NovelToon NovelToon
TAHTA YANG DICURI

TAHTA YANG DICURI

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:99
Nilai: 5
Nama Author: Wahidah88

Menceritakan tentang Baskara, seorang cowok yang berencana merebut kembali perusahaan milik mendiang sang ibu.

Setelah sang ayah menikah lagi, perusahaan tersebut kini dikuasai oleh Sarah, ibu tiri Baskara. Tak terima dengan keputusan ayahnya, Baskara pun merencanakan balas dendam. Ia berusaha mendekati Sarah.

Di luar prediksi, Baskara justru terpikat pada Alea, anak yang dibesarkan oleh Sarah. Lantas, bagaimana akhir rencana balas dendam Baskara?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DI ANTARA SAMPAH DAN AMBISI

​Bau busuk dari tumpukan sampah yang membusuk dan air got yang menggenang menyambut Baskara dan Alea saat mereka memasuki kawasan padat penduduk di Tambora. Jakarta Barat pada pukul dua dini hari adalah labirin yang tidak ramah. Di sini, cahaya neon dari gedung-gedung pencakar langit Mahardika Group di pusat kota hanya tampak seperti bintang-bintang palsu yang tak terjangkau.

​Alea menarik jaket hoodie gelapnya lebih rapat. Kakinya yang hanya beralaskan sandal jepit murah pemberian Reno terasa lengket oleh lumpur hitam jalanan. Ia melihat ke sekeliling; anak-anak kecil tidur di atas tikar plastik di depan pintu bedeng, dan para pria duduk melingkar sambil merokok dalam diam, menatap mereka dengan tatapan penuh selidik.

​"Jangan menunduk," bisik Baskara di sampingnya. Ia mengenakan topi bisbol yang menutupi sebagian wajahnya. "Jika kau terlihat takut, mereka akan tahu kita tidak berasal dari sini."

​"Aku tidak takut, Baskara. Aku hanya... mual," sahut Alea jujur. "Bagaimana mungkin ada tempat seperti ini hanya berjarak sepuluh kilometer dari rumah kita?"

​Baskara terkekeh pahit, suaranya pelan. "Rumah kita dibangun dengan menghisap darah tempat-tempat seperti ini, Alea. Tanah ini dulunya adalah pemukiman buruh Suryakencana yang digusur paksa oleh ayahku demi memperluas gudang Mahardika."

​Langkah mereka terhenti di depan sebuah bangunan semi-permanen yang miring ke satu sisi, terbuat dari triplek bekas dan spanduk kampanye yang sudah pudar. Sesuai koordinat Reno, di sinilah Handoko Sulistyo—pria yang dulunya merupakan salah satu pengacara paling disegani di Jakarta—menghabiskan masa tuanya dalam persembunyian.

​Baskara mengetuk pintu kayu yang rapuh itu. Tidak ada jawaban. Ia mengetuk lagi, kali ini lebih keras.

​"Pergi! Saya tidak punya uang lagi!" terdengar suara parau dan gemetar dari dalam.

​"Tuan Handoko, ini bukan soal uang," ujar Baskara dengan nada rendah namun otoriter. "Saya membawa seseorang yang ingin Anda temui. Seseorang yang memiliki mata yang sama dengan Adrian Arkananta."

​Hening sejenak. Suara gesekan kursi terdengar, diikuti bunyi selot pintu yang dibuka perlahan. Seorang pria tua dengan rambut putih yang tidak teratur dan pakaian lusuh mengintip dari celah pintu. Matanya yang cekung membelalak saat melihat Alea yang berdiri di bawah cahaya lampu jalan yang berkedip.

​Handoko jatuh terduduk di ambang pintunya, air mata langsung mengalir di pipinya yang keriput. "Nona... Nona Alea? Ini benar-benar Anda?"

​"Dia tahu namaku," bisik Alea pada Baskara, suaranya tercekat.

​Baskara segera mendorong mereka masuk ke dalam ruangan sempit yang pengap itu dan mengunci pintu. Ruangan itu penuh dengan tumpukan koran lama dan botol minum plastik. Di atas meja kayu kecil, terdapat sebuah tas ransel yang sudah dipak—bukti bahwa Handoko memang bersiap untuk melarikan diri malam ini.

​"Maafkan saya, Nona... Maafkan saya," Handoko mencoba bersujud di depan kaki Alea, namun Alea menahannya dengan tangan gemetar.

​"Kenapa Anda minta maaf?" tanya Alea. "Ceritakan pada saya. Apa yang terjadi dengan ayah saya?"

​Handoko mendongak, wajahnya dipenuhi penyesalan yang mendalam. "Ayah Anda adalah pria yang sangat baik. Tapi dia terlalu percaya pada Baskoro. Malam itu, sebelum kecelakaan terjadi, Tuan Adrian memanggil saya. Dia menemukan bahwa Sarah sedang mengalihkan dana perusahaan ke rekening pribadi di luar negeri. Dia ingin saya menyiapkan dokumen gugatan cerai dan pencabutan hak kuasa Sarah atas Suryakencana."

​Baskara menyipitkan mata. "Jadi Sarah tahu dia akan didepak?"

​"Dia tahu segalanya sebelum itu terjadi," isak Handoko. "Dia mengancam keluarga saya. Dia bilang jika saya tidak mengubah surat wasiat Tuan Adrian dan menyatakan bahwa seluruh aset dialihkan ke Mahardika Group sebagai pelunasan hutang, istri dan anak saya tidak akan pernah ditemukan. Saya pengecut... saya mengkhianati sahabat saya sendiri demi keselamatan keluarga saya."

​Handoko merogoh ke dalam tumpukan koran di sudut ruangan dan menarik sebuah amplop cokelat yang tersegel plastik. "Saya menyimpannya selama tiga puluh tahun. Dokumen asli. Wasiat yang menyatakan bahwa 60% saham Suryakencana—yang sekarang menjadi aset inti Mahardika—adalah milik Alea Arkananta saat dia berusia 21 tahun. Dan tanda tangan Sarah di surat pengalihan aset itu... itu palsu. Saya yang memalsukannya di bawah todongan senjata."

​Baskara menerima amplop itu. Tangannya sedikit gemetar. Ini adalah bukti fisik yang ia butuhkan untuk meruntuhkan seluruh imperium ayahnya. Namun, di saat yang sama, ia mendengar suara decit ban mobil di luar.

​Sreeeeeet!

​Baskara mengintip dari celah jendela triplek. Dua mobil SUV hitam yang sangat ia kenali baru saja berhenti di ujung gang. Anak buah Sarah.

​"Mereka di sini," ujar Baskara tenang, namun nadanya dingin. "Reno, kau mendengarku? Mereka melacak Handoko lebih cepat dari dugaan kita."

​"Aku sedang mencoba meretas lampu jalan untuk memadamkan blok itu, Bas! Beri aku sepuluh detik!" suara Reno terdengar panik di telinga Baskara.

​"Handoko, ikut kami sekarang juga," perintah Baskara.

​"Tidak!" Handoko menggeleng kuat-kuat. "Saya sudah terlalu tua untuk lari. Saya akan menahan mereka. Bawa dokumen itu, Nona Alea. Gunakan itu untuk mengambil kembali apa yang menjadi hak Anda. Itu satu-satunya cara saya bisa mati dengan tenang."

​"Tuan Handoko, jangan—" Alea mencoba menarik pria itu, tapi suara pintu depan yang didobrak keras menghentikannya.

​BRAKK!

​Lampu jalan tiba-tiba padam. Seluruh blok tenggelam dalam kegelapan total.

​"Lari melalui pintu belakang, Alea! Jangan menoleh!" Baskara menarik Alea menuju jendela belakang yang sempit. Ia membantu gadis itu melompat keluar, lalu ia sendiri menyusul tepat saat suara tembakan pertama terdengar di dalam gubuk Handoko.

​Alea menjerit tertahan, namun Baskara membungkam mulutnya. Mereka berlari menembus kegelapan, melewati tumpukan sampah dan gang-gang sempit yang becek. Di belakang mereka, teriakan para pengejar dan gonggongan anjing liar menyatu menjadi kekacauan yang mengerikan.

​"Handoko... mereka akan membunuhnya, kan?" tanya Alea sambil terus berlari, napasnya terasa seperti api di tenggorokannya.

​Baskara tidak menjawab. Ia tahu jawabannya. Sarah tidak akan membiarkan Handoko bernapas satu menit pun setelah rahasia itu keluar.

​Saat mereka mencapai pinggir jalan raya yang sepi, sebuah mobil sedan tua yang dikendarai Reno meluncur dengan cepat dan berhenti tepat di depan mereka. Mereka melompat masuk, dan Reno langsung menginjak gas, meninggalkan kawasan Tambora yang kini dipenuhi sirine polisi.

​Di kursi belakang, Alea memeluk amplop cokelat itu erat-erat ke dadanya. Ia tidak menangis lagi. Rasa takutnya kini telah berevolusi menjadi sesuatu yang jauh lebih tajam dan dingin. Ia menatap Baskara yang duduk di sampingnya, sedang memeriksa isi dokumen tersebut dengan bantuan lampu ponsel.

​"Sekarang kita punya buktinya," ujar Baskara pelan.

​Alea menatap keluar jendela, ke arah lampu-lampu kota yang berkilauan. "Buktinya dibayar dengan nyawa Handoko. Dan mungkin orang tua saya juga."

​Ia menoleh ke arah Baskara, matanya berkilat di kegelapan kabin mobil. "Baskara, ajari aku cara menggunakan ini. Jangan lagi memperlakukanku sebagai beban atau target. Jika kita akan menghancurkan mereka, aku ingin menjadi orang yang menarik pelatuknya."

​Baskara menurunkan ponselnya, menatap Alea dengan rasa hormat yang baru. "Kau tidak perlu belajar lagi, Alea. Kau baru saja melakukannya."

​Mobil itu melaju kencang menuju tempat persembunyian baru, sementara di gedung pusat Mahardika, Sarah berdiri di balkon lantai teratas, menatap kegelapan kota, menyadari bahwa bayangan masa lalunya kini telah menjelma menjadi badai yang siap meratakan segala yang ia bangun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!