Safira Grace Bastian hanyalah seorang mahasiswa biasa di Kalimantan. Hidupnya terasa tenang bersama kakak yang sukses sebagai pebisnis dan adik yang disiplin sebagai taruna di universitas ternama Jakarta. Keluarga mereka tampak harmonis, hingga suatu malam ayah dan ibu berpamitan dengan alasan sederhana: sang ibu pulang kampung ke Bandung, sang ayah menemui teman lama di Batam. Namun sejak kepergian itu, semua komunikasi terputus. Telepon tak pernah dijawab, pesan tak pernah dibalas, dan alamat yang mereka tuju ternyata kosong. Seolah-olah kedua orang tua lenyap ditelan bumi. Ketiga kakak beradik itu pun memulai perjalanan penuh misteri untuk mencari orang tua mereka. Dalam pencarian, mereka menemukan jejak masa lalu yang kelam: organisasi rahasia, perebutan kekuasaan, dan musuh lama yang kembali bangkit. Rahasia yang selama ini disembunyikan ayah dan ibu perlahan terbuka, membuat mereka bertanya dalam hati: “Apakah ini benar orang tua kami?
ini cerita buatan sendiri!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SAFRIDA ANUGRAH NAPITUPULU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Medan — Pelarian Malam yang Mematikan
Mereka berlari melalui gang sempit, napas tersengal-sengal. Hujan semalam membuat jalanan licin, genangan air memantulkan cahaya lampu jalan yang jarang menyala.
Adrian memimpin, menoleh sesekali untuk memastikan Safira dan Clarissa mengikuti.
“Jangan lengah! Mereka bisa ada di mana saja!” teriaknya di atas suara hujan dan sirine yang samar.
Dari atap gedung kosong, suara tembakan menembus malam. Peluru menyayat udara di dekat kepala mereka. Sebuah suara serak terdengar:
“Sial! Jangan sampai mereka lolos!”
Clarissa hampir terjatuh saat melewati genangan air licin. Safira meraih lengannya, menariknya kembali ke jalur.
“Hati-hati, Clar!”
Adam dan perempuan paruh baya namanya Livia bergerak di depan, menembak dan menghalangi musuh yang mengejar. Setiap langkah mereka diiringi bunyi kaca pecah, ledakan granat stun, dan tembakan liar yang menambah intensitas kekacauan.
Di tikungan tajam, Adrian hampir tergelincir ke jurang kecil yang membelah jalan sempit menuju kanal. Safira, dengan insting cepat, meraih lengannya tepat waktu.
“Gila… nyaris mati, bro!” teriak Safira, napasnya tersengal.
Adam menoleh, menembakkan beberapa kali ke arah musuh yang mendekat.
“Cepat! Jangan berhenti! Jangan pikirkan apa pun!”
Livia menyambar tas Adrian, melemparkan granat asap ke belakang untuk menutupi jejak mereka.
“Kita harus ke titik aman, sekarang juga!”
Di gang lain, sekelompok pria bersenjata muncul dari bayangan. Adrian menembak dua kali, menabrak tembok, hampir tersungkur. Safira menariknya kembali, sementara Clarissa menutup kepala dengan jaket untuk melindungi diri dari pecahan kaca.
Adrian berbisik pada dirinya sendiri, napas terengah:
“Ini… seperti latihan di Taruna, tapi… nyata. Ini hidup atau mati.”
Tiba-tiba, sebuah mobil hitam melaju dari tikungan. Adam menggerakkan mereka ke sisi jalan. Peluru menembus kaca dekat mobil, pecah berhamburan. Mobil itu berhenti, seorang pria bertopeng melompat keluar, menembakkan senjata mesin ringan ke arah mereka.
Livia menggerakkan tangan, menahan beberapa tembakan, lalu menendang musuh ke sisi jalan.
“Move! Move! Cepat!”
Mereka berlari menuruni bukit kecil menuju sungai. Air dingin membasahi kaki mereka, tapi tak ada pilihan lain. Adrian nyaris kehilangan sandal, hampir tergelincir, tetapi Livia menariknya dari belakang.
Di atas jembatan tua yang rapuh, Clarissa gemetar.
“Ini… ini rapuh banget, kita bisa jatuh ke sungai!”
Adam:
“Tidak ada waktu untuk takut! Kita harus sampai seberang!”
Musuh masih mengejar. Tembakan terdengar dari belakang, dan bunyi rantai jembatan berderit di bawah kaki mereka. Adrian menoleh sebentar, menembak ke arah bayangan di belakang, memastikan tidak ada yang terlalu dekat.
Setelah beberapa menit menegangkan, mereka berhasil mencapai hutan kecil di tepi kota. Nafas terengah, pakaian basah, tangan lecet. Namun mereka selamat untuk sementara.
Safira duduk di atas batu besar, menatap gelap malam, gemetar. Clarissa memeluknya, napas mereka berpadu. Adrian menunduk, menatap senjata di tangan, wajah penuh emosi.
Livia:
“Kali ini kita lolos.”
Adam:
“Kalian harus siap. Seluruh rahasia keluarga, seluruh kebohongan… semuanya akan terbongkar. Dan sekarang, kalian bukan lagi anak-anak biasa. Kalian adalah target… dan pewaris.”
Adrian menatap langit malam, hatinya campur adrenalin dan rasa takut.
“Kita akan mencari jawaban… dan kita akan bertahan. Apa pun yang terjadi.”
Safira menatap kakaknya, air mata menetes tanpa terasa.
“Kita harus… tetap bersama. Jangan biarkan mereka memecah kita.”
Di balik pepohonan, bayangan musuh masih mengintai. Adam dan Livia menyiapkan posisi untuk pengawasan malam. Pelarian mereka belum selesai malam masih panjang, dan setiap langkah bisa berarti hidup atau mati.
...----------------...
Kota Lain — Kebenaran yang Terungkap
Setelah beberapa jam bersembunyi, ketiganya Safira, Clarissa, dan Adrian akhirnya berada di kota lain, jauh dari jejak pengejar yang masih berkeliaran di Medan. Malam masih pekat, tetapi gedung sewaan sederhana itu memberi mereka sedikit ruang untuk bernapas dan mencoba memahami semua yang baru saja terjadi.
Safira menatap Adam, hatinya bergemuruh dengan rasa penasaran dan takut. “Adam… aku… aku harus tahu. Tentang Ayah dan Ibu kami… siapa mereka sebenarnya? Kenapa kami tidak pernah diberi tahu?”
Adam menunduk sejenak, menatap wajah mereka satu per satu, lalu menarik napas panjang. “Kalian harus siap mendengar ini. Semua yang akan ku katakan… bukan cerita biasa. Tapi kalian harus tahu kebenarannya.”
Adrian mencondongkan badan, Clarissa menggenggam tangan Safira, keduanya menatap Adam dengan tegang.
Adam memulai: “Ayah kalian… Armand… dulu adalah pemimpin organisasi bernama Perisai Malam. Awalnya, anggota organisasi itu adalah orang-orang bermasalah mantan kriminal, orang yang dikucilkan, diasingkan, bahkan dianggap ancaman oleh masyarakat. Mereka tidak diterima di mana pun. Tapi Armand melihat potensi mereka. Ia membangun Perisai Malam bukan sekadar untuk kekuasaan, tapi untuk memberi tujuan, mengubah hidup mereka, dan… melindungi orang-orang yang tak bisa dilindungi siapa pun.”
Safira menelan ludah, suaranya gemetar: “Jadi… ayah kita melatih mereka semua?”
Adam mengangguk. “Ya. Ia mengajarkan mereka seni pedang, penggunaan senjata, strategi bertahan hidup, dan kekuatan mental. Ia membuat mereka kuat. Dan kalian… juga sempat ikut belajar dari ayah kalian. Armand ingin memastikan kalian siap, jika suatu hari dunia ini menuntut kalian lebih dari sekadar anak-anak biasa.”
Clarissa tercengang. “Jadi selama ini… kita hidup dalam kebohongan?”
Adam tersenyum tipis, tapi matanya tetap serius. “Bukan kebohongan, tapi perlindungan. Organisasi ini tumbuh besar, bekerja di balik bayangan untuk melindungi masyarakat orang-orang yang tak bisa menggunakan jasa keamanan biasa. Tapi itu tak bertahan lama.”
Adrian mengerutkan kening. “Kenapa?”
Adam menatap jauh ke luar jendela. “Armand mulai terlibat dalam proyek rahasia, pekerjaan yang melibatkan pejabat tinggi. Ia menemukan korupsi, perdagangan ilegal, dan banyak kejahatan lain. Ia marah… dan berniat menghentikan semuanya. Tapi tanpa ia sadari, Perisai Malam terbagi menjadi dua kubu: satu tetap setia, yang lain haus akan uang dan kekuasaan. Mereka… pengkhianat. Mereka ingin menjatuhkan Armand.”
Safira terkejut. “Jadi serangan-serangan itu… semuanya karena mereka ingin membunuh ayah kita?”
Adam mengangguk. “Ya. Mereka ingin mengambil apa pun yang Armand miliki catatan, dokumen, bahkan benda-benda penting yang seharusnya tidak pernah ada. Itu yang membuat mereka marah dan ingin membungkamnya selamanya.”
Clarissa menatap Adam, suara gemetar: “Lalu… bagaimana ayah kami bisa selamat?”
Adam tersenyum tipis. “Ia punya sekutu lama. Seorang wanita yang dulu ia selamatkan, wanita itu… memiliki kekuasaan dan pengaruh yang besar, serta sumber daya yang cukup untuk membantunya. Wanita itu setuju untuk menolongnya, dan dia… bukan lain adalah Ibu kalian Elisabet. Bersama beberapa anggota Perisai Malam yang masih setia, mereka merencanakan pelarian.”
Adrian menatap Safira dan Clarissa, matanya bersinar dengan ketegangan. “Jadi semua ini… ibu kita terlibat langsung untuk menyelamatkan ayah kita?”
Adam mengangguk. “Benar. Tapi pelarian itu bukan hal mudah. Musuh terlalu banyak. Mereka harus bergerak cepat, menutupi jejak, dan menggunakan segala keahlian yang ayah dan ibu kalian ajarkan. Dan… kalian harus mengerti, dunia yang kalian masuki sekarang bukan dunia biasa. Ini adalah dunia di mana loyalitas, strategi, dan keberanian menentukan hidup atau mati.”
Safira menunduk, menahan rasa takut dan campur adrenalin. “Aku… aku ingin tahu semuanya. Semua rahasia… semua kebohongan… Aku ingin bisa membantu.”
Clarissa menggenggam tangan adiknya, napas mereka berpadu. Adrian menunduk, menatap senjata di tangannya, wajah penuh tekad.
Adam dan Livia menatap mereka, mata waspada tapi hangat. “Kalian bukan lagi anak-anak. Kalian adalah pewaris. Dan dunia Perisai Malam dunia bayangan ayah kalian adalah dunia kalian juga sekarang.”
Di luar jendela, lampu kota memantul di genangan air yang tersisa dari hujan semalam. Angin malam berdesir membawa aroma tanah basah. Di tengah ketegangan itu, ketiga kakak-beradik merasakan satu hal: tekad. Tekad untuk menghadapi pengkhianatan, menghadapi musuh, dan menghadapi warisan yang ditinggalkan Armand.
Dan satu hal jelas: pelarian Armand dan Elisabet hanyalah awal dari perang yang lebih besar perang antara loyalitas dan pengkhianatan di Perisai Malam, di mana setiap langkah bisa menentukan hidup atau mati.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...