NovelToon NovelToon
Hikayat Dewa Kujang: Era 9 Surya

Hikayat Dewa Kujang: Era 9 Surya

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Penyelamat
Popularitas:138
Nilai: 5
Nama Author: Ragam 07

Di dunia Arcapada, tempat sihir kuno Nusantara berpadu dengan teknologi mesin uap, Raden Bara Wirasena hidup sebagai pangeran terbuang yang dikutuk menjadi wadah Api Garuda.

Dikhianati oleh Catur Wangsa yang korup, Bara bangkit dari debu sebagai Dewa Kujang.

Bersama putri bangsawan yang terusir dan preman berhati emas, ia memimpin Pasukan Surya untuk meruntuhkan tirani Kaisar Brawijaya VIII.

Namun, perebutan takhta hanyalah awal. Jejak ayahnya yang hilang menuntun Bara menyeberangi samudra mematikan menuju Benua Hitam, di mana ancaman kiamat yang sesungguhnya sedang menanti.

Ini adalah hikayat tentang revolusi, pengorbanan, dan pembakaran takdir demi era baru.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragam 07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19: Kota Bata Merah dan Kepala-Kepala Besi

Bab 19: Kota Bata Merah dan Kepala-Kepala Besi

Trowulan bukanlah kota mati, melainkan bangkai raksasa yang sedang digerogoti oleh ribuan belatung.

Dulu, tempat ini adalah pusat kemegahan Kemaharajaan Majapahit, di mana lantai istananya dilapisi emas dan atapnya terbuat dari perak. Namun kini, yang tersisa hanyalah labirin tembok bata merah (Terracotta) yang runtuh, jalanan berdebu yang panas, dan kanal-kanal air yang tersumbat lumpur.

Di antara reruntuhan itu, tenda-tenda kumuh para pencari harta karun berdiri semrawut. Mereka menggali tanah siang dan malam, berharap menemukan kepingan uang kepeng kuno, keramik, atau perhiasan mayat.

Bara berjalan menyusuri jalan utama bekas ibukota. Debu merah menempel di sepatu bot dan ujung jubahnya. Topeng peraknya memantulkan cahaya matahari yang terik, membuat beberapa penggali yang berpapasan dengannya menunduk takut.

"Menyedihkan," komentar Garuda, suaranya terdengar getir. "Dulu di sini berdiri Gerbang Bajang Ratu yang dijaga seribu pasukan Gajah. Sekarang lihat... hanya ada anjing liar yang kencing di pilar bersejarah."

"Semua kejayaan ada masa kadaluarsanya, Garuda," balas Bara dalam hati sambil melompati genangan lumpur. "Tugas kita bukan meratapi masa lalu, tapi mencari apa yang mereka sembunyikan."

Bara memegang dadanya. Di balik bajunya, Peti Teratai Emas bergetar semakin kencang. Arahnya jelas: Timur Laut.

Namun, langkah Bara terhenti.

Di sebuah alun-alun kecil yang dikelilingi tembok bata hancur, sekelompok pria bertubuh besar sedang membuat keributan. Mereka mengenakan pelindung bahu dari besi bekas dan helm batok yang dilukis motif tengkorak putih.

Geng Tengkorak Besi.

Mereka sedang mengepung seorang kakek tua penggali harta dan cucu perempuannya.

"Ini wilayah kami, Pak Tua!" bentak pemimpin preman itu, seorang pria dengan satu mata tertutup kain hitam dan membawa gada besi berduri. "Kau gali tanah di sini, kau bayar pajak! 80% hasil temuanmu adalah milik kami!"

"T-tapi Den... kami cuma dapat tiga keping uang bolong hari ini..." kakek itu memohon sambil memeluk cucunya yang menangis. "Kalau diambil 80%, kami makan apa?"

"Makan tanah!" Preman itu menendang keranjang si kakek.

Kepingan uang kuno berhamburan ke tanah.

Bara menghela napas panjang. "Kenapa di mana-mana selalu ada sampah seperti ini?"

Dia berniat mengambil jalan memutar. Dia sedang buru-buru. Tapi pemimpin preman itu melihatnya.

"Hei! Kau yang pakai topeng!" teriak si pemimpin. "Berhenti!"

Bara berhenti, tapi tidak menoleh.

"Kau pendatang baru, ya? Lewat jalan ini bayar pajak. Serahkan pedang di pinggangmu itu, atau kami ambil paksa bersama kepalamu."

Bara berbalik perlahan. Dia menatap pemimpin preman itu—yang bernama Suro Gada.

"Aku sedang tidak ingin membunuh orang hari ini," kata Bara tenang. "Minggir."

Suro Gada tertawa, diikuti anak buahnya. "Dengar itu? Dia tidak ingin membunuh kita! Hahaha! Sombong sekali kau, Topeng Monyet!"

Suro memberi kode. Lima anak buahnya maju mengepung Bara, menghunus parang dan kapak karatan.

"Habisi dia. Ambil topeng peraknya. Itu pasti mahal."

Seorang preman menerjang dari belakang, mengayunkan parang ke punggung Bara.

TING!

Bara tidak mencabut Kujang. Dia hanya memutar tubuhnya sedikit, membiarkan sarung Kujang Si Sulung (yang terbuat dari kayu ulin keras) menangkis parang itu.

Lalu dengan gerakan cepat, Bara menendang lutut preman itu.

KRAK.

Preman itu jatuh menjerit.

Empat lainnya menyerang bersamaan.

Bara bergerak seperti hantu di antara reruntuhan bata merah. Dia menggunakan pilar-pilar yang runtuh sebagai tameng dan pijakan.

Dia melompat ke atas sisa tembok, lalu terjun menyikut kepala preman kedua. BUGH! Helm tengkorak itu penyok. Preman itu pingsan.

Dua preman lain mencoba menusuk kaki Bara. Bara melompat, melakukan salto di udara, dan mendarat di belakang mereka. Dia memukul tengkuk mereka dengan sisi telapak tangan (Knife Hand). BUK! BUK! Keduanya ambruk.

Tinggal Suro Gada.

Suro terbelalak. Lima anak buahnya habis dalam sepuluh detik? Tanpa cabut senjata?

"K-kau... Pendekar aliran mana?!" Suro memegang gadanya dengan tangan berkeringat.

"Aliran yang sedang buru-buru," jawab Bara, berjalan mendekat.

Suro meraung, mengayunkan gada besinya sekuat tenaga. "MATI KAU!"

Bara kali ini mencabut Kujang Si Bungsu. Hanya setengah.

ZRING!

Sebuah kilatan hitam emas melintas.

Gada besi Suro terpotong menjadi dua bagian. Potongan atasnya jatuh menggelinding di tanah. Suro memegang gagang gada yang kini tumpul dengan wajah pucat pasi.

Bara menyarungkan kembali Kujangnya. Klik.

"Masih mau minta pajak?" tanya Bara.

Suro jatuh berlutut, mengompol di celana. "A-ampun, Den Pendekar! Ampun! Kami cuma cari makan!"

Bara berjongkok di depan Suro.

"Candi Bajang Ratu," kata Bara. "Apa yang kau tahu tentang tempat itu?"

Suro menelan ludah. "I-itu tempat terlarang, Den! Tidak ada yang berani ke sana. Konon ada 'Penjaga Tak Terlihat' yang memenggal siapa saja yang mendekat. Geng kami saja tidak berani masuk radius satu kilometer dari sana!"

"Bagus. Berarti sepi," Bara berdiri.

Dia menatap kakek tua yang masih gemetar di pojokan. Bara mengambil satu keping emas dari sakunya dan melemparkannya ke keranjang si kakek.

"Pulanglah, Kek. Bawa cucumu pergi dari kota gila ini."

Tanpa menunggu ucapan terima kasih, Bara melesat pergi menuju arah timur laut, meninggalkan Suro Gada yang masih syok melihat gadanya terpotong rapi seperti mentimun.

Di atas sebuah stupa candi yang tinggi, tiga sosok berjubah hitam mengamati kejadian itu dengan teropong jarak jauh.

"Target dikonfirmasi," ucap seorang prajurit. "Dia menggunakan senjata Kujang yang sangat tajam. Bisa memotong besi tuang tanpa hambatan."

Pemimpin mereka, Kapten Raka, menurunkan teropongnya. Wajahnya dingin dan kaku, dengan bekas luka bakar di pipi kiri.

"Kekuatan fisiknya di atas rata-rata. Tapi dia belum menggunakan Api," analisis Raka. "Dia sengaja menyembunyikan identitasnya."

"Apa kita sergap sekarang, Kapten?"

"Tidak," Raka menggeleng. "Dia menuju Bajang Ratu. Tempat itu memiliki medan energi kuno yang mengganggu komunikasi. Jika kita menyerang di sana, tidak akan ada saksi mata."

Raka tersenyum tipis, senyum yang mengerikan.

"Biarkan dia membuka jalan. Biarkan dia menghadapi 'Penjaga' itu dulu. Saat dia lelah dan terluka... kita akan masuk dan memetik kepalanya."

Satu jam kemudian.

Bara sampai di tujuannya.

Berbeda dengan reruntuhan lain yang hancur, Candi Bajang Ratu masih berdiri utuh dan agung.

Ini adalah sebuah gapura Paduraksa¹ (gerbang beratap) yang menjulang setinggi 16 meter, terbuat dari bata merah yang disusun sangat presisi tanpa semen. Relief-relief Sri Tanjung dan Ramayana terukir indah di dindingnya, seolah baru dibuat kemarin.

Anehnya, tidak ada tanaman liar yang tumbuh di sekitar candi ini. Tanahnya bersih, seolah disapu setiap hari. Dan suasananya... sunyi senyap. Tidak ada suara burung, tidak ada suara angin.

Hampa.

"Hati-hati, Mitra," peringatkan Garuda. "Aku merasakan jebakan mantra di setiap inci tanah di depanmu."

Bara mengeluarkan Peti Teratai Emas. Peti itu bersinar terang, memancarkan cahaya oranye hangat.

Saat cahaya peti itu menyinari gapura, udara di tengah lorong gerbang itu beriak. Seperti air yang diaduk.

Sebuah Tabir Energi (Barrier) transparan terlihat.

"Segel Ruang," gumam Bara. "Pantas saja tidak ada yang bisa masuk."

Bara berjalan mendekat. Saat kakinya menginjak lantai batu pertama menuju gerbang, sebuah suara berdesir muncul dari tanah.

Srrrtt...

Debu merah di depan gerbang berkumpul, memadat, dan membentuk sesosok manusia. Bukan manusia daging, tapi Golem Tanah Liat (Terracotta Warrior).

Golem itu tingginya dua meter, membawa tombak tanah yang ujungnya berkilau tajam. Matanya kosong, tapi auranya menekan.

"Hanya Satu..." kata Bara, bersiap dengan Kujangnya.

Namun, tanah bergetar lagi.

Satu lagi muncul. Dua. Tiga. Sepuluh.

Dalam sekejap, dua lusin Prajurit Terakota berdiri menghalangi jalan masuk, membentuk formasi tempur Phalanx (dinding perisai dan tombak).

"Penyusup... Mundur... atau Mati..."

Suara itu tidak keluar dari mulut mereka, tapi bergema langsung di kepala Bara.

Bara menyeringai di balik topengnya.

"Aku sudah jauh-jauh datang ke sini," Bara memutar kedua Kujangnya. "Dan aku tidak suka disuruh mundur oleh boneka tanah."

Bara melesat maju.

Pertarungan di gerbang masa lalu dimulai.

Glosarium & Catatan Kaki Bab 19

Paduraksa: Jenis gapura dalam arsitektur klasik Jawa/Bali yang memiliki atap (berbeda dengan Candi Bentar yang terbelah). Bajang Ratu adalah salah satu contoh paduraksa Majapahit yang paling megah dan masih berdiri hingga kini.

Terracotta Warrior: Pasukan tanah liat. Referensi sejarah bahwa Majapahit memiliki hubungan dagang dan budaya yang kuat dengan Tiongkok, diadopsi menjadi teknik sihir pertahanan kuno.

Uang Kepeng/Bolong: Mata uang logam kuno berlubang di tengah (pengaruh Tiongkok) yang digunakan di era Majapahit.

Knife Hand (Tangan Pisau): Teknik memukul menggunakan sisi luar telapak tangan, efektif untuk menyerang titik saraf di leher atau mematahkan tulang selangka.

1
Panda
jejak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!