktur CIA-nya telah aktif sepenuhnya.

"Laporan dari Sean menyebutkan Megan sedang menjalankan Black Ops untuk melacak pergerakan Bradley Brown di London. Tapi sekarang, Brown justru terdeteksi berada di Virginia, membawa wanita yang identik dengan putriku. Ini bukan kebetulan."

"Biar aku tanyakan pada Sean besok pagi, Arthur. Sekarang, tenangkan dirimu dulu—"

"Kita tidak bisa menunggu sampai sore, Alice!" potong Arthur tajam, sorot matanya kini sedingin es. "Kita pulang sekarang. Aku ingin berada di Langley dalam dua jam!"

Alice tidak punya pilihan lain. Ia hanya bisa mengangguk patuh sambil diam-diam merutuki situasi yang mulai lepas kendali.

***

The Vault Clinic, Virginia — Waktu yang Sama

Di dalam ruangan steril yang sunyi, Megan yang kelelahan hebat pasca pendarahan mulai memejamkan mata. Bradley membantu membaringkan tubuh Megan dengan sangat hati-hati, tak ingin mengganggu tidurnya.

Sebelum bangkit, ia menyempatkan diri mengecup kening Megan, sebuah tindakan posesif yang bercampur dengan rasa bersalah yang ia sembunyikan rapat-rapat.

Bradley bangkit, rahangnya mengeras menahan nyeri di punggungnya saat Peter melangkah masuk dengan wajah tegang.

"Tuan, Direktur Ford sudah menerima informasi tentang keberadaan Nona Megan di Virginia melalui laporan Dulles," bisik Peter.

Bradley tidak tampak terkejut. Ia justru menyunggingkan senyum miring yang sangat mengerikan, senyum seorang psikopat cerdas yang sedang menonton bidak caturnya bergerak.

"Biarkan saja, Pet. Kita lihat sejauh mana singa tua itu bisa mencari putri kesayangannya di kandangnya sendiri," ucap Bradley tenang. "Aku ingin dia merasakan bagaimana rasanya kehilangan segalanya. Aku hanya akan duduk di sini, menyaksikan kehancuran Miller dan Ford dari balik bayang-bayang."

Peter bergidik ngeri. Ia melihat kilat dendam di mata Bradley yang jauh lebih mematikan daripada peluru mana pun. Bradley tidak sedang berperang; dia sedang menikmati pertunjukan kehancuran yang ia sutradarai sendiri.

***

Virginia — 14.00 PM

Megan terbangun dengan perasaan yang jauh lebih segar. Sinar matahari sore Virginia menyusup masuk melalui celah gorden klinik, menyinari debu-debu yang menari di udara steril. Di sudut sofa, Bradley tampak sibuk dengan tabletnya, wajahnya terlihat fokus dan sudah tak lagi mengenakan pakaian klinik.

"Brown," panggil Megan lirih.

Bradley seketika menghentikan aktivitasnya. Ia tertegun sejenak, ini pertama kalinya Megan memanggilnya tanpa nada ledakan amarah atau makian. Ia meletakkan tabletnya di meja, lalu melangkah pelan menuju sisi brankar Megan.

"Kau butuh sesuatu, Meg?" tanya Bradley, suaranya lembut.

"Aku ada permintaan," Megan menatap Bradley dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Katakan."

"Aku tidak ingin berada di klinik ini lebih lama lagi. Rasanya mencekik."

Bradley menatap selang infus yang masih menempel di tangan Megan. "Kau ingin pindah ke hotel?"

"Bukan. Bawa aku ke Alexandria," ucap Megan penuh permohonan.

Bradley membeku. Nama kota itu seolah menjadi mantra yang mengunci seluruh persendiannya. "Alexandria?"

"Ya. Ke rumah Bibi Sarah. Tempat yang paling tenang yang pernah aku miliki."

“Kau bilang bibimu sudah tidak ada... lalu kenapa kau ingin ke sana?"

"Rumah itu memang kosong, tapi sangat terawat. Ayahku memastikan tempat itu tidak tersentuh," Megan menjeda, sorot matanya berubah sendu. "Aku tidak tahu kapan putra Bibi Sarah pulang, tapi setiap kali aku berkunjung, penjaga rumah bilang kalau pria itu selalu datang. Aku ingin berada di sana, Brad."

Bradley terdiam cukup lama. Pikirannya berkecamuk. Permintaan ziarah ke makam belum terpenuhi, kini ditambah lagi, kondisi Megan masih sangat lemah pasca pendarahan.

"Kau keberatan, Brown?" tanya Megan saat melihat Bradley hanya membisu.

"Aku... aku harus tanyakan pada dokter dulu. Kondisimu belum stabil, Meg."

Megan mendengus sinis, emosinya kembali tersulut. "Kau bisa membungkam mulut seluruh dunia dengan uang dan senjatamu, Brad. Kenapa hanya untuk membawaku ke Alexandria kau butuh persetujuan orang lain?"

Bradley menghela napas berat, mencoba menekan egonya yang mulai terusik. Matanya melirik mangkuk bubur di atas nakas yang belum disentuh. Ia tahu Megan butuh energi jika ingin menempuh perjalanan singkat itu.

"Baiklah. Aku akan membawamu ke sana," ucap Bradley akhirnya. Ia meraih mangkuk bubur itu, mengaduknya perlahan. "Tapi makanlah dulu, Meg. Aku tidak mau bayiku kenapa-napa hanya karena ibunya keras kepala."

Bradley menyendok bubur itu, meniupnya pelan sebelum menyodorkannya ke depan bibir Megan. Di ruangan sunyi itu, sang predator kembali menundukkan kepalanya, menyuapi wanita yang membencinya.

***

"Kau gila, Brad?! Membawa Megan ke Alexandria dalam kondisinya sekarang?" dr. Clara terbelalak tak percaya saat Bradley menyampaikan keputusannya di ruang jaga.

"Klinik ini tidak baik untuk ibu hamil. Bau obat dan dinding putih ini hanya membuatnya stres," jawab Bradley datar, seolah ia sedang membicarakan urusan bisnis biasa.

"Stres? Kau sendiri yang membuatnya stres, Brad! Dia butuh pengawasan medis 24 jam!"

"Maka siapkan perawat terbaikmu untuk ikut bersamaku ke Alexandria. Bawa semua obat dan peralatan yang Megan butuhkan," Bradley memotong kalimat Clara dengan nada mutlak, memberikan tatapan yang tak menyisakan ruang untuk perdebatan. "Siapkan sekarang. Aku tak butuh ceramahmu maupun suamimu itu.”

"Dasar pria gila," desis Clara tajam, namun ia tahu ia tak punya pilihan selain mematuhi sang penguasa Obsidian.

***

Pukul 17.00 PM

Seburat jingga yang hangat menghiasi langit Langley sore itu. Mobil Rolls-Royce hitam mengkilap milik Bradley meluncur membelah jalanan kota yang mulai padat.

Megan duduk termenung di kursi belakang, matanya tak lepas menatap jalanan yang dulu ia lewati setiap hari dengan bangga. Dari kejauhan, gedung megah markas besar CIA nampak berdiri angkuh.

Dua bulan lalu, gedung itu adalah rumah keduanya. Namun sekarang, tempat itu terasa sejauh galaksi, seolah sedang menertawakan kekalahannya. Megan merasa dirinya tak lebih dari sebutir debu yang terbuang di tanah kelahirannya sendiri.

"Apa yang kau pikirkan, Meg?" suara rendah Bradley memecah keheningan di dalam kabin mobil yang kedap suara.

Megan tidak langsung menjawab. Ia tetap menatap jendela, melihat pepohonan yang mulai berganti warna. "Aku hanya berpikir... betapa lucunya takdir. Aku berdiri di sini, menghirup udara yang sama dengan rekan-rekanku, namun bagi dunia, Megan Ford sudah mati. Aku sedang melihat pemakamanku sendiri tanpa ada satu pun orang yang menaburkan bunga."

Bradley terdiam, jemarinya mengetuk pelan pada sandaran tangan. "Kau tidak mati, Meg. Kau hanya sedang berganti kulit. Kadang, menghilang adalah satu-satunya cara untuk melihat siapa yang benar-benar mencarimu."

"Dan kau pikir aku akan berterima kasih karena kau sudah 'membantuku' menghilang?" sindir Megan tipis.

Mobil perlahan memasuki kawasan pemukiman elit di Alexandria. Tak lama kemudian, kendaraan mewah itu berhenti di depan sebuah rumah bergaya kolonial yang sangat asri.

Rumah itu memiliki dinding kayu bercat putih bersih dengan pilar-pilar besar yang kokoh. Halamannya dipenuhi rumput hijau yang terpangkas rapi. Bunga-bunga lavender yang ditanam di sepanjang pagar memberikan aroma ketenangan yang langsung menyapa indra penciuman.

Rumah itu nampak sangat terawat, seolah-olah sang pemilik baru saja pergi keluar untuk sebentar, padahal kenyataannya sudah kosong selama belasan tahun.

Seorang penjaga rumah paruh baya, Paman Sam langsung berlari 7menyambut mereka. Wajahnya yang semula bingung berubah menjadi cerah saat melihat sosok di kursi belakang.

"Nona Megan! Anda datang lagi?" sapa Paman Sam ramah, ia sudah terbiasa dengan kunjungan Megan. Namun, senyumnya sedikit memudar saat melihat pria asing bertubuh tegap yang turun bersama Megan.

Megan tersenyum lemah. "Ya, Paman. Aku ingin menginap beberapa hari di sini. Aku butuh ketenangan."

Megan kemudian melangkah masuk ke dalam rumah yang beraroma lavender itu. Langkah kakinya yang pelan bergema di atas lantai kayu ek, seolah sedang menyapa kenangan yang tertidur.

Matanya menyapu setiap sudut ruangan, hingga jemarinya berhenti pada sebuah bingkai foto perak di atas perapian. Seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun dengan senyum cerah dan mata kelam yang tajam menatap dari balik kaca.

Megan mengambil foto itu, mengusap debu tipis di atasnya dengan ibu jari, lalu membawanya duduk di sofa tua yang masih empuk.

"Alex..." bisik Megan lirih, sorot matanya melembut penuh kerinduan.

Bradley, yang baru saja masuk dengan langkah berat, terpaku di ambang pintu. Ia menahan napas saat melihat foto yang berada di pangkuan Megan.

"Siapa dia, Meg?" tanya Bradley, suaranya sedikit bergetar meski ia berusaha tetap datar.

"Dia Alex putra Bibi Sarah," jawab Megan tanpa menoleh.

"Pria yang kau harapkan menjadi pahlawanmu?" sindir Bradley, mencoba menutupi rasa sesak yang mulai menghimpit dadanya, menyadari jika dirinya tak berarti apapun di hadapan Megan.

Sebelum Megan sempat membalas, Paman Sam muncul dari arah koridor. "Nona Megan, Paman sudah menyiapkan kamar tamu di lantai bawah untukmu dan... tamu Anda."

"Kenapa, Paman? Aku biasanya tidur di kamar Alex, kan?" tanya Megan heran.

Paman Sam tampak ragu, ia melirik Bradley sejenak. "Um... iya, tapi..."

Pandangan Paman Sam jatuh pada Bradley, ada sesuatu yang ingin dia katakan namun Paman Sam ragu...

1
Senja
eh kali ini bener kata Bradley
Senja
sekarang aja udah stress mala jadi ibu dari anak2, katanya 😔 bener kata Matthew& Clara, emang gila Bradley 😭
Senja
Aduh😭😭😭😭
Bintang Kejora
wah gila sih Arthur Ford... beneran megan menyelamatkam kehormatan ayahnya dengan memgorbankan dirinya
😔
Bintang Kejora
kayak nonton film action hollywood 🤭
Bintang Kejora
Tuh kan bener jadi begini kan? Bradley ga tau megan mempertaruhkan nyawanya demi mencari jawaban tapi bradley tetap ga mau kasih tahu. teka teki banget sih thor
Bintang Kejora
Nekat amat Megan. memilih nyelamitin bradley dari pada Bayinya 😪
Senja
Astaga... Megan benar2 benci sama Bradley sampe2 dia ga mikirin nyawanya sendiri. lebih baik mati 😭
Senja
Apalah Bradley selalu punya cara buat ngikat Megan...😔
Senja
ya ampun ini dari drama ngidam mangga muda sampe ngidam rawon... rawon go international 🤭😄 Anaknya Brad emang agak lain..
Senja
😄😄😄 Hantu London takluk sama mangga muda...
Senja
Ayo kesempatan kabur Megan 😄
Senja
Jadi gadis yang ada di bayangan Bradley itu, Alice kah? Tadi Alice nangis juga di rumah Arthur... benangnya kusut banget. Aku beneran ga bisa nebak. 🤭
Mawar Berduri
kamu itu sebenarnya siapa nya Megan sih Brad? kadang kalem kadang garang🤔🤔
Mawar Berduri
Megan mati❎
Megan hamil ✅
🤭🤭
Bintang Kejora
Ihh Bradley ini siapa sih? misterius banget. kamu kenal megan?
SarSari_
baca juga ceritaku ya kak, suamiku ternyata janji masa kecilku.🙏
Mawar Berduri
Wah ada apa dengan Bradley? kenapa mendadak berubah setelah mendengar cerita Megan?
Senja
Alpha Male si Bradley, bagus aku suka novel dengan genre mafia psikopat. Semoga ke depan lebih menantang.
Mawar Berduri
Bagus untuk openingnya, melibatkan Agen dan Mafia. Lanjut author untuk aksi menegangkan di next chapter. Semangat.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!