Antares Bagaskara adalah dosen dan ilmuwan antariksa yang hidup dengan logika dan keteraturan. Cinta bukan bagian dari rencananya—hingga satu malam tak terduga memaksanya menikah dengan Zea Anora Virel, mahasiswi arsitektur yang ceria dan sulit diatur.
Pernikahan tanpa cinta.
Perbedaan usia.
Status dosen dan mahasiswi.
Terikat oleh tanggung jawab, mereka dipaksa berbagi hidup di tengah batas moral, dunia akademik, dan perasaan yang perlahan tumbuh di luar kendali.
Karena tidak semua cinta lahir dari rencana.
Sebagian hadir dari orbit yang tak terencana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Anomali di Antara Bintang
Malam di Jakarta tidak pernah benar-benar gelap, tapi bagi Antares Bagaskara, kegelapan adalah laboratorium terbaiknya. Sebagai seorang pria yang menghabiskan lebih dari separuh usianya menatap teleskop dan menghitung koordinat benda langit, ia terbiasa dengan keheningan yang absolut. Baginya, manusia itu berisik, emosi itu tidak stabil, dan cinta hanyalah reaksi kimia jangka pendek yang mengganggu fokus.
Namun, malam itu, hukum alam yang ia agungkan seolah sedang menertawakannya.
Perayaan keberhasilan peluncuran Satelit Antares seharusnya menjadi puncak kariernya. Di ballroom hotel berbintang itu, para menteri, ilmuwan, dan pengusaha berebut menjabat tangannya. Antares, dengan tuksedo hitam yang melekat sempurna pada tubuh atletisnya, hanya memberikan senyum formal yang tipis. Ia merasa gerah. Keramaian ini adalah polusi bagi otaknya.
Ia memutuskan untuk menyingkir. Ia butuh udara segar, atau setidaknya kesunyian di koridor lantai atas yang lebih sepi.
“Saya butuh waktu sepuluh menit,” ucap Antares pada asistennya, lalu melangkah menuju lift, menghindari kerumunan yang memujanya.
Saat pintu lift terbuka di lantai Sky Lounge, Antares tidak menyangka akan mencium aroma yang sangat kontras dengan wangi cerutu dan sampanye di bawah sana. Ia mencium aroma vanila, stroberi, dan... alkohol murahan.
BRUK!
Sesuatu yang lembut, hangat, dan sangat berantakan menghantam dadanya dengan keras. Antares adalah pria yang disiplin; refleksnya cepat. Tangannya secara otomatis menangkap pinggang ramping yang terbalut kain satin tipis agar sosok itu tidak jatuh terjungkal.
"Aduh..." sebuah rintihan pelan keluar dari bibir sosok itu.
Antares menunduk. Di dalam dekapannya, seorang gadis dengan rambut cokelat bergelombang yang berantakan sedang berusaha menyeimbangkan tubuh. Gadis itu mengenakan gaun pesta yang terlalu pendek, memperlihatkan tungkai kaki yang jenjang dan mulus.
“Kamu punya mata tidak?” suara Antares rendah, dingin, dan mengintimidasi.
Gadis itu mendongak. Matanya besar, bening, tapi tampak sayu karena pengaruh alkohol. Pipinya merona merah, dan bibirnya yang mungil sedikit terbuka, berusaha meraup oksigen. Antares tertegun sejenak. Ia mengenal wajah ini.
Zea Anora Virel. Mahasiswi Arsitektur tingkat akhir yang pernah mengambil mata kuliah pilihan Astronomi Dasar di kelasnya. Gadis yang selalu duduk di barisan belakang, tidak pernah mencatat, dan sering kali tertangkap kamera sedang menggambar sketsa bangunan di tengah kuliahnya yang serius.
“Pak... Antar?” Zea mengerjap-ngerjap. Ia malah menyeringai bego, tangannya yang mungil merayap naik, mencengkeram kerah tuksedo Antares yang mahal. “Eh, Bapak ganteng banget kalau nggak pakai kacamata. Tapi kok galak? Mukanya... kayak mau nelan orang.”
Antares menggeritkan rahang. Bau alkohol dari napas Zea membuatnya tahu bahwa gadis ini sedang dalam fase blackout. “Zea, kamu mabuk. Di mana teman-temanmu?”
“Teman? Oh... mereka lagi nari-nari di sana,” Zea menunjuk arah asal dengan gerakan tangan yang lunglai. Tiba-tiba, matanya berkaca-kaca. “Tapi mereka nggak asyik. Pacarku... maksudnya mantan pacarku... dia jahat, Pak. Dia bilang aku manja. Dia bilang aku nggak level sama dia yang anak hukum. Terus dia mutusin aku lewat WhatsApp! WhatsApp, Pak! Kurang ajar banget kan?”
Zea mulai terisak, menyandarkan kepalanya di dada bidang Antares. Air matanya mulai membasahi kemeja putih Antares yang disetrika rapi. Bagi pria yang benci kekacauan seperti Antares, ini adalah bencana level kosmik.
“Lepas, Zea. Saya panggilkan taksi untukmu,” Antares berusaha melepaskan tangan Zea, tapi gadis itu malah makin erat memeluk pinggangnya.
“Nggak mau! Jangan tinggalin aku... semua orang ninggalin aku malam ini,” Zea meracau. Ia mendongak lagi, menatap mata Antares dengan tatapan liar sekaligus rapuh. “Bapak pintar kan? Bapak ilmuwan... Bapak tahu nggak gimana caranya biar hati nggak sakit? Katanya gravitasi bisa narik apa aja... kenapa nggak bisa tarik rasa sakit ini juga?”
Antares terpaku. Ada sesuatu dalam getaran suara Zea yang merusak tembok pertahanan logikanya. Selama ini, hidup Antares adalah garis lurus yang membosankan. Dan Zea... Zea adalah anomali. Sebuah ledakan supernova yang tiba-tiba muncul di tengah kegelapan ruang angkasanya.
“Zea, kamu tidak tahu apa yang kamu bicarakan,” bisik Antares, suaranya mulai berubah serak.
Tangannya yang semula berniat mendorong, malah perlahan merambat naik ke tengkuk Zea, merasakan panas kulit gadis itu di telapak tangannya. Antares adalah pria dewasa yang sehat. Selama ini ia menahan diri bukan karena tidak mampu, tapi karena tidak ada yang menarik minatnya. Sampai detik ini.
“Buktikan, Pak...” Zea berbisik di depan bibir Antares. “Bapak cuma pintar teori bintang, atau praktiknya juga hebat? Bisa nggak Bapak bikin aku lupa sama semuanya malam ini?”
Sumbu pendek di otak Antares terbakar. Tantangan itu, aroma itu, dan sentuhan manja Zea menghancurkan sisa-sisa profesionalismenya sebagai seorang dosen.
Tanpa kata lagi, Antares membalikkan posisi mereka. Ia menghimpit Zea ke dinding lorong yang sepi. Matanya yang gelap mengunci pandangan Zea yang sayu.
“Jangan menyesal, Zea. Karena saya tidak pernah memberikan pengulangan untuk kesalahan yang saya buat,” bisik Antares berbahaya.
Detik berikutnya, Antares membungkam bibir Zea dengan ciuman yang sangat intens. Bukan ciuman lembut layaknya pria yang sedang merayu, melainkan ciuman penuh tuntutan dan rasa lapar yang selama ini ia pendam dalam-dalam. Zea melenguh pelan, tangannya menjambak rambut Antares, menarik pria itu makin dalam ke dalam pusaran gairah yang tidak terencana.
Antares menarik Zea kembali masuk ke dalam lift, menekan tombol menuju lantai Presidential Suite yang telah disiapkan panitia untuknya. Ia tidak peduli lagi pada pesta di bawah. Ia tidak peduli pada citranya sebagai ilmuwan terhormat.
Malam itu, di antara kerlip lampu kota Jakarta yang terlihat dari jendela lift kaca, Antares Bagaskara membiarkan dirinya ditarik oleh gravitasi Zea—sebuah orbit salah yang akan mengubah seluruh hidupnya selamanya.
Lampu kamar hotel yang temaram menjadi saksi bisu bagaimana keteraturan seorang Antares Bagaskara luluh lantak. Di atas ranjang yang sudah berantakan, pria itu benar-benar kehilangan kendali diri. Gairah yang selama ini ia kunci rapat di balik logika dinginnya, meledak menjadi obsesi yang gelap dan menuntut.
Antares tidak lagi menggunakan akal sehatnya. Ia bergerak dengan insting purba, setiap dorongannya terasa begitu dalam dan bertenaga, seolah ia sedang berusaha menyatukan atom-atom di tubuh mereka agar tidak terpisahkan lagi.
"Pak... Antar... s-sakithh aah... pelan-pelan," isak Zea parau.
Zea mencengkeram seprai putih di bawahnya hingga buku jarinya memutih. Napasnya terputus-putus, matanya yang sembab oleh air mata menatap langit-langit kamar dengan pandangan yang mengabur. Ia belum pernah merasakan sensasi seintens ini—rasa sakit yang bercampur dengan kenikmatan yang begitu menyesakkan hingga dadanya terasa mau pecah.
"Ampun... aaahh! aku lelah, Pak... hiks... sudah aaah! aahh!!," rintih Zea lagi saat Antares kembali melakukan dorongan yang sangat kencang, membuatnya menjerit kecil. Suara Zea terdengar rapuh, memohon di antara isakan tangisnya yang tak lagi bisa ia bendung.
Namun, alih-alih berhenti, Antares justru makin mengunci pergerakan Zea. Ia meraih kedua tangan Zea, menahannya di atas kepala dengan satu tangan besarnya. Antares merunduk, membisikkan kata-kata yang begitu rendah dan penuh otoritas di telinga Zea.
"Tatap saya, Zea. Kamu yang memulai orbit ini, dan saya yang akan menyelesaikannya," bisik Antares, suaranya serak oleh gairah yang sudah berada di puncaknya.
Antares seolah tidak mendengar permohonan ampun itu. Baginya, Zea adalah anomali yang harus ia taklukkan sepenuhnya malam ini. Ia terus bergerak dengan ritme yang makin cepat dan bertenaga, seolah tidak peduli betapa lelahnya gadis di bawahnya itu. Air mata Zea yang mengalir di pipi justru membuat Antares makin posesif; ia mengecup air mata itu sambil terus memacu gairahnya, memaksa Zea untuk terus mengikutinya mendaki puncak yang melelahkan.
Zea hanya bisa merintih pasrah, tubuhnya bergetar hebat menerima setiap sentuhan dan dorongan Antares yang tak kunjung usai. Di dalam kamar yang kedap suara itu, hanya ada suara napas yang memburu dan isakan lirih Zea yang perlahan tenggelam dalam dominasi Antares yang mutlak—sebuah malam di mana logika seorang ilmuwan kalah telak oleh gairah yang tak mengenal batas.