Malam itu, di Desa Gadhing yang damai, Tirta hanyalah seorang pemuda biasa yang lebih akrab dengan cangkul daripada pedang. Wajahnya selalu menunduk malu, bicaranya pelan, dan tubuhnya kurus. Ia tak punya minat pada dunia persilatan yang sering dibicarakan para tetua di gardu. Baginya, kebahagiaan adalah melihat ladang bapaknya subur dan senyum ibunya mengembang.
Namun, ketenangan itu hancur saat desa mereka diserang. Sekelompok perampok yang dipimpin oleh Lurah Karta, seorang demang serakah yang terkenal bengis, datang dengan tujuan menjarah. Tirta menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana kedua orang tuanya tewas di tangan mereka saat berusaha melindunginya. Suara pedang yang beradu dan jeritan pilu ibu masih terngiang-ngiang di telinganya. Dalam duka dan amarah yang meletup, sesuatu di dalam dirinya pecah. Sebuah kekuatan terpendam bangkit. Dengan tangan kosong, ia berhasil melumpuhkan beberapa perampok, membuat Lurah Karta terkejut dan mundur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GERHANA DI ATAS SAMUDRA
Tebing Ratapan kini menjadi saksi bisu pertarungan antara cahaya dan kegelapan yang sesungguhnya. Lautan di bawahnya bergejolak hebat, memuntahkan ombak raksasa yang menghantam karang, seolah alam turut merespons pertempuran di puncaknya. Tirta berdiri tegak di hadapan Aki Sapu Jagad, napasnya memburu, namun matanya memancarkan ketenangan yang mengerikan—sebuah ketenangan yang hanya dimiliki oleh mereka yang telah melampaui batas hidup dan mati.
Pupil matanya yang kini biru laut dengan titik emas di tengahnya, memancarkan aura yang lebih murni dari Sinar Gadhing: Matahari Rembulan. Ini adalah Sinar Gadhing: Gerhana Samudra, tingkatan tertinggi yang bahkan para tetua Padepokan Lingga hanya bisa membayangkannya.
"Kau pikir dengan mengubah warna matamu kau bisa mengalahkanku, Bocah?" ejek Aki Sapu Jagad. Tongkat gagaknya berdentum ke tanah, dan seketika, celah-celah batu di sekeliling mereka memuntahkan kabut hitam pekat yang berbau kematian. "Aku telah menguasai energi kegelapan ribuan tahun sebelum kau lahir!"
"Kegelapanmu adalah kelemahanmu, Aki," jawab Tirta, suaranya kini terdengar seperti gema dari laut itu sendiri. "Ia menyerap segalanya, namun ia tidak bisa menciptakan apa-apa. Cahaya, sebaliknya, selalu melahirkan kehidupan."
Di sisi lain pelataran, Dimas dan Sekar Wangi bertarung mati-matian melawan belasan pengikut berjubah hitam. Dimas dengan galahnya yang lincah berhasil menjatuhkan tiga orang sekaligus, sementara Sekar Wangi menembakkan panah-panah beruntun yang selalu menemukan sasarannya. Namun, jumlah mereka jauh lebih banyak. Beberapa pengikut sudah mendekati pilar tempat Mayangsari terikat, melanjutkan ritual dengan lantunan mantra yang semakin cepat.
"Ritualnya hampir selesai!" teriak Sekar Wangi. "Aki Sapu Jagad hanya mengulur waktu!"
Mendengar itu, kemarahan Tirta kembali bergejolak. Ia tidak bisa membiarkan Mayangsari jatuh ke tangan iblis-iblis ini.
Aki Sapu Jagad menyerang lebih dulu. Ia mengayunkan tongkat gagaknya, dan dari ujung tongkat itu melesat seekor naga bayangan raksasa yang seluruhnya terbuat dari energi hitam pekat. Naga itu meraung, membuka mulutnya lebar-lebar, siap menelan Tirta bulat-bulat.
Tirta tidak menghindar. Ia mengangkat Sasmita Dwipa tinggi-tinggi ke langit. Pedang itu kini bersinar sangat terang, memantulkan cahaya dari rembulan yang mulai muncul di balik awan.
"Sasmita Dwipa: Tarian Rembulan Abadi!"
Tirta berputar di tempat, menciptakan pusaran cahaya emas-biru raksasa yang berputar kencang. Pusaran itu tidak menyerang; ia menyerap naga bayangan itu ke dalam intinya. Naga hitam itu perlahan-lahan mulai kehilangan wujudnya, berubah menjadi partikel-partikel cahaya yang tersebar di udara.
Aki Sapu Jagad terkesiap. "Kau... kau menghisap energi kegelapanku?"
"Ini bukan hisapan, Aki," jawab Tirta, matanya yang biru jernih menatap tajam ke arah sang tetua. "Ini adalah pemurnian. Setiap kejahatan yang kau lakukan akan kembali kepadamu, menjadi beban bagi jiwamu."
Tirta melesat maju, kecepatannya melampaui batas kecepatan suara. Dalam sekejap, ia sudah berada di hadapan Aki Sapu Jagad, pedangnya siap menebas. Namun, Aki Sapu Jagad bukan lawan sembarangan. Ia adalah pendekar purba yang telah hidup ratusan tahun.
Aki Sapu Jagad menghentakkan kakinya ke tanah. Seketika, tanah di sekitar mereka terangkat, membentuk puluhan tangan batu raksasa yang mencoba mencengkeram Tirta. Pada saat yang sama, ia memuntahkan kabut racun hitam dari mulutnya.
Tirta tidak bisa menghindari semuanya. Ia menebas tangan-tangan batu itu menjadi serpihan, namun kabut racun itu berhasil menyentuh kulit lengannya. Seketika, rasa dingin yang membekukan darah menjalar di tubuhnya, diikuti oleh rasa sakit yang menusuk. Ini adalah racun yang jauh lebih kuat dari milik Kelana.
"Tirta!" teriak Mayangsari dari pilar. Ia berhasil membuka matanya. Air mata mengalir di pipinya saat ia melihat Tirta terluka.
Mendengar suara Mayang, Tirta menahan rasa sakitnya. Ia tidak boleh goyah sekarang. Ia melihat para pengikut Aki Sapu Jagad mulai mendekati pilar Mayangsari, hampir berhasil memutuskan ikatan yang menahannya.
Tirta tahu ia tidak punya banyak waktu. Ia harus mengalahkan Aki Sapu Jagad sekarang, dengan satu serangan pamungkas yang bisa mengakhiri segalanya.
Ia memejamkan mata, membiarkan racun itu merayap di tubuhnya. Ia merasakan setiap detak jantung Mayangsari yang semakin lemah. Ia merasakan setiap helaan napas Dimas dan Sekar Wangi yang bertarung mati-matian di belakangnya. Ia merasakan beban dendam ayahnya dan kehancuran desanya.
Semua emosi itu tidak lagi menjadi beban, melainkan menjadi satu aliran energi yang sangat kuat.
Cahaya emas-biru dari Sasmita Dwipa mulai membentuk sebuah aura raksasa di sekeliling Tirta. Aura itu tidak lagi hanya memancar, melainkan berdenyut, seolah-olah seluruh alam semesta sedang bernapas melalui dirinya.
"Sasmita Dwipa: Gerhana di Atas Samudra!"
Tirta melesat ke arah Aki Sapu Jagad. Gerakannya tidak lagi terlihat, ia telah menjadi seberkas cahaya murni. Ia menembus pertahanan Aki Sapu Jagad yang terbuat dari energi gelap, mengabaikan serangan-serangan balik sang tetua yang mencoba menembus pertahanannya.
Ia mencapai tubuh Aki Sapu Jagad. Namun, Tirta tidak menebas lehernya. Ia hanya menancapkan pedangnya di dada Aki Sapu Jagad. Bukan untuk membunuh secara fisik, melainkan untuk memurnikan kegelapan di dalam jiwanya.
Aki Sapu Jagad mematung. Matanya yang hitam pekat membelalak tak percaya. Ia bisa merasakan energi kehidupan yang murni dari pedang Tirta meresap ke dalam tubuhnya, menghancurkan ribuan tahun akumulasi energi hitam yang ia kumpulkan.
"Tidak... tidak mungkin!" desis Aki Sapu Jagad. Suaranya penuh keputusasaan. Tubuhnya mulai retak, bukan karena luka fisik, melainkan karena jiwanya yang hancur. "Aku... tidak bisa... mati..."
Tirta menarik pedangnya keluar. Tubuh Aki Sapu Jagad ambruk ke tanah. Sosok Aki yang tadinya jangkung dan menakutkan, kini mengecil, kulitnya mengering, dan akhirnya berubah menjadi setumpuk abu hitam yang segera ditiup angin laut.
Saat Aki Sapu Jagad roboh, seluruh pengikut berjubah hitam di pelataran itu juga ikut ambruk. Energi gelap yang selama ini menopang mereka lenyap seketika. Obor-obor ungu padam, meninggalkan kegelapan total.
Namun, di tengah kegelapan itu, cahaya Sinar Gadhing dari Tirta bersinar paling terang. Ia segera berlari menuju pilar tempat Mayangsari terikat. Dengan satu tebasan Sasmita Dwipa, ia memutuskan rantai-rantai energi yang membelenggu Mayangsari.
Mayangsari jatuh ke pelukan Tirta. Tubuhnya terasa ringan dan dingin. "Tirta... kau datang..." bisiknya lirih, air mata kebahagiaan mengalir di pipinya.
"Aku berjanji akan menjemputmu, Mayang," jawab Tirta, memeluk wanita itu erat-erat. Ia mencium kening Mayangsari. Rasa sakit di tubuhnya seolah lenyap seketika, digantikan oleh kehangatan yang tak terhingga.
Dimas dan Sekar Wangi mendekat, terengah-engah. Mereka menyaksikan momen itu dengan mata berkaca-kaca.
"Kita... kita berhasil," Dimas terbatuk.
"Belum," Tirta menatap Mayangsari yang mulai pulih dalam pelukannya. Ia melihat ke arah laut selatan. "Ini baru permulaan. Ritual Sang Pemunah memang gagal, tapi kekuatan yang mereka coba bangkitkan masih bersemayam di dasar samudra. Ini belum berakhir, Dimas. Ini adalah awal dari sebuah peperangan yang lebih besar."
Di kejauhan, di tengah kegelapan laut, sebuah cahaya merah samar berdenyut dari dasar samudra, memancarkan aura kuno yang mengerikan. Pertempuran telah dimenangkan, namun perang yang sesungguhnya baru saja dimulai.