Aldivano Athariz, pewaris keluarga religius yang memandang cinta sebagai ibadah, memilih jalan serius sejak awal hidupnya. Didikan orang tua yang tegas menjadikannya lelaki sholeh yang tak pernah melangkah tanpa niat dan tanggung jawab—termasuk saat takdir mempertemukannya kembali dengan Celine Chadia Cendana.
Di balik popularitasnya sebagai selebgram muda dengan jutaan pengikut, Celine menyimpan sisi liar yang tak banyak diketahui: balap motor dan kebebasan yang berseberangan dengan citra putri keluarga terpandang. Pertemuan mereka di arena balap menjadi awal dari rangkaian rahasia besar—sebuah pernikahan yang telah terjadi, namun disembunyikan dari Celine atas kesepakatan orang tua.
Saat kebenaran terungkap di tengah fase terpenting hidupnya, Celine merasa dikhianati dan memilih menjauh. Antara luka, kepercayaan, dan ikatan suci yang terlanjur terjalin, Aldivano dan Celine diuji oleh takdir.
Instagram: @itsmeita.aa_
Visualnya di ig author yaa🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita Karimah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 15 Perjalanan
Ada perjalanan yang tak hanya memindahkan raga, tapi juga menenangkan hati—karena di setiap langkahnya, Allah menitipkan syukur.
—Reina Athariz—
Perjalanan yang bukan sekadar berpindah kota, melainkan berpindah rasa—dari harap yang lama disimpan menuju syukur yang akhirnya diizinkan.
—Celine Chadia Cendana—
Tibalah waktu yang selama beberapa hari terakhir hanya menjadi doa yang berulang dalam sujud-sujud sunyi Celine dan Reina. Waktu yang tadinya terasa jauh, kini hadir begitu dekat, seperti matahari pagi yang perlahan menyusup di balik tirai kamar—hangat, lembut, dan penuh janji. Hari keberangkatan itu datang tanpa gemuruh, namun meninggalkan gema bahagia di dada setiap anggota keluarga Cendana dan Athariz.
Pagi masih muda ketika halaman kediaman keluarga Cendana mulai dipenuhi kendaraan. Suara pintu mobil yang dibuka, koper yang diseret perlahan di atas paving, serta sapaan ringan antaranggota keluarga menciptakan suasana yang hidup—seperti sebuah orkestra sederhana yang dimainkan oleh kebahagiaan. Udara pagi terasa segar, seolah ikut bersyukur atas perjalanan yang akan dimulai.
Celine berdiri di beranda rumah, mengenakan outer krem lembut yang jatuh anggun mengikuti gerak tubuhnya. Matanya berbinar, seperti embun yang memantulkan cahaya mentari. Di sampingnya, Reina tak henti-hentinya tersenyum, bahkan sesekali menutup wajahnya sendiri karena tak percaya bahwa rencana yang sempat terasa mustahil itu akhirnya terwujud.
“Cel…” bisik Reina pelan, seolah takut kebahagiaannya menguap jika diucapkan terlalu keras. “Kita jadi, ya?”
Celine mengangguk cepat. Senyumnya merekah, selebar langit pagi. “Jadi. Beneran jadi.”
Rasa syukur itu mengalir di antara mereka seperti sungai kecil yang jernih—tenang, namun dalam. Mereka tahu, perjalanan ini bukan sekadar liburan keluarga. Ini adalah jawaban dari banyak doa, terutama doa-doa yang sempat terucap lirih karena takut berharap terlalu tinggi.
Daddy Caesar berdiri tak jauh dari mereka, memperhatikan dua gadis itu dengan senyum yang tertahan namun penuh makna. Baginya, melihat Celine bahagia adalah seperti melihat matahari kembali ke tempatnya—sesuatu yang tak bisa ditawar. Ia tahu betul, betapa putrinya telah melewati banyak pergolakan batin belakangan ini. Maka ketika keputusan family camping ini disepakati, ia merasa seperti telah meletakkan pagar tak terlihat di sekeliling Celine—pagar yang dibangun dari cinta dan tanggung jawab.
Keluarga Athariz tiba tak lama kemudian. Mobil mereka berhenti dengan rapi, dan satu per satu anggota keluarga turun. Bunda Afsheen lebih dulu melangkah, matanya langsung mencari sosok Celine. Ketika pandangan mereka bertemu, senyum Bunda Afsheen mengembang seolah menemukan sesuatu yang lama dirindukan.
“Celine,” panggilnya lembut.
Celine melangkah mendekat dan memeluk Bunda Afsheen dengan hangat. Pelukan itu terasa seperti pulang—tenang, menenangkan, dan penuh keikhlasan. Bagi Celine, Bunda Afsheen selalu memiliki cara sendiri untuk membuatnya merasa aman, seperti doa yang tak pernah diumumkan namun selalu sampai.
Aldivano berdiri beberapa langkah di belakang, memperhatikan dari kejauhan. Ia tak banyak bicara pagi itu. Pandangannya jatuh pada Celine, lalu bergeser ke Reina, kemudian kembali lagi pada Celine. Ada rasa syukur yang diam-diam mengendap di dadanya. Ia tahu, perjalanan ini akan menjadi ruang—ruang untuk mengamati, memahami, dan menyiapkan diri.
Perjalanan menuju Yogyakarta dimulai ketika matahari mulai naik sepenggal. Mereka memilih jalur darat, sebuah keputusan yang disepakati bersama, bukan tanpa alasan. Ada keinginan untuk merasakan perjalanan itu sendiri—melihat perubahan lanskap, merasakan jarak, dan menikmati proses. Seperti hidup, perjalanan ini tidak ingin mereka potong terlalu cepat.
Di dalam kendaraan, suasana terasa hangat. Tidak ada kecanggungan, tidak pula keheningan yang memaksa. Percakapan mengalir ringan, diselingi tawa kecil dan cerita-cerita sederhana. Suara roda yang melaju di aspal terdengar seperti irama pengantar, menemani setiap kata dan tawa.
Celine duduk di kursi tengah, diapit Reina dan Alya. Sesekali ia menoleh ke luar jendela, memandangi pepohonan yang berbaris seperti penonton setia yang melambaikan daun-daunnya. Langit biru terbentang luas, seperti kanvas besar yang dilukis dengan ketenangan.
“Jogja,” gumam Celine pelan, nyaris seperti doa.
Reina menyenggol lengannya. “Kota penuh cerita. Cocok sama kamu.”
Celine tersenyum kecil. Di dalam hatinya, ada perasaan yang sulit ia beri nama—sebuah campuran antara lega, bahagia, dan harap. Harap yang tak lagi menuntut, hanya ingin mengalir.
Kendaraan melaju melewati kota-kota kecil. Rumah-rumah sederhana berdiri di pinggir jalan, sawah terbentang hijau seperti permadani raksasa. Sesekali mereka berhenti di rest area. Aroma kopi panas dan gorengan menyambut, bercampur dengan udara luar yang membawa bau tanah dan dedaunan.
Di salah satu perhentian, Celine berdiri sejenak, menghirup udara dalam-dalam. Rasanya seperti menghirup ketenangan. Ia menutup mata, lalu berbisik lirih, “Alhamdulillah.”
Reina mendengarnya, meski tak menanggapi dengan kata. Ia hanya tersenyum, karena ia tahu, syukur terkadang tak perlu dijawab—cukup dirasakan.
Perjalanan berlanjut. Di kendaraan lain, Aldivano duduk di kursi depan, sesekali menoleh ke spion. Ia melihat bayangan kendaraan di belakang, tempat Celine berada. Ada perasaan protektif yang muncul, bukan karena kepemilikan, melainkan tanggung jawab. Seperti seseorang yang menjaga api kecil agar tetap menyala tanpa meniupnya terlalu keras.
“Capek?” tanya Calvin, yang duduk di sampingnya.
Aldivano menggeleng. “Enggak. Justru… tenang.”
Kalimat itu meluncur begitu saja, jujur dan tanpa beban. Ia merasa, perjalanan ini juga menjadi perjalanannya sendiri—menuju pemahaman yang lebih dewasa.
Saat sore mulai turun, cahaya matahari berubah keemasan. Bayangan pepohonan memanjang di jalan, seperti tangan-tangan panjang yang ingin menyentuh kendaraan mereka. Di momen itu, suasana dalam kendaraan menjadi lebih hening, bukan karena lelah, melainkan karena masing-masing larut dalam pikirannya sendiri.
Celine kembali menatap ke luar jendela. Kali ini, langit mulai berwarna jingga. Pemandangan itu terasa seperti lukisan yang bergerak perlahan. Ia merasa kecil, namun tidak rapuh. Seperti daun yang hanyut di sungai—ia tidak tahu ke mana akan berlabuh, namun percaya pada arus.
Ia teringat pada izin yang sempat tertahan, pada kekhawatiran Daddy Caesar, pada solusi family camping yang akhirnya menjadi jalan tengah. Semua itu kini terasa seperti rangkaian yang rapi—tidak acak, tidak sia-sia.
Malam mulai turun ketika mereka memasuki wilayah Yogyakarta. Lampu-lampu jalan menyala satu per satu, seperti bintang yang turun ke bumi. Celine dan Reina hampir bersorak ketika papan penanda kota terlihat.
“Jogja!” seru Reina pelan, menahan diri agar tak terlalu berisik.
Celine tertawa kecil. Dadanya terasa penuh, seperti balon yang hampir melayang. Ia menyentuh dadanya sendiri, memastikan detak jantungnya masih teratur. Ada rasa syukur yang mengembang, seperti bunga yang mekar perlahan di taman hati.
Setibanya di tempat menginap, mereka turun satu per satu. Kelelahan perjalanan seolah terbayar oleh udara malam yang sejuk. Suasana terasa berbeda—lebih tenang, lebih ramah. Seperti kota itu sendiri yang menyambut mereka dengan tangan terbuka.
Celine berdiri sejenak, menatap langit malam Yogyakarta. Bintang-bintang terlihat lebih jelas, seolah lebih dekat. Ia tersenyum, lalu berbisik dalam hati, Terima kasih, ya Allah.
Di kejauhan, Aldivano memperhatikannya. Ia tidak mendekat, tidak pula memanggil. Ia hanya berdiri, memberi ruang. Dalam diamnya, ia juga memanjatkan doa—doa yang tak pernah ia ceritakan, namun selalu ia ulang.
Perjalanan ini belum berakhir. Justru, mungkin baru saja dimulai.
Dan di antara langkah-langkah yang akan mereka tempuh di kota ini, ada cerita-cerita yang menunggu untuk terungkap—perlahan, seperti fajar yang tak pernah terburu-buru.
aku mencintaimu dalam Diam..Bukan karena aku pengecut..Karena aku sedang memantaskan diri agar sebanding denganmu...
dan percayalah Aku sangat mencintaimu...