Viera menikah dengan Damian selama bertahun-tahun dalam pernikahan yang terlihat sempurna. Hingga suatu hari, ia tahu suaminya berselingkuh.
Lebih kejam lagi, kehamilan yang ia perjuangkan lewat bayi tabung bukan berasal dari suaminya. Sp*rma itu milik Lucca, suami dari perempuan yang menjadi selingkuhan Damian.
Dalam kehancuran, Viera tidak memilih menangis... ia memilih berdiri tanpa goyah.
Ketika cinta baru datang tanpa paksaan, dan pembalasan berjalan tanpa teriakan... siapa yang benar-benar menang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 19.
Hujan turun sejak subuh hari itu.
Viera terbangun dengan napas terengah, tangan refleks mencengkeram seprai. Rasa nyeri di perutnya datang bergelombang, tajam dan tak bisa lagi ia abaikan. Ia menatap jam dinding—04.17 pagi.
“Sepertinya… waktunya,” bisiknya pada diri sendiri.
Tidak ada siapa pun di rumah kecil itu, tak ada tangan yang menggenggamnya. Tidak ada suara pria yang panik memanggil dokter, hanya keheningan dan suara hujan di atap seng.
Viera bangkit perlahan, menahan nyeri sambil meraih tas persalinan yang sudah lama ia siapkan. Ia berdiri sejenak, bersandar pada dinding untuk menenangkan napasnya.
“Tenang,” katanya lirih pada perutnya. “Mama ada.”
Perjalanan ke rumah sakit ia lalui dengan ambulans yang dipanggil tetangga. Di dalam kendaraan itu, ia menggigit bibir menahan sakit, matanya berkaca-kaca. Dalam satu tarikan napas panjang, bayangan Lucca muncul—wajahnya saat terakhir kali berdiri di ambang pintu ruang rawat, tatapan yang penuh penyesalan dan cinta yang tak sempat disampaikan.
“Maafkan aku, David. Bukan karena aku tidak ingin kau ada… tapi karena aku ingin anak ini lahir tanpa dendam.“
Di ruang bersalin, segalanya bergerak cepat. Suara Dokter, perawat, instruksi singkat, alat-alat medis. Viera berusaha fokus, menekan rasa takut yang merayap.
“Satu kali lagi, Nyonya… dorong,” kata Dokter.
Air mata mengalir di pipi Viera, ia mendorong sekuat tenaga, tubuhnya gemetar, rasa sakit memuncak—lalu tiba-tiba…
Tangisan menggema dalam ruangan persalinan itu.
Tangisan kecil, dan begitu nyaring.
Viera terisak, tubuhnya lemas. Saat bayi itu diletakkan di dadanya, ia menatap wajah mungil yang masih merah. Jari-jari kecil bayi itu yang menggenggam udara.
“Hai, anakku,” bisiknya serak. “Kau kuat sekali, sayang...“
Tidak ada Lucca di ruangan itu, tak ada ayah yang menyambut tangisan pertama anaknya. Tapi cinta tetap ada darinya dengan utuh, dan tidak berkurang.
“Namamu… Arka,” ucap Viera pelan. “Karena kau adalah awal baru.”
Di luar, hujan masih turun.
Dan di kota lain, Lucca terbangun dengan rasa sesak di dada—seolah ada sesuatu yang terjadi, sesuatu yang penting.
Tahun-tahun berlalu dengan sunyi yang teratur, waktu tidak pernah benar-benar menyembuhkan luka. Ia hanya mengajarkan cara hidup berdampingan dengannya.
Tujuh tahun berlalu sejak hari Viera melahirkan Arka seorang diri.
Ia kini tinggal di kota yang tidak terlalu besar, cukup jauh dari pusat kekuasaan dan intrik masa lalunya. Hidupnya berjalan tenang, nyaris membosankan bagi sebagian orang. Pagi mengantar Arka ke sekolah, siang bekerja dari rumah, sore menjemput anaknya dan menutup hari dengan makan malam sederhana.
Ia tidak lagi hidup untuk bertahan, tapi ia hidup untuk tumbuh.
Arka adalah anak yang cerdas, pendiam tapi hangat. Ia jarang bertanya tentang ayahnya, seolah mengerti bahwa ada hal-hal yang belum saatnya diucapkan. Dan Viera tidak memaksanya mengerti lebih cepat dari yang seharusnya.
Suatu pagi, Viera kembali ke rumah sakit tempat Arka dulu lahir. Kali ini bukan sebagai pasien, melainkan sebagai pembicara tamu dalam forum kecil tentang kesehatan mental ibu pasca-persalinan.
Dokter yang mendampinginya hari itu tersenyum ramah. “Kau terlihat lebih sehat dari terakhir kali aku melihatmu, Nyonya Viera.”
Viera menoleh, sedikit terkejut. “Dokter Adrian?”
Pria itu mengangguk. Rambutnya kini dipotong lebih rapi, kacamata tipis bertengger di hidungnya. Adrian Pradipta, dokter kandungan yang menangani persalinan Arka dulu. Orang yang menyaksikan Viera menangis, menjerit, dan bertahan sendirian di ruang bersalin.
“Aku kira kamu sudah pindah ke luar kota,” kata Adrian.
“Sudah, tapi sesekali kembali ke sini,” jawab Viera.
Sejak hari itu, Adrian mulai sering muncul dalam hidup Viera. Terlalu sering untuk sekadar kebetulan.
Ia muncul saat Viera kontrol rutin, pria itu bahkan mengirim pesan menanyakan kabar Arka, bahkan sesekali mengantar buah ke rumahnya dengan alasan ‘titipan rumah sakit’.
Viera menyadari jika Dokter Adrian menyukainya, tapi dia memilih menjaga jarak. Ia sudah terlalu lama belajar bahwa perhatian tidak selalu berarti niat baik.
Namun Adrian tidak pernah memaksa. Ia hanya hadir—konstan, sabar, dan sopan.
“Kalau suatu hari kamu bersedia makan malam bersamaku… aku akan senang,” kata Adrian suatu sore, setelah membantu Viera menaiki mobil dengan Arka yang tertidur di pangkuannya.
Viera tersenyum tipis. “Terima kasih, Dokter. Tapi aku tidak sedang mencari seseorang, aku hanya ingin merawat sendiri putraku.”
“Aku tidak keberatan menunggumu membuka hati untukku,” jawab Adrian tulus.
Viera tidak menjawab, dia tidak menjanjikan apa pun. Ia tidak tahu, bahwa Adrian sudah memiliki tunangan.
Hari itu, Viera baru saja pulang dari minimarket ketika sebuah mobil hitam berhenti mendadak di depan rumahnya.
Seorang wanita turun lebih dulu. Berpenampilan elegan, wajahnya tajam, sorot matanya penuh kemarahan yang tidak disaring.
Di belakangnya, turun seorang wanita paruh baya—wajahnya dingin, penuh penilaian.
“Jadi ini wanita itu?” suara wanita paruh baya terdengar tajam.
Viera berhenti melangkah. “Maaf, Anda siapa?”
Wanita muda itu tertawa sinis. “Kau berani tanya siapa aku? Aku tunangan Adrian!”
Dunia Viera seolah berhenti sesaat.
“Apa…?” gumamnya.
Wanita muda itu maju selangkah. “Jangan pura-pura tidak tahu! Kau menggoda calon suamiku, kami berdua sudah dijodohkan sejak kecil. Dan dengan berani, kau dekat-dekat dengannya membawa anak haram mu!”
Kalimat itu seperti cambukan.
Viera menegakkan punggungnya, ada kilatan emosi dalam matanya karena Arka disebut anak haram. “Tolong jaga ucapan Anda!”
“Berani juga kau,” bentak si tunangan. “Wanita bermasalah seperti kau memang selalu bermain bersih di depan. Tapi di belakang? Menggoda pria bertunangan!”
Beberapa penghuni perumahan mulai melirik. Viera merasakan panas menjalar di wajahnya, bukan karena malu, tapi marah.
“Saya tidak tahu Dokter Adrian sudah bertunangan,” katanya tegas. “Dan saya tidak pernah menerima pendekatan apa pun darinya.”
“Oh, tentu saja,” sindir wanita itu. “Wanita seperti kau selalu punya alasan.”
Wanita paruh baya itu mendekat, menatap Arka yang kini terbangun. “Kasihan sekali anak ini. Lahir tanpa ayah, ibunya perusak rumah tangga.”
“Cukup!” suara Viera bergetar, tapi matanya menyala. “Anak saya tidak pernah meminta dilahirkan dalam dunia yang kejam seperti mulut Anda.”
Plak!
Tamparan datang tanpa peringatan.
Bukan dari wanita muda itu, melainkan dari ibu Adrian. Viera terhuyung, Arka menjerit ketakutan.
“Jangan pernah mengajari orang tua!” bentak wanita paruh baya itu.
Tangis Arka pecah, dan di saat itulah…
“Berhenti!”
Suara itu dalam, dingin, dan penuh otoritas.
Semua orang menoleh.
Seorang pria berdiri beberapa langkah dari mereka. Jas hitam, postur tegap, tatapan tajam seperti bilah pisau yang terhunus.
Dia adalah... Lucca. Ia tidak melihat siapa pun selain Viera dan anak yang gemetar di pelukannya.
“Apa yang kalian lakukan?!” suaranya rendah, menggetarkan.
“Jangan ikut campur! Ini urusan keluarga kami!” bentak wanita paruh baya.
Lucca melangkah maju. “Tidak! Ini sudah masuk ranah pidana.”
Ia menoleh ke pengawalnya. “Rekam semuanya.”
Wanita muda itu tampak pucat. “Kau siapa?”
Lucca menatapnya tanpa emosi. “Orang yang tidak akan membiarkan kalian menyentuh mereka lagi.”
Viera menatap Lucca dengan terkejut, bingung, dan… terluka.
Lucca mendekat, menurunkan tubuhnya di depan Arka. “Kau tidak apa-apa, Nak?” tanyanya lembut pada anak itu.
Arka mengangguk kecil.
Lucca berdiri, kini menatap kedua wanita itu. “Jika kalian tidak pergi sekarang, aku akan melanjutkan ini ke polisi dengan bukti penganiayaan terhadap ibu dan anak.”
Wanita paruh baya itu mendesis. “Kurang ajar!”
“Pergi! Atau aku tidak akan ragu memenjarakan kalian!“ bentak Lucca dingin.
Mereka pergi dengan wajah penuh kebencian. Lalu, keheningan menyelimuti area itu.