Rea Adelia, gadis sebatang kara yang lugu dan ceroboh, merantau ke kota besar demi mencari kerja. Namun, malam pertamanya di kota itu berubah menjadi mimpi buruk sekaligus awal takdir baru. Di sebuah gang sempit menuju kosannya, ia menemukan Galen Alonso—seorang pemimpin mafia kejam yang terluka parah akibat pengkhianatan.
Niat baik Rea membawanya menolong Galen ke dalam kamar kosnya yang sempit. Tanpa Rea sadari, menolong Galen berarti menyeret nyawa polosnya ke dalam dunia gelap yang penuh darah. Di antara sekat dinding kos yang rapuh, si gadis manis yang ceroboh harus hidup bersama sang mafia tampan yang berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Sabrina Rasmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pak vian yang berubah dan adik kecil sang mafia
Rea akhirnya tertidur dengan perasaan campur aduk—kesal tapi juga merasa aman dalam pelukan Galen. Sementara itu, Galen menatap wajah tidur istrinya dengan tatapan yang sangat dalam. Baginya, melihat Rea marah jauh lebih menakutkan daripada menghadapi musuh bersenjata di pelabuhan.
"Tidur yang nyenyak, Bunny. Selama kamu ada di sampingku, duniamu akan selalu aman," bisik Galen pelan.
Esok paginya, Galen benar-benar menepati janjinya untuk menunggu di mobil. Namun, suasana di kampus mendadak berubah aneh. Pak Vian yang biasanya ramah dan banyak bicara, kini tampak gemetar dan menjaga jarak sejauh dua meter dari Rea. Setiap kali Rea bertanya, Vian hanya menjawab dengan "Ya" atau "Tidak" sambil sesekali melirik ketakutan ke arah jendela laboratorium.
Rea hanya bisa menghela napas, menyadari bahwa "janji" suaminya pasti datang dengan syarat dan ketentuan yang tersembunyi.
Rea berdiri di depan meja praktiknya sambil memegang whisk dengan bingung. Matanya melirik ke arah Pak Vian yang berada di ujung ruangan. Biasanya, dosen muda itu akan menghampirinya dengan ramah, memberikan saran, atau sekadar bercanda kecil. Namun hari ini, Vian tampak seperti robot.
"Pak Vian kenapa ya kok irit banget bicaranya?" gumam Rea pelan, benar-benar merasa ada yang aneh.
Rea memberanikan diri mendekat untuk menanyakan teknik pastry yang sedang ia kerjakan. "Anu, Pak Vian... ini adonannya sudah pas belum ya kalisnya?"
Vian tersentak kaget sampai menjatuhkan pulpennya saat melihat Rea mendekat. Ia langsung mundur dua langkah, menjaga jarak sejauh mungkin. Matanya melirik dengan gelisah ke arah jendela laboratorium yang menghadap ke parkiran—tempat di mana ia tahu Galen sedang mengawasi.
"S-sudah... sudah bagus, Rea. Lanjutkan saja sendiri ya," jawab Vian singkat dengan nada bicara yang sangat formal dan kaku. Ia bahkan tidak berani menatap mata Rea lebih dari satu detik.
"Tapi Pak, ini teksturnya—"
"Maaf Rea, saya ada urusan di meja lain!" potong Vian cepat, lalu hampir berlari meninggalkan Rea sendirian.
Rea mengerutkan bibirnya, merasa kesal sekaligus bingung. Ia menoleh ke arah jendela parkiran. Di sana, ia melihat mobil SUV hitam Galen masih terparkir diam. Kaca filmnya yang gelap membuat Rea tidak bisa melihat ke dalam, tapi ia bisa merasakan aura tajam yang keluar dari sana.
"Mas Galen bilang cuma mau nunggu di mobil, tapi kenapa Pak Vian jadi ketakutan begitu ya?" batin Rea curiga. "Apa Mas Galen ngapa-ngapain Pak Vian lagi di belakang Rea?"
Rea menghela napas panjang. Ia kembali ke mejanya dengan perasaan tidak enak. Kepolosan Rea mulai terusik; ia mulai merasa bahwa suaminya yang "Tukang Kebun Senior" itu punya cara rahasia untuk membungkam orang-orang di sekitarnya tanpa ia sadari.
Selesai kelas praktik Tata Boga yang terasa sangat kaku, Rea berjalan cepat menuju parkiran kampus. Ia mendapati mobil SUV hitam Galen masih terparkir setia di sana. Begitu membuka pintu, Rea mendapati Galen sedang bersandar santai di kursi kemudi dengan sisa-sisa senyuman puas di bibirnya.
"Mas Galen kenapa kok senyum-senyum sendiri?" tanya Rea penuh selidik sambil memasang sabuk pengaman.
"Nggak apa-apa kok, Bunny," jawab Galen tenang, meskipun sebenarnya ada hal yang membuat suasana hatinya sedang baik.
Sesampainya di mansion, suasana rumah terasa lebih sunyi dari biasanya. Galen tidak membiarkan Rea melangkah masuk sendiri. Ia membantu Rea turun dari mobil.
"Mas... tidak perlu begini," ucap Rea merasa sedikit canggung.
"Sudah, ayo masuk," jawab Galen dengan suara bariton yang dalam. Ia mengajak Rea masuk ke dalam rumah.
Galen menatap mata Rea. Sebuah seringai tipis muncul di wajah tampannya. "Mas punya sesuatu yang ingin kamu temui. Dia 'adik' Mas."
Rea mengedipkan matanya berkali-kali. "Adik? Mas Galen punya adik? Kok Rea baru tahu?"
"Iya, dia adik Mas. Dan dia juga milikmu, Bunny," ucap Galen.
Mendengar hal itu, wajah Rea langsung berubah cerah dan antusias. Pikirannya yang sangat polos membayangkan sesosok yang akan menyenangkan. "Wahhh kalau gitu nanti Rea ajak main biar dia senang dan Mas Galen suka! Rea pinter kok kalau disuruh ajak main!" ucap Rea dengan sangat semangat.
"Iya, Bunny. Nanti kamu harus pintar-pintar menjaganya, ya? Dia sangat manja kalau sedang bersamamu," bisik Galen dengan nada suara yang semakin serak dan dalam, sementara tangannya mengusap pipi Rea dengan ibu jari.
Rea mengangguk dengan semangat, matanya berbinar tulus. "Iya Mas! Rea pasti sayang sama adiknya Mas Galen. Rea akan kasih makan yang enak, Rea ajak main terus biar nggak sedih kalau Mas Galen sibuk kerja di kebun."
Galen hampir tidak bisa menahan tawa melihat betapa sucinya pikiran istrinya ini. "Dia tidak makan nasi, Rea. Dia hanya butuh... kasih sayang darimu," ucap Galen lagi, semakin menikmati permainan kata-kata yang tidak dimengerti oleh istrinya itu.
"Oh, kalau begitu nanti Rea peluk terus biar dia merasa hangat! Mas Galen tenang saja, Rea jago kalau disuruh jaga adik," jawab Rea polos sambil mengepalkan tangan kecilnya, seolah sudah siap menjalankan tugas "pengasuh".
Galen menyeringai licik, ia mengecup kening Rea dengan sangat lama. "Pintar sekali istriku ini. Sekarang, mandi yang bersih. Mas tunggu di sini. Jangan lama-lama, karena 'adik' Mas sudah tidak sabar bertemu denganmu." [3]
Rea segera berlari menuju kamar mandi dengan riang, sama sekali tidak menyadari bahwa "adik" yang dimaksud Galen bukanlah seorang bocah kecil, melainkan sesuatu yang akan membuat wajahnya merah padam seumur hidup jika ia mengetahuinya nanti malam.
Di dalam kamar, Galen hanya bisa menggelengkan kepala sambil tersenyum puas. Ia merasa sangat beruntung memiliki Rea yang begitu lugu. "Sangat polos," gumam Galen sambil melepas kancing kemejanya satu per satu, bersiap menunggu "hadiah" yang ia nantikan di tahun ini.