Xiao Chen kehilangan seluruh keluarganya akibat sebuah rumor tentang Buku Racun Legendaris yang sebenarnya tidak pernah ada. Keserakahan sekte-sekte besar dan para pendekar buta membuat darah tak bersalah tumpah tanpa ampun.
Dihantam amarah dan keputusasaan, Xiao Chen bersumpah membalas dendam. Ia menapaki jalan terlarang, memilih menjadi pendekar racun yang ditakuti dunia persilatan.
Jika dunia hancur karena buku racun yang tak pernah ada, maka Xiao Chen akan menciptakannya sendiri—sebuah kitab racun legendaris yang lahir dari kebencian, kematian, dan dendam abadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Perjamuan Maut
Naga Komodo Purba itu menerjang, mulutnya yang berukuran sebesar gua terbuka lebar, mengeluarkan aroma busuk yang mampu membusukkan daging dalam sekejap. Pangeran Wan He di balkon atas tertawa histeris, yakin bahwa legenda dari timur itu akan berakhir menjadi kotoran binatang peliharaannya.
Namun, Xiao Chen tetap bergeming. Saat taring naga itu hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya, ia membisikkan satu kata ke arah kabut perak yang melilitnya.
"Makan, Bai."
Seketika, kabut perak yang merupakan wujud energi Bai meledak. Ular perak kecil itu melesat masuk tepat ke dalam tenggorokan sang naga saat makhluk itu mencoba menelan Xiao Chen.
Dunia seolah berhenti berputar. Naga raksasa itu tiba-tiba membeku di tengah udara. Matanya yang merah mulai bergetar hebat, dan guratan merah api di sisiknya berubah menjadi warna perak yang berpendar dingin.
"A-apa yang terjadi?! Kenapa naga itu berhenti?!" teriak Pangeran Wan He, wajahnya berubah pucat pasi.
Dari dalam perut naga, suara desisan yang memekakkan telinga bergema. Tubuh naga raksasa itu mulai mengempis dengan kecepatan yang mengerikan, seolah-olah seluruh esensi kehidupan, daging, dan racunnya sedang disedot oleh lubang hitam di dalamnya. Sisik naga itu rontok, dan dagingnya mencair menjadi energi murni yang terhisap ke pusat tubuhnya.
KRAKK!
Ledakan energi perak menyapu seluruh ruangan labirin. Tekanan energinya begitu dahsyat hingga pilar-pilar besi di sekeliling mereka hancur menjadi debu. Pangeran Wan He dan para alkemis-nya terlempar menghantam dinding, memuntahkan darah karena tekanan aura yang melampaui akal sehat.
Di tengah ruangan, di mana naga raksasa itu tadinya berada, kini hanya tersisa gumpalan cahaya perak yang menyilaukan. Perlahan, cahaya itu memadat, membentuk siluet manusia yang anggun.
Cahaya itu meredup, dan sosok baru muncul.
Seorang wanita cantik berdiri di sana. Rambutnya panjang menjuntai berwarna perak metalik, kulitnya seputih salju dengan pola sisik transparan yang indah di pinggang dan lengannya.
Ia mengenakan gaun tipis berwarna perak yang tampak menyatu dengan kulitnya. Matanya yang berwarna ungu dengan pupil vertikal memancarkan aura yang sangat dominan—setara dengan Ranah Raja Roh tingkat puncak.
Wanita itu adalah Bai. Setelah memakan esensi naga purba dan ribuan liter stimulan racun kekaisaran, ia akhirnya berhasil mencapai evolusi tertinggi: wujud manusia.
Bai tidak melirik ke arah musuh yang ketakutan di balkon. Matanya hanya tertuju pada Xiao Chen. Dengan langkah yang anggun namun penuh penekanan, ia berjalan mendekati Xiao Chen.
Setiap langkahnya membuat lantai batu di bawahnya membeku dan pecah. Begitu sampai di depan Xiao Chen, Bai tiba-tiba menjatuhkan dirinya, berlutut dan memeluk pinggang Xiao Chen dengan posesif.
Ia menyandarkan kepalanya di dada Xiao Chen, menghirup aroma racun dari tubuh tuannya dengan ekspresi yang hampir gila karena cinta.
"Tuanku... Xiao Chen..." suaranya terdengar seperti melodi yang mematikan, manis namun mengandung getaran maut. "Akhirnya aku bisa memelukmu dengan tangan ini. Aku tidak akan pernah melepaskanmu... siapa pun yang mencoba menyentuhmu, akan kuhapus dari dunia ini."
Ling, yang berdiri tidak jauh dari sana, merasakan tekanan yang luar biasa dari wanita baru ini. Ia bisa merasakan obsesi yang murni dan mengerikan dari Bai terhadap gurunya.
Xiao Chen hanya mengelus rambut perak Bai dengan tenang. "Kau tumbuh terlalu besar, Bai."
Bai mendongak, matanya berkilat penuh pemujaan. "Semua ini berkat Anda, Tuanku. Izinkan aku membersihkan serangga-serangga di atas sana untukmu."
Bai menoleh ke arah Pangeran Wan He. Senyum manisnya berubah menjadi seringai monster. Ia menghilang dalam sekejap—kecepatannya jauh melampaui apa pun yang pernah dilihat di Kekaisaran Wan.
"T-TIDAK! JANGAN MENDEKAT!" jerit Pangeran Wan He.
SRAKK! SRAKK! SRAKK!
Bukan dengan senjata, tapi dengan kuku-kukunya yang mengandung racun paling mematikan di benua itu, Bai mencabik-cabik para eksekutor alkemis seolah mereka hanyalah kertas. Dalam hitungan detik, balkon itu berubah menjadi kolam darah. Bai memegang leher Pangeran Wan He, mengangkatnya tinggi-tinggi.
"Kau ingin memberi makan tuanku pada naga rendahan itu?" Bai berbisik di telinga pangeran yang gemetar. "Maka kau akan menjadi pupuk untuk kebun racun baruku."
Bai menghembuskan uap perak tepat ke wajah Wan He. Tubuh sang pangeran tidak mencair, melainkan membeku menjadi kristal perak yang kemudian hancur berkeping-keping saat Bai melepaskannya.
Setelah selesai, Bai kembali ke sisi Xiao Chen dalam sekejap, kembali memeluk lengannya dengan erat, seolah-olah ia adalah harta paling berharga di jagat raya. "Semua sudah bersih, Tuanku. Haruskah kita meratakan istana di atas sana sekarang?"
Xiao Chen menatap ke atas, ke arah lubang yang menuju ke istana Kaisar. Dengan murid berbakat di satu sisi dan selir racun yang sangat kuat dan obsesif di sisi lain, ia tahu bahwa Kekaisaran Wan baru saja memulai malam terpanjang dalam sejarah mereka.
"Istana hanyalah permulaan, Bai. Aku ingin seluruh kekaisaran ini tahu bahwa maut telah menemukan ratunya."
Silat Nusantara • Kultivasi • Dunia Purba • Dimensi
MC tidak naif.
Kekuatan dibangun dari raga, napas, dan kehendak.
👉 Jika suka progres nyata & cerita panjang,
jangan lupa favorit & komentar.