NovelToon NovelToon
Setahun Menjadi Pelayan Tuan Muda

Setahun Menjadi Pelayan Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Lari Saat Hamil / Teen Angst / Mafia / Menikah dengan Kerabat Mantan
Popularitas:42k
Nilai: 5
Nama Author: mama reni

Kaburnya Alana dari rumah justru menyeretnya ke dunia Arka, lelaki berkuasa yang menjadikannya pelayan sebagai ganti rugi sebuah insiden. Kedekatan yang terlarang tumbuh diam-diam, lalu hancur oleh fitnah dan kebencian.

Tanpa penjelasan, Arka mengusir Alana. Saat ia kembali dengan kehamilan di rahimnya, hinaan menjadi balasan, anak itu dituduh milik Rafael, abang iparnya Arka, mafia berdarah dingin.

Alana pergi membawa luka dan rahasia. Namun takdir mempertemukannya kembali dengan Rafael, pria paling berbahaya yang justru menjadi pelindungnya.

Di antara cinta dan pengkhianatan, siapa yang akan menghancurkan Alana lebih dulu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Tiga

Alana lalu mengajak Revan mandi. Dengan patuhnya bocah itu ikuti apa maunya gadis itu. Saat dia ingin membuka baju, gerakannya terhenti karena mendengar suara seseorang.

"Jangan biasakan menyentuh tubuh ponakanku tanpa izin dariku!" ucap Arka dengan suara datar.

Alana langsung menghentikan gerakannya. Dia lalu berdiri. "Bagaimana aku bisa membuka bajunya jika tak di sentuh?" tanya gadis itu dengan sedikit penekanan.

Arka tampak menarik napas. Sepertinya agak terbawa emosi mendengar ucapan Alana.

“Keluar.”

Satu kata itu meluncur dingin dari bibir Arka, memotong udara kamar mandi seperti pisau.

Alana terdiam. Tangannya yang tadi hendak membuka kancing baju Revan berhenti di udara. Jantungnya berdegup keras, bukan karena takut semata, tapi karena nada suara Arka yang tenang, namun mengandung ancaman yang nyata.

“Apa?” Alana menoleh, menatap Arka yang berdiri di ambang pintu dengan rahang mengeras. Tatapannya gelap, penuh kecurigaan.

“Aku bilang keluar,” ulang Arka. “Sekarang!”

Revan yang berdiri di depan Alana mendongak bingung. Bocah itu memeluk boneka dinosaurusnya lebih erat, lalu menoleh ke pamannya. “Om …?”

Alana menarik napas, berusaha menjaga suaranya tetap stabil. “Tuan Arka, aku hanya mau memandikan Revan. Bibi Marni ....”

“Aku tidak bertanya,” potong Arka cepat. “Aku tidak butuh penjelasan. Aku hanya tidak membiasakan orang asing menyentuh ponakanku tanpa izinku.”

Ada kilatan marah di mata Alana. Ia berdiri tegak. “Bagaimana aku bisa memandikan anak kecil tanpa menyentuhnya?” ucapnya, kali ini jelas dengan penekanan. “Kalau Tuan tidak percaya, silakan lakukan sendiri.”

Hening sejenak. Udara terasa menegang.

Arka menatapnya lama, seolah menimbang sesuatu. Wajahnya tetap datar, tapi urat di lehernya menegang, tanda emosi yang ia tekan sekuat tenaga.

“Keluar,” katanya lagi, lebih rendah, lebih berbahaya.

Alana mengepalkan tangan. Ia tidak ingin ribut. Ia tidak punya posisi untuk melawan. Dengan gerakan kaku, ia melangkah menjauh dari Revan, menunduk sedikit. “Baik.”

Ia berbalik dan melangkah menuju pintu. Baru dua langkah, sesuatu menghantam betisnya.

“Mbak Alana!”

Revan berlari kecil, memeluk kaki Alana dengan erat. Tubuh mungil itu gemetar. “Jangan pergi … Revan mau mandi sama Mbak Alana.”

Alana refleks berlutut. “Revan …,” suaranya melembut tanpa sadar. "Revan bisa mandi sama Om dulu!"

Bocah itu menggeleng keras. “Revan takut. Om galak.”

Arka membeku. Tak menyangka ponakannya akan berkata begitu.

Ia tidak menyangka reaksi ini. Revan bukan anak yang mudah dekat. Biasanya bocah itu diam, dingin, bahkan dengan Bi Marni pun ia perlu waktu lama untuk percaya. Tapi sekarang … Revan memeluk perempuan yang baru dikenalnya kurang dari dua belas jam.

“Revan,” panggil Arka pelan, menahan nada. “Lepas.”

Revan justru memeluk lebih erat. “Nggak mau. Revan cuma mau Mbak Alana.”

Alana menoleh ke Arka, ragu. Ada empati di matanya, tapi juga kelelahan yang dalam. “Tuan, aku tidak akan macam-macam. Aku bersumpah.”

Arka menarik napas panjang. Ia memejamkan mata sesaat, lalu membuka kembali dengan tatapan yang lebih terkendali, meski curiga itu belum sepenuhnya pergi.

“Baiklah,” ucap Arka akhirnya. “Kau boleh memandikannya.”

Alana menghela napas lega. Dia hanya kasihan melihat Revan yang memohon padanya.

“Tapi aku di sini,” lanjut Arka tegas. “Aku mengawasi.”

Alana mengangguk. “Silakan.” Dalam hatinya berkata, kalau dia tak akan macam-macam.

Arka bersandar di dinding, menyilangkan tangan. Matanya tidak lepas dari setiap gerakan Alana.

Dengan lembut, Alana membantu Revan melepas bajunya. Tidak ada gerakan tergesa, tidak ada sentuhan berlebihan. Ia berbicara pelan, menenangkan, membuat Revan tersenyum kecil. Air hangat mengalir, dan Revan tertawa saat busa sabun mengenai perutnya.

Arka memperhatikan semuanya. Setiap detik. Tidak ada yang mencurigakan. Tidak ada yang salah. Yang ada justru pemandangan yang aneh, Revan tertawa, suara yang jarang ia dengar sejak kakaknya meninggal.

Ada sesuatu yang mencubit dadanya. Perasaan asing yang tidak ia suka.

Setelah mandi, Revan dipakaikan baju rapi. Rambutnya dikeringkan, wajahnya bersih dan cerah. Bocah itu lalu berlari ke Arka, memamerkan kaus dinosaurusnya.

“Om! Lihat!”

Arka mengangguk. “Ya.”

Revan tersenyum puas, lalu berlari ke ruang keluarga, menyeret Arka ikut bermain. Alana memperhatikan dari kejauhan, lalu memilih mundur. Ia tahu batasnya. Dia memutuskan kembali ke dapur.

Bi Marni tersenyum kecil melihatnya. “Kamu tidak apa-apa, Nak?”

Alana mengangguk. “Aku baik-baik saja, Bi. Aku mau masak makan siang, Bi."

Bi Marni tampak ragu, lalu mengangguk. “Baik. Tuan Arka tidak rewel soal makanan, tapi seleranya tinggi.”

Alana tersenyum tipis. Ia membuka kulkas, mengamati isinya. Daging segar, sayuran, bumbu lengkap. Rumah ini tidak pernah kekurangan apa pun, kecuali kehangatan.

Ia mulai bekerja. Tangannya lincah, terlatih. Ia memasak dengan fokus, seperti sedang melarikan diri dari pikirannya sendiri. Tumis bumbu, aroma bawang dan rempah memenuhi dapur. Ia membuat sup bening untuk Revan, dan menu utama untuk Arka, sederhana tapi kaya rasa.

Waktu makan siang tiba. Arka duduk di meja makan, Revan di sampingnya. Bi Marni menyajikan hidangan. Arka menatap piringnya sekilas, lalu mulai makan tanpa banyak bicara.

Suapan pertama membuatnya berhenti. Dia mengunyah pelan. Alisnya sedikit berkerut.

“Bi,” panggil Arka.

Bi Marni mendekat. “Ya, Tuan?”

“Ini … siapa yang masak?”

Bi Marni tersenyum kecil. “Alana, Tuan.”

Arka menatap piringnya lagi. Lalu menyuap sekali lagi. Rasanya tepat. Tidak berlebihan, tidak hambar. Persis seperti yang ia suka, sesuatu yang jarang terjadi dan sulit didapatkan.

Arka menoleh ke arah dapur. Alana berdiri di sana, menunduk, seolah tidak ingin terlihat.

“Panggil dia,” ucao Arka singkat.

Bi Marni memanggil Alana. Gadis itu mendekat dengan langkah ragu.

“Anda memanggil saya, Tuan?”

Arka menatapnya tajam. “Kau yang masak ini?”

“Iya.”

“Kau belajar di mana?”

Alana mengangkat bahu. “Ibu saya dulu mengajarkan. Setelah beliau meninggal, saya yang masak di rumah.”

Arka terdiam. Ada sesuatu dalam jawaban itu, kesederhanaan yang jujur. “Hm,” gumamnya. “Lumayan enak.”

Itu pujian tertinggi yang pernah Arka berikan. Dia jarang memberikan pujian, jangankan memuji, bicara baik saja itu lebih dari cukup.

Revan menyela, mulutnya penuh. “Mbak Alana masaknya enak! Revan suka!”

Alana tersenyum, matanya berbinar sesaat. Pujian dari bocah itu mampu membuatnya bahagia.

Arka memperhatikan itu. Senyum Alana. Cara Revan menatapnya. Dan untuk pertama kalinya, dinding yang ia bangun rapat-rapat terasa sedikit retak. Dia tidak suka itu.

Ia mafia. Ia hidup dari kecurigaan. Dari pengkhianatan. Dari darah dan kehilangan. Perempuan seperti Alana, terlalu hangat, terlalu tulus, bisa menjadi kelemahan.

Dan Arka tidak pernah membiarkan kelemahan tinggal terlalu lama di hidupnya. Namun, hari ini, dia tidak mengusir Alana. Bukan berarti selamanya ada dirumahnya.

1
ElHi
semogaaa si Revan tantrum sampe sakit mikirin Alana biar keluarga sombong itu tau rasa!!! cerai aja Alana...sama Rafael ajaah...*)ngarep mode on
Tiara Bella
si Arkan kemana dia sampe gk tw klu Alana diusir sm mmhnya dia.....
Patrick Khan
emak arka jahat bgt . 🔥
muhammad ihsan
jangan pisahkan alana dan arka thor
Maria Kibtiyah
semoga si arka tau alana di usir emaknya
Suanti
semoga aja berjodoh sm rafael
alana tinggal gugat cerai aja sm arka
alana jgn mau plg ke rmh arka walaupun di jemput 🤭
astr.id_est 🌻
mewek 😢
astr.id_est 🌻
alana yang malang
Kasih Bonda
next Thor semangat
Ida Nur Hidayati
semoga Alana ditolong orang baik dan iklas
Cindy
lanjut kak
Radya Arynda
Dasar wanita somboh,angkuh dan jahat,,,,saat revan sudah mulai bahagia malah alana di usir,,,,si pecu dang arka juga habis merkosa peegi dasar iblis,,,,semogah revan sakit parah biar nenek sihir tau rasa....
dyah EkaPratiwi
ditunggu tantrumnya Revan biar arka n mama Ratna pusing
Oma Gavin
rasakan kamu arka dan ratna Revan tantrum ditinggal alana
Salim ah
semoga yg menolong Alana Rafael dan dibawa kerumahnya🙄
Patrick Khan
pasti Rafael itu..
Ilfa Yarni
siapa yg menolong Alana apakah rafael
Radya Arynda
semogah kamu di tolong orang baik,,dan mau merubah mu lebih kuat dan berani jangan lembek lagi
Valen Angelina
alama hamil anak arka...tapi giliran rafael yg jaga wkkwwkkw....biar impaskan 🤣🤣🤣
MomRea
Rafael yg nolong, tapi jodohnya tetap Arka ya Thor 😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!