Dijuluki "Sampah Abadi" dan dicampakkan kekasihnya demi si jenius Ma Yingjie tak membuat si gila kekuatan Ji Zhen menyerah. Di puncak dinginnya Gunung Bingfeng, ia mengikat kontrak darah dengan Zulong sang Dewa Naga Keabadian demi menjadi kultivator terkuat.
"Dunia ingin aku merangkak? Maka aku akan menaklukkannya lebih dulu!"
[Like, vote dan komentar sangat bermanfaat bagi kelanjutan cerita. Selamat membaca]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Sampah Abadi dan Pertemuan Takdir
Di Benua Dongzhou, langit tidak pernah benar-benar adil. Kultivasi adalah segalanya, tangga menuju keilahian yang terdiri dari tujuh tahap: Penghimpunan Qi, Pembentukan Fondasi, Inti Emas, Pemahaman Dao, Transformasi Jiwa, Kesucian, hingga Keabadian. Namun bagi Ji Zhen, tangga itu terasa mustahil dipanjat. Selama tiga tahun di Sekte Qingyun, ia tetap tertahan di Pemurnian Tubuh Lapis Satu, menyandang gelar yang ia benci, yaitu Sampah Abadi.
Pagi itu dimulai dengan rutinitas seperti biasa. Setelah latihan keras yang tidak membuahkan hasil, Ji Zhen duduk di depan meja kayu rumahnya. Ibunya menyajikan semangkuk bubur encer dengan wajah yang menunjukkan kelelahan.
“Zhen-er, apa kau harus pergi?” suara ibunya penuh kecemasan. “Jika kau gagal lagi, mereka akan sangat kejam padamu seperti bulan lalu.”
Ji Zhen menelan bubur hambar itu dengan cepat dan memberikan senyum lebar. “Ibu, kalau aku tidak pergi, aku akan tetap menjadi pecundang yang memakan jatah buburmu seumur hidup. Tenang saja, aku pasti akan membuat kejutan.” Ia melangkah keluar tanpa memberikan ruang bagi ibunya untuk membalas rasa optimisme yang dipaksakan itu.
Arena Utama Sekte Qingyun telah dipenuhi ribuan murid luar. Suasananya ramai, namun seketika berubah menjadi sunyi saat Ji Zhen melangkah masuk.
“Lihat, si Sampah Abadi datang lagi.”
“Hahaha! Sudah tiga tahun dia di Pemurnian Tubuh Lapis Satu. Kalau aku jadi dia, aku lebih baik pulang dan jadi peternak babi atau berkebun seperti ibunya.”
Ji Zhen mengabaikan ejekan-ejekan itu. Matanya lebih memilih untuk mencari sosok yang sangat ia rindukan. Di sana, di barisan terdepan para murid unggulan, berdiri Yang Huiqing. Gadis itu tampak cantik dengan gaun biru mudanya, namun ada sesuatu yang menggores hati. Di sampingnya berdiri Ma Yingjie, putra Tetua Alkimia, seorang genius yang sudah mencapai Penghimpunan Qi Lapis Puncak.
Melihat itu Ji Zhen tidak mau berpikir negatif, dia lebih berfokus pada ujiannya. Satu per satu murid menunjukkan kemajuan mereka. Sampai giliran Ji Zhen tiba, ia berdiri di depan batu pengukur qi. Ia mengerahkan seluruh tenaganya, membayangkan wajah ibunya dan janji-janjinya pada Huiqing.
Akan tetapi batu itu hanya bersinar redup. “Ji Zhen. Kau masih tertahan di Pemurnian Tubuh Lapis Satu. Benar-benar tidak pernah ada kemajuan,” suara Tetua Penguji terdengar datar, penuh rasa bosan.
Gelak tawa pun meledak di seluruh arena. Tapi tawa itu belum seberapa dibandingkan rasa sakit yang akan datang.
Ji Zhen turun dari panggung dan mencoba mendekati Yang Huiqing. “Huiqing, aku punya pil penguat untukmu, aku bekerja di pasar sebulan penuh untuk—”
“Sudahlah, Ji Zhen.” Suara Yang Huiqing setajam belati. Ia bahkan tidak menatap mata Ji Zhen. “Jangan panggil namaku lagi. Aku malu… aku sangat malu karena pernah memiliki hubungan dengan orang sepertimu.”
Langsung saja Ji Zhen terpaku. Tangannya yang memegang bungkusan cokelat berisi pil bergetar. Sedangkan Ma Yingjie di sampingnya tertawa singkat, lalu dengan sengaja merangkul pinggang Huiqing. “Dengar ya, Sampah. Dunia kita sudah berbeda. Huiqing pantas mendapatkan naga, bukan cacing tanah sepertimu.”
Semua orang menunggu Ji Zhen menangis atau mengamuk. Namun, yang terjadi justru sebaliknya.
Bahu Ji Zhen mulai bergetar. Suara tawa lirih keluar dari tenggorokannya. He… hehe… HAHAHAHAHA!
Tawanya meledak, keras dan liar, menggema di seluruh arena yang kini membisu karena bingung. Semua orang mengira dia sudah benar-benar sudah gila karena nasibnya. Sampai Ji Zhen mendongak, matanya berkilat penuh ambisi yang mengerikan. Ia menunjuk Ma Yingjie tepat di wajahnya.
“Tertawalah selagi kalian bisa,” seringai Ji Zhen melebar. “Karena aku bersumpah, Ma Yingjie, Yang Huiqing… aku pasti akan menjadi kultivator terkuat di Benua ini. Dan saat itu tiba, kalian bahkan tidak layak untuk mencium debu di bawah kakiku!”
Tempat itu benar-benar dibuat membisu olehnya, sebelum tawa yang sepuluh kali lebih keras membuncah. Yang Huiqing membuang muka dengan jijik. “Kau benar-benar sudah tidak tertolong lagi.”
“Tutup mulutmu!” Suara berat menggelegar dari tribun utama tepat saat Ji Zhen hendak membuka mulutnya. Patriark Fei Wang berdiri dengan wajah muram. “Ji Zhen, kesombonganmu telah melampaui bakatmu. Jika kau ingin membuktikan diri, pergilah ke Gunung Bingfeng. Cari Bunga Hanling dalam tujuh hari. Jika kau kembali dengan tangan kosong, silsilahmu akan dihapus selamanya dari sekte ini. Pergi sekarang!”
Pendakian ke Gunung Bingfeng adalah perjalanan menuju neraka putih. Tanpa perbekalan, Ji Zhen menyeret tubuhnya melewati badai yang menyayat kulit. Di lereng bawah, ia melihat mayat-mayat membeku, sebuah peringatan bahwa gunung ini tidak peduli pada ambisi. Saat ia menemukan Bunga Hanling di lereng tengah, rasa puas karena bernasib mujur sempat muncul, namun ambisinya tidak berhenti. Ia memutuskan terus mendaki menuju puncak tertinggi yang paling mematikan, setelah mengingat wajah sombong Ma Yingjie.
Seorang murid senior sempat memperingatinya dengan nada menghina, menyebutnya sedang mencari mati. Ji Zhen hanya menjawab dengan mengaku bahwa dirinya adalah kultivator hebat yang sedang melakukan perjalanan spiritual tingkat tinggi. Penyesalan memang datang setelah kebodohan, kini dirinya harus bermain kucing-kuman dengan gerombolan serigala sebesar lembu, dan merangkak di antara celah batu untuk menghindari pantauan elang berbulu es. Kedinginan ekstrem pun mulai melumpuhkan kesadarannya. Saat nyawanya berada di ujung tanduk karena hipotermia, Ji Zhen malah terperosok ke dalam sebuah gua yang tertutup salju tebal.
Di dalam gua itu, sebuah kehadiran yang mengancam menyerang indranya. Sepasang mata berwarna kirmizi menyala, memancarkan aura yang sangat kuat. Itulah Zulong, jiwa naga yang terperangkap selama ribuan tahun.
“Manusia fana… kau memiliki keberanian yang melampaui akal sehatmu. Aku adalah Zulong, Sang Naga Keabadian, penguasa langit Alam Shenlong. Sujudlah, dan aku akan memberimu warisan Dao Es Sejati yang akan membuat dunia berlutut di bawah kakimu.”
Cahaya keemasan dan biru redup muncul di ujung gua, menampakkan sosok makhluk sedang melayang. Ji Zhen menyipitkan mata, mencoba melihat sang “Dewa Naga”.
Bukannya takut, Ji Zhen justru terdiam sejenak, lalu… tertawa mengejek.
“Itu kau? Zulong?” Ji Zhen menunjuk makhluk yang panjangnya tidak lebih dari pedang pendek itu. “Kau bilang penguasa langit, tapi bentukmu lebih mirip ular sawah. Kau imut juga ya, kalau sedang berlagak angkuh begitu.”
Suara itu pun terhenti, dan suasana gua menjadi sangat mencekam. Zulong, yang selama ribuan tahun dipuja sebagai dewa, tidak pernah menyangka akan dihina oleh seekor “semut” di tahap Penghimpunan Qi.
“BERANINYA KAU—”
“Satu lagi,” Ji Zhen mendahului sambil duduk bersandar di dinding gua dengan santai seolah dia sedang mengobrol di kedai teh. “Tolong jangan berpura-pura baik hati menjanjikan kekuatan. Aku sudah membaca banyak cerita rakyat di perpustakaan sekte tiga hari tiga malam. Naga kuno yang terkurung seperti kau biasanya hanya punya satu niat: mencari wadah untuk bangkit kembali, kan? Kau mau tubuhku, ya?”
Zulong membisu. Mata vertikalnya yang bersinar menatap Ji Zhen dengan intensitas yang baru. Makhluk kecil itu perlahan mendekat, auranya yang menekan jiwa semakin terasa berat.
“Kau… manusia yang sangat menarik. Sedikit informasi itu memang tidak sepenuhnya akurat, tapi kau benar soal tujuanku. Aku butuh wadah. Dan kau, meski tidak berbakat, kau memiliki kegigihan yang cukup gila untuk menampung darah nagaku.”
Naga itu pun menyeringai, menampakkan taring-taring kecilnya yang tajam. “Jika kau setuju, aku akan memberikan kekuatan yang akan menghancurkan akal sehatmu. Tapi sebagai gantinya, aku akan mengikat jiwamu dalam perjanjian yang akan membuatmu menyesal seumur hidup karena pernah bertemu denganku. Kita akan mendaki puncak dunia, dan saat itu tiba, aku akan mengambil apa yang menjadi hakku.”
Ji Zhen menatap naga itu. Ia tahu ini adalah pintu menuju neraka atau surga, tidak ada jalan tengah. Tubuhnya sudah hampir mati kedinginan, tapi matanya menyala dengan api ambisi yang lebih panas dari matahari.
“Menyesal?” Ji Zhen tersenyum lebar, senyuman yang membuat Zulong merasa bahwa mungkin, dialah yang harusnya waspada. “Aku sudah berada di dasar jurang, Ular sawah. Tidak ada lagi tempat untuk jatuh kecuali ke atas.”
Zulong menatap pemuda di depannya. Keraguan di dalam hati sang naga perlahan berubah menjadi ketertarikan yang berbahaya. Ia belum pernah melihat manusia yang begitu menyukai risiko kematian.
“Kalau begitu… mari kita mulai kegilaan ini.”
Di gua itu, takdir seorang pecundang dan seekor naga kuno mulai terjalin sebagai dua makhluk gila yang sama-sama haus akan puncak dunia.