NovelToon NovelToon
Ruang Ajaib Gadis Desa Memikat Pangeran Yogyakarta

Ruang Ajaib Gadis Desa Memikat Pangeran Yogyakarta

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Bertani / Ruang Ajaib / Reinkarnasi / Fantasi Wanita / Balas Dendam
Popularitas:14.5k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Sekar Wening hidup sebagai gadis desa terbuang yang kelaparan di gubuk bocor dilereng bukit Menoreh. Ia dianggap pembawa sial, tak berguna, tak diinginkan.

Tak ada yang tahu, jiwanya adalah seorang profesor biohayati jenius yang mati dalam ledakan laboratorium.

Saat tanda lahir di jari manisnya bersinar, sebuah ruang ajaib terbuka. Tanah surga, air kehidupan, dan takdir baru menantinya. Dari gadis hina menjadi wanita yang mengguncang desa hingga Keraton, Sekar bersiap membalikkan nasib, dan tanpa ia sadari, di tengah kebangkitannya, hati seorang Pangeran Yogyakarta mulai terpikat padanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sang Konsultan yang Skeptis

Debu kapur putih mengepul rendah, tersapu angin kering yang berhembus dari celah bukit Menoreh. Siang itu, matahari seolah menaruh dendam pada Kulon Progo. Panasnya tidak hanya membakar kulit, tapi juga membuat pandangan mata sedikit beriak karena fatamorgana di atas aspal jalan desa yang tak rata.

Di kaki "Bukit Kematian", Sekar Wening menyeka lehernya dengan ujung lengan kaos lusuhnya. Ia baru saja selesai mengecek sambungan pipa bambu terakhir di undakan ketiga. Kulitnya yang dulu putih pucat khas orang sakit-sakitan, kini mulai memerah terpapar sinar UV.

"Non, istirahat dulu. Sudah adzan Dzuhur," suara Pak Man terdengar dari gubuk peristirahatan sementara—sebuah terpal biru yang disangga empat tiang bambu seadanya.

Sekar mengangguk pelan. Namun, belum sempat ia melangkah, deru mesin halus namun bertenaga memecah keheningan desa yang biasanya hanya diisi suara jangkrik siang dan kokok ayam.

Sebuah mobil SUV hitam mengkilap, jenis yang harganya mungkin setara dengan gabungan harga rumah satu RT di desa ini, merayap pelan menaiki jalan berbatu menuju lahan Sekar. Ban besarnya melindas kerikil kapur tanpa ampun, menciptakan bunyi krak-krak yang mengintimidasi.

Sekar menyipitkan mata. Jantungnya berdegup bukan karena takut, tapi karena ia mengenali pelat nomor itu.

Mobil berhenti tepat di samping tumpukan bibit yang belum ditanam. Pintu pengemudi terbuka.

Aryasatya turun.

Tidak ada sopir. Pengusaha muda itu menyetir sendiri.

Hari ini, dia tidak mengenakan batik resmi seperti saat pertemuan di restoran. Arya mengenakan kemeja linen putih yang lengannya digulung hingga siku, celana chino warna khaki, dan sepatu boots kulit yang terlihat mahal. Di lehernya, tergantung sebuah kamera DSLR dengan lensa lebar.

Tampilannya menjeritkan aura "orang kota kaya yang sedang berpetualang", kontras sekali dengan lanskap gersang dan berdebu di sekelilingnya.

"Sugeng siang, Mas Arya," sapa Sekar. Ia berusaha membersihkan tangannya yang penuh debu kapur ke celana panjangnya, sebuah gestur refleks gadis desa yang canggung menghadapi klien VIP.

Arya melepas kacamata hitamnya, menggantungkannya di saku kemeja. Tatapannya tajam, menyapu sekeliling. Tidak ada senyum ramah tamah bisnis kali ini. Wajahnya datar, analitis.

"Selamat siang, Sekar," balas Arya singkat. Suaranya bariton, tenang namun menuntut jawaban. "Saya kebetulan sedang meninjau proyek di kecamatan sebelah. Saya pikir sekalian mampir untuk melihat lahan mitra baru saya."

Ini inspeksi mendadak.

Sekar tahu tipe orang seperti ini. Dalam dunia bisnis, kunjungan tanpa pemberitahuan adalah cara paling efektif untuk melihat "dapur" yang sebenarnya. Arya tidak ingin melihat sandiwara yang dipersiapkan. Dia ingin melihat realita.

"Silakan, Mas. Maaf tempatnya berantakan, baru mulai pengolahan tanah," jawab Sekar, mempertahankan nada suaranya agar tetap terdengar lugu dan sopan, meski otak profesornya bersiaga penuh.

Arya melangkah mendekati bibir bukit. Ia tidak jijik pada debu yang mulai menempel di sepatu mahalnya. Ia justru berjongkok, mengambil segenggam tanah kapur yang kering kerontang.

Tanah itu hancur menjadi debu putih di sela-sela jari Arya yang bersih.

"Ini lahannya?" tanya Arya tanpa menoleh.

"Inggih, Mas. Ini lahan yang saya beli kemarin," jawab Sekar.

Arya berdiri, menepuk tangannya membersihkan debu, lalu berbalik menatap Sekar. Ada kilatan ketidakpercayaan di matanya. Sebagai lulusan Ekonomi yang mendalami agribisnis, Arya paham betul korelasi antara kualitas tanah dan hasil panen.

"Sekar," Arya memanggil namanya dengan nada yang sedikit lebih berat. "Kamu mengirimkan sampel beras Oryza sativa varietas premium ke saya. Bulirnya utuh, aromanya wangi pandan alami, dan teksturnya pulen sempurna. Itu beras kualitas grade A plus."

Arya menunjuk hamparan tanah kapur di belakangnya dengan dagu.

"Dan kamu mau bilang, beras semewah itu akan tumbuh di tumpukan batu kapur ini?"

Angin panas berhembus di antara mereka, menerbangkan helai rambut Sekar yang keluar dari ikatan.

Sekar bisa melihat logika Arya bekerja. Pria ini bukan investor bodoh yang hanya tahu terima beres. Dia punya pengetahuan. Dan pengetahuan itu sekarang sedang menyerang kredibilitas Sekar.

"Tanah ini memang terlihat tandus, Mas. Tapi dengan perlakuan yang tepat..."

"Perlakuan seperti apa?" potong Arya cepat. Ia melangkah maju satu tapak, mengikis jarak di antara mereka. Tatapannya mengintimidasi, namun bukan dengan amarah, melainkan dengan skeptisisme rasional.

"Secara geologis, tanah ini didominasi kalsium karbonat. pH-nya basa, miskin unsur hara makro," Arya menyebutkan istilah itu dengan fasih, membuat alis Sekar sedikit terangkat. Konsultan ini benar-benar belajar pertanian, bukan cuma jual omongan. "Tanah ini bahkan sulit menahan air. Menanam singkong saja mungkin kurus, apalagi padi premium yang butuh irigasi konstan."

Arya menghela napas, seolah kecewa. Ia mengangkat kameranya, membidik lanskap gersang itu. Cekrek. Suara shutter kamera terdengar tajam.

"Saya tidak suka ketidakjujuran dalam bisnis, Sekar," ucap Arya sambil melihat hasil foto di layar kecil kameranya. "Banyak suplier yang mencoba menipu saya. Mereka bilang punya lahan sendiri, padahal mereka hanya pengepul yang membeli beras dari petani lain, lalu dikemas ulang dan dijual mahal."

Tuduhan itu menggantung di udara. Halus, tapi menusuk.

Arya menduga Sekar adalah makelar. Gadis desa miskin yang entah bagaimana mendapatkan beras enak, lalu berpura-pura menjadi petani sukses untuk mendapatkan kontrak. Tanah gersang ini hanyalah kedok agar terlihat punya aset.

Di dalam benak Sekar, Sang Profesor tersenyum dingin. Analisis yang logis, Tuan Konsultan. Tapi sayangnya, variabel Anda kurang lengkap.

Namun, yang keluar dari mulut Sekar adalah suara gadis 18 tahun yang terdengar sedikit gemetar karena "takut" dituduh.

"Mboten, Mas. Demi Allah, saya tidak beli dari orang lain," Sekar menunduk sedikit, memainkan ujung kaosnya. "Beras yang kemarin itu... itu hasil panen percobaan dari petak kecil di belakang rumah. Bibitnya memang bibit unggul peninggalan Almarhum Kakek."

"Dan kamu yakin bisa mereplikasi hasil itu di sini? Di bukit batu ini?" Arya menuntut kepastian. Matanya menatap tajam ke manik mata Sekar, mencari kebohongan.

Sekar mengangkat wajahnya. Ia memberanikan diri menatap balik mata elang Arya. Ada keteguhan yang aneh di mata gadis desa itu, sesuatu yang membuat Arya tertegun sejenak. Itu bukan tatapan orang yang bersalah, itu tatapan seseorang yang yakin pada datanya sendiri.

"Tanah itu seperti manusia, Mas Arya," jawab Sekar pelan. "Dia bisa sakit, dia bisa mati rasa. Tapi kalau kita tahu obatnya, kalau kita tahu cara merawatnya, dia akan membalas budi berkali-kali lipat."

Sekar berbalik, berjalan menuju instalasi bambu yang diejek Bu Tejo kemarin.

"Mas Arya lihat ini?" Sekar menunjuk pipa bambu yang meliuk-liuk menuruni bukit. "Orang desa sini bilang saya gila. Mereka bilang air akan hilang ditelan bumi. Tapi bambu ini menjaga air tetap dingin dan menetes langsung ke akar, tidak menguap kena matahari."

Arya terdiam. Ia mendekat, mengamati instalasi itu lebih detail.

Sebagai fotografer, ia punya mata yang peka terhadap detail visual. Ia melihat bagaimana bambu-bambu itu disambung dengan presisi yang mengejutkan. Sudut kemiringannya dihitung rapi. Lubang-lubang tetesnya memiliki jarak yang konsisten, seolah diukur dengan penggaris milimeter.

Ini bukan pekerjaan asal-asalan orang gila. Ini rekayasa teknik. Sederhana, primitif, tapi... jenius.

"Biopori," gumam Arya pelan saat melihat lubang-lubang vertikal di tanah yang tertutup sampah daun. Dia mengenali teknik itu. Jarang ada petani tradisional yang mau repot-repot melakukan ini di lahan seluas ini.

"Siapa yang mengajarimu semua ini?" tanya Arya, nada suaranya berubah. Skeptisismenya belum hilang, tapi kini bercampur dengan rasa penasaran yang besar. "Ayahmu?"

Sekar menggeleng. "Saya baca buku, Mas. Bekas buku-buku sekolah. Dan... ya dicoba-coba saja. Titen (teliti/mengamati), kalau kata orang Jawa."

Arya menatap gadis di depannya dengan pandangan baru.

Sekar Wening berdiri di sana, dengan pakaian lusuh penuh debu kapur, kulit terbakar matahari, dan sandal jepit tipis. Tapi ide di balik lahan tandus ini melampaui apa yang dilakukan sarjana pertanian yang sering Arya temui. Gadis ini cerdas.

Namun, logika ekonomi Arya tetap menjadi benteng terakhir.

"Inovasi ini menarik, Sekar. Estetikanya juga bagus untuk foto," ujar Arya sambil kembali membidikkan kameranya ke arah Sekar yang berdiri di samping pipa bambu. Tanpa sadar, Arya membingkai gadis itu dalam komposisi rule of thirds, dengan latar belakang langit biru dan tanah putih yang kontras.

Cekrek.

Arya menurunkan kameranya. "Tapi bisnis bicara soal hasil, bukan proses yang cantik. Saya tetap ragu tanah ini bisa memenuhi kuota 1 ton per bulan yang kita sepakati."

Arya merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel pintar. Ia mengetik sesuatu di sana. Catatan digital.

"Saya akan beri kamu waktu sampai panen pertama. Saya akan kirim orang untuk mengambil sampel tanah dan air besok. Saya ingin tahu data ilmiahnya, kenapa kamu begitu yakin," kata Arya tegas. Jiwa konsultannya mengambil alih. "Kalau hasil lab menunjukkan tanah ini tidak layak, saya berhak membatalkan kontrak sepihak karena risiko gagal panen yang terlalu tinggi."

Itu ancaman nyata. Tanpa kontrak dari perusahaan Arya, posisi Sekar di mata warga desa dan keluarganya akan kembali runtuh.

Sekar tersenyum tipis, sangat tipis. Tantangan diterima.

"Silakan, Mas. Ambil sampel sesukanya. Tapi saya minta satu hal," ujar Sekar lembut namun berani.

"Apa?"

"Kalau nanti panen saya berhasil, dan kualitasnya sama dengan sampel yang Mas Arya makan kemarin..." Sekar menahan napas sejenak, membiarkan angin panas mengisi jeda itu. "Mas Arya harus mau difoto pegang hasil panen saya, untuk promosi. Foto bareng konsultan ganteng pasti bikin dagangan saya laris."

Arya terdiam, matanya sedikit membelalak. Gadis ini baru saja menggodanya? Atau murni berhitung bisnis? Sudut bibir Arya terangkat sedikit. Hampir tidak terlihat. Gadis desa ini punya nyali menawar seorang Aryasatya.

"Deal," jawab Arya singkat. "Buktikan saya salah, Sekar."

Arya berbalik menuju mobilnya. Punggungnya tegap, langkahnya pasti.

Sekar mengawasi mobil mewah itu berputar balik dengan susah payah di jalan sempit.

Saat mobil itu menjauh dan debu kembali turun mengendap, Sekar menghela napas panjang yang sejak tadi ditahannya. Kakinya terasa lemas. Berhadapan dengan Arya menguras energi mental lebih banyak daripada mencangkul seharian. Pria itu terlalu teliti untuk ukuran pengusaha biasa.

"Non Sekar..." Pak Man mendekat dengan wajah pucat. "Itu tadi Mas Arya yang juragan beras itu? Galak amat, Non. Sampai mau batalin kontrak segala."

Sekar menepuk bahu Pak Man menenangkan.

"Nggak apa-apa, Pak. Orang pintar memang begitu. Mereka butuh bukti, bukan janji," gumam Sekar.

Sekar kembali menatap tanah kapur di bawah kakinya. Arya benar soal unsur hara makro. Tanah ini secara kimiawi memang miskin.

Tapi Arya tidak memperhitungkan satu variabel anomali.

Sekar meraba saku celananya, memastikan botol kecil berisi air spiritual itu masih aman di sana.

Ilmu pengetahuan dunia ini memiliki batasan. Dan Sekar baru saja akan melanggar batasan itu tepat di bawah hidung sang Konsultan yang skeptis.

"Ayo lanjut kerja, Pak," ajak Sekar sambil meraih cangkulnya kembali.

1
Luvqaseh😘😘
mak nye pun..bodo amat...
Musdalifa Ifa
bagus Sekar pertahankan sikap tegas mu dan beri pengertian pada ibu mu walaupun itu menyakitkan nya tapi itu lebih baik daripada hidup dalam dunia halu
Leni Ani
lanjut thor,bagus sekar.kalau bapak durjanem mu iku banyak tingkah mintak tolong aja sm mas arya😅😅👍👍
Leni Ani
ndas mu prasitiyo,mana mau sekar sm kamu yg mentelantar kan nya sm ibu nua di gubuk reyo,malah nanti karir mu yg amblas😅😅😅😅👍
gina altira
jgn kasih celah Sekar,, babat habis klo bisa
Leni Ani
mantap sekar jangan mau jd alat uji coba orang lain.lebih baik kamu tambah beli tabah supaya orang tahu kerja keras mu💪💪👍👍
nur
aq kok ksel banget rsane ro ibumu sekar
Leni Ani
😅😅😅😅💪👍
sahabat pena
dia adalah pangeran.
Lala Kusumah
good job Sekar 👍👍👍💪💪💪😍😍😍
lin sya
good sekar bpk durhaka itu anak yang dibuang dan dianggep sial mau dijdiin sapi perah gk tau malu, klo mengusik viralin aj dimajalah koran biar jabatan terancam jd gembel, greget bacanya 🤭
Markuyappang
suka dengan karakter sekar tapi nggak suka dengan karakter ibunya. ibunya terlalu bodoh dan gampang banget ditipu, alasannya selalu ingin jadi keluarga yg utuh tapi nggak pernah ngelihay gimana anaknya berjuang. udah selalu diingetin tapi selalu diulangin trs menerus gak pernah berubah. kirain yg habis nyuri barang anaknya bakalan berubah eh ternyata masih sama aja masih sama sama bodoh, terlalu nurut keluarga laknat itu, terlalu takut, dan terlalu berharap. kenapa gak bisa lihat susahnya anaknya berjuang dan menderitanya anaknyaaa gegara keinginan dia coba. lama lama anak mu sendiri yg pergi gegara sikap bodohmu itu bu rahayuu
Darti abdullah
luar biasa
Leni Ani
cerita nya bagus tapi kebanyaan analisis ngak bagus jg thor,jadi analidis yg banyak cerita pemeran nya sedikit,itu jadi nya cerita pemeran dlm cerita ini kayak kasat mata🙏🏻
INeeTha: Terimakasih 🙏🙏🙏
total 1 replies
Alif
alurnya lambat readher harus sabar membacanya
Musdalifa Ifa
wow Sekar selamat ya🤝, dan untuk author juga wow ceritanya bagus 👍
nur
lanjut kan sekar
Lala Kusumah
Alhamdulillah akhirnya .... bahagianya aku 😍😍😍
gina altira
Jd tarung ga yaaaa
gina altira
Kereennnn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!