NovelToon NovelToon
The Ghost Detective: Sam’S Last Gift

The Ghost Detective: Sam’S Last Gift

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Identitas Tersembunyi / Slice of Life / Persahabatan / TKP / Roh Supernatural
Popularitas:92
Nilai: 5
Nama Author: Phida Lee

Seorang arwah anak yang terlupakan sejak 1987. Seorang detektif perempuan yang bisa melihatnya di tahun 2020. Bersama, mereka memecahkan kasus-kasus mustahil.

Tetapi setiap kebenaran yang mereka ungkap membawa Lisa dan Rhino semakin dekat pada misteri terbesar, identitas Rhino yang sebenarnya. Sebuah rahasia kelam yang, jika terungkap, bisa membebaskannya atau justru memisahkan mereka untuk selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phida Lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Udara di ruang kerja divisi investigasi terasa beku, padat, dan tanpa ampun. Oksigen seolah telah habis tersedot oleh ketegangan yang menggantung membentang antara dua detektif itu, bagai kawat baja yang diulur hingga hampir putus. Hanya suara gesekan kertas dan derit lemari berkas yang sesekali memecah kesunyian. Di balik jendela, sore Seoul mulai merayap dengan warna jingga kelam, menerangi partikel debu yang menari lamban dalam sinar yang miring.

Ahn Lisa dengan tenang memasukkan beberapa dokumen terakhir ke dalam tas ranselnya. Jari-jarinya yang ramping menari dengan efisien: paspor, tiket elektronik, kontak darurat, dan catatan tipis tentang Firman Halim. Setiap gerakan adalah upaya untuk menenangkan gemuruh di dalam dada. Ia merasa sepasang mata menusuk dari balik bahunya.

Kemudian, datanglah suara itu.

𝘉𝘙𝘈𝘒𝘒!

Sebuah telapak tangan besar dan keras menghantam permukaan meja kerjanya, getarannya merambat melalui kayu langsung ke siku Lisa. Ia tersentak, tapi otot-otot wajahnya dilatih untuk tidak menunjukkan lebih dari sekadar kedipan mata yang sedikit lebih cepat. Perlahan, ia mendongak.

Hendry berdiri di seberang meja, tubuhnya membayangi cahaya dari lampu neon di atas. Napasnya memburu, keluar melalui hidung yang sedikit melebar. Wajahnya yang biasanya terkunci rapat dalam ekspresi dingin kini memerah padam, urat lehernya menegang bagai tali tambang. Amarah itu nyaris terpancar keluar dari pori-porinya.

"Kau tidak akan pergi ke mana-mana, Ahn Lisa. Kasus ini berbau sindikat. Jejaknya terlalu rapi untuk seorang perakit koper amatir. Kau mau pergi sendirian, tanpa perlindungan, ke sarangnya di Johor Bahru? Itu bunuh diri berkedok heroisme."

Lisa menarik napas dalam-dalam, mengisi paru-parunya yang terasa sempit. Ia menutup ritsleting tas dengan satu sentakan tegas. "Izin sudah diberikan Kapten, Senior Hendry. Saya punya tujuan investigasi yang jelas. Setiap detik yang kita habiskan untuk berdebat di sini adalah kesempatan bagi Firman untuk membersihkan jejaknya."

"Tujuan investigasi yang jelas?" Hendry menirukan dengan sarkasme yang menyayat. Kemudian ia tertawa pendek dan sama sekali tidak mengandung keceriaan. "Yang kau punya cuma dongeng lantai kayu! Itu saja!" Ia melangkah mendekat, mengikis jarak pribadi hingga Lisa bisa mencium aroma kopi pekat dan keringat pada kemejanya. Aura fisiknya besar, mengintimidasi. "Siapa informanmu? Coba katakan. Tim intel kami blank. Tim siber masih mengupas lapisan pertama. Tidak ada ponsel tersadap, tidak ada mata-mata di lapangan. Tapi tiba-tiba, detektif junior yang baru dua tahun di Inafis dapat informasi spesifik tentang lokasi bukti di negara lain? Itu tidak masuk akal!"

Monolog batin Lisa berdesir penuh alarm. Ia bisa merasakan kehadiran Sam di sudut ruangan, di atas sebuah lemari arsip. Bayangan itu diam, tapi Lisa tahu ia sedang memperhatikan. Bagaimana mungkin menjelaskan? Bagaimana mungkin mengatakan bahwa sumbernya adalah pria berusia 17 tahun secara rohani, yang saat ini mungkin sedang mengamati langit-langit dengan bosan, dan yang mendapatkan informasi dari bisikan langsung arwah korban?

Lisa memilih untuk menatap langsung ke mata Hendry yang penuh kecurigaan. "Saya punya jaringan sumber saya sendiri, Senior. Jalur yang tidak selalu tercatat di dalam berkas resmi. Dan sejauh ini, informasi dari sana memiliki akurasi yang tinggi." Itu bukan kebohongan, tapi juga bukan kebenaran utuh. Rasanya seperti berjalan di atas kawat tajam.

"Jaringan sumber?" Hendry menyeringai, tidak percaya sedikit pun. "Jaringan apa? Peramal? Dukun? Atau kau menyembunyikan sesuatu yang bisa menghancurkan kariermu—dan reputasi divisi ini—kalau sampai terbongkar?"

Ketegangan itu hampir mencapai puncaknya. Lisa siap membalas, mempertahankan posisinya, ketika sesuatu yang aneh terjadi.

𝘡𝘻𝘻𝘻𝘵... 𝘡𝘻𝘻𝘻𝘵... 𝘡𝘻𝘻𝘻𝘵...

Suara elektronik yang tajam dan berirama memotong ketegangan. Itu berasal dari mesin printer laser hitam yang berdiri di sudut meja kerja Hendry. Lampu indikator ‘Siap’ berkedip hijau dengan cepat, gila-gilaan, seperti jantung yang berdebar kencang padahal tidak ada yang menyentuh tombolnya.

Hendry memalingkan muka dari Lisa, kerut di dahinya semakin dalam. "Apa ini? Siapa yang mengirim print job?" Gerutnya, lebih pada dirinya sendiri. Matanya memindai ruangan kosong. Tidak ada seorang pun staf administrasi di luar yang sedang bekerja lembur.

Dengan gerakan kesal, ia bergegas mendekati mesin itu, jarinya mengarah ke tombol ‘Batal’. Namun, sebelum ia menyentuhnya, mesin mulai bergemuruh. Satu lembar kertas putih menyembul keluar, lalu dengan kecepatan yang tidak wajar—lebih cepat dari pengaturan biasa—kertas kedua, ketiga, dan keempat menyusul.

𝘍𝘺𝘶𝘵. 𝘍𝘺𝘶𝘵. 𝘍𝘺𝘶𝘵.

Hendry membeku. Pandangannya tertumbuk pada lembar pertama yang tergeletak di baki keluaran. Darah di wajahnya surut dalam sekejap, meninggalkan warna pucat kapur di bawah kulitnya.

Itu adalah foto Siti Aminah. Bukan foto paspor yang tersenyum. Ini adalah foto forensik, yang diambil di tepi Sungai Han di balik garis polisi. Wajah yang tak lagi utuh, pucat membiru, dengan latar belakang koper biru yang terbuka. Detailnya tercetak dengan sempurna, terlalu sempurna, oleh tinta hitam pekat yang kontras menyakitkan dengan kertas HVS yang putih bersih.

"Tidak mungkin…" Gumam Hendry, suaranya serak. "File ini… ada di server terenkripsi…"

Ia membanting tombol ‘Batal’, sekali, dua kali. Mesin itu mengabaikannya sepenuhnya.

𝘡𝘻𝘻𝘻𝘵.

𝘍𝘺𝘶𝘵.

Kertas-kertas baru terus keluar, setiap lembar memuat gambar yang sama persis. Foto korban. Wajah korban. Mata korban yang kosong.

Lisa berdiri tak bergerak. Dari sudut matanya, ia melihat Sam sekarang berdiri tepat di samping mesin printer. Ekspresi biasa di wajah pemuda itu telah menghilang, digantikan oleh sorot mata dingin dan berkeping-keping. Bibirnya menekan dalam garis lurus. Salah satu tangan Sam yang transparan terbuka, seolah menempel pada bodi mesin. Di sekeliling jari-jarinya yang halus, udara tampak bergetar halus, seperti distorsi panas di atas aspal. Sam sedang memanipulasi arus listrik, medan magnet, Lisa tidak tahu pasti, dan melakukannya dengan emosi amarah yang membeku.

"Sam." Lisa memanggil dalam batinnya, protes namun juga tercampur kelegaan melihat Hendry yang terpojok. "Cukup. Jangan berlebihan."

Tapi Sam seolah tidak mendengar, atau memilih untuk tidak mendengarkan. Kertas-kertas terus berhamburan keluar, bukan lagi jatuh dengan rapi ke baki, tetapi melayang dan bertebaran di lantai. Sekarang sudah belasan, mendekati dua puluh lembar. Foto wajah Siti Aminah yang identik tersebar di lantai vinil, menatap ke langit-langit dengan tatapan tanpa jiwa.

Hendry mundur selangkah. Bau amis, seperti bau lumut dan air sungai yang tergenang, tiba-tiba mengisi ruangannya. Bau yang sama yang menempel pada Lisa dan Sam sepulang dari Sungai Han tadi pagi. Bau itu tidak mungkin ada di sini, di lantai gedung pemerintahan yang bersih dan ber-AC.

"Hey! Di luar! Matikan daya ke ruangan ini!" Teriak Hendry ke arah pintu. Tidak ada jawaban. Lorong di luar tampak sunyi dan terang, tetapi seolah terpisah oleh dinding kaca yang tak terlihat.

Dia mundur lagi hingga punggungnya menabrak dinding dingin. Matanya liar, memandang dari tumpukan kertas yang terus bertambah ke mesin printer yang bergemeretak sendiri. Ketakutan yang sama, yang primitif dan dalam, yang pernah ia rasakan di kedai soju ketika cangkirnya retak sendiri, kini mencengkeram tenggorokannya. Ini bukan kesalahan sistem, bukan juga lelucon rekayasa. Ada sesuatu yang tidak bisa ia pahami, yang menentang semua logika investigasinya.

Ia melihat ke arah Lisa. Gadis itu berdiri di tempatnya, wajahnya masih berusaha netral, tetapi matanya… matanya justru tidak terkejut. Ada semacam penerimaan di sana, sebuah pengetahuan yang membuat darah Hendry semakin dingin.

"Kau…" Bisiknya pada Lisa, jari telunjuknya gemetar mengarah padanya. "Kau yang…"

𝘍𝘺𝘶𝘵. 𝘍𝘺𝘶𝘵. 𝘍𝘺𝘶𝘵.

Mesin itu belum berhenti. Foto-foto itu kini seperti karpet mengerikan yang menjalar ke arah kakinya.

"Ambil tasmu." Kata Hendry tiba-tiba dengan suara parau, hampir tidak terdengar. Ia menatap lantai, tidak sanggup lagi menahan tatapan mati yang berulang-ulang dari kertas-kertas itu. "Ambil dan pergilah sekarang. Pergi sebelum aku benar-benar kehilangan akal sehat di kantor sendiri!"

Itu adalah kata-kata yang Lisa tunggu, tapi disampaikan dengan getaran ketakutan yang membuatnya hampir merasa kasihan. Hampir. Ia tidak membuang waktu. Dengan gerakan cepat, ia menyampirkan tali tas ransel ke bahu. Ia melangkah menuju pintu, menghindari lautan foto di lantai.

Saat ia melewati Hendry yang masih terpaku di dinding, ia memberikan anggukan singkat, formal. "Saya akan melaporkan perkembangannya, Senior."

Hendry tidak menanggapi. Ia hanya memandang mesin printer yang akhirnya, tiba-tiba saja, berhenti. Lampu hijau yang berkedip tadi padam. Keheningan elektrik yang pekat kembali menyergap, lebih menakutkan daripada suara mesin tadi.

Lisa tidak menoleh lagi. Ia membuka pintu dan melangkah ke lorong yang terang benderang. Udara di luar terasa normal. Ia menarik napas panjang.

Sam muncul di sampingnya, berjalan sejajar dengannya dengan langkah lesu. Ekspresi dinginnya sudah mencair, digantikan oleh kelelahan. "Percayalah, dia akan berpikir dua kali untuk menghalangimu lagi." Ujar Sam dengan suara datar.

"Kau hampir memberinya serangan jantung, Rhino." Bisik Lisa sambil berjalan cepat menuju lift. "Dan kau membuat berantakan ruangannya."

"Dia yang memulai dengan mengintimidasi." Bales Sam, sedikit membela diri. "Dan dia menuduhmu menyembunyikan sesuatu. Hmm, secara teknis, dia benar, sih." Senyum kecil, nakal, muncul di sudut bibir Sam.

Lisa mendesah, menekan tombol lift turun. "Tapi metode mu sangat ekstrem. Kita harus berhati-hati. Ornamen kantor yang rusak bisa menimbulkan pertanyaan."

"Printer itu masih berfungsi. Aku hanya… membujuknya untuk mengakses folder yang seharusnya tidak bisa diakses." Jelas Sam, mengangkat bahu. "Dan menciptakan sedikit suasana."

"Sedikit?" Lisa membatin, mengingat wajah Hendry yang pucat lesi dan bau sungai yang menyergap tadi. Lift datang dengan bunyi ding. Saat pintu terbuka, ia melirik ke belakang, ke arah ruang kerja divisi yang kini terpisah oleh belokan lorong. Ia bisa membayangkan Hendry masih di sana, berlutut memunguti puluhan foto mayat dengan tangan yang pasti masih gemetar, mencoba mencari penjelasan rasional yang tidak akan pernah ia temukan.

Pintu lift tertutup. Kesendirian yang tiba-tiba, ditemani hanya oleh makhluk tak kasat mata di sampingnya, terasa nyata. Perjalanan ini baru saja mendapatkan momentum, tetapi juga mengundang lebih banyak pertanyaan. Rahasia mereka—keberadaan Sam, sumber informasi mereka yang supranatural—nyaris terbongkar oleh kecurigaan seorang senior yang terlalu tajam.

"Kau yakin tentang Johor Bahru? Tentang lantai kayu itu?" Tanya Lisa, suaranya hampir berbisik, saat lift turun.

Sam menatapnya, matanya yang teduh kali ini terlihat tulus dan yakin. "Arwahnya sangat kuat, Lisa. Ikatan itu nyata. Janjinya padaku… untuk membawa keadilan padanya… itu nyata. Dia menuntun kita ke sana."

Lisa mengangguk, menekan keraguannya jauh ke dalam. Ia sudah melangkah terlalu jauh untuk mundur. Tas di pundaknya terasa berat, bukan hanya oleh berkas, tetapi oleh beban sebuah janji pada orang mati dan risiko pada karirnya sendiri.

.

.

.

.

.

.

.

ㅡ Bersambung ㅡ

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!