Di saat resepsi pernikahan. Anjani Thalia harus menerima kenyataan pahit jika calon suaminya tiba-tiba saja membatalkan pernikahannya.
Keluarga Anjani merasa malu dan marah karena merasa di permainkan oleh Arjuna . Calon menantu mereka.
Bahkan yang paling mengejutkan, ternyata Arjuna memilih wanita lain. Dan yang lebih mengejutkan dia memilih teman Anjani sendiri sebagai calon istrinya.
Saat keadaan kacau Anjani terlihat pasrah dengan kehancuran di depan matanya. Namun siapa sangka seseorang justru menyelamatkannya dari kehancuran itu.
Keandra Alarick. Mantan Anjani datang dengan tiba-tiba dan ingin menikahinya. Hal itu pun membuat semua orang terkejut.
Bagaimana kelanjutan kisah mereka?
Apa Anjani akan melanjutkan pernikahannya dengan Keandra?
Apakah setelah ini kehidupan Anjani akan bahagia?
Ikuti kisah mereka sampai selesai.
Jangan lupa follow. Beri like dan komentar kamu ya!
Happy Reading...! 🤗🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mommy jay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 Sisi lain Keandra
Keandra memeluk erat tubuh Anjani . Memberikan ketenangan. Menatap kedua preman tersebut dengan tajam.
"Siapa yang berani mengganggu istri, ku?!" tanya Keandra, dingin.
Roni dan temannya terlihat mengatur nafas. Anjani berlari sangat kencang, membuat kedua preman itu kewalahan mengejarnya.
Roni menatap Keandra. Memperhatikan penampilannya dari atas sampai bawah.
"Ck! Kalau tidak ingin istri mu di ganggu. Kenapa tidak menjaganya dengan baik?" seru Roni, menjawab dengan lantang.
Keandra mengeraskan rahangnya. Berani sekali Roni sebagai orang asing berkata seperti itu. "Apa maksud perkataan, mu?"
"Ha... ha... ha! Hei, tuan. Jika anda menjaga istri anda dengan baik, tidak mungkin anda membiarkannya sendirian di jalan". Balas Roni tertawa .
Keandra berdecih. Hatinya benar-benar kesal melihat sikap Roni yang sok tahu. Apalagi melihat keadaan Anjani yang ketakutan, seketika membuat hatinya bertambah marah. Ia melepaskan pelukannya. Mendekati para preman untuk memberikan pelajaran.
"Aku tidak butuh nasihat, mu!" ucap Keandra, melayangkan pukulan pada Roni.
"Bugghh...!"Roni seketika tersungkur. pukulan Kendra begitu sangat keras. Iya bangkit berdiri mengusap sudut bibirnya yang terluka dan berdarah . " Sialan lu! Beraninya mukul gua." teriaknya, penuh amarah.
Keandra tersenyum miring, puas akan sikapnya pada Roni . "Itu pukulan pertama, karena kamu sudah berani mengganggu istriku."
Roni bangkit berdiri .menatap tajam Keandra .bahkan Teman Roni pun menghampirinya memastikan keadaannya
" Lu baik-baik aja kan ?" ucap teman Roni, memastikan keadaannya.
Roni mengangguk pelan. Sebagai jawaban jika dirinya baik-baik saja. Tatapan mereka berdua beralih pada Keandra, yang masih memperhatikan.
"Heh, lu! Jangan songong, lu!" seru teman Roni. Maju mendekati Keandra dan menyerangnya.
Keandra pun mempersiapkan diri, saat teman Roni akan menyerangnya. Menangkis setiap pukulannya dengan cepat.
"BUGHH... BUGHH...!"
Keandra memukul balik teman Roni. Dengan brutal ia memukulnya. Memberi pelajaran pada orang-orang yang sudah menyakiti Anjani. "Dasar pengecut! Beraninya hanya pada wanita saja."
Roni mengeraskan rahangnya. Mengepalkan tangan. Menghampiri Keandra yang sedang memukul temannya. Ingin memberikan balasan. Sebab tidak terima melihat temannya di pukuli secara brutal. Saat akan menghampiri Keandra. Roni tidak sengaja melihat sebuah kayu besar. Rencana licik muncul di pikirannya. Mengambilnya dan berniat memukul Keandra dengan kayu itu.
Keadaan di sana semakin menegang. Anjani yang melihat hal itu semakin ketakutan. Ia memperhatikan Roni yang berjalan menghampiri Keandra. Mata Anjani membulat sempurna, saat tahu akan maksud Roni.
Roni berjalan di belakang Keandra yang sedang memukul temannya. Dengan cepat mengayunkan kayu itu. Hendak memukul Keandra.
"KEAN...! AWAS DI BELAKANG MU...!" teriak Anjani keras. Jantungnya berdebar kencang. Perasaan takut menyelimuti hatinya. Takut jika Keandra benar-benar terkena pukulan kayu itu.
Keandra yang mendengar teriakan Anjani, langsung membalikkan badan. Namun sayang, Keandra yang tidak siap pun akhirnya terkena pukulan kayu milik Roni.
"BUGHH...!"
"KEANDRA...!" Anjani berteriak histeris. Saat melihat Keandra langsung tersungkur.
Sementara itu Keandra tersungkur di jalanan aspal. Merasakan sakit yang hebat di bagian punggungnya. "Ahhh...! Sial...!" umpatnya. Namun dengan cepat berdiri. Menatap tajam Roni, yang tersenyum penuh kemenangan.
"Rasain, lu! Gimana? Sakit, kan?" ucap Roni, mengejek. Tersenyum miring, melihat keadaan Keandra saat ini.
Keandra tidak menanggapi ejekan Roni. Kini perhatian tertuju pada Roni yang sudah berhasil memukulnya.
Perkelahian antara Roni dan Keandra terjadi. Meskipun keadaan mereka terlihat berat sebelah. Sebab Roni menyerangnya dengan membawa senjata berupa kayu besar. Sedangkan Keandra melawannya hanya dengan tangan kosong.
Melihat perkelahian Keandra dan Roni membuat Anjani tidak bisa diam. Berusaha mencari sesuatu, yang bisa ia gunakan untuk menyerang Roni.
"Heh...! Apa yang lu lakuin?" Roni terlihat kesal, melihat Anjani yang tiba-tiba saja memukulnya dengan tas miliknya. Tak menyangka jika nyali Anjani ternyata besar juga.
"Kamu yang apa-apaan! Beraninya main curang! Dasar pecundang!" ucap Anjani dengan suara tinggi. Tetap memukul Roni tanpa memikirkan akibatnya.
"Anjani. Apa yang kamu lakukan? Cepat menjauh!" teriak Keandra, memperingatkan. Namun sayangnya Anjani tidak mendengarkannya. Tetap memukul Roni dengan tasnya.
Roni yang kesal pun mendorong kuat tubuh Anjani sampai tersungkur. Hal itu membuat Keandra marah besar.
"Ahhh...!" pekik Anjani, saat jatuh tersungkur.
"ANJANI." Keandra langsung menghampiri Anjani. Memastikan keadaannya. "Kamu tidak apa-apa?"
Anjani yang kesakitan berusaha menyembunyikannya. Tidak ingin membuat Keandra mengkhawatirkan dirinya. "Aku tidak apa-apa, Kean. Aku baik-baik saja."
Keandra mendengus. Saat mendengar jawaban Anjani yang sebenarnya sedang berbohong. Namun saat ini bukan waktunya berdebat. Sekarang ia harus memberi pelajaran pada Roni. Keandra berdiri setelah memastikan keadaannya Anjani. Berjalan mendekati Roni, dengan sorot mata tajam dan rahang mengeras.
"Aku tidak akan melepaskan mu, pecundang!" Keandra melayangkan pukulan ke arah Roni. Namun itu hanya untuk mengelabuinya. Setelah melihat Roni tidak fokus, Keandra menendang tangal Roni hingga kayu yang di pegangnya terjatuh.
Roni pun panik, saat melihat senjatanya terjatuh. Berusaha mengambilnya, namun sayang Keandra tidak membiarkannya.
"Jangan pernah coba-coba menyakiti istri, ku! Karena kamu sudah menyakitinya maka rasakan balasan dari, ku!" ucap Keandra , dingin. Saat ini Keandra benar-benar marah. Perlahan dirinya menunjukkan sikap yang tidak pernah Anjani lihat selama menikah. Hal itu membuat Anjani diam terpaku dengan perasaan haru.
"BUGHH... BUGHH....!" Dengan brutal Keandra memukul Roni. Tidak memberi kesempatan pada Roni untuk melawan.
"Ampun, bang. Ampun...." Roni memohon pada Keandra, yang masih saja memukulnya. Rasa takut muncul dalam hatinya. Takut jika Keandra benar-benar menghabisinya.
Anjani hanya terdiam, melihat Roni yang mulai ketakutan. Ia baru tahu jika amarah Keandra yang sebenarnya sangat menakutkan. Sebab sebelumnya Anjani hanya tahu, jika Keandra tidak suka perkelahian. Tidak seperti saat ini.
Keandra menghentikan gerakan tangannya. Menoleh pada Anjani yang hanya terdiam penuh ketakutan. Perlahan Keandra tersadar, jika dirinya sudah menunjukkan sisi lainnya dirinya pada Anjani.
Roni yang melihat Keandra lengah pun langsung pergi. Membawa temannya pergi dari sana. Tidak ingin mati sia-sia di tangan seorang Keandra.
Keandra menghampiri Anjani yang terdiam. Menatapnya dalam. "Maaf." ucapnya, membuat Anjani menatapnya.
Anjani terdiam. Matanya mulai berkaca-kaca. "Kean." ucapnya bergetar. Langsung memeluk tubuh Keandra dengan erat. "Kamu tidak apa-apa, kan? Aku takut, Kean."
Keandra peperlahan membalas pelukan Anjani. Menghirup wangi dari rambut Anjani. "Aku tidak apa-apa. Maaf sudah membuat mu, takut."
Anjani mengangguk pelan sebagai jawaban. Masih betah dalam pelukan Keandra, seakan tidak ingin melepaskannya.
"Sekarang kita pulang." ajak Keandra. Di anggukkan oleh Anjani.
Mereka berdua berjalan menghampiri mobil Keandra. Masuk dan pergi dari sana. Kejadian hari ini benar-benar menguras emosi. Membuat Anjani dan Keandra yang berada di dalam mobil sama-sama terdiam.
Hening beberapa saat. Sampai akhirnya Anjani memberanikan diri membuka suara.
"Tadi kamu dari mana dengan dia?" tanya Anjani, enggan menyebutkan nama Felicia. Bahkan pertanyaan Anjani berhasil membuat Keandra terdiam.
lanjutin ceritanya sampai tamat