Ledakan pada sebuah laboratorium saat anak kelas XII IPA sedang praktek fisika, menjadi sebuah tragedi yang menagkibatkan menyebarnya wabah.
Zach dan Carol serta murid yang lain menjadi korban peristiwa tragis itu. Wabah penyakit yang menyebabkan manusia berubah wujud menjadi kera.
Virus merajalela,korban berjatuhan. Semua orang berputus asa, akankah dunia kiamat.
Apakah akan ditemukan obat untuk menangkal virus jahat itu.
Siapakah sebenarnya Pak Edward, orang yang menyebabkan virus itu.
Berhasilkah Zach dan Carol menyelamatkan diri?
Siapakah Jhon sebenarnya? pria paruh baya yang mencoba menyelamatkan Zach dan Carol dari daerah pandemi?
apakah pemerintah akan membumi hanguskan kota kecil tempat tinggal.Zach dan Carol.
Yuk simak cerita ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda Pransiska Manalu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16. Carol sakit
Zach merampas botol mineral itu. Dan menarik lengan Carol menuju gudang. Lalu keluar. Zach menunggu sebentar.Telinganya menangkap suara langkah kaki yang memasuki halaman depan. Ada orang lain bersama mereka.
Zach menutup mulut Carol, takut dia bicara sehingga menarik perhatian."Kita cabut, Carol. Ada orang lain datang. Jangan menarik perhatian." bisik Zach lirih.
"Siapa?" bisik Carol, setelah Zach melepas tangannya.
"Tidak tau. Tapi sepertinya bukan orang baik mereka mencurigakan. Ayo, kita dorong motor. Kita melihat dari kejauhan saja." Zach mendorong motornya di bantu Carol. Setelah merasa aman dengan jarak 10 meter, Zach berhenti.
"Kenapa berhenti, Zach?"
"Aku curiga dengan mereka. Kita tunggu sebentar apa yang mau mereka lakukan."
"Tapi aku tidak melihat siapa-siapa?"
"Ssttt, jangan berisik Carol." Zach bersandar di balik pohon saat cahaya senter menyorot ke arah mereka. Sepertinya orang-orang itu tengah memeriksa keadaan sekitar. "Gawat apa yang hendak mereka lakukan?" desis Zach saat mencium aroma bensin.
"Kamu tunggu disini, Carol. Aku kesana sebentar." Zach mengendap -endap mendekati rumah Pal Edward. Zach melihat ada beberapa orang mengelilingi rumah. Mereka menyiramkan cairan ke sekeliling rumah, tepat seperti dugaannya.
"Siram semua. Jangan sampai ada yang tersisa. Malam ini juga rumah ini harus hancur." lalu seseorang mematik mancis dan melemparkannya ke arah rumah. Dalam sekejab, api menyambar bensin dan rumah terbakar.
"Astaga! Kenapa mereka membakar rumah Pak Edward? Gawat! Aku harus segera pergi dari sini."
Zach mundur. Tapi sial, kakinya menginjak tumpukan kaleng. Menimbulkan suara yang cukup mencurigakan.
"Ayo, naik Carol. Kita pergi dari sini." Zach menghidupkan mesin motornya dan melaju di atas jalan bebatuan.
"Hei! Siapa disana?" lampu senter diarahkan ke arah ilalang."
"Ada apa Lex?"
"Aku mendengar sesuatu dari sana." seraya menyorot rumput ilalang.
"Alah, palingan juga tikus. Ayo, kita harus segera pergi dari sini."
Nyala api membumbung tinggi, menghanguskan rumah Pak Edward. untunglah rumah Pak Edward tidak berdekatan dengan rumah warga. Sehingga api tidak menjalar kemana-mana. Hanya menghanguskan rumah Pak Edward berikut isinya.
Sementara, Carol dan Zach telah sampai di rumah mereka. "Besok kita bertemu di sekolah. kamu segeralah tidur." Zach mengantar hingga depan rumah Carol. Dan memastikan Carol telah masuk ke kamarnya.
Zach memasukkan motornya lewat pintu samping. Untunglah semua sudah tidur. Sehingga tidak ada yang memergokinya. Zach tidak bisa tidur. Pikirannya kacau. Berbagai tanya melesat dalam benaknya.
Siapa orang-orang yang membakar rumah Pak Edward? Apa yang mereka sembunyikan disana? Apakah mereka ada hubungnnya dengan wabah yang mulai berjangkit di kota kecilnya ini?"
Drrrtt ....
Ponsel Zach berbunyi. Nama Carol terpampang jelas di layar. Zach mengerutkan keningnya. Buat apa Carol menelponnya? Apakah dia ketahuan saat menyelinap masuk kamar?
"Halo, Carol. Ada apa?" sahut Zach perlahan.
"Zach, aku merasa tidak enak badan." sebut Carol lirih.
"Kamu kenapa?" Zach sedikit kaget mendengar kabar Carol. Perasaannya tadi, Carol baik-baik saja. Apa karena terpapar angin malam? "Perasaan kamu gimana. Masuk angin kali?"
"Tubuhku terasa meriang. Apa akibat minum air mineral tadi. Rasanya memang agak aneh." suara Carol berubah serak. Dipeluknya dirinya sendiri dan merasakan sensasi aneh didalam perutnya. "Mungkin mag ku kambuh. Perutku juga mendadak gak enak."
"Bilangin ke Tante, Carol, sebaiknya kita ke rumah sakit. Aku juga curiga dengan air mineral itu. Aku akan segera datang." Zach bangkit dari tempat tidur. Membangunkan orang tuanya supaya menemaninya ke rumah Carol.
"Ada apa Zach? Malam-malam menggedor pintu kamar Mama." protes Bu Reya seraya menguap panjang karena masih ngantuk.
"Carol Ma. Barusan dia telpon aku, katanya dia gak enak badan?"
"Trus, kan ada Tante Rachel?" sahut Bu Reya bingung.
"Sudah, Ma. Kita kesana aja sekarang. Takut terjadi apa-apa." sahut Zach panik. Bu Reya masuk kembali ke dalam kamar mau ganti baju. "Gak usah ganti pakaian lagi, Ma. Ini darurat!" Zach menarik paksa ibunya. Dan Bu Reya terpaksa menuruti putranya meski bingung.
"Tante, bukain pintunya!" teriak Zach seraya menggedor pintu.
"Zach, ini sudah tengah malam. Jangan berisik!"
Pintu terbuka. Bu Rachel muncul keheranan. Zach langsung menerobos masuk, menuju kamar Carol.
"Eh, ada apa ini?" Bu Rachel kaget melihat kemunculan Bu Reya tengah malam di rumahnya.
"Katanya Carol sakit? Barusan nelpon Zach."
"Sakit? Carol sakit? Dia sedang tidur di kamarnya." bergegas Bu Rachel menuju kamar putrinya diikuti Bu Reya.
"Ayo, Ma. Kita bawa Carol ke rumah sakit!" Zach muncul dan sudah menggendong Carol. Tentu saja Bu Rachel kaget melihat putrinya yang mendadak sakit.
"Carol kamu kenapa, Nak?" mengejar langkah Zach menuju mobil. Bu Rachel bingung, kok anaknya tiba-tiba bisa sakit. Dan malah Jack yang mengetahuinya lebih dulu. Bukannya mengadu kepadanya sebagai orang tuanya. Bu Rachel teringat akan perlakuannya pada putrinya yang memaksanya menikah.
"Astaga, Carol. Maafkan Mama, Nak." isak Bu Rachel sepanjang perjalanan. Karena keadaan Carol yang tidak sadarkan diri. Bu Carol mengira putrinya telah berbuat nekad.
"Sabar Kak Rachel, semoga tak terjadi apa-apa pada Carol." Bu Reya mengusap bahu sahabatnya sekaligus besannya itu.
"Aku memang egois, Reya. Entah kenapa jadi paranoid."
"Sudah Kak. Semua sudah berlalu. Kita berdoa saja yang terbaik untuk Carol." mobil berhenti karena sudah tiba di rumah sakit.
Zach bergegas membawa Carol ke ruang IGD. Para medis membantu Zach membaringkan Carol di atas brankar.
"Tolong periksa teman saya Dokter. Apa yang terjadi padanya?"
"Baik." Dokter dengan tag nama Harris itu dengan cekatan memeriksa kondisi Carol. Memerintah perawat untuk memasang cairan infus dan pemeriksaan lainnya.
Tubuh Carol yang lemah tak berdaya, dan kesadarannya yang belum pulih kini ditempeli beberapa selang yang terhubung ke alat monitor. Detak jantungnya sudah stabil.
"Dokter, apa yang terjadi dengan anak saya?" Bu Rachel tidak bisa menyembunyikan kepanikannya.
"Kita tunggu Bu hasil pemeriksaannya. Ada cairan aneh yang masuk ke tubuh putri Ibu. Ibu tenang saja, sekarang dia sudah stabil."
"Dokter, apakah teman saya keracunan?" sela Zach.
"Saya belum bisa memutuskan. Kita tunggu saja hasil labnya." Dokter Haris permisi karena akan memeriksa pasien lain.
"Aneh, banyak kali pasien yang baru masuk." bisik Bu Reya pada suaminya.
"Lagi musim batuk Bu. Makanya kita harus mengenakan masker."
"Tapi sepertinya ini kok ...." Bu Reya tidak melanjutkan ucapannya. Ruang IGD sudah penuh tapi pasien baru terus berdatangan. Para medis nampak kewalahan.
"Mama, sebaiknya Mama dan Papa pulang saja. Mama ajak juga Tante Rachel. Biar saya saja yang berjaga disini. Setelah pulang dari sini, Papa dan Mama ganti pakaian dan cuci tangan."
"Kamu ngomong apa, Zach."
"Ma, kota kecil kita sepertinya sedang tidak baik-baik saja. Mama lihat pasien yang terus berdatangan itu."
"Iya, Mama juga merasa aneh. Kamu jaga Carol ya. Besok Mama dan Tante balik lagi ke mari." Bu Reya membujuk Tante Rachel untuk pulang. Tapi dia menolak dan tetap ingin bersama Carol.
"Ayolah Kak. Bukan hanya Carol saja nanti yang sakit. Kita juga akan terjangkit kalau lama-lama berada disini. Zach akan menjaga Carol. Besok kita kembali lagi kemari."
"Iya Tante. Zach akan menjaga Carol." akhirnya Bu Rachel mengalah dan menuruti saran Bu Reya.
"Aku sudah menelpon suamiku, tapi belum juga diangkat." keluh Bu Rachel sedikit kesal.***
"Tenangkan
"