Hidup ku hancur setelah di jual oleh ayahku pada seorang pria tua yang tidak aku kenal. Nama ku Alexsa Camellia usia ku masih cukup belia, 18 tahun. Di mana harusnya aku masih menginjak bangku sekolah dan bermain dengan teman teman sebaya ku. Namun mimpi buruk itu datang saat ibu ku meninggal dan aku harus bertemu dengan orang yang sudah menelantarkan ku sejak kecil, kedatangan nya bukan untuk menolong ku tapi mengingat kan pertukaran diriku dengan sejumlah uang.
Malam itu aku bertemu dengan seorang pria yang menolong ku saat aku berusaha kabur dari kejaran nya, pria itu memukul habis pria tua tidak tahu diri itu dan membawa ku pergi dari sana. Aku merasa aman tapi perasaan ku tetap waspada karena aku tidak mengenal pria itu, bisa saja dia lebih jahat dari ayah ku sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ajani Wuhhgy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ciuman Pertama Alexsa.
Sam yang baru pulang bekerja nampak heran rumah begitu sepi meski dia sendiri tau jika rumah nya memang sepi.
" Selamat siang tuan Sam. " Sapa bik Dariyam setelah melihat majikannya yang baru saja kembali dari kantor.
" Bik, mami kok gak kelihatan Alexsa juga pada kemana?. " Ucap Sam melepas jas dan juga dasinya lalu memberikan pada bik Dariyam.
" Kebetulan Alexsa sedang ikut nyonya Laras pergi keluar tuan, tadi Alexsa bilang mau ke supermarket sama ke mall nyonya bosen di rumah jadi beliau pergi mengajak Alexsa. " Jelas bik Dariyam kemudian pergi berlalu.
Sam menuju dapur kemudian meneguk segelas air sampai tandas.
" Mami bawa mobil sendiri, memang seharusnya aku carikan supir pribadi saja jadi mami atau yang lain perlu pergi mereka tidak perlu susah. " Gumam Sam.
Jam sudah menujukan pukul 18.45 malam mobil Sam yang di bawa Laras baru saja terparkir di garasi mobil.
" Makasih sudah membuat ibu bahagia hari ini, pokoknya ibu merasa punya anak perempuan sesungguhnya deh.. " Ucap Laras sumringah.
" Mami dari mana?. " Sam yang kesal melihat ibunya baru kembali langsung menghampiri mereka. Mata sam tertuju pada beberapa Paperbug yang di bawa laras dan Alexsa.
" Selamat malam tuan. "
" Selamat malam Alexsa. " Mata Sam kembali menatap Laras meminta penjelasan.
" Mami dari shoping sekalian beli baju sama ponsel untuk Alexsa Sam, kamu kenapa sih lagian mami masih bisa kok bawa mobil sendiri. Mata mami masih normal. " Laras yang nampak kesal kemudian pergi berlalu begitu saja.
Sedangkan Alexsa nampak bingung
" Lain kali jika mami mengajak mu pergi usahakan sebelum malam harus sudah berada dirumah Alexsa, meski mami masih bisa melihat dengan jelas kesehatan mami kurang baik untuk udara malam. " Ucap Sam tegas.
" Maaf tuan Sam, lain kali saya akan memperingati bu Laras . Emz tuan Sam tadi bu Laras membelikan saya pakaian dan sepatu ada skincare juga, tapi saya gak minta buk Laras sendiri yang memaksa jadi tolong nanti saat saya gajian berikan saja pada bu Laras sebagai gantinya. " Ucap Alexsa menatap Sam berharap jika pria itu tidak salah paham pada nya.
Sam hanya tertawa mendengar nada khawatir dari Alexsa. Dia sendiri tahu jika semua itu sudah pasti paksaan dari ibunya agar Alexsa menerimanya, namun Sam kagum pada gadis itu yang berkata jujur tanpa dia minta.
" Apa kamu sudah makan?. "
" Haaa, sudah tuan tadi di mall Sam bu Laras. Makan nya enak sekali itu kali pertama saya makan di tempat mewah dan enak, pokoknya seru seharian bisa pergi sama bu Laras. "
" Lihat betapa bahagianya gadis ini bercerita dengan senyuman lebar di wajah nya, entah masa lalu buruk seperti apa yang kamu lalu Alexsa. " Batin Sam yang tanpa sadar tersenyum melihat tingkah Alexsa yang bercerita banyak hal.
" Jadi besok kalian berencana pergi lagi lah?. " Alexsa terdiam dia bingung kenapa dia banyak bicara seperti itu.
" Maaf tuan, saya tidak bermaksud seperti yang anda pikiran. Besok saya dan bu Laras tidak ada rencana pergi kok.. "
" Kamu tahu apa yang saya pikiran?. " Sam mendekati Alexsa perlahan membuat gadis itu dengan reflek mundur selangkah.
" T.. i.. dak sih tuan. " Sam kembali tertawa entahlah sejak kehadiran Alexsa pria itu jadi sering tertawa ada pancaran kebahagiaan di pelupuk mata nya.
Hari hari nya semakin berwarna sejak kehadiran Alexsa di hidup nya, ada sesuatu yang keterikatan yang kuat yang di rasakan oleh Sam sendiri.
" Pergi istirahat lah Alexsa, besok pagi jangan lupa siapkan baju kerja dan juga pasangkan dasi di leher dengan benar. "
" Baik tuan, saya permisi. " Belum gadis itu beranjak Sam langsung mencengkal tangan mungil Alexsa.
" Ada apa?. "
" Bisakah jangan panggil saya dengan sebutan tuan jika kita sedang berdua saja.. " Ucapan Sam membuat Alexsa bingung.
" Maksudnya?. "
" Panggil saya apapun itu yang penting jangan tuan saat hanya ada saya dan kamu, kamu paham?. " Alexsa diam kemudian mengganguk pelan.
" Good Girl. " Sam melepaskan tangan Alexsa.
" Tapi saya harus panggil apa?. Om kakak mas atau apa?. " Sam memutar mata nya jenggah. Bagaimana bisa gadis itu akan memanggilnya dengan sebutan OM, walaupun memang lebih pantas seperti itu tapi dia sendiri kurang menyukai nya.
" Panggil saya kak Sam saja, jangan om kamu pikir saya setua itu kah?. " Alexsa hanya tersenyum melihat wajah Sam.
" Kak Sam begitu?. " Sam mengganguk
" Saya saat kita berdua saja, yaa menghilang kan kecanggungan sama seperti kamu ke pada mami saya. " Alexsa hanya mengganguk kemudian izin untuk pergi ke paviliun karena jam itu sudah tidak memungkinkan dirinya berada di rumah utama.
Sam masih menatap kepergian Alexsa yang kian hilang dari pandangan mata nya.
" Alexsa, entah lah ada apa dengan ku?. " Gumam Sam dia menyadari ada sesuatu yang salah namun dia menolak untuk membuangnya.
Sejak kehadiran Alexsa Sam jadi jarang berada di club malam atau sesekali membawa wanita masuk kedalam rumah nya, dia juga akan kembali tepat waktu. Banyak perubahan yang terlihat dari pria itu yang mungkin juga di sadari oleh mereka.
***
Kini Alexsa sudah berada di kamar Sam menyiapkan pakaiannya dan menunggu pria itu keluar untuk memasang kan dasi di lehernya.
" Selamat pagi Alexsa. " Sapa Sam kemudian langsung duduk menunggu gadis itu memasang kan dasi di leher nya.
" Kak Sam, boleh kah Alexsa minta izin untuk pergi keluar sebentar." Ucap Alexsa sembari memasang dasi di leher Sam.
" Kemana?. "
" Emmz boleh Alexsa bertemu dengan bapak, yaaa walaupun beliau jahat sama Alexsa tapi dia kan tetap orang tua Alexsa satu satunya. Bapak sudah tua Alexsa takut jika dia sedang tidak baik baik saja. " Sam langsung memegang kedua tangan Alexsa yang sedang memasang dasi.
Tangan gadis itu dingin dan sedikit bergetar mungkin dia sendiri takut ingin bertemu dengan ayahnya, namun perasaan seorang anak tetap lah tidak bisa bohong.
" Kamu yakin mau bertemu dengan nya lagi, bagaimana jika dia membawa mu pergi pada pria tua itu?. " Alexsa menatap mata Sam ada siratan kekhawatiran di mata itu.
" Tapi kak.. "
" Besok saja, saya libur jadi saya sendiri yang akan menggantar mu ke sana saya akan menunggu sedikit jauh jika kamu merasa tidak nyaman. " Alexsa mengalah gadis itu akhirnya mengangguk dan memilih menurut dengan perkataan Sam dari pada dia akan susah nantinya.
Aroma parfum yang di pakai Alexsa membuat Sam terlena, pria itu menarik tubuh mungil Alexsa ke pangkuan nya kembali menatap dalam dan mengunci tatapan mereka. Alexsa hanya diam tubuh nya kembali kaku dan dia merasa bingung dengan situasi tersebut.
Sam perlahan memajukan wajahnya menempelkan hidup mancung nya pada hidung Alexsa, gadis itu bisa merasakan hembusan hangat dari Sam. Sam mulai menempelkan bibir nya pada bibir ranum merah muda milik Alexsa dan membuat gadis itu terpejam dan membeku.
Sam melumat bibir Alexsa lembut melihat tidak ada penolakan membuat Sam kehilangan kendali dirinya, pria itu menekan tengkuk Alexsa untuk memperdalam ciuman mereka. Sam begitu menikmati setiap kecupan manis dari bibir gadis itu.
Alexsa yang sadar apa yang terjadi seketika mendorong tubuh Sam dan membuat dirinya terjatuh ke lantai.
" Alexsa... " Pekik Sam terkejut saat gadis itu mendorong nya dan terjatuh.
" Alexsa gak papa kok kak, Alexsa permisi dulu. " Ucap gadis itu langsung pergi meninggalkan Sam di kamarnya yang mengacak rambutnya frustasi.
" Apa yang aku lakukan, bodoh.. " Gumam Sam merasa bersalah telah mencuri ciuman pertama gadis itu.