Melia-Dimas yang bermula dari Hubungan Tanpa Status berakhir di jenjang pernikahan yang masih terlalu muda.
Takdir seolah tak membiarkan keduanya asing, setelah berpisah karena orang tua yang harus berpindah negara, mereka kembali di pertemukan dengan satu sama lain dengan perasaan yang masih sama tanpa berkurang sedikitpun.
Bagaimana kelanjutannya? Simak selengkapnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hanisanisa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Tak banyak kegiatan yang mereka lakukan berdua, hanya sesekali mengobrol di ruang tamu atau sekedar menonton tv.
Hari ini, Lia akan kembali ke asrama lagi dan harus menunggu satu pekan untuk kembali beristirahat dengan santai di apartemen.
Dimas menemani Melia berjalan menuju asrama, selama weekend kedua nya sudah banyak menghabiskan waktu berdua tapi tetap rasa nya kurang.
"Minggu depan, telepon Kakak dulu kalau mau ke apartemen ya? Biar kamu nggak berat-berat bawa barang nya" ucap Dimas setelah sampai di depan gerbang asrama.
Melia mengangguk pelan, bahkan sekarang tas nya yang lumayan berat itu ada di pundak Dimas.
"Sini tas ku, aku bawa mulai dari sini" pinta Melia membuat Dimas bergeming dan mundur selangkah sebagai penolakan.
Melia mengernyit heran. "Kakak mau antar sampai kamar? Nggak usah lah, repot Kak" ucap Melia membuat Dimas terdiam dan menghela napas.
"Jadi Kakak nggak boleh nganterin sampai depan kamar? Siapa yang ngelarang Kakak gitu hah? Berani-beraninya dia melarang ku untuk menemani istri ku sendiri" Dimas nampak geram.
Melia mengusap tengkuk nya. "Aku nggak mau bikin masalah Kak, aku mau hidup ku damai selama di asrama, makanya aku nggak mau Kakak sampai ke asrama, cukup sampai disini aja" jelas Melia dengan memelas.
Dimas menghela napas pelan, "Oke, Kakak ngalah. Tapi kalau ada apa-apa, jangan ragu buat hubungi Kakak, Kakak mau berguna Sayang, kita bukan sebatas teman masa kecil yang punya hubungan spesial, tapi kita itu suami istri"
Melia mengangguk di sertai senyuman. "Aku masuk dulu ya" pamit Melia sembari meminta kembali tas nya pada Dimas.
"Cium dulu" pinta Dimas kembali bergeming agar Melia tak menyentuh tas nya yang ada di pundak nya.
Melia terdiam mendongak menatap Dimas dengan tatapan sedikit membola.
"Kamu jarang mau cium Kakak duluan, harus Kakak duluan yang cium kamu terus, Kakak pengen rasain di cium--"
Cup
"Udah?" tanya Melia dengan pipi mulai merona.
"Itu bukan cium Lia, itu kecup singkat, bahkan Kakak nggak sempat respon"
"Bawel ih"
Melia kembali mendekatkan bibir nya ke bibir Dimas, dan kembali mencium bibir Dimas dengan durasi sedikit lama.
Dimas tersenyum dan segera mendekap Melia agar ciu man itu tak terlepas begitu saja.
Bibir kedua nya berpagu tan hingga Melia merasa kehabisan oksigen, ia reflek memukul dada Dimas.
"Bernapaslah Sayang" Dimas terkekeh melihat wajah merah Melia yang nampak seperti kepiting rebus dengan bibir basah.
"Lipstik alami" ujar Dimas sembari mengusap bibir Melia yang basah dan merah karena ulah nya.
Melia berdecak dan kembali memukul dada Dimas. Untung nya tak ada orang yang lewat, jadi ia tak terlalu malu.
"Siniin ih tas nya!" Melia akhirnya berhasil merebut tas nya dari Dimas yang masih menatap nya dengan senyuman.
"Balik sana ke apartemen, nanti siang kan harus kerja" usir Melia dengan nada ketus, ia ingin segera menutupi rona pipi nya.
Dimas pun tersenyum tipis. "Iya Sayang, kamu masuk duluan, tas nya langsung di buka biar nggak berat lagi" ucap Dimas di angguki patuh Melia.
Tak protes, Melia langsung pergi masuk ke dalam wilayah asrama dengan sedikit berlari kecil.
Dimas terkekeh melihat tingkah menggemaskan yang dilakukan Melia demi menutupi rona merah di pipi.
"Istri ku memang lucu" gumam nya lalu berbalik dan berjalan menuju apartemen disertai senyum yang mengingat tingkah Lia yang malu-malu.
buat yg vote, like, komen, dan meraih peringkat 1 akan aku kasih hadiah kecil-kecilan buat nambah semangat kalian supaya rajin ngegift hehe🤭