NovelToon NovelToon
Crazy Obsession

Crazy Obsession

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Obsesi / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers / Pelakor jahat
Popularitas:185
Nilai: 5
Nama Author: Bertepuk12

Afnan tahu dia adalah penjahat, demi mendapatkan Dareen yang menjadi obsesinya sejak lama, Afnan tega menghancurkan kebahagiaan Jeslyn, sahabat sekaligus wanita yang dicintai Dareen.

​Satu jebakan licik darinya, sebuah penghianatan yang membuat Dareen kehilangan dunianya dan mulai menanam kebencian mendalam pada Afnan.

​Namun, Afnan belum puas.

​Melalui skenario malam yang kotor, Afnan akhirnya berhasil menyeret Dareen ke altar pernikahan, ia mendapatkan status, ia mendapatkan raga pria itu, tapi ia tidak pernah mendapatkan jiwanya.

​"Kau telah menghancurkan hidup Jeslyn, dan sekarang kau menghancurkan hidupku, Afnan. Jangan pernah bermimpi untuk dicintai di rumah ini."

​Di tengah dinginnya pengabaian Dareen dan bayang-bayang Jeslyn yang masih bertahta di hati suaminya, Afnan tetap bertahan dengan segala tingkah centil dan nekatnya untuk membuat sang suami bertekuk lutut.

​Akankah cinta yang berawal dari penghianatan ini akan menemukan titik terang?

#KOMEDIROMANSA
#KONFLIKRING

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bertepuk12, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Suara heels yang bergesekan dengan lantai marmer terdengar memekik, wanita berwajah sayu namun masih memiliki secercah ekspresi antusias itu terlihat membawa langkahnya secara riang, netranya sesekali menatap pria tampan yang berjalan beriringan bersamanya.

"Kau butuh tumpangan?" Algio berjalan lebih lambat, membenarkan tas kecil Afnan yang ia bawa, "Atau ingin makan terlebih dahulu?" Ia bertanya kembali dengan senyuman kecil.

Sejenak, Afnan memutar langkah, kedua tangannya ia genggam di belakang punggung, berjalan tak beraturan, "Aku ingin gajian." Cerdanya tanpa dosa.

Mendengar itu membuat netra Algio melotot, lantas pria itu menggelengkan kepala tak percaya, "Baru sehari bekerja kau sudah ingin meminta gaji?" Beonya gemas.

"Memangnya tidak boleh?" Afnan berjalan mundur namun menghadap tubuh Algio, wanita itu dengan tengil mengedipkan sebelah mata kirinya, tengah menggoda.

Tertawa ringan, Algio menarik tubuh Afnan, tangan kanannya memegang tas kecil milik sang wanita, sedangkan tangan kirinya merangkul pinggang Afnan lembut, "Aku akan bangkrut jika terus mengajimu setiap hari."

"Kau miskin," Afnan mengerucutkan bibirnya maju ke depan, "Berapa hari lagi aku gajian?" Wanita itu mendongok, menatap Algio semangat.

Kening Algio terangkat gemas, lantas ia menyentil dahi wanita itu pelan, "Afnan, kau baru saja bekerja, gajian masih 29 hari lagi." Serunya terkekeh geli. Padahal baru sehari bekerja, bagaimana bisa sudah tak sabar menerima gaji?

"Apa masi selama itu?" Afnan menundukan kepalanya sedih, lantas tertawa pelan, benar juga ia baru bekerja, sangat tidak masuk akal jika tiba-tiba langsung meminta gaji.

Untung saja Algio yang menjadi bossnya, bagaimana jika orang lain? Mungkin Afnan sudah ditendang sebab tingkah dan pertanyaannya yang diluar akal sehat manusia dan nol etika.

Dengan gemas Algio mengusap pucuk surai hitam Afnan, "Memangnya apa yang ingin kau beli dengan gaji itu?" Tanyanya penasaran.

"Heels Louboutin." Afnan berdecak pelan, ia harus menambah koleksi heelsnya, namun dengan uang yang berbeda, dari hasil kerja kerasnya sendiri. Sebab dipikir-pikir, Dareen sepertinya tidak akan memberinya uang, dan Kak Louis, pria itu memang sudah lepas tangan sebab ia nekat menikahi Dareen.

Mendengar itu ​Algio tertawa renyah, gelengan kepalanya tak berhenti, lantas ia melonggarkan rangkulannya sejenak untuk memencet tombol lift di lobi utama gedung kantornya.

Suasananya masih sedikit ramai, beberapa orang terlihat berlalu-lalang, melembur untuk mendapatkan gaji lebih, sedangkan sekarang sudah menunjukan pukul 19.00 PM.

​"Sepatu itu mahal, Afnan," Ujar Algio, matanya menatap Afnan yang kini kembali berjalan mundur menghadapnya. Sedikit menggoda.

"Aku rasa gajimu bulan ini hanya cukup untuk membayar sol merahnya saja, itu pun kalau kau rajin menabung." Lagi-lagi Algio mengejek, pria itu tertawa pelan tatkala melihat wajah memerah sang wanita.

Memukul pelan lengan Algio, Afnan melotot sekaligus mengacungkan jari tengahnya, "Kalau begitu, kau harus menaikkan gajiku, anggap saja bonus karena sudah merekrut karyawan paling cantik sepertiku."

​Tak lama pintu lift terbuka, memperlihatkan interior perak yang memantul. Mereka segera keluar, satpam menyambut, mobil telah terpakir rapi seolah sudah disiapkan sejak tadi.

​"Paling percaya diri, iya." Koreksi Algio, pria itu membuka pintu mobil, mempersilahkan Afnan masuk terlebih dahulu, baru dia sendiri.

​"Awas, ya!" Afnan merengut, tapi kemudian senyum polos muncul, "Psst, Algio. Bisakah kita tidak langsung pulang? Aku lapar sekali, anggap saja ini makan malam perayaan karena aku tidak melakukan kesalahan fatal di hari pertamaku."

Menoleh pelan, Algio menaruh tas Afnan tepat diantara mereka, "Kesalahan fatal di hari pertama kerja? Apa kau bercanda? Kerjaanmu saja tadi hanya diam, melamun, bermain headphone, lalu tidur."

"ALGIO!" Afnan menekuk wajahnya, ingin marah namun tak memiliki energi lagi, cacing dalam perutnya sudah meminta makanan.

"Yes princess?" Algio tersenyum mengejek.

Mendengus kasar, Afnan berdecak, "Kau jahat!"

"Baiklah baiklah honey, jangan marah, wajahnya benar-benar terlihat seperti gorila."

"ALGIO!"

"Hahahaha, so sorry baby, aku akan mengajakmu dinner malam ini." Algio mengalah, puas melihat wajah merah selayaknya tomat milik Afnan.

*

*

*

Algio membawa Afnan ke sebuah restoran bergaya fine dining yang tidak terlalu formal, namun suasananya terasa begitu tenang. Restoran itu terletak di lantai atas sebuah hotel bintang lima, menyajikan pemandangan malam kota yang indah memanjakan mata.

​Mereka duduk di meja bundar dekat jendela, disajikan menu dan anggur. Afnan, dengan segala keceriaannya, langsung memesan steak yang besar dan tiga jenis hidangan penutup sekaligus, seperti gembel yang belum makan berhari-hari.

​"Kau yakin bisa menghabiskan semua itu?" Tanya Algio geli sambil menyesap cabernet sauvignonnya.

​"Tentu saja, cacing di perutku sedari tadi sudah meronta minta diisi!" Afnan mengangkat garpunya di udara.

​Saat mereka larut dalam obrolan ringan yang dipenuhi tawa Afnan yang renyah dan senyum tenang Algio, tiba-tiba sang wanita menghentikan tawanya. Pandangannya menajam, tertuju pada sebuah meja di sudut ruangan VIP, meja yang terpisah oleh tirai tipis, namun cukup terbuka untuk melihat para penghuninya.

Punggung salah satu pria itu membuat Afnan terdiam sejenak, persis seperti milik Dareen, sang suami.

​"Algio," Bisik Afnan, nadanya berubah datar, "Kau lihat di sana, suamiku."

Bibir Afnan terangkat, takdir macam apa ini? Mengapa bisa secara kebetulan mereka bertemu di tempat dan waktu yang sama?

Mendengar itu ​Algio mengikuti arah pandang Afnan. Di sana, duduk dengan postur tegak, penuh wibawa, dan mengenakan setelan formal yang rapi, pria itu tampak fokus, sedang menunjuk-nunjuk sebuah grafik di layar proyektor kecil, berbicara serius.

​"Apa tidak papa jika kita makan di sini berdua? Bagaimana jika suamimu cemburu?" Algio berkata dengan khawatir, menatap was-was Dareen, namun tak seberapa lama bibir itu tersungging sinis.

Menggelengkan kepalanya Afnan lebih memilih tertawa pelan, mendengar ucapan Algio membuat ia merasa sedikit terhina, seorang Dareen akan cemburu padanya? Mustahil dan hanya akan berada dalam mimpinya.

"Dia tidak akan cemburu, santai saja."

Menatap sang wanita dalam Algio tersenyum penuh arti, lantas netranya kembali menatap Dareen di ujung sana, tepat pria itu memang sedari tadi sudah mencuri pandang hanya saja Afnan memang tidak menyadari itu.

Dengan lihai Algio memegang jemari Afnan lembut, seolah tengah menunjukan pada Dareen bahwasanya ia lebih berhak terhadap sang wanita dari pada pria itu, sedangkan Dareen di sana terdiam, tatapannya menajam, apalagi Algio terus memberikan tatapan remeh dah penuh ejekan.

"Algio, apa yang kau lakukan?" Afnan menatap tangan Algio yang masih menggenggam erat jemarinya, "Aku tidak akan hilang, mengapa memegangiku begitu erat seolah aku akan diculik?" Gerutunya.

Mendengar itu Algio melirik Afnan, pria itu memberikan seringai kemenangan pada Dareen, sebelum akhirnya kembali menatap Afnan penuh kelembutan.

"Memangnya tidak boleh?"

Afnan berdecak, melepas genggaman Algio, "Aku akan susah makan jika kau terus memegang jemariku." Serunya melahap potongan steak terakhirnya.

"Suamiku tidak melihat kita bukan?" Afnan bertanya pelan, walaupun ia tau mustahil Dareen akan cemburu melihat kedekatannya bersama Algio, namun tetap saja, ia merasa segan pada pria itu.

​"Sepertinya tidak." Jawab Algio sambil tersenyum tipis. Tentu saja ucapannya adalah kebohongan mutlak, sedari tadi bahkan ia menyadari bahwa tatapan tajam dari Dareen terus datang ke arah mereka.

Beberapa menit telah berlalu dengan begitu cepat, kini semua hidangan itu telah habis tak tersisa, tersenyum puas Afnan mengelus perlahan perutnya yang sedikit membuncit.

"Algio, kau sungguh bermurah hati pada pegawaimu," Tandas Afnan dengan semangat, lantas wanita itu menoleh, "Apa semua pegawai kau perlakukan sama sepertiku?" Tanyanya ingin tau.

Gelenggan kepala terlihat, "Tentu saja tidak, aku hanya memberi perlakuan khusus padamu." Ujar Algio lembut.

"Baiklah, ayo pulang! Aku ingin tidur rasanya." Afnan dengan semangat beranjak dari tempat duduknya, namun entah mengapa tangan Algio terangkat, menarik Afnan kembali duduk.

Kening Afnan terangkat bingung, "Ada apa lagi? Aku sudah kenyang, dan mataku sudah tinggal lima watt. Apa ada rapat dadakan jam sepuluh malam?" Cercanya sedikit kesal.

​Algio tidak menjawab, pria itu hanya menjentikkan jarinya ke arah pelayan yang sejak tadi berdiri tak jauh dari sana. Tak butuh waktu lama, dua orang pelayan datang membawa sebuah kotak besar berwarna putih bersih dengan pita merah sutra yang melilit cantik di tengahnya.

Spontan ​mata Afnan membelalak, tentu saja ia mengenali logo yang tercetak emas di atas kotak itu. Jantungnya berdegup kencang secara tiba-tiba, menatap Algio yak percaya.

​"Algio, jangan bilang kalau ini-!?"

​"Buka saja." Potong Algio santai, menyandarkan punggungnya ke kursi sambil melipat tangan di dada, menikmati ekspresi terkejut wajah wanita di hadapannya.

​Dengan tangan sedikit gemetar, Afnan menarik pita merah itu, begitu tutupnya dibuka, aroma kulit mewah menyeruak. Di sana, beralaskan kain beludru, sepasang high heels Louboutin, tipe Pigalle Follies dengan warna hitam mengkilap dan sol merah yang nampak berkilau di bawah lampu restoran.

​"ALGIO!" Afnan hampir berteriak jika ia tidak segera membekap mulutnya sendiri, "Ini... ini Louboutin yang aku bicarakan tadi! Bagaimana bisa? Kita bahkan baru sampai di sini satu jam yang lalu!"

​"Aku menyuruh asistenku mencarinya saat kita di lift tadi. Beruntung butik di lantai bawah masih buka dan mereka punya ukuranmu." Jelas Algio tenang, namun ada binar bangga di matanya.

"Tadi kau bilang aku miskin bukan? Aku hanya ingin membuktikan jika bossmu ini tidak seburuk itu."

​"Tapi tunggu, ini dipotong dari gajiku bulan depan?" Seru Afnan mendeli curiga namun tetap terlihat sangat bahagia.

​"Anggap saja ini hadiah," Algio mengedipkan matanya menggoda, "Supaya kau bekerja lebih giat dan tidak cemberut setiap kali melihat kalender."

Memukul pelan bahu Algio, reflek pria itu menarik Afnan ke dalam pelukannya, "Dan kurangi sifat merajuk dan pemarahmu itu." Serunya memeluk sang wanita erat.

Netra Algio berlarian, menatap pria di ujung sana, senyuman penuh kemenangan terlihat di ujung bibirnya. Dareen, melihat itu semua.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!