NovelToon NovelToon
Aku Menyerah!

Aku Menyerah!

Status: sedang berlangsung
Genre:Wanita Karir / Pelakor jahat / Penyesalan Suami / CEO / Selingkuh / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:51.9k
Nilai: 5
Nama Author: Brilliante Brillia

Ayra menjalani pernikahan yang tidak pernah benar-benar ia inginkan. Menikah karena perjodohan, ia berusaha menjalani perannya sebagai istri dengan sebaik mungkin. Dan kehamilan yang datang kemudian, justru membuatnya berusaha lebih kuat, meski pernikahan itu perlahan menunjukkan sisi gelapnya.

Saat mengetahui Rayyan mendua, Ayra tidak mendapat pembelaan apa pun. Suaminya justru lebih memilih wanita itu dibandingkan dirinya yang sedang mengandung. Tekanan batin yang berat membuat Ayra mengalami keguguran. Kehilangan anaknya menjadi pukulan terbesar dalam hidupnya.

Dikhianati, disudutkan, dan tidak lagi dihargai, Ayra akhirnya sampai pada titik lelah. Ia menyerah, bukan karena kalah, tetapi karena tak ingin menyia-nyiakan hidupnya untuk bertahan dalam hubungan toxic.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Brilliante Brillia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Permainan Marissa

Mobil Zavian memasuki area parkir sebuah restoran yang sudah menjadi langganannya. Beberapa detik setelah mereka masuk ke dalam, sebuah mobil lain menyusul. Marissa berada di balik kemudinya.

​Dengan gaya santai, wanita itu melangkah masuk tanpa ragu, seolah tidak takut kehadirannya akan disadari oleh Ayra maupun Zavian. Marissa memilih duduk di pojok, posisi yang paling leluasa untuk mengawasi meja mereka.

​"Ay, ceritakan yang sejujurnya. Apa yang sebenarnya terjadi semalam?"

​Zavian membuka pembicaraan tepat setelah mereka memesan makanan. Tatapannya begitu lekat, seakan tidak memberi celah sedikit pun bagi Ayra untuk berkelit atau mengarang cerita lagi.

​Ayra mencoba bersikap setenang mungkin. Ia ingin meredam emosi di hati Zavian, karena ia yakin pria itu akan marah besar jika ia langsung menceritakan apa yang menimpanya tadi malam. Yang ada acara makan mereka akan berantakan nantinya.

​"Boleh nggak ceritanya setelah kita makan?"

​Zavian mendengus pelan. Namun, saat melihat Ayra menatapnya gaya manja yqng natiral, hatinya pun luluh. Tangan Zavian refleks terulur mengusap kepala wanita muda itu. Interaksi tersebut tak luput dari tatapan datar Marissa di kejauhan.

​"Kapan kamu mau main ke rumah saya? Kenzie menanyakan kamu terus."

​Mata Ayra langsung berbinar mendengar nama Kenzie. Sejujurnya, ia pun merindukan bocah tampan itu.

​"Hmm, Mas..." Ayra menggantung kalimatnya.

​Zavian mengangkat alis, menunggu kelanjutan ucapan wanita di depannya.

​"Boleh tidak kalau saya melamar kerja?"

​Lelaki itu mengernyitkan dahi. "Kerja di mana? Sebagai apa?"

​"Di rumah kamu, jadi pengasuh Kenzie. Percaya deh, saya tak akan mengecewakan. Suerrr!" Ayra nyengir sambil mengangkat dua jarinya.

​"Bisa saja kamu. Lalu bagaimana dengan kuliahmu?"

​Obrolan mereka terhenti sejenak saat pelayan datang mengantarkan pesanan. Setelah pelayan pergi, Ayra kembali melanjutkan.

​"Aku bisa kuliah dulu. Setelah pulang kuliah, baru aku jadi nanny. Itu juga kalau boleh," ucapnya sambil tertawa kecil.

​Zavian tidak langsung menjawab. Ia mengira ucapan Ayra hanya candaan belaka. Sambil menyuap makanannya, ia membalas ucapan Ayra dengan berusaha sesantai mungkin. Meski terdengar agak kaku

​"Kenapa harus jadi nanny-nya? Jadi mamanya saja sekalian."

​Ayra membeku beberapa detik. Kalimat itu terdengar seperti lamaran, namun tidak terasa serius. Apalagi gaya Zavian saat mengucapkannya terdengat datar dan agak kaku. Tapi kemudian Ayra terkekeh untuk menetralkan kembali suasana.

"Sudah, jangan mengalihkan pembicaraan terus. Sekarang makan kita sudah selesai. Katakanlah, apa yang terjadi semalam?"

Diingatkan lagi kejadian itu, membuat napas Ayra mendadak sesak. Wajahnya menunduk sambil mengaduk minumannya dengan sedotan. Sementara Zavian memanggil pelayan untuk membereskam meja mereka. Setelah selesai, barulah Ayra mulai bicara.

"Waktu aku keluar dari dalam bilik toilet... Aku dikagetkan dengan kehadiran seorang laki-laki di sana. Aku pikir aku salah masuk toilet laki-laki. Tapi..."

Lalu Ayra menceritakan kronologi kejadian semalam yang dialaminya. Bagaimana laki-laki itu akan mencoba melecehkannya. Beruntung Stella dan Bryan keburu datang menolongnya. Hingga ia selamat dari kebrutalan lelaki itu. Tapi ia diminta tutup mulut pada Zavian untuk sementara demi kelangsungan pesta.

Selama Ayra menceritakan itu, wajah Zavian merah padam dengan telapak tangan terkepal erat di atas meja.

"Saya tidak bisa terima ini, Ayra. Bagaimana seandainya terjadi apa-apa sama kamu? Tidak bisa, ini harus diusut!" Desisnya penuh amarah. Dan berdiri dari duduknya.

Benar apa kata Stella. Ayra tak bisa membayangkan bagaimana jika semalam Zavian langsung tahu kejadiannya. Pasti arena pesta akan berubah menjadi ring tinju.

"Mas mau ke mana?"

Ayra mulai cemas. Dia ikut berdiri dan mengusap dada Zavian dengan maksud menenangkan. Kemudian meminta laki-laki itu duduk kembali.

"Kita harus ke rumah Stella untuk minta pertanggungjawabannya. Ini tidak bisa dibiarkan begitu saja."

"Tunggu mas, semua sudah ditangani pihak berwajib. Laki-laki itu juga sudah diserahkan ke kantor polisi."

Ayra menatap Zavian dengan tatapan teduh dan lumayan bisa sedikit meredam amarahnya. Lelaki itu pun terdiam sebentar, mengatur napas, lalu mengeluarkan ponselnya.

"Mas mau telepon Mbak Stella?"

Zavian hanya mengangguk. Aura wajahnya tetap terlihat angker. Ayra pun tak berani lagi melarangnya.

"Halo, Stella. Saya ingin bicara dengan kamu. Saya tunggu di restoran langganan saya. Sekarang!" ucapnya tegas, lalu langsung memutuskan sambungan telepon secara sepihak.

"Mas, tenang ya. Aku sudah tidak apa-apa. Jangan marah pada Mbak Stella," pinta Ayra lirih.

Sebelum Zavian sempat menjawab, Marissa tiba-tiba menghampiri mereka dengan langkah gemulai.

​Ayra menjadi orang yang paling terkejut. Ia tidak menyangka Marissa ada di restoran ini. Untungnya, tidak ada raut amarah di wajah wanita itu. Hanya sorot matanya saja yang tajam menatap Ayra.

​"Mbak Marissa ada di sini juga?" tanya Ayra salah tingkah. Merasa seperti murid yang ketahuan bolos oleh gurunya.

​"Ya. Seorang teman baruku mengingkari janjinya tanpa konfirmasi. Untuk meredam kekesalan, aku teringat restoran yang dulu Mas Zavian rekomendasikan." Katanya sambil mengerlingbpada Zavian. "Karena makanannya enak, aku memutuskan ke sini. Siapa tahu kesedihanku sembuh dengan sendirinya," lanjutnya. Nada bicaranya terdengar biasa saja, namun Ayra merasa Marissa sedang menyindir dirinya.

​"Maaf, Mbak Marissa, saya..."

​"Oh, jadi kamu janjian dengan Marissa, Ayra?" potong Zavian. Ayra mengangguk pelan, bahkan nyaris tak terlihat.

​"Jangan salahkan dia. Saya yang memaksanya," bela Zavian tegas.

​Marissa beralih menatap Zavian sesaat sebelum kembali pada Ayra.

"Oh, ya? Tapi apa gunanya ponsel? Iya, kan, Ayra?"

​"Sekali lagi saya minta maaf, Mbak Marissa. Saya mungkin salah," Ayra tersenyum tipis. Dan menekankan kata 'mungkin'. Masalahnya, meski meminta maaf, dalam hati ia merasa tidak sepenuhnya bersalah. Toh, tadi Marissa langsung menutup telepon sebelum ia sempat menjawab setuju atau tidak.

​"Tapi, Mbak... tadi saya belum menjawab apa-apa, Mbak Marissa sudah menutup teleponnya."

​"Kan kamu bisa telepon balik untuk menjelaskan," sambar Marissa cepat.

​Ayra hanya mengangguk tipis, tak ingin memperpanjang perdebatan yang dirasa tidak terlalu penting, lalu menarik kursi kosong di sampingnya. "Duduk dulu, Mbak. Tidak enak bicara sambil berdiri."

​Marissa menahan tangan Ayra yang sedang menarik kursi.

"Tidak usah. Aku hanya ingin menyapa kalian saja. Silakan dilanjutkan," katanya sambil berbalik. Namun, ia kembali menoleh pada Ayra sebelum benar-benar melangkah pergi.

​"Aku harap, lain kali kita benar-benar bisa lunch bareng, Ayra."

​Ayra hanya mengangguk ragu. Ia menatap punggung Marissa yang menjauh dengan perasaan tidak menentu.

​"Kamu harus hati-hati sama dia. Aku punya firasat aneh tentang wAnita itu," ucap Zavian pelan setelah Marissa benar-benar pergi dari hadapan mereka.

"Memangnya kenapa? Aku rasa Mbak Marissa orangnya baik. Bahkan aku pernah beli baju di mall, taunya clothing line itu milik dia dan dia melarang aku membayarnya." Kata Ayra jujur.

Zavian terdiam. Entah kenapa dia kurang suka pada mantan adik iparnya itu. Seperti agak misterius.

1
Ma Em
Thor jgn sampai Marissa mengganggu ketentraman rumah tangga Zavian dgn Ayra yg baru saja dimulai , jauhkan godaan atau kejahatan orang2 yg iri pada kebahagiaan Ayra .
Dini Yulianti
ooo ternyata hanya anak pungut to
Yul Kin
lanjut kak
Anonymous
ENTAH KENAPA SAYA INGIN MEMBUNUH ORANG INI SI LITZHA
Ummi Rafie
jangan² Monalisa yg maksa masuk di pernikahan ayra
Dini Yulianti
akhirnya sah jg
Cookies
lanjut thor
Dini Yulianti
musuh terberat ayra hanya si sasa marisa, psyco dia, kalo semacam elly sama lizta mah hanya kelas teri
Ramlah Ibrahim
kna sambungan nya kenpa tiba2 kerlur cerita lain
Ma Em
Bu Elly sok soan mau manas2 in Zavian agar TDK jadi menikah dgn Ayra kalau Zavian tdk dengar Rayyan ngancam mau keluar dari perusahaan Zavian lah emang kalian siapa samapi Zavian mau mendengar omongan Rayyan dasar orang tdk tau malu , semoga Ayra bahagia bersama Zavian .
Yul Kin
pecat Rayyan dan lita kak, gedeg aku sama mereka, klg mak Lampir jg
Ma Em
Elly ,Anika dan Serly sombong didepan nyonya Euginia , Elly kamu itu tdk ada apapa nya kalau dibandingkan dgn nyonya Euginia dasar norak pake perhiasan kayak toko emas berjalan , Elly ,Ayra itu bkn jadi pengasuh tapi calon istri orang kaya .
Dini Yulianti
nah gitu ay jangan egois, zavian jadi leluasa lindungin kamu, kuliah masih bisa jalan meski udh nikah, zavian beda sama rayyan
Anonymous
Pantau terus si marissa van.. Gunakan semua aksea yg dikau punya
Anonymous
Please zavian.. Jgn butek2 banget... Gunakan kekuasaan keluarga loe..
Ma Em
Demi keamanan dan perlindungan penuh dari Zavian Ayra tentu hrs mau cepat menikah dgn Zavian jgn ditunda lagi karena Marissa sangat berbahaya .
Ma Em
Zavian seorang pengusaha yg berkuasa masa kalah oleh kelicikan Marissa .
Anonymous
AWOKAWOK dibutuhkan Spy seperti Loid
Ma Em
Rayyan sekarang Ayra berada diatas mu dan sebentar lagi akan menjadi istri bosmu , jgn sampai kamu cari masalah dgn Ayra kalau Elzian tau kamu pasti dipecat Rayyan .
Retno Harningsih
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!