NovelToon NovelToon
Balas Dendam Istri Yang Dianggap Buta

Balas Dendam Istri Yang Dianggap Buta

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: Hernn Khrnsa

Setelah mengalami kebutaan selama bertahun-tahun, Samira Hadid justru mendapatkan kembali penglihatannya lewat kecelakaan jatuh yang melukai kepalanya.

Ia kembali melihat dunia yang dulu terasa gelap. Namun, kebahagiaan itu tak berlangsung lama saat ia melihat suaminya memeluk wanita lain di dapur rumah mereka.

Terkepung rasa sakit dan kemarahan, Samira memutuskan untuk tetap berpura-pura buta dan mengamati semua permainan licik sang suami.

Lalu, ia mulai memutuskan pembalasan dendam. Ia bertekad untuk mengambil kembali semua yang telah suaminya rebut dan mencari kebenaran yang selama ini disembunyikan darinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22

Bau antiseptik menyambut Rayhan begitu pintu ruang perawatan tertutup pelan di belakangnya. Aroma khas rumah sakit itu terasa bersih sekaligus dingin, menyusup ke hidung dan entah kenapa selalu membuat dadanya sesak. 

Lampu putih di langit-langit memantul pucat di lantai keramik, membuat ruangan tampak sunyi dan tak bernyawa. Hanya suara mesin monitor detak jantung yang berdetak pelan secara teratur, seperti penanda bahwa seseorang di dalam ruangan itu masih berjuang untuk bertahan.

Langkah Rayhan terhenti beberapa detik saat matanya menemukan sosok yang terbaring di ranjang. Samira tampak begitu berbeda dari biasanya. Wajahnya pucat, bibirnya kering, dan ada memar samar di pelipis serta lengannya. Rambutnya yang biasanya tersisir rapi kini berantakan menutupi sebagian bantal putih. Selang infus terpasang di tangannya, sementara perban tipis melingkari dahinya. 

Melihatnya dalam kondisi seperti itu membuat dada Rayhan terasa terhimpit oleh sesuatu yang berat. Ia menarik kursi dan duduk di samping ranjang dengan gerakan pelan, seolah takut menimbulkan suara. Tangannya terulur ragu, lalu dengan hati-hati menggenggam jemari Samira yang terasa dingin. 

Sentuhan itu membuatnya sadar betapa rapuh perempuan di hadapannya sekarang. “Kau keras kepala sekali,” gumamnya pelan, nyaris seperti bisikan pada dirinya sendiri. “Kau selalu mencoba menyelesaikan semuanya sendirian.”

Beberapa jam lalu, ia masih menggendong tubuh Samira yang lemas dan berbau asap, napasnya lemah seakan bisa hilang kapan saja. Ia bahkan tak ingat bagaimana caranya bisa menyetir secepat itu menuju rumah sakit tanpa kehilangan kendali. 

Sebagai dokter, ia terbiasa menghadapi situasi darurat dengan kepala dingin, tetapi malam itu semua logikanya runtuh. Ia bukan dokter yang menangani pasien. Ia hanya Rayhan, seorang pria yang takut kehilangan seseorang yang sangat berarti baginya.

Ruangan itu terasa semakin sunyi seiring malam yang merambat. Perawat datang sesekali memeriksa tekanan darah dan mengganti cairan infus, lalu pergi lagi. 

Rayhan tetap duduk di tempat yang sama, pakaiannya masih menempel di tubuh, kusut dan bercampur bau asap kebakaran. Ia bahkan belum sempat pulang. Ponselnya sempat bergetar, pesan dari ayah dan ibunya yang terus menanyakan kondisi Samira. Ia membalas singkat, berusaha terdengar tenang, lalu kembali menatap perempuan di hadapannya.

“Kau harus lekas membaik,” ucapnya pelan, seolah Samira bisa mendengar. “Ada banyak orang yang mengkhawatirkan keadaanmu.”

Waktu berjalan lambat baginya. Rayhan mengusap punggung tangan Samira dengan ibu jarinya, mencoba memberikan kehangatan. Ia memperhatikan setiap napasnya, setiap perubahan kecil pada monitor, seolah hidup Samira bergantung pada seberapa awas ia menatap. 

Sampai akhirnya, menjelang dini hari, jemari Samira bergerak pelan. Gerakan tangan yang kecil, tetapi cukup membuat jantung Rayhan berdegup kencang.

Ia langsung mendekat. “Samira? Kau bisa mendengar suaraku, kan?”

Kelopak mata perempuan itu mengerjap, lalu perlahan terbuka. Tatapannya sempat kosong, seperti orang yang tersesat di antara mimpi dan kenyataan, sebelum akhirnya fokus pada wajah Rayhan. Butuh beberapa detik sampai ia benar-benar sadar.

“Ray … Rayhan?” panggilnya dengan suara serak dan lemah, matanya mengedip pelan, menatap sosok pria itu. 

Rayhan tersenyum tipis. “Ya, ini aku. Bagaimana kondisimu? Apa kau merasa lebih baik? Syukurlah kau sudah sadar,” katanya bernapas lega. 

Samira mencoba tersenyum meski wajahnya masih pucat. “Aku baik-baik saja. Bagaimana dengan keadaan mereka? Mereka selamat, kan?” tanyanya mengkhawatirkan Larissa dan juga Alya. 

“Mereka berhasil diselamatkan, tapi kau … kau hampir membuatku terkena serangan jantung,” balas Rayhan, setengah bercanda untuk menutupi gemetar di suaranya.

Samira menatap langit-langit sebentar sebelum kembali menoleh padanya. “Syukurlah, semuanya sudah berakhir.”

“Ya, semuanya sudah berakhir,” lirih Rayhan, menggenggam tangan Samira dengan lebih erat, seolah takut kehilangan perempuan itu. 

Bahu Samira langsung mengendur, seolah beban besar yang selama ini ia pikul akhirnya dilepaskan. Air mata tipis mengalir di pelipisnya. “Aku sudah menang, kan?” bisiknya pelan.

Rayhan menatapnya lama. “Iya. Kau menang. Dan kau berhasil bertahan. Itu yang paling penting.”

Ia menyeka air mata Samira dengan tisu, lalu menggenggam tangannya lagi. Kali ini genggaman itu terasa sedikit lebih hangat. “Sekarang tugasmu hanya istirahat agar lekas pulih. Biar aku yang mengurus semuanya,” katanya lembut.

Samira menatapnya dengan kepercayaan yang jarang ia tunjukkan pada siapa pun. “Terima kasih, Ray. Terima kasih sudah datang ke kehidupanku dan membantuku.”

Rayhan tersenyum kecil. “Aku selalu ada bersamamu, Samira. Hanya kau saja yang terlalu keras kepala untuk meminta bantuanku. Kau terlalu keras kepala hingga nekat mempertaruhkan hidupmu sendiri.”

Tawa pelan keluar dari bibir Samira, lemah tetapi tulus. Matanya perlahan terpejam kembali, kali ini bukan karena pingsan, melainkan tidur yang tenang. Rayhan tetap duduk di sampingnya, tidak bergerak sedikitpun, tangannya masih menggenggam jemari Samira seolah takut ia akan menghilang jika dilepaskan.

Di luar jendela, cahaya fajar mulai merayap masuk, mengusir gelap malam yang panjang. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Rayhan merasa pagi itu datang tanpa rasa takut. Dan selama Samira masih bernapas di hadapannya, ia tahu ia akan tetap di sana, menunggu di samping tempat tidur itu, apa pun yang terjadi.

“Aku mencintaimu, Samira. Dan akan selalu seperti itu,” gumamnya pelan seraya menatap wajah Samira yang tertidur dengan tenang. 

1
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Sekarang hanya kebahagiaan yg akan menghampirimu Samira 😔
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
omooo.. sejak kapan ray?
HK: Sejak ...
total 1 replies
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
karepmu
HK: 🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Astiana 💕
baru 20 bab masa dah tamat, cerpen kah🙏
HK: /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
cinta semu
jgn bilang kayak film India ,,setelah musuh ny mati ,,,polisi ny datang 🤣🤣
HK: Kak 🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
cinta semu
q lebih suka cepat tamat .. daripada lama sampai bab ny banyak tamat kagak malah di gantung iya ...🤣🤣yg penting kn happy. ending 💪
HK: Betul 🤭🤭🤭
total 1 replies
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
lanjut dong 🤭
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Semoga berjodoh dengan Rayhan 🤭
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Kisah Wanita hebat 👍🏻👍🏻👍🏻
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
itu karmamu 😔
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
apa mereka akan mati bersama..?
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
terlambat 😔
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Good job Samira 👍🏻
Siti Siti Saadah
pertarungan yg cukup tegang samira punya dokter reyhan kenapa ngga bantu cari cara melawan arga
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Kamu yg akan tertipu 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Dasar orang gila 😏
Rosmayanti 80
dikit se x update nya trs LM pula update 🙏😄🤭
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
dikit ihh
HK: Ngejar target Nyak 🤣
total 1 replies
Siti Siti Saadah
arga ternyata sungguh terlalu
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
jahat sekali kamu Arga 😣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!