Dua Benua. Satu Darah Campuran. Sebuah Takdir yang Terbuang.
Maria Joanna adalah kesalahan terindah dalam sejarah kerajaan. Terlahir dari perpaduan darah Kekaisaran China dan Kerajaan Spanyol, identitasnya adalah rahasia yang lebih mematikan daripada perang itu sendiri. Ia dibuang, disembunyikan, dan diasah menjadi senjata rahasia.
Namun, kesunyian itu berakhir ketika Adrian, bangsawan haus kekuasaan, menculik sosok paling berharga dalam hidupnya.
Di puncak Montserrat yang diselimuti kabut, Maria Joanna melepaskan amarahnya. Dengan Shadow Step dari Timur dan Estocada dari Barat, ia menumpahkan darah demi keadilan. Di tengah dentingan pedang dan intrik pengkhianatan yang melibatkan ayah kandung yang tak pernah dikenalnya, Maria harus memilih: menjadi pion dalam permainan takhta, atau menjadi Ratu sejati yang menyatukan dunia di bawah kekuatannya.
Siapapun yang berani mengusik kedamaiannya, akan merasakan amukan Sang Ratu!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JulinMeow20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TARUHAN NYAWA DI SHANGHAI
POV Maria Joanna
Lampu sorot itu terasa seperti pisau bedah yang menelanjangi keberadaanku di tengah kegelapan pelabuhan Shanghai. Aku berdiri mematung, menatap pria yang melepas helm tempurnya itu. Dia adalah Li Wei, sepupu jauhku, orang yang dalam ingatan samar Julia adalah sosok kakak yang penyayang. Namun kini, wajahnya hanya memancarkan pengkhianatan yang dingin.
"Menyerahlah, Maria. Kau tidak punya peluang melawan unit 'Black Dragon'," suara Li Wei menggema, datar dan tak berperasaan.
Aku melirik ke arah Sebastian yang terkapar di tanah akibat peluru penenang. Amarah membuncah di dadaku, namun aku tahu kemarahan tanpa rencana adalah bunuh diri. Aku menarik napas panjang, menenangkan detak jantungku yang liar. Aku teringat pelajaran Laksamana Chen di dalam kapal selam: Seorang penguasa tidak bertarung dengan otot, tapi dengan kelemahan lawannya.
"Kau mengancamku dengan nyawa orang tua angkatku, Li Wei?" suaraku terdengar jauh lebih tenang daripada yang kuduga. Aku melangkah maju, membiarkan laras senjata para prajurit itu tetap mengarah ke dadaku. "Apakah itu yang diajarkan kakek kita? Menggunakan warga sipil tak berdosa sebagai umpan untuk membunuh keluarga sendiri?"
Li Wei menyipitkan mata. "Dunia sudah berubah, Maria. Zhao adalah masa depan China, bukan kau."
"Masa depan?" Aku tertawa sinis. "Zhao adalah parasit yang sedang menghisap sejarah keluarga kita. Kau pikir setelah dia melenyapkanku, dia akan membiarkanmu hidup sebagai saksi pengkhianatannya?"
Li Wei merasakan keraguan yang merayap di benaknya. Ia menatap Maria Joanna. Gadis ini tidak terlihat seperti pelayan kontrak yang dilaporkan Adrian di Jakarta. Ada aura kedaulatan yang terpancar dari caranya berdiri—perpaduan antara keanggunan Spanyol dan ketegasan Kekaisaran China.
Melalui layar tabletnya, Li Wei melihat rekaman siaran langsung dari penjara bawah tanah Beijing. Pak Bambang tampak pucat, sebuah pisau tipis menempel di lehernya. Perintah Zhao sangat jelas: Jika Maria tidak menyerah dalam lima menit, eksekusi dilakukan.
"Waktumu habis, Maria. Letakkan senjatamu!" teriak Li Wei.
Namun, Maria tidak meraih senjatanya. Ia justru meraba kalung singa emas di lehernya. Ia menarik liontin itu hingga rantainya putus, lalu mengangkatnya tinggi-tinggi ke arah lampu sorot.
"Lihat ini, Li Wei! Lihat segel yang kau incar!" teriak Maria. "Liontin ini bukan sekadar perhiasan. Ini adalah kunci akses ke dana abadi perwalian Julia di Bank Swiss yang mengendalikan 30% saham industri teknologi pertahanan China. Jika kau membunuhku atau orang tua angkatku, protokol 'Dead Man Switch' akan aktif. Seluruh sistem persenjataan yang kau pegang sekarang akan terkunci secara permanen dalam waktu sepuluh detik!"
POV Maria Joanna
Aku berbohong. Liontin ini memang kunci, tapi aku belum tahu pasti apakah protokol itu benar-benar ada. Namun, di dunia politik kekuasaan, sebuah gertakan yang meyakinkan lebih mematikan daripada peluru. Aku melihat para prajurit di belakang Li Wei mulai saling lirik dengan cemas. Mereka adalah tentara, dan kehilangan kendali atas senjata mereka adalah ketakutan terbesar.
"Kau menggertak!" desis Li Wei, namun tangannya yang memegang tablet sedikit bergetar.
"Coba saja," tantangku. "Hitung sampai sepuluh, Li Wei. Jika kau tidak menurunkan senjatamu dan melepaskan orang tua angkatku, kau akan melihat bagaimana seluruh kejayaan Zhao runtuh karena egomu."
Aku mulai menghitung dengan suara lantang.
"Satu..."
"Dua..."
Suasana di pelabuhan itu mendadak menjadi sangat sunyi. Hanya suara deburan ombak dan detak jantungku yang terdengar.
"Tiga..."
Li Wei menatap tabletnya, lalu menatapku. Ia tampak sedang berperang dengan logikanya sendiri. Di detik ketujuh, sebuah suara masuk melalui radio komunikasinya. Suara itu bukan dari Zhao, melainkan dari Laksamana Chen yang berhasil meretas jalur mereka.
"Li Wei, ini Laksamana Chen. Rudal jelajah dari kapal selam 'The Phantom' sudah terkunci pada koordinatmu. Kau punya tiga detik untuk memilih: Menjadi pahlawan yang menyelamatkan pewaris sah, atau menjadi debu di pelabuhan ini."
Di Beijing, Zhao berdiri dari kursinya dengan gusar. "Apa yang terjadi?! Kenapa sinyal video dari Shanghai terputus?!"
"Lapor, Jenderal! Ada gangguan elektromagnetik skala besar di area pelabuhan! Kami kehilangan kontak dengan unit 'Black Dragon'!"
Zhao memukul meja marmernya hingga retak. "Sialan! Maria Joanna... kau benar-benar naga yang licik!"
POV Maria Joanna
Li Wei menurunkan senjatanya. Wajahnya pucat pasi. Ia memberikan isyarat kepada anak buahnya untuk menurunkan laras mereka.
"Kau menang untuk saat ini, Maria," ucap Li Wei dengan nada kalah. "Tapi Zhao tidak akan tinggal diam. Dia akan membunuh orang tua angkatmu jika kau tidak segera sampai ke Beijing."
"Aku memang akan ke Beijing," jawabku sambil membantu Sebastian berdiri. Sebastian yang mulai sadar dari efek peluru penenang menatapku dengan bangga. "Tapi aku tidak akan datang sebagai tawanan. Aku akan datang sebagai hakim."
Laksamana Chen muncul dari balik bayang-bayang kontainer bersama pasukan elitnya. "Kerja bagus, Putri. Sekarang, kita gunakan pesawat kargo militer Li Wei untuk menyusup ke jantung Beijing. Kita akan melakukan penyerbuan ke Kota Terlarang malam ini juga."
Aku menatap langit malam yang mendung. Perang ini sudah mencapai babak akhir. Adrian sudah mati, harta Spanyol sudah di tanganku, dan sekarang... saatnya aku merebut kembali kehormatan Ibuku dan menyelamatkan keluarga yang telah membesarkanku dengan penuh cinta.
Saat kami menaiki pesawat kargo, Sebastian menarikku ke samping. Ia menunjukkan sebuah pesan rahasia yang baru saja masuk ke ponselnya. Pesan itu berasal dari nomor tak dikenal di Spanyol.
"Maria, jangan percaya pada Laksamana Chen. Dia tidak menyelamatkanmu karena kesetiaan. Dia menyelamatkanmu karena dialah yang sebenarnya membunuh kakekmu agar bisa menggunakanmu sebagai boneka di tahta China."
Langkahku terhenti di tangga pesawat. Aku menoleh ke arah Chen yang sedang memberikan perintah dengan wajah tanpa dosa. Apakah aku baru saja keluar dari kandang buaya untuk masuk ke mulut naga yang lebih besar?