NovelToon NovelToon
My Possessive Mafia

My Possessive Mafia

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Roman-Angst Mafia / Enemy to Lovers / Psikopat itu cintaku / Mafia / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:14.6k
Nilai: 5
Nama Author: DityaR

Bagaimana jika ginjal yang ada di tubuhmu ternyata milik adik seorang mafia, dan sejak saat itu hidupmu berada dalam ancamannya?

Bahkan setelah berhasil lolos dari kematian, kamu masih harus menghadapi bayang-bayang maut dari mafia kejam yang tak pernah berhenti memburumu.

Itulah yang dirasakan Quinn ketika ia mengetahui bahwa keberhasilan operasi transplantasi ginjalnya telah merenggut nyawa orang lain demi kelangsungan hidupnya.

Apakah Quinn mampu bertahan hidup?

Ataukah nyawanya harus menjadi harga yang dibayar atas kehidupan yang pernah ia ambil?

୨ৎ MARUNDA SEASON III ୨ৎ

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

III. Borris Noor

Pandanganku ke Papa yang sedang berusaha berdiri. Napasku makin cepat sampai dadaku terasa panas dan perih.

“Papa .…” rintihku, meringkuk sambil merasakan kain kotor berminyak yang masih menyumpal mulutku.

Pandanganku jatuh ke meja baja di dekat dinding, sebuah ember kosong, dan bekas-bekas aneh di lantai.

Ya Tuhan.

Papa menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan, tarik-tarik kain itu, berusaha melepaskan sumbatan dari mulutnya. "Quiiiiiiinn!"

Dia berlari ke arahku, panik, matanya menyapu seluruh ruangan sebelum akhirnya tatapan penuh ketakutan itu bertemu dengan mataku.

Setetes air mata mengalir di pipiku, lalu hilang di balik kain yang menutup mulutku.

Tiba-tiba pintu terbuka. Mataku langsung membelalak waktu Dr. Nolan didorong masuk ke dalam ruangan.

Empat cowok masuk bareng dia, dan salah satu dari mereka langsung mencekal lenganku. Aku berusaha melawan waktu dia menyeretku ke tengah ruangan, sampai akhirnya aku didorong jatuh dan berlutut.

Ya Ampun.

Jantungku berdetak kencang saat Papa dipaksa berlutut di sisi kananku, dan Dr. Nolan di sisi kiriku.

Aku menatap mereka berdua, melihat ketakutan yang sama di mata mereka, ketakutan yang sekarang mengisi setiap senti tubuhku.

Satu per satu, kain di mulut kami dilepas. Lidahku langsung menjulur buat membasahi bibirku yang kering.

Begitu akhirnya Papa bisa bicara, dia langsung memohon, “Jangan lakuin ini. Tolong. Lepasin putri aku. Dia enggak bersalah.”

Perlahan aku pun menoleh ke arah Papa, karena jelas dia tahu kenapa kita bisa berada di sini.

“Diam!” bentak salah satu cowok sambil menampar sisi kepala Papa.

Dua orang pergi, sementara dua orang yang tersisa mengeluarkan senjata dari balik punggung mereka, yang menyelip di ikat pinggang celana.

"Kalian tetap berlutut dan cuma boleh bicara kalau diminta!" perintah salah satu dari mereka.

Lututku mulai nyeri karena menahan beban, dan tubuhku gemetar seperti daun yang diterjang badai.

Aku dengar suara langkah kaki mendekati ruangan. Sesaat kemudian, seorang cowok masuk dengan sikap seperti predator.

Kesadaran itu membuat mataku kembali membelalak. Aku langsung menatap cowok yang sekarang mengawasi aku.

Cowok yang membuntutiku di kamar mandi tadi malam.

Hari ini dia pakai setelan hijau muda, dan warna itu membuat lingkaran hijau di sekitar iris matanya makin menonjol. Warna cokelatnya hampir terlihat keemasan, sekali lagi mengingatkanku aku sama seekor kucing.

Eh bukan ... harimau.

Aku langsung tahu dialah yang pegang kendali, dari aura kekuasaan yang terpancar dari dirinya.

Napasku tersengal-sengal keluar dari bibirku, dadaku naik turun dengan cepat.

Sebuah kursi dibawa masuk, dan tanpa perlu melihat pun, cowok itu duduk dengan santainya sambil membuka kancing jasnya.

Ya Tuhan, dia menakutkan sekali.

Perlahan, matanya beralih ke arahku, lalu ke Papa, dan berhenti di Dr. Nolan.

Ada begitu banyak amarah di tatapannya sampai rasa takutku meningkat berkali-kali lipat.

Begitu tatapannya kembali ke aku, tubuhku merinding karena dampak mengejutkan dari sorotan matanya yang fokus sepenuhnya ke arahku.

Dia mengangguk ke salah satu anak buahnya. Satu per satu, kami pun digeledah. Mereka ambil HP dan dompet Dr. Nolan dan Papa, melempar dompet ke atas meja baja, lalu menyerahkan HP ke cowok itu.

“Apakah ada yang tahu siapa aku?”

Aku langsung menggeleng, rambutku pun sontak terurai berantakan di bahu.

"Braun Baek," jawab Papa, nadanya tegang karena takut.

Mataku bolak-balik melirik Papa dan cowok itu.

Cowok itu menatap mata Papa dan bertanya, “Dari siapa kamu beli ginjal ini?”

"Apa?!!"

Saat aku tersedak, tatapan Braun kembali ke arahku, dan aku kembali merasa kecil.

“Dr. Nolan udah ambil semua tindakan yang diperlukan, jadi jangan khawatir ka—” jawab Papa dengan tergesa-gesa.

Braun memotong dan menatapku lagi. “Siapa yang jual ginjal ini?”

Aku hampir ngompol waktu aku berbisik, “Aku enggak tahu.”

Rasa jengkel jelas kelihatan dari wajah Braun sebelum dia menoleh ke Dr. Nolan, yang langsung cepat-cepat menjawab, “Seseorang bernama Borris Noor.”

Braun mengeluarkan HPnya dari saku jas dan menelepon seseorang.

Beberapa detik kemudian dia bergumam, “Aku udah dapat namanya. Temuin Borris Noor … Enggak, aku belum bunuh mereka.”

Tubuhku langsung mati rasa. Aku sempat terhuyung ke depan sebelum menahan diri biar enggak jatuh tersungkur ke lantai.

Rasa takut itu terus mencekikku, membuatku merinding dan bikin pikiranku kacau balau.

Aku pernah merasakan ketakutan yang luar biasa sebelumnya, waktu aku dikasih tahu kalau aku bakal mati.

Tapi itu semua enggak ada apa-apanya dibandingkan sama apa yang aku rasakan sekarang.

1
safaana
ceritanya bagus,mudah di pahami,ringan dan ada tawanya yang pasti ada kebaikannya,,,,sukses selalu
DityaR 🌾: maaciii kak 🙏
total 1 replies
Rainn Ziella
✨ Terimakasih kak, karyanya bagus banget 🥹 rasanya campur aduk, kadang sedih, tegang, senang, lucu, romantis, kadang ngabisin tisu pas part sedihnya 😭

Disini, aku dapat banyak pelajaran hidup tentang kehilangan seseorang 💔 karena kesabaran dan keikhlasannya akhirnya mereka bahagia✨

Bakalan kangen banget sma Braun dan quin, semoga kedepannya masih bisa ketemu mereka thor 🫶🏼😭💙✨✨
DityaR 🌾: Maaci, kak🙏
total 1 replies
Rainn Ziella
Di undang ga yaa
Rainn Ziella
Geli nyaa 😭🗿
Rainn Ziella
Braun : aku suka nya kamu
Adellia❤
awalnya sih sedih ya karna tokoh utama hampir meninggal lalu di tengah" menegangkan karna tokoh utama pria yg seorang mavia beraksi tapi di ahir maniiss bangett karna cinta melimpah di mana"😍😍
DityaR 🌾: Maaci ,kak🙏
total 1 replies
Adellia❤
keluarga cemara😂😂
Adellia❤
sekali lagi selamat quinn🥰🥰
Adellia❤
yeeyyy akhirnya... selamat quinn🥰
Adellia❤
q cewek tapi lebih suka manggil Ra in kayak nama di drakor..
Adellia❤
definisi musibah membawa berkah😂😂
Adellia❤
serius ini gak di mutilasi??? itu biangnya loh😂😂
Rainn Ziella: Udah capek kak bang Braun pngn cepet balik 😭
total 1 replies
Adellia❤
ini pertama x nya pisah pasti berat mana lagi anget" nya lagi😂😂
Adellia❤
whaaattt ke 7 ???? gila sepagi ini😂😂😂
Adellia❤
Quin bener dy gak punya banyak pilihan jadi ya terima dengan ihlas enak kok🤣🤣
Rainn Ziella
Wkwkwk lucu bgt sii
Adellia❤: huum gak sabar nich..
total 5 replies
Rainn Ziella
Gasss quin 😭
Adellia❤
lagi dunk🙈🙈🙈
Rainn Ziella
Kebalik ihh 😭😹
Rainn Ziella
Astagaaaa tenangin diri kalian guys 🥵🫣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!