Novel ini berkisah tentang kehidupan SMA yang sarat dengan cinta- cintaan, persahabatan, persaingan antar geng di sekolah, dll. dengan latar belakang olah raga bela diri seperti karate, tinju, kick boxing, muathai dsb
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jeffc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Seminggu untuk Sebuah Harapan
Hari Minggu pagi yang cerah, di mana sebagian orang ke ajang car free day di Jalan Sudirman-Thamrin, tapi Tony dan Rommy berboncengan motor ke rumah Mauren. Bagi Rommy ini adalah pengalaman mendebarkan, karena pertama kalinya dia pergi ke rumah Mauren yang ditaksirnya diam-diam. Siapa sih yang gak deg-degan ke rumah cewek yang ditaksirnya?
Tapi pagi itu, Rommy harus bisa mengatasi emosi pribadinya, karena ini sangat berhubungan dengan niat tulus dia dan Tony untuk membantu sedikit meringankan penderitaan Pak Sajit.
Papa Mauren tampak di halaman depan tengah mencuci mobilnya. Dia melihat Rommy dan Tony berkunjung.
“Halo, Rommy! Tumben main ke sini? Mau nantang Mauren sparing lagi ya?” goda papa Mauren. “Mau balas dendam? Hehehe.”
“Pagi, Om. Enggak, Om, saya dan Tony ke sini mau berbicara dengan Mauren tentang suatu hal yang penting,” jawab Rommy malu karena sparing kemarin dia dipukul TKO oleh Mauren dalam sparing tinju.
“Haha… baiklah, masuk dulu, om panggil Mauren dulu,” kata papanya Mauren ramah, lalu masuk ke dalam rumah. “Mauren, dicari temannya nih!”
Mauren ternyata sudah siap dan sudah wangi menunggu kedatangan Rommy dan Tony. Dia memakai t-shirt pink dan celana jeans. Cantik dan lincah sekali tampaknya.
“Pagi, Ro, Ton, apa kabar?” sapa Mauren dengan ceria. “Apa yang penting dan butuh bantuanku?”
“Pagi, Ren,” jawab Rommy. “Biar Tony yang cerita langsung. Silakan, Ron.”
Lalu Tony menceritakan semua informasi yang dia tahu tentang penderitaan yang sedang dialami Pak Sajit dan istrinya kepada Mauren. Seketika wajah Mauren berubah campur antara sedih dan kaget. “Terus, apa yang bisa Mauren lakukan?”
“Maksimal kita melakukan penggalangan dana, tapi jangan lewat grup WhatsApp sekolah, karena Pak Sajit tidak ingin masalahnya diketahui oleh para guru lain dan murid-murid,” kata Rommy yang tidak berani menatap wajah Mauren.
Mama Mauren lalu datang dan memberikan minuman kepada mereka.
“Ni, Ren, si Rommy yang kamu dan papa kamu cerita calon bintang tinju masa depan?” tanya Mama Mauren.
“Ah Tante membesar-besarkan,” kata Rommy tersipu malu, lalu dia memperbaiki posisi duduknya. Dalam hatinya dia bangga, rupanya dia jadi trending topic antara Mauren dan papanya.
“Sudah, lanjutin ngobrolnya, Tante nerusin masak dulu buat makan siang nanti,” kata Mama Mauren.
“Jadi aku akan menggalang dana lewat teman-temanku, Tony dan kamu juga, Ren,” kata Rommy pelan. “Tapi jangan lewat grup WhatsApp, karena Pak Sajit nggak akan suka.”
Tony mengangguk-anggukkan kepalanya tanda sepakat apa yang dikatakan Rommy.
“Baik, aku akan berusaha semampu aku,” kata Mauren pelan.
Lalu setelah tidak ada lagi yang dibicarakan, topik pembicaraan beralih ke yang ringan-ringan.
“Eh Ton, dengar-dengar kamu jago muay thai dan latihannya di Bangkok?” tanya Mauren.
“Ah, sedikit-sedikit aja,” jawab Tony merendah.
“Ah bukan sedikit itu, kamu yang hampir saja memukul KO Axel, kalau Rommy nggak mencegah,” kata Mauren sambil tersenyum.
“Ah, hal kecil itu,” jawab Tony merendah. “Nggak usah diperpanjang.”
Rommy ikut bangga karena di mata Mauren namanya ikut disebut-sebut sebagai pahlawan dalam pertandingan tinju itu.
Di tengah perbincangan seru di rumah Mauren, di rumahnya, Sonny mengirim WhatsApp kepada Axel dan rekaman pembicaraan Tony dan Rommy di halaman rumah Rommy semalam, isinya, “Bro ini rekaman pembicaraan Rommy dan Tony semalam. Lu dengar baik-baik.”
Setelah sekitar 10 menitan, datang jawaban dari Axel, “Berarti Pak Sajit ada kelemahan, dan memberikan gua hukuman skorsing tanpa pertimbangan matang. Hukuman skorsing padaku tidak sah, dan bisa dibatalkan. Aku akan cari cara.”
Sementara tawa masih bergema di rumah Mauren, di sudut kota lain suasana berbeda 180 derajat menyelimuti rumah Pak Sajit.
“Pak, kalau Bapak aku tinggal pergi selamanya, Bapak bisa mengurus sendiri semuanya?” tanya Bu Sajit dengan lemah. Mukanya pucat dan kurus kering.
Pak Sajit tak mampu membendung tangisnya. “Jangan bicara seperti itu, Bu.”
“Aku tahu hidupku tak akan lama lagi, Pak,” kata Bu Sajit dengan berlinang air mata.
Pak Sajit diam saja, hanya bisa menahan dengan keras agar air matanya tidak membanjiri pipinya.
“Kita cerita yang indah-indah saja, Bu,” kata Pak Sajit. “Impian Ibu kita semua ajak anak-anak pergi berlibur ke Bali kalau sudah sembuh,” kata Pak Sajit pelan. “Kita akan sewa vila di sana, kita, anak-anak, dan cucu-cucu.”
“Impian tinggal impian, Pak,” jawab Bu Sajit pedih. “Turun dari tempat tidur ini aja sulit, bagaimana mungkin bisa ke Bali?”
Pak Sajit hanya bisa terdiam lama. Air matanya mengalir, tapi dia segera membalikkan badan agar istrinya tidak melihatnya menangis. Kemudian dia menyeka air matanya dengan kaos yang dikenakannya.
“Ibu pasti bisa sembuh,” hibur Pak Sajit. “Dokter sedang berusaha keras menemukan obat buat penyakit Ibu.”
“Bapak tidak usah berbohong untuk menyenangkan aku,” kata Bu Sajit dengan suara pelan. “Adu, aduh, Pak. Perutku sakit.”
Pak Sajit segera mengambil kompres untuk mengompres perut Bu Sajit.
Setelah Bu Sajit agak terasa enakan, Pak Sajit segera ke dapur dan masak seadanya untuk mereka berdua. Setelah itu Pak Sajit ke ruang cuci dan mencuci baju Pak dan Bu Sajit. Pak Sajit buru-buru masuk ke kamar lagi ketika terdengar batuk dari Bu Sajit.
Di rumah Mauren keadaan berbeda 180 derajat. Rumah itu diisi tawa anak-anak yang bercanda lalu dilanjutkan dengan rencana konkret menggalang bantuan untuk Pak Sajit.
“Kita kembali ke laptop,” ujar Rommy untuk segera menutup senda gurau mereka. “Mari kita kembali ke topik kita, yaitu menggalang bantuan untuk Pak dan Ibu Sajit.”
“Aku akan menggalang dana dari teman-teman di sekitar circle-ku,” kata Mauren. “Tony juga bisa membantuku menggalang dana dari lingkaran teman-teman Tony.”
“Dan aku bisa menggalang dana dari teman-temanku di Kelelawar Hitam,” ujar Rommy.
“Seminggu cukup?” tanya Tony. “Kalau kelamaan aku takut Pak Sajit benar-benar sudah kepepet.”
“Kita usahakan sekeras mungkin, tapi nggak bisa janji,” jawab Mauren sambil mengambil minuman yang tadi disuguhkan oleh mamanya.
Pada saat yang bersamaan, Rommy juga mau meminum dan mengulurkan tangannya untuk mengambil gelas. Tanpa sengaja tangan Mauren dan Rommy bersentuhan. Mauren memandang mata Rommy, sedang Rommy terlihat salah tingkah dan segera menarik tangannya dan menunduk malu.
“Rommy ini sedang membahas bantuan untuk Pak Sajit, bukan untuk hal-hal di luar masalah itu,” kata Rommy dalam hati. “Tapi itu sentuhan tanpa sengaja, dan itu besar sekali artinya bagiku.”
"Jangan grusa-grusu, Rom. Gelasnya nggak akan ke mana-mana, kok," goda Mauren pelan sambil mengambil gelasnya. Padahal dia menggoda itu juga untuk menutupi rasa groginya akibat tangannya bersentuhan dengan tangan Rommy.
“Kalau kalian mesra-mesraan gini aku pulang aja,” kata Tony ketus. Entah sewot beneran atau bergurau dia. Mauren langsung melemparkan bantal ke muka Tony.
“Jangan, Ton. Kita kan sedang mematangkan rencana untuk menggalang donasi buat Pak Sajit,” kata Rommy memegang tangan Tony. “Lagian aku pulang sama siapa ntar?”
Tony dan Mauren tak mampu menahan ketawa mendengar kalimat terakhir Rommy.
“Baik, dalam tiga hari kita berkumpul lagi setelah jam sekolah, untuk membahas sudah sejauh mana perkembangan penggalangan donasi itu,” kata Mauren.
Setelah pembicaraan membahas penggalangan dana untuk Pak Sajit selesai, Rommy dan Tony berpamitan pulang kepada Mauren dan papa mamanya, lalu Rommy membonceng motor milik Rommy.
Baru 100 meter Tony dan Rommy berboncengan motor keluar dari halaman rumah Mauren, Rommy melihat sosok yang tak asing baginya mendatangi rumah Mauren.
Axel!