NovelToon NovelToon
Luka Yang Tak Bersuara

Luka Yang Tak Bersuara

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Persahabatan / Romantis / Cintapertama / Enemy to Lovers / Cinta Murni
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: wnd ayn

Alice selalu terlihat biasa-biasa saja di mata semua orang—culun, pendiam, dan mudah dibully.

Tak ada yang tahu bahwa di balik senyumnya, ia menyimpan luka… dan sebuah rasa yang tak pernah terucap.

Danzel, sahabat yang selalu ada di sisinya, menjadi satu-satunya tempat Alice merasa aman. Namun, Danzel tak pernah menyadari bahwa kehadirannya adalah alasan Alice bertahan selama ini.


Mencintai dalam diam, terluka tanpa suara.

Bisakah perasaan yang tak terbalas menemukan jalannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wnd ayn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 11

Keesokan harinya, sore**

Masih mengenakan seragam sekolahnya, Alice berada di rumah sakit menjenguk ibu Danzel.

"…Nak Alice?" suara lembut terdengar. Ibu Danzel, Anjani, terbaring di ranjang. Wajahnya masih pucat, tapi sudah lebih segar dibanding kemarin.

"Iya, Bu? Apakah Ibu butuh sesuatu?" tanya Alice sambil tersenyum ramah.

Anjani menggeleng pelan. "Tidak ada, Nak. Ibu hanya ingin mengucapkan terima kasih karena sudah mau datang menjenguk."

Sebelumnya, Danzel sudah memperkenalkan Alice kepada ibunya. Bahkan pada kunjungan pertama, Alice dan Anjani sudah mengobrol cukup lama, membuat keduanya cepat akrab.

Alice tersenyum, lalu mengusap punggung tangan Anjani dengan lembut. "Sama-sama, Bu. Aku senang bisa membantu."

Pintu ruangan tiba-tiba terbuka.

"Alice? Kamu di sini?" suara Danzel terdengar.

Alice menoleh dan tersenyum. "Kamu dari mana saja, Danzel?"

"Tadi aku keluar sebentar, cari angin," jawabnya singkat.

"Sejak kapan kamu datang?" lanjutnya.

"Sudah lumayan lama," jawab Alice.

**

**Menjelang malam**

Hari sudah menjelang malam, tak terasa Alice telah menghabiskan waktunya di rumah sakit. Alice berpamitan kepada Anjani dan juga Danzel untuk segera pulang

Tetapi sebelum meninggalkan ruangan itu, Danzel ingin membicarakan sesuatu hal kepada Alice. Alice pun menunggu Danzel mengatakannya.

"Alice, aku sangat berterimakasih kepadamu. Dan aku berjanji, aku akan mengganti semua biaya operasi ibuku. Tetapi aku meminta waktu untuk itu, mungkin aku akan berusaha mencari pekerjaan part time."tutur Danzel 

"ya benar nak Alice, ibu dan Danzel sudah membicarakan hal ini sebelumnya. kami akan berusaha mengganti biaya yang sudah kamu tanggung."imbuh Anjani

Alice menggeleng pelan, tersenyum lalu menatap Danzel. "Jangan pernah sia-siakan sisa waktu sekolahmu untuk bekerja Danzel"

"Dan jangan khawatir soal biaya operasi itu, aku membantu kamu dan ibumu dengan ikhlas."kata Alice dengan tulus

"Tapi Al-

"Kamu sudah banyak membantuku selama ini Danzel, kamu selalu melindungiku dan menjagaku saat di sekolah. ini adalah hal kecil yang bisa kulakukan untuk membalas semua kebaikanmu." sela Alice lebih dulu 

Danzel terdiam, matanya meredup oleh rasa haru.

" Nak Alice, kamu benar-benar baik. Semoga Tuhan membalas semua kebaikanmu," ucap Anjani.

Alice tersenyum hangat, menggenggam tangan Anjani.

"Kalau boleh… Ibu ingin mencium keningmu sebagai ucapan terima kasih," ujar Anjani.

"Tentu saja," jawab Alice.

Anjani menarik Alice mendekat, lalu mengecup dahinya dengan penuh kasih sayang.

Danzel tersenyum melihatnya. "Manis sekali…"

Kemudian ia berkata, "Sekarang giliranku. Aku mau memelukmu sebagai tanda terima kasih."

"Tapi—"

Belum sempat Alice menyelesaikan kata-katanya, Danzel sudah meraih dan memeluknya erat.

"Danzel…" suara Alice teredam. "Lepaskan… ada Ibumu di sini, tidak sopan."

"Tidak masalah. Iya kan, Bu?" tanya Danzel.

Anjani malah tersenyum lebar sambil mengangguk.

"Sstt… biarkan aku memelukmu sebentar. Aku beruntung punya teman sepertimu."

Deg! Jantung Alice berdebar kencang. Semoga Danzel tidak mendengarnya.

Setelah beberapa detik, Danzel melepaskan pelukan. Senyum di wajahnya tidak pudar.

"Boleh aku menciumu juga?" godanya tiba-tiba.

"Apa?!" Alice terperanjat.

"Kenapa? Tidak boleh ya?" Danzel menatap jahil.

"Danzel!!" Alice pura-pura marah, tapi pipinya merona.

Danzel tertawa lepas. "Aku cuma bercanda."

Alice tersenyum, buru-buru menunduk menyembunyikan wajahnya.

Anjani ikut terkekeh melihat interaksi mereka. Dalam hati, ia menyukai kebaikan Alice, tapi juga bisa membaca sesuatu yang tersembunyi: tatapan Alice pada Danzel penuh perasaan, sedangkan tatapan Danzel padanya sulit di jelaskan.

Anjani sedikit khawatir, tapi memilih menyimpannya sendiri.

**

Hari demi hari berlalu. Mentari pagi bersinar terang, menyinari halaman SMA harapan Bangsa. Langit biru tanpa awan, angin sepoi-sepoi menyapu wajah, dan kicauan burung menjadi irama lembut yang mengiringi langkah para siswa menuju kelas.

Danzel sudah kembali ke sekolah. Dengan langkah ringan dan senyum ceria, ia berjalan menyusuri koridor bersama Alice di sisinya.

"Danzel..." sapa Rachel sambil mendekat. Danzel membalas dengan senyum hangat.

Rachel melirik Alice dan memberi senyum tipis. Alice membalas dengan senyum ramah, meski samar.

"Bagaimana kondisi ibumu?" tanya Rachel, mengalihkan fokus pada kekasihnya.

"Sudah membaik, seperti biasanya," jawab Danzel ringan.

"Syukurlah. Maaf aku belum sempat menjenguknya," ujar Rachel dengan nada menyesal.

"Tidak apa-apa," balas Danzel sambil tersenyum.

"Senang bisa melihatmu kembali ke sekolah lagi," kata Rachel dengan mata berbinar.

"Apakah kau merindukanku?" goda Danzel, membuat Rachel terkekeh dan mengangguk

Danzel tersenyum merekah. "Kemarilah, apa kau tidak ingin memelukku?"

Rachel terkekeh, langsung menghambur ke pelukannya.

berada di dekat pasangan itu membuat Alice merasa tak nyaman. Perlahan, ia mulai melangkah pergi tanpa berpamitan.

Tiba-tiba, sebuah tangan menggenggam pergelangan tangannya. Alice terhenti. Saat menoleh, ia melihat Danzel—yang masih memeluk Rachel—mengulurkan tangan satunya untuk menahannya.

Deg!

Rachel menyadari hal itu. Pelukannya terlepas pelan, senyumnya sirna, berganti tatapan tajam yang penuh ketidaksukaan.

"Aku ingin berbicara denganmu, Danzel," ucap Rachel tegas.

"Katakan saja di sini," balas Danzel, masih memegang tangan Alice.

"Aku ingin bicara hanya denganmu," tekan Rachel, menatap Alice dalam-dalam, seakan ingin menyuruhnya pergi.

"Emm... D-Danzel, aku ke kelas dulu," ucap Alice pelan, melepaskan genggaman tangan itu.

Kali ini, Danzel membiarkannya pergi.

"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Danzel.

Rachel meraih lengannya dan mengajaknya menuju bangku di taman halaman sekolah.

**

Danzel dan Rachel duduk di bangku taman, membiarkan keheningan menyelimuti mereka. Hanya suara gemerisik daun dan kicau burung yang terdengar, hingga akhirnya Rachel memecahnya.

"Danzel... sebenarnya, seperti apa hubunganmu dengan Alice?" tanyanya pelan, namun tatapannya penuh arti.

Danzel menoleh, menatapnya dengan tenang. "Dia hanyalah sahabatku. Bukankah aku sudah pernah menceritakan tentang Alice padamu?"

Rachel terdiam. Matanya tak lepas dari wajah Danzel, tapi pikirannya melayang pada ucapan-ucapan Megan dan Stella yang belakangan terus mengusik.

"Ada apa, Rachel? Sepertinya kau mulai terganggu dengan keberadaan Alice," ucap Danzel, nada suaranya mengandung keheranan. 

Rachel tersenyum tipis, berusaha menyembunyikan kegelisahannya. Ia tidak ingin menunjukkan bahwa kata-kata orang lain mulai memengaruhi pikirannya.

"Aku hanya... ingin memastikan satu hal," katanya akhirnya. "Berjanjilah padaku, Danzel. Apa pun yang terjadi... kau akan selalu bersamaku dan membelaku."

Danzel terdiam sejenak sedikit bingung. Ada keraguan yang berusaha ia sembunyikan, namun ia tetap mengangguk. "Ya, tentu. Aku berjanji."

1
Sari Nilam
terlalu lemah juga gak bagus thor katakter utamanya
Sari Nilam
bodohnya danzel
Sari Nilam
rachel jaih lebih licik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!