Ayra menjalani pernikahan yang tidak pernah benar-benar ia inginkan. Menikah karena perjodohan, ia berusaha menjalani perannya sebagai istri dengan sebaik mungkin. Dan kehamilan yang datang kemudian, justru membuatnya berusaha lebih kuat, meski pernikahan itu perlahan menunjukkan sisi gelapnya.
Saat mengetahui Rayyan mendua, Ayra tidak mendapat pembelaan apa pun. Suaminya justru lebih memilih wanita itu dibandingkan dirinya yang sedang mengandung. Tekanan batin yang berat membuat Ayra mengalami keguguran. Kehilangan anaknya menjadi pukulan terbesar dalam hidupnya.
Dikhianati, disudutkan, dan tidak lagi dihargai, Ayra akhirnya sampai pada titik lelah. Ia menyerah, bukan karena kalah, tetapi karena tak ingin menyia-nyiakan hidupnya untuk bertahan dalam hubungan toxic.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Brilliante Brillia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permainan Marissa
Mobil Zavian memasuki area parkir sebuah restoran yang sudah menjadi langganannya. Beberapa detik setelah mereka masuk ke dalam, sebuah mobil lain menyusul. Marissa berada di balik kemudinya.
Dengan gaya santai, wanita itu melangkah masuk tanpa ragu, seolah tidak takut kehadirannya akan disadari oleh Ayra maupun Zavian. Marissa memilih duduk di pojok, posisi yang paling leluasa untuk mengawasi meja mereka.
"Ay, ceritakan yang sejujurnya. Apa yang sebenarnya terjadi semalam?"
Zavian membuka pembicaraan tepat setelah mereka memesan makanan. Tatapannya begitu lekat, seakan tidak memberi celah sedikit pun bagi Ayra untuk berkelit atau mengarang cerita lagi.
Ayra mencoba bersikap setenang mungkin. Ia ingin meredam emosi di hati Zavian, karena ia yakin pria itu akan marah besar jika ia langsung menceritakan apa yang menimpanya tadi malam. Yang ada acara makan mereka akan berantakan nantinya.
"Boleh nggak ceritanya setelah kita makan?"
Zavian mendengus pelan. Namun, saat melihat Ayra menatapnya gaya manja yqng natiral, hatinya pun luluh. Tangan Zavian refleks terulur mengusap kepala wanita muda itu. Interaksi tersebut tak luput dari tatapan datar Marissa di kejauhan.
"Kapan kamu mau main ke rumah saya? Kenzie menanyakan kamu terus."
Mata Ayra langsung berbinar mendengar nama Kenzie. Sejujurnya, ia pun merindukan bocah tampan itu.
"Hmm, Mas..." Ayra menggantung kalimatnya.
Zavian mengangkat alis, menunggu kelanjutan ucapan wanita di depannya.
"Boleh tidak kalau saya melamar kerja?"
Lelaki itu mengernyitkan dahi. "Kerja di mana? Sebagai apa?"
"Di rumah kamu, jadi pengasuh Kenzie. Percaya deh, saya tak akan mengecewakan. Suerrr!" Ayra nyengir sambil mengangkat dua jarinya.
"Bisa saja kamu. Lalu bagaimana dengan kuliahmu?"
Obrolan mereka terhenti sejenak saat pelayan datang mengantarkan pesanan. Setelah pelayan pergi, Ayra kembali melanjutkan.
"Aku bisa kuliah dulu. Setelah pulang kuliah, baru aku jadi nanny. Itu juga kalau boleh," ucapnya sambil tertawa kecil.
Zavian tidak langsung menjawab. Ia mengira ucapan Ayra hanya candaan belaka. Sambil menyuap makanannya, ia membalas ucapan Ayra dengan berusaha sesantai mungkin. Meski terdengar agak kaku
"Kenapa harus jadi nanny-nya? Jadi mamanya saja sekalian."
Ayra membeku beberapa detik. Kalimat itu terdengar seperti lamaran, namun tidak terasa serius. Apalagi gaya Zavian saat mengucapkannya terdengat datar dan agak kaku. Tapi kemudian Ayra terkekeh untuk menetralkan kembali suasana.
"Sudah, jangan mengalihkan pembicaraan terus. Sekarang makan kita sudah selesai. Katakanlah, apa yang terjadi semalam?"
Diingatkan lagi kejadian itu, membuat napas Ayra mendadak sesak. Wajahnya menunduk sambil mengaduk minumannya dengan sedotan. Sementara Zavian memanggil pelayan untuk membereskam meja mereka. Setelah selesai, barulah Ayra mulai bicara.
"Waktu aku keluar dari dalam bilik toilet... Aku dikagetkan dengan kehadiran seorang laki-laki di sana. Aku pikir aku salah masuk toilet laki-laki. Tapi..."
Lalu Ayra menceritakan kronologi kejadian semalam yang dialaminya. Bagaimana laki-laki itu akan mencoba melecehkannya. Beruntung Stella dan Bryan keburu datang menolongnya. Hingga ia selamat dari kebrutalan lelaki itu. Tapi ia diminta tutup mulut pada Zavian untuk sementara demi kelangsungan pesta.
Selama Ayra menceritakan itu, wajah Zavian merah padam dengan telapak tangan terkepal erat di atas meja.
"Saya tidak bisa terima ini, Ayra. Bagaimana seandainya terjadi apa-apa sama kamu? Tidak bisa, ini harus diusut!" Desisnya penuh amarah. Dan berdiri dari duduknya.
Benar apa kata Stella. Ayra tak bisa membayangkan bagaimana jika semalam Zavian langsung tahu kejadiannya. Pasti arena pesta akan berubah menjadi ring tinju.
"Mas mau ke mana?"
Ayra mulai cemas. Dia ikut berdiri dan mengusap dada Zavian dengan maksud menenangkan. Kemudian meminta laki-laki itu duduk kembali.
"Kita harus ke rumah Stella untuk minta pertanggungjawabannya. Ini tidak bisa dibiarkan begitu saja."
"Tunggu mas, semua sudah ditangani pihak berwajib. Laki-laki itu juga sudah diserahkan ke kantor polisi."
Ayra menatap Zavian dengan tatapan teduh dan lumayan bisa sedikit meredam amarahnya. Lelaki itu pun terdiam sebentar, mengatur napas, lalu mengeluarkan ponselnya.
"Mas mau telepon Mbak Stella?"
Zavian hanya mengangguk. Aura wajahnya tetap terlihat angker. Ayra pun tak berani lagi melarangnya.
"Halo, Stella. Saya ingin bicara dengan kamu. Saya tunggu di restoran langganan saya. Sekarang!" ucapnya tegas, lalu langsung memutuskan sambungan telepon secara sepihak.
"Mas, tenang ya. Aku sudah tidak apa-apa. Jangan marah pada Mbak Stella," pinta Ayra lirih.
Sebelum Zavian sempat menjawab, Marissa tiba-tiba menghampiri mereka dengan langkah gemulai.
Ayra menjadi orang yang paling terkejut. Ia tidak menyangka Marissa ada di restoran ini. Untungnya, tidak ada raut amarah di wajah wanita itu. Hanya sorot matanya saja yang tajam menatap Ayra.
"Mbak Marissa ada di sini juga?" tanya Ayra salah tingkah. Merasa seperti murid yang ketahuan bolos oleh gurunya.
"Ya. Seorang teman baruku mengingkari janjinya tanpa konfirmasi. Untuk meredam kekesalan, aku teringat restoran yang dulu Mas Zavian rekomendasikan." Katanya sambil mengerlingbpada Zavian. "Karena makanannya enak, aku memutuskan ke sini. Siapa tahu kesedihanku sembuh dengan sendirinya," lanjutnya. Nada bicaranya terdengar biasa saja, namun Ayra merasa Marissa sedang menyindir dirinya.
"Maaf, Mbak Marissa, saya..."
"Oh, jadi kamu janjian dengan Marissa, Ayra?" potong Zavian. Ayra mengangguk pelan, bahkan nyaris tak terlihat.
"Jangan salahkan dia. Saya yang memaksanya," bela Zavian tegas.
Marissa beralih menatap Zavian sesaat sebelum kembali pada Ayra.
"Oh, ya? Tapi apa gunanya ponsel? Iya, kan, Ayra?"
"Sekali lagi saya minta maaf, Mbak Marissa. Saya mungkin salah," Ayra tersenyum tipis. Dan menekankan kata 'mungkin'. Masalahnya, meski meminta maaf, dalam hati ia merasa tidak sepenuhnya bersalah. Toh, tadi Marissa langsung menutup telepon sebelum ia sempat menjawab setuju atau tidak.
"Tapi, Mbak... tadi saya belum menjawab apa-apa, Mbak Marissa sudah menutup teleponnya."
"Kan kamu bisa telepon balik untuk menjelaskan," sambar Marissa cepat.
Ayra hanya mengangguk tipis, tak ingin memperpanjang perdebatan yang dirasa tidak terlalu penting, lalu menarik kursi kosong di sampingnya. "Duduk dulu, Mbak. Tidak enak bicara sambil berdiri."
Marissa menahan tangan Ayra yang sedang menarik kursi.
"Tidak usah. Aku hanya ingin menyapa kalian saja. Silakan dilanjutkan," katanya sambil berbalik. Namun, ia kembali menoleh pada Ayra sebelum benar-benar melangkah pergi.
"Aku harap, lain kali kita benar-benar bisa lunch bareng, Ayra."
Ayra hanya mengangguk ragu. Ia menatap punggung Marissa yang menjauh dengan perasaan tidak menentu.
"Kamu harus hati-hati sama dia. Aku punya firasat aneh tentang wAnita itu," ucap Zavian pelan setelah Marissa benar-benar pergi dari hadapan mereka.
"Memangnya kenapa? Aku rasa Mbak Marissa orangnya baik. Bahkan aku pernah beli baju di mall, taunya clothing line itu milik dia dan dia melarang aku membayarnya." Kata Ayra jujur.
Zavian terdiam. Entah kenapa dia kurang suka pada mantan adik iparnya itu. Seperti agak misterius.