Siapa sangka peristiwa yang terjadi selama dua minggu, membuat hidup Salsa berubah total. Dorongan yang kuat untuk mengungkap tabir kematian seorang gadis yang menyangkut dosen Salsa. Ia punya beban moril untuk mengungkap kasus ini, agar citra pendidikan tetap terjaga dan tidak ada korban lainnya.
Bersama Syailendra, Salsa berhasil mengungkap kematian Karina hingga memperoleh ketenangan di dunia lain.
Happy Reading.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
UANG PELICIN
Sandrina berdiam diri, memikirkan siapa yang ia ajak tidur tadi malam, ingatannya sama sekali hilang. "Gak mungkin aku main copot baju dan tak ingat sama sekali, aku gak pernah mabuk juga," monolognya sembari memijat kening. Jelas ia pusing, bagaimana kalau dia hamil nanti, siapa ayahnya, sedangkan ia merasakan cairan percintaan di area sensitifnya. "Sial!" ucapnya kesal.
Dia mengambil baju dan segera ke kampus, feelingnya mengatakan bahwa dia bermalam dengan Pak Amar, apalagi satu-satunya pria yang tahu alamat rumah ini hanya Amar.
Sandrina berjalan cepat menuju ruangan Pak Amar, tadi dia juga sempat chat tapi belum dibaca. Sapaan beberapa adik kelas maupun teman tak digubris Sandrina, ia hanya fokus pada satu tujuan Pak Amar. Begitu sampai lantai 3, pintu ruangan beliau terkunci dan lampu dalam ruangan mati, pertanda kalau tidak ada penghuninya. "Sial!" umpat Sandrina sekali lagi, ia duduk di depan ruangan beliau dengan melakukan panggilan video pada Pak Amar, tetap tak diangkat, sungguh pikirannya sangat kacau sekarang.
Ia menunggu hampir tengah hari tapi tak ada tanda-tanda kalau Pak Amar hadir, padahal Sandrina tahu kalau beliau ada jam mengajar hari ini. Mata Sandrina beradu dengan Syailendra yang kebetulan akan masuk ke ruangan Pak Amar, "Beliau gak masuk, Ndra?" tanya Sandrina cemas, ia sampai mengekor Syailendra yang meletakkan tugas mahasiswa junior.
"Enggak, makanya aku diminta untuk mengisi kelas beliau dengan tugas," ucap Syailendra kemudian menyuruh Sandrina keluar, karena ruangan akan dikunci kembali.
"Beliau bilang gak ada acara apa?" tanya Sandrina lagi, Syailendra menggeleng.
"Beliau bilang gak bisa hadir, aku disuruh masuk ke kelas beliau dengan menyampaikan tugas buat mahasiswa beliau," jelas Syailendra lagi. "Kenapa? Kamu ada bimbingan?" tanya Syailendra yang melihat kecemasan Sandrina, apalagi perempuan itu sibuk dengan ponselnya juga.
"Bukan urusan kamu," sewot Sandrina, Syailendra mengerutkan dahi, kok sewot? Padahal Syailendra juga tak berniat kepo, siapa tahu nanti Pak Amar chat, Syailendra bisa menyampaikan apa kepentingan Sandrina mencarinya.
"Gak jelas emang," balas Syailendra tak kalah sewot. Sandrina hanya memejamkan mata. Mulutnya tanpa rem, bahkan ia lupa sedang berhadapan dengan cowok incarannya.
Sedangkan Pak Amar sendiri menuju rumah Karin, sesuai janjinya kemarin. Rasanya hidup Amar tak tenang setelah bertemu dengan Karin melalui tubuh Sandrina. Semalaman ia tak bisa memejamkan mata, bingung harus melakukan apa. Yang jelas setiap Amar akan bertindak ia melihat sekeliling, ia merasa kalau Karin mengintainya.
Ya memang benar, sejak Karin keluar dari tubuh Sandrina, ia mengikuti Amar. Tak berniat ganggu, hanya ingin mengawasi kalau Amar akan menepati janjinya.
Karin memegang dadanya, ia sangat tersentuh dengan ucapan Amar yang mau menginjakkan kakinya pertama kali. Tentu saja kehadiran dia membuat beberapa tetangga Karin terkesima. Perkampungan padat penduduk didatangi oleh seseorang yang kaya raya dengan mobil mewah begini. Amar sempat bertanya rumah Karina, tetangga pun langsung sigap mengantar.
Ibu Karin yang sedang mengiris adonan kerupuk kaget didatangi tetangga dengan menunjuk Amar. "Cari Karina?" tanya Ibu Karin kaget, beliau langsung menyentuh dada, ingatan kejadian beberapa bulan lalu langsung menghujam jantung, sakitnya masih sangat terasa.
Ibu Karin mempersilahkan Pak Amar masuk, dan bicara dengan jelas apa maksud kedatangannya mencari Karin. "Saya dulu pelanggan Karin di cafe, Bu. Saya tidak tahu kalau Karin meninggal," ucap Amar pura-pura empati, padahal ia tahu Karin sudah meninggal karena ulahnya.
Karin yang duduk di samping ibu ingin menempeleng wajah Amar yang tak merasa berdosa. "Kok gak ngomong jujur sih," protes Karin tapi ia akan menunggu kejujuran Amar.
Ibu pun menceritakan kronologi meninggalnya Karin, beliau pun terbawa emosi hingga mencaci siapa laki-laki yang menghancurkan masa depan putrinya. "Sampai sekarang saya tak terima putri saya dihamili oleh dia!" ibu Karin masih meyakini meninggalnya Karin karena berniat aborsi. "Bahkan saat dia meninggal pun teman-temannya tak ada yang mengaku siapa pacar Karin," lanjut Ibu dengan tangis penuh emosi.
Amar hanya diam dan mengeratkan kedua tangannya. "Kalau Masnya ini, kenal Karin karena dia bekerja di cafe ya? Tahu pacar Karin siapa?" tanya ibu.
Amar hanya diam, Karin tak sabar ia langsung mendorong kepala Amar untuk mengangguk. Spontan Amar melotot dan mencari tanda kehadiran Karin. "Siapa?" tanya ibu tak sabar.
"Seorang dosen, Bu. Tapi dosen tersebut sudah punya istri, mereka berselingkuh," jelas Amar, membuat Ibu shock setengah mati.
"Tidak, tidak mungkin. Karin bukan gadis seperti itu, dia anak baik!" ujar Ibu Karin tak percaya. "Anda jangan ngomong sembarangan!" lanjut beliau dengan sedikit membentak. Karin terenyuh dengan sikap sang ibu, terlihat sekali kalau beliau menyayangi Karin.
"Saya minta maaf, Bu. Karena lelaki itu adalah saya," ucap Amar pada akhirnya, mendadak bulu kuduknya merinding, ia yakin Karin berada di dekatnya dan menuntut kejujuran.
"Apa? Jadi kamu?" Ibu marah seketika.
"Iya, Bu. Kami saling suka, saling sayang, saya juga mencintai Karin, cuma saat dia hamil saya tidak mau, karena istri saya juga hamil," ujar Amar dan ibu Karin menggeleng tak menyangka.
"Saya ke sini hanya mau minta maaf, tapi tolong jangan menyalahkan saya, karena kami melakukannya suka sama suka."
"Tapi kenapa kamu merusak anak orang?" sentak beliau tak terima. Karin hanya diam, karena apa yang diucapkan Amar memang benar. Tak ada paksaan saat melakukan hal itu.
"Saya tidak berniat merusak, Bu. Saya dan Karin sama-sama suka, dan cinta. Cuma cara kami salah, sekali lagi saya minta maaf, dan saya hanya bisa memberi uang santunan bela sungkawa 10 juta, karena Karin bercerita kalau dia membantu perekonomian keluarga agar adiknya bisa sekolah," ujar Amar, ia melakukan hal ini agar urusannya kelar.
Menurut pandangan Amar, keluarga Karin butuh uang, jadi untuk mempercepat urusan biarlah pakai uang saja, dan benar Ibu Karin yang semula bernada tinggi, begitu ada uang beliau langsung luluh. Karin terdiam, merasa tak terima kalau pembelaan ibu terhadap dirinya hanya dihargai 10 juta.
"Bu, plis, jangan mau. Dia udah jahat sama Karin, Bu! Jangan dimaafkan dengan muda," pinta Karin namun sang ibu jelas tak bisa mendengar.
"Karin memang baik, dia selalu memikirkan keluarganya, dan meski saya tidak terima dengan kematian Karin, tapi saya juga tidak memungkiri kalau Karin tidak akan kembali. Terimakasih Anda telah membahagiakan adik Karin dengan pemberian ini, semoga Karin tenang di sana."
"Terimakasih, Bu telah memaafkan saya," lega rasanya Amar karena ibu Karin sudah memberikan maaf," ucap Amar. Tak sia-sia uang 10 juta itu dibawa, ternyata sangat mempermudah kata maaf.
Karin sebal ia sampai menghentakkan kakinya, dan mendorong kursi plastik di sekitar ibu, Amar sampai kaget, sedangkan Ibu tak menyadari bahwa hal itu adalah bentuk protes Karin.