Shen Kuo Yu, bilioner wanita yang tewas di puncak kejayaannya karena kebocoran jantung, ia terbangun di tubuh Liu Xiao Xiao- gadis malang yang disiksa oleh keluarga angkatnya. Takdir pahit menantinya. Ia dipaksa menggantikan saudari tiri nya untuk menjadi pengantin pengganti dan menikahi Pangeran Keempat yang konon buruk rupa dan berhati kejam.
Shen Kuo Yu akan menaklukan Pangeran itu dan menjadikan nya bidak untuk membalas dendam pada Keluarga Liu yang memperlakukan nya seperti binatang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANWi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15 : Bersiap
Setelah mengatakan itu, Pangeran pergi membawa kain putih. Ia akan mandi.
Xiao Xiao bangun perlahan, menyadari selimut sutra tebal menutupi tubuhnya. Ia menoleh ke arah meja kerja. Kursi besar itu kosong.
"Nona? Anda sudah bangun?" suara bisikan Mao terdengar dari balik pintu yang sedikit terbuka.
Mao masuk dengan langkah berjinjit, membawa nampan berisi pakaian bersih. Wajah pelayan itu tampak jauh lebih tenang setelah tidur di kamar belakang semalam. "Pangeran meminta saya menyiapkan air mandi untuk Anda di pemandian dalam, Nona. Beliau bilang, bau asap di rambut Anda bisa merusak selera makannya pagi ini."
Xiao Xiao mendengus kecil. "Lelaki itu selalu punya cara yang kasar untuk bersikap perhatian."
Xiao Xiao melangkah menuju ruang pemandian yang terletak di bagian belakang paviliun. Ruangan itu luas, dengan uap air panas yang membubung tinggi dari kolam batu alam. Setelah beberapa hari hanya mengandalkan air dingin yang menyiksa di kediaman Liu, sentuhan air hangat ini terasa seperti kemewahan yang tak ternilai.
Ia menanggalkan hanfu merahnya yang kotor dan robek karena insiden kebakaran semalam. Perlahan, ia menenggelamkan tubuhnya ke dalam air yang bertabur kelopak bunga kering. Ia memejamkan mata, membiarkan rasa lelah dari otaknya mengalir keluar. Pikirannya kembali pada data pajak wilayah Barat yang ia bedah semalam. Korupsi itu sudah berakar, dan Permaisuri memegang kendalinya. Aku butuh lebih dari sekadar ramuan kecantikan untuk memenangkan permainan ini, batinnya.
Setelah merasa cukup, Xiao Xiao bangkit dari kolam. Ia meraih kain pembersih dan mulai mengeringkan tubuhnya. Namun, saat ia hendak meraih pakaian barunya di balik tirai sutra yang membatasi ruang ganti, ia mendengar suara percikan air dari sisi kolam yang lebih dalam, tersembunyi di balik pilar besar.
Penasaran, Xiao Xiao melangkah tanpa suara. Ia mengira itu adalah Mao yang kembali untuk membantunya. Namun, begitu ia mengintip dari balik tirai, napasnya tertahan.
Di sana, di bawah pancuran air dingin yang mengalir dari dinding batu, berdiri Pangeran Wang Zhi Chen. Pangeran itu sedang memunggungi Xiao Xiao. Topeng peraknya diletakkan di pinggir kolam, membiarkan wajahnya terkena air sepenuhnya.
Xiao Xiao tertegun. Pemandangan di depannya benar-benar di luar dugaannya. Pangeran yang selama ini ia kenal hanya lewat jubah hitam besarnya, kini berdiri tanpa sehelai benang pun di bagian atas. Tubuhnya kekar, dengan otot-otot punggung yang kuat dan tegas, terbentuk dari latihan bertahun-tahun di medan perang.
Namun, yang membuat hati Xiao Xiao sedikit berdenyut adalah banyaknya bekas luka yang menghiasi punggung itu. Ada luka sabetan pedang yang panjang, bekas tusukan panah, dan beberapa tanda permanen dari luka bakar yang sudah mengering. Luka-luka itu bukan cacat di mata Xiao Xiao. itu adalah peta perjalanan seorang lelaki yang sudah berkali-kali menantang maut demi negaranya, hanya untuk dibuang oleh keluarganya sendiri setelah fisiknya tak lagi sempurna.
Zhi Chen tiba-tiba mematikan aliran air dan memutar tubuhnya. Xiao Xiao tersentak, namun terlambat untuk bersembunyi. Mata mereka bertemu.
Zhi Chen berdiri tegak dengan air yang menetes dari dada bidangnya yang berotot. Ia tidak tampak malu, melainkan hanya menatap Xiao Xiao dengan dingin. "Apakah melihat tubuh suamimu masuk dalam bagian dari 'kesepakatan' kita, Xiao Xiao?"
Wajah Xiao Xiao memanas, namun ia tidak memalingkan wajah. Jiwa Shen Kuo Yu di dalamnya terlalu kuat untuk sekadar tersipu malu seperti gadis pinggiran. Ia menatap bekas luka di dada pangeran itu dengan tatapan menilai.
"Luka-luka itu... pasti sangat sakit saat Anda mendapatkannya," ujar Xiao Xiao dengan suara jernih, mengabaikan fakta bahwa ia sedang memandangi tubuh pria telanjang dada.
Zhi Chen terdiam. Ia meraih jubah mandinya dan memakainya dengan gerakan cepat, menutupi kembali "monster" di balik pakaiannya. "Rasa sakit adalah guru terbaik, Nona Liu. Sekarang, pakailah pakaianmu. Sarapan sudah disiapkan. Aku tidak suka menunggu orang yang lamban."
Beberapa saat kemudian, mereka duduk berhadapan di meja makan paviliun utama. Menu pagi itu jauh lebih mewah daripada apa pun yang pernah dilihat Xiao Xiao di paviliunnya sendiri. Ada bubur ayam dengan taburan jahe segar, roti kukus yang lembut, dan teh hijau kualitas terbaik.
Mao berdiri di sudut ruangan, tampak senang melihat Nona-nya akhirnya bisa makan dengan layak. Xiao Xiao makan dengan tenang, namun matanya terus memperhatikan Zhi Chen yang hanya mengaduk tehnya tanpa menyentuh makanan.
"Makanlah, Pangeran," ujar Xiao Xiao. "Anda butuh energi untuk menghadapi Kasim Li yang mungkin akan pingsan saat melihat saya masih hidup beberapa jam lagi."
Zhi Chen meletakkan cangkir tehnya. "Kau tampak sangat tenang untuk seseorang yang rumahnya baru saja dibakar. Apakah kau tidak takut mereka akan mengirim pembunuh yang lebih ahli malam ini?"
Xiao Xiao menelan buburnya perlahan. "Takut tidak akan memadamkan api, Pangeran. Lagipula, mereka sudah melakukan kesalahan besar dengan membiarkan saya tetap hidup. Sekarang, saya punya alasan sah untuk tinggal di paviliun Anda. Bukankah lebih mudah bagi kita untuk menyusun rencana jika kita berada di bawah satu atap?"
Zhi Chen menyipitkan mata. "Kau benar-benar menggunakan insiden kebakaran ini untuk mendekatiku secara resmi?"
"Anggap saja ini sebagai 'penggabungan aset'," jawab Xiao Xiao tenang. "Paviliun saya terbakar, tapi pengetahuan saya tentang memorial pajak semalam adalah modal yang jauh lebih berharga. Saya sudah menemukan cara untuk mengembalikan aliran dana Anda tanpa harus meminta pada Kaisar."
Zhi Chen mencondongkan tubuhnya ke depan, tangannya yang besar mengetuk meja. "Bagaimana caranya?"
"Ganti rugi," Xiao Xiao tersenyum tipis. "Sebentar lagi, kita akan mengundang Permaisuri dan Kaisar untuk melihat puing-puing paviliun saya. Saya akan berakting sebagai pengantin yang trauma dan 'kehilangan' barang hantaran berharga pemberian Jenderal Liu di dalam api tersebut. Padahal, kita tahu semua barang itu palsu. Tapi di depan Kaisar, kita akan mengklaim itu adalah emas murni."
Zhi Chen tertegun sejenak, lalu tawa rendah yang jarang terdengar keluar dari mulutnya. "Kau ingin menipu ayahku sendiri dengan memanfaatkan kebakaran yang dilakukan istrinya?"
"Ini bukan menipu, Pangeran. Ini hanya meminta kompensasi atas kerugian moril," sahut Xiao Xiao santai.
Tiba-tiba, suara langkah kaki terburu-buru terdengar dari halaman luar paviliun. Seorang penjaga masuk dan berlutut dengan napas terengah.
"Lapor, Pangeran! Kasim Li dan beberapa tabib istana telah tiba di gerbang. Mereka mengatakan membawa pesan duka cita dari Permaisuri atas kebakaran di Paviliun Teratai Hitam!"
Xiao Xiao meletakkan sumpitnya dengan perlahan. Ia merapikan rambutnya dan menatap Zhi Chen. "Pertunjukan dimulai. Pangeran, tolong tunjukkan wajah Anda yang paling 'berduka' dan 'marah'. Biarkan saya yang menangani sisanya."
Zhi Chen bangkit berdiri, mengenakan kembali topeng peraknya yang dingin. Aura kebengisannya kembali muncul seketika. "Lakukan sesukamu, Xiao Xiao. Aku ingin melihat sejauh mana lidahmu bisa menjerat mereka."
Xiao Xiao berdiri di samping suaminya, menatap gerbang paviliun dengan sorot mata yang tajam. Ia tidak lagi lapar, ia kini haus akan pembalasan.
***
Happy Reading❤️
Mohon Dukungan
● Like
● Komen
● Subscribe
● Ikuti Penulis
Terimakasih ^_^ ❤️