Rea Adelia, gadis sebatang kara yang lugu dan ceroboh, merantau ke kota besar demi mencari kerja. Namun, malam pertamanya di kota itu berubah menjadi mimpi buruk sekaligus awal takdir baru. Di sebuah gang sempit menuju kosannya, ia menemukan Galen Alonso—seorang pemimpin mafia kejam yang terluka parah akibat pengkhianatan.
Niat baik Rea membawanya menolong Galen ke dalam kamar kosnya yang sempit. Tanpa Rea sadari, menolong Galen berarti menyeret nyawa polosnya ke dalam dunia gelap yang penuh darah. Di antara sekat dinding kos yang rapuh, si gadis manis yang ceroboh harus hidup bersama sang mafia tampan yang berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Sabrina Rasmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemburu sang penguasa
Setelah kejadian di toilet, Galen melarang Rea masuk kuliah selama dua hari. Tapi hari ini, Rea bersikeras berangkat karena ada ujian praktik penting di kelas Pak Vian.
"Mas, Rea berangkat ya. Mas jangan galak-galak sama satpam kampus lagi," ucap Rea sambil mencium tangan Galen di depan mansion.
Galen hanya diam, menatap Rea dengan pandangan posesif. "Leon akan menjagamu dari jauh. Kalau dosen itu menyentuhmu lagi, katakan pada Mas."
Di Kampus (Lab Tata Boga)
Rea sedang fokus menghias kue pengantin buatannya. Tiba-tiba, Pak Vian mendekat. Dosen muda itu tampak sangat perhatian sejak kejadian penyiraman tempo hari.
"Bagus sekali, Rea. Tekstur buttercream-mu sangat lembut," puji Vian. Ia berdiri sangat dekat di belakang Rea, tangannya bergerak mengoreksi posisi tangan Rea saat memegang piping bag.
"Terima kasih, Pak Vian," jawab Rea canggung. Ia merasa tidak nyaman karena jarak mereka terlalu dekat, tapi ia sungkan untuk menghindar.
Tanpa Rea sadari, di lantai atas laboratorium, Galen berdiri di balik kaca ruang pengawas bersama rektor kampus. Matanya menatap tajam ke arah tangan Vian yang menyentuh tangan Rea.
BRAK!
Galen memukul pembatas kaca dengan kepalan tangannya. "Rektor, saya tidak membayar donasi gedung ini agar dosen Anda bisa menggoda istri saya," desis Galen dengan suara yang sangat mengerikan.
Jam Istirahat
Vian mengajak Rea ke taman kampus. "Rea, soal kejadian kemarin, saya sudah pastikan mahasiswi itu disanksi. Kamu tidak perlu takut lagi selama ada saya di sini." Vian mencoba menggenggam tangan Rea untuk menenangkan.
"Eh, Pak Vian... tidak usah, saya—"
"Lepaskan tanganmu dari istriku, Vian."
Suara bariton yang dingin itu memecah suasana. Galen berjalan mendekat dengan langkah mantap, dikawal oleh Leon dan empat pria berjas hitam. Mahasiswa lain langsung menyingkir, merasakan aura mafia yang kental dari Galen.
Vian tersentak dan melepaskan tangan Rea. "Galen? Kamu... apa maksudmu istri?"
Galen menarik Rea ke dalam pelukannya dengan erat, seolah menegaskan klaimnya. "Rea adalah Nyonya Alonso. Dan kau, Vian... kau sudah melewati batas sebagai seorang dosen."
Rea mematung, merasa tidak nyaman menjadi pusat perhatian. "Mas Galen, malu dilihat teman-teman..." bisiknya.
Galen mengabaikannya. Ia menatap Vian dengan tatapan mengancam. "Besok, pastikan kau mengajar di kelas lain. Jangan pernah muncul di depan Rea lagi, atau kau akan berhadapan denganku."
Galen kemudian menggenggam tangan Rea dengan kuat dan menariknya pergi dari taman kampus yang riuh dengan bisikan mahasiswa.
Di Dalam Mobil
"Mas Galen! Rea bisa jalan sendiri!" protes Rea begitu mereka sampai di mobil.
Galen mengunci pintu mobil secara otomatis. Ia menatap Rea dengan mata yang tajam. "Kamu lebih memilih dibela dosen itu daripada suamimu sendiri, Bunny?"
"Bukan begitu, tapi Mas berlebihan! Pak Vian itu kan cuma mau bantu!"
Galen mendekat, jarak mereka sangat dekat. "Saya tidak suka berbagi, Rea. Apalagi berbagi senyumanmu. Ingat, kamu adalah milik Galen Alonso. Kamu hanya bersamaku."
Rea terdiam, ia bisa merasakan ketegangan dari Galen. Di balik rasa canggungnya, Rea sadar bahwa sikap posesif Galen mulai benar-benar menguasai hidupnya.
Kelanjutan:
Galen memecat Vian dari kampus dan menggantinya dengan dosen wanita yang sangat galak.
Rea mulai mogok bicara karena kesal dengan sikap posesif Galen yang berlebihan.
Rea benar-benar kesal. Sikap Galen di kampus tadi menurutnya sudah sangat keterlaluan. Sejak turun dari mobil hingga masuk ke dalam mansion, Rea tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Ia hanya berjalan cepat meninggalkan Galen yang masih berdiri dengan wajah datarnya.
Malam Harinya di Meja Makan...
Galen duduk di kursi kebesaran, menatap Rea yang sedang sibuk mengunyah sayurannya dengan gerakan yang sangat mekanis. Suasana hening total, hanya terdengar denting sendok yang beradu dengan piring.
"Bunny, sayurnya masih kurang?" tanya Galen mencoba memecah keheningan.
Rea hanya diam. Ia mengambil botol sambal, menuangkannya ke piring, lalu lanjut makan tanpa menoleh sedikit pun.
"Rea, Mas bicara padamu," ucap Galen lagi, suaranya sedikit lebih berat.
Rea tetap membisu. Ia justru meraih gelas air putih, meminumnya sampai habis, lalu berdiri dan meletakkan piring kotornya di wastafel. Sebelum pergi, ia hanya memberikan tatapan "tajam" ala kelinci marah kepada Galen dan melenggang pergi menuju kamar.
Di Kamar...
Galen masuk ke kamar dan mendapati Rea sudah meringkuk di balik selimut tebal, memunggungi sisi tempat tidur Galen. Galen menghela napas, ia melepas jam tangannya dan ikut naik ke ranjang.
Ia mencoba memeluk pinggang Rea dari belakang. "Bunny, jangan marah. Mas lakukan itu karena Mas tidak suka melihat pria lain menyentuhmu."
Rea langsung menggeliat, melepaskan tangan Galen dari pinggangnya dengan gerakan kasar, lalu menarik selimutnya semakin tinggi hingga menutupi kepala. Benar-benar aksi mogok bicara yang total.
Galen mengusap wajahnya prustasi. Seorang penguasa dunia bawah yang ditakuti ribuan orang di tahun ini, kini justru tak berdaya menghadapi aksi bungkam istrinya sendiri.
"Oke, oke. Mas minta maaf karena terlalu keras pada Vian," bujuk Galen sambil menoel-noel bahu Rea yang terbungkus selimut. "Besok Mas tidak akan memecat dosen lagi tanpa izinmu. Bagaimana?"
Rea masih diam, tapi Galen bisa melihat selimut itu sedikit bergerak—sepertinya Rea sedang menahan tawa atau mungkin semakin cemberut.
"Rea... Bunny... Sayang?" Galen mulai bertingkah konyol, ia menggelitik pinggang Rea dari luar selimut.
"Ih, Mas Galen! Berhenti!" akhirnya suara Rea pecah juga. Ia menyembul dari balik selimut dengan wajah merah padam karena kesal sekaligus geli. "Mas itu hobinya berlebihan! Pak Vian kan cuma mau kasih tahu teknik whipping cream yang benar!"
Galen menyeringai puas karena berhasil membuat Rea bicara. Ia langsung menarik Rea ke dalam pelukannya agar gadis itu tidak kabur lagi. "Teknik apa pun itu, Mas bisa panggilkan koki bintang lima ke rumah untuk mengajarimu. Kamu tidak perlu belajar dari pria sepertinya."
"Tuh kan! Mas Galen mulai lagi!" Rea mencubit lengan kekar Galen, tapi sang mafia hanya tertawa rendah, merasa menang karena istrinya tidak lagi mendiamkannya.
"Sudah, sekarang tidur. Besok Mas antar kuliah lagi, tapi Mas janji... Mas akan menunggu di mobil saja. Deal?"
Rea menatap Galen curiga. "Janji?"
"Janji," ucap Galen sambil mengecup kening Rea. Namun di dalam hatinya, Galen sudah menyuruh Leon untuk memasang alat penyadap di meja praktik Rea agar ia tetap bisa memantau segalanya.