Arunika hanyalah seorang mahasiswi biasa yang dunianya seketika runtuh saat kedua orang tuanya menjodohkannya dengan seorang dosen di kampusnya. Abimana Permana—pria dengan tatapan sedingin es dan sikap datar yang selama ini begitu ia segani.
Sebuah perjodohan paksa mengharuskan Arunika terikat dalam belenggu pernikahan dengan pria itu. Alih-alih menemukan kebahagiaan, ia justru terjebak dalam teka-teki hati sang suami yang sulit ditembus. Akankah kehidupan Arunika membaik setelah menyandang status sebagai istri, ataukah pernikahan ini justru menjadi luka baru yang tak berkesudahan?
Ikuti kisah perjuangan hati dan martabat dalam... "Aku Istrimu, Bukan Dia."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Setelah itu, ia berjalan melewati Abimana begitu saja. Bahunya sempat bersenggolan dengan bahu Abimana, namun ia tidak berhenti. Ia terus melangkah dengan punggung tegak, meninggalkan Abimana yang masih mematung dengan posisi menunduk di tengah kerumunan mahasiswa yang mulai berbisik-bisik.
Abimana perlahan mengangkat wajahnya. Ia merasakan dadanya sesak, lebih sesak daripada saat ia kedinginan semalaman di depan pagar. Ia baru saja melakukan pembelaan publik yang paling berani dalam hidupnya—mempertaruhkan reputasi dan menghancurkan masa lalunya sendiri demi Arunika—namun balasan yang ia terima hanyalah sebuah gelar profesi: "Pak Dosen".
"Nika..." bisik Abimana lirih, namun sosok itu sudah menjauh dan menghilang di balik pintu kelas.
Risa, yang sejak tadi berdiri tak jauh dari sana, mendekati Abimana dengan wajah ragu. Ia merasa iba melihat dosennya yang biasanya terlihat sangat angkuh itu kini tampak hancur berkeping-keping.
"Pak... Bapak sebaiknya pulang dan istirahat." saran Risa pelan. "Wajah Bapak pucat sekali. Nika... dia hanya butuh waktu."
Abimana tersenyum miris, sebuah senyuman pahit yang belum pernah dilihat siapa pun di kampus itu. "Bukan waktu yang dia butuhkan, Risa. Dia butuh suaminya kembali, tapi sayangnya... suaminya terlambat bangun dari tidurnya."
Abimana berbalik dan melangkah gontai menuju ruangannya. Di setiap langkahnya, ia menyadari satu hal pahit: tembok yang dibangun Arunika sekarang jauh lebih tinggi daripada tembok apartemen mereka. Arunika tidak lagi marah padanya, karena marah tandanya masih peduli. Arunika sekarang berada di tahap yang paling mematikan dalam sebuah hubungan: Apatis.
Sesampainya di ruangan, Abimana duduk di kursinya dan mendapati sebuah amplop cokelat di atas meja. Itu adalah berkas skripsi Claudia yang seharusnya ia bimbing. Tanpa ragu, Abimana meraih berkas itu dan membuangnya ke dalam tempat sampah.
Ia kemudian mengambil selembar kertas kosong dan mulai menuliskan sesuatu—sesuatu yang bukan soal hukum atau pasal-pasal perdata.
[Nika, aku tahu kamu sedang menghukumku dengan kedinginanmu. Tapi aku akan tetap di sini, di titik yang sama, sampai kamu memanggilku 'Mas' lagi, meskipun itu butuh waktu selamanya.]
Sementara di tempat lain kini Claudia duduk di sudut kafetaria yang sepi, meremas ujung kemejanya hingga buku-buku jarinya memutih. Rasa malu karena diusir Abimana di depan mahasiswa lain adalah tamparan paling keras yang pernah ia terima. Baginya, martabatnya telah habis, dan pelakunya bukan hanya Abimana, tapi juga "si mahasiswi pendiam" itu.
"Kita lihat, Abimana, sampai kapan kamu akan seperti ini terhadapku." bisik Claudia dengan suara yang bergetar karena amarah. Kilatan matanya berubah gelap, penuh dengan rencana licik yang mulai tersusun di kepalanya. "Kalau aku tidak bisa memilikimu, maka tidak boleh ada satu orang pun yang bisa, termasuk dia."
Sore harinya, hujan turun deras mengguyur kota, seolah ikut meratapi kekacauan yang terjadi. Abimana akhirnya memutuskan untuk pulang ke apartemen mereka, meski tubuhnya terasa sangat berat dan kepalanya berdenyut hebat.
Begitu pintu apartemen terbuka, Abimana tertegun di ambang pintu. Air hujan yang merembes dari jaketnya menetes ke lantai, menciptakan genangan kecil yang seolah menggambarkan perasaannya saat ini—keruh dan berantakan. Ia menatap Arunika yang sedang merapikan bantal sofa dengan gerakan mekanis, tanpa sekalipun memandangnya.
"Aku kembali bukan untukmu, aku kembali karena Papa dan Mama akan kemari! Aku tidak ingin mereka tahu bahwa ternyata kita sedang tidak baik-baik saja." ucap Arunika tajam, nadanya sedingin es.
Abimana menelan ludah yang terasa menyumbat tenggorokan. "Aku tahu, Nika. Terima kasih... sudah mau menjaga rahasia ini di depan mereka."
Arunika akhirnya menoleh, namun tatapannya hanya tertuju pada pakaian Abimana yang basah kuyup. "Ganti pakaianmu, Mas. Jangan sampai saat orang tuamu datang, mereka melihatmu seperti gelandangan sakit-sakitan. Aku tidak ingin disalahkan karena dianggap tidak becus mengurus suami."
Abimana hanya mengangguk lemah. Kepalanya kian berdenyut, dan pandangannya mulai berpendar. Ia melangkah menuju kamar, namun saat melewati meja makan, ia meletakkan secarik kertas yang ia tulis di kampus tadi.
"Aku menaruh sesuatu di sana. Bacalah kalau kamu punya waktu." bisik Abimana sebelum menghilang di balik pintu kamar.
Langkah kaki Abimana yang menjauh terdengar berat, meninggalkan keheningan yang menyesakkan di ruang tengah. Arunika terpaku di tempatnya, tangannya masih memegang bantal sofa, namun pikirannya telah melayang jauh mengikuti bisikan yang barusan menyentuh indra pendengarannya.
Degh!
Seketika jantung Arunika berdetak lebih cepat. Getaran di dadanya bukan lagi karena amarah yang membara, melainkan karena sebuah keterkejutan yang asing. Selama ini, suara Abimana yang ia dengar hanyalah nada ketus, dingin, atau penuh kepura-puraan di depan orang lain. Namun barusan, bisikan itu... begitu rendah, parau, dan tersirat sebuah kerentanan yang belum pernah Abimana tunjukkan sebelumnya.
Arunika menatap pintu kamar yang tertutup rapat, lalu perlahan pandangannya beralih ke arah meja makan. Di sana, selembar kertas putih tergeletak dengan tenang, seolah sedang menantangnya untuk mendekat.
Dengan langkah ragu, Arunika mendekati meja. Ia menarik napas panjang, mencoba menetralkan desiran aneh di hatinya. Perlahan, jemarinya meraih kertas itu. Tulisan tangan Abimana yang biasanya rapi kini terlihat sedikit goyah, mencerminkan kondisi fisik dan batin pria itu.
[Nika, aku tahu kamu sedang menghukumku dengan kedinginanmu. Tapi aku akan tetap di sini, di titik yang sama, sampai kamu memanggilku 'Mas' lagi, meskipun itu butuh waktu selamanya.]
Arunika meremas ujung kertas itu. Matanya memanas. Kalimat itu terasa seperti pengakuan dosa sekaligus janji yang sangat berat. "Waktu selamanya?" gumamnya lirih. "Kenapa baru sekarang kamu bicara seperti ini, Mas?"
Tepat saat itu, terdengar suara batuk yang cukup keras dari balik pintu kamar, diikuti suara benda jatuh.
Arunika tersentak. Ia teringat tatapan mata Abimana yang sayu dan jaketnya yang basah kuyup tadi. Kebenciannya memang masih ada, namun nalurinya sebagai wanita dan rasa kemanusiaannya tidak bisa berbohong.
Ia bergegas menuju kamar dan mendorong pintunya. Di sana, Abimana terduduk di tepi ranjang, berusaha melepaskan kancing kemejanya yang basah, namun tangannya bergetar hebat. Wajahnya kini tidak hanya pucat, tapi mulai merona merah karena demam yang menyerang tiba-tiba.
"Mas..." panggil Arunika, kali ini suaranya tidak setajam tadi.
Abimana mendongak. Pandangannya kabur, namun ia masih bisa mengenali siluet istrinya. "Nika... maaf, kepalaku... sakit sekali." rintihnya pelan sebelum tubuhnya kehilangan keseimbangan dan hampir jatuh ke lantai jika Arunika tidak segera menangkap bahunya.
Arunika menahan beban tubuh Abimana yang terasa panas membara. Dalam jarak sedekat itu, ia bisa mendengar napas Abimana yang memburu. Segala benteng kebekuan yang Arunika bangun sejak pagi tadi seolah mulai retak sedikit demi sedikit.
"Tetaplah sadar, Mas. Papa dan Mama akan sampai sebentar lagi. Kamu tidak boleh seperti ini di depan mereka." ucap Arunika, berusaha mengembalikan nada bicaranya yang tegas meski tangannya gemetar saat menyentuh dahi Abimana yang membara.
Semangaaaaaat.... 💪💪💪