Viera menikah dengan Damian selama bertahun-tahun dalam pernikahan yang terlihat sempurna. Hingga suatu hari, ia tahu suaminya berselingkuh.
Lebih kejam lagi, kehamilan yang ia perjuangkan lewat bayi tabung bukan berasal dari suaminya. Sp*rma itu milik Lucca, suami dari perempuan yang menjadi selingkuhan Damian.
Dalam kehancuran, Viera tidak memilih menangis... ia memilih berdiri tanpa goyah.
Ketika cinta baru datang tanpa paksaan, dan pembalasan berjalan tanpa teriakan... siapa yang benar-benar menang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Epilog.
Sore itu langit seolah sedang bermurah hati. Cahaya keemasan jatuh lembut di taman kota, menyelimuti dedaunan, bangku-bangku kayu, dan jalan setapak yang mulai dipenuhi bayangan panjang. Waktu berjalan pelan, tidak terburu-buru—seperti memberi kesempatan pada kebahagiaan untuk dinikmati sepenuhnya.
Viera berdiri di bawah pohon flamboyan yang sedang berbunga. Satu tangannya menggenggam tangan Arka, yang kini hampir setinggi dadanya, sementara tangan lainnya bertumpu di perutnya yang mulai membulat. Usia kehamilan itu belum lama, belum banyak yang tahu, namun Viera sudah merasakan ikatan yang begitu kuat. Sebuah kehidupan kecil yang tumbuh diam-diam, tanpa riuh, tapi penuh harapan.
Arka menoleh ke perut ibunya dengan mata berbinar. Ia lalu berjongkok, menempelkan telinganya dengan wajah serius.
“Adik belum mau ngobrol ya, Ma?” tanyanya polos.
Viera tertawa kecil, mengusap rambut putranya. “ Adik masih malu, tunggu nanti.”
Tak jauh dari mereka, Lucca melangkah mendekat. Pandangannya segera kembali pada Viera dan Arka—selalu begitu, seolah dunia boleh ramai, tapi pusatnya tetap di sana. Ia berjalan mendekat, langkahnya tenang, senyumnya lembut.
Lucca berdiri di sisi Viera, lalu tanpa sadar ikut menempelkan telapak tangannya di perut istrinya. Sentuhan itu sederhana, namun penuh makna. Ia tak berkata apa-apa, tapi napasnya sedikit lebih dalam, matanya menyiratkan rasa syukur yang tak pernah habis.
“Capek berdiri?” tanyanya.
“Tidak,” jawab Viera pelan. “Aku cuma… lagi menikmati.”
Lucca mengangguk, mengerti. Ia selalu mengerti, bahkan ketika Viera tak menyelesaikan kalimatnya.
Pandangan Viera melayang ke sekeliling taman. Tawa anak-anak, langkah pasangan lansia yang berjalan berdampingan, suara kota yang hidup namun tidak lagi terasa menekan. Ia teringat masa lalu—saat kebahagiaan terasa seperti sesuatu yang rapuh, mudah direnggut, dan selalu disertai rasa takut kehilangan.
Ia pernah mencintai, pernah kehilangan, pernah hancur dengan cara yang sunyi.
“Aku dulu takut berharap lagi,” ucap Viera akhirnya, suaranya nyaris tenggelam oleh angin. “Takut kalau semua kebahagiaan ini hanya singgah sebentar, lalu diambil lagi.”
Lucca menoleh, menatapnya penuh kesungguhan. Ia lalu mengecup pelipis Viera dengan lembut.
“Takut itu wajar,” katanya pelan. “Tapi kamu tetap memilih percaya. Dan itu yang membuat semuanya menjadi nyata.”
Viera tersenyum kecil. Ia tahu Lucca tidak menghapus masa lalunya, tidak juga menutupinya dengan janji kosong. Pria itu hanya berdiri di sampingnya—konsisten, setia, dan memilihnya setiap hari.
Arka berdiri di antara mereka, lalu meraih tangan keduanya. “Papa, Mama… kita pulang sekarang?” tanyanya ceria.
Kata pulang tak lagi terasa asing, dan tak lagi terasa berat.
Mereka berjalan beriringan meninggalkan taman. Lucca menggendong Arka ketika anak itu mulai mengeluh lelah. Viera melangkah di samping mereka, tangannya sesekali kembali ke perutnya, menjaga kehidupan kecil yang kini menjadi bagian dari kebahagiaan mereka.
Di tengah langkah itu, Viera menoleh ke langit yang mulai meredup. Ia menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan.
Ia tidak lagi menoleh ke belakang. Tidak lagi bertanya pada takdir mengapa dulu semuanya harus terjadi. Karena kini ia mengerti—setiap luka telah membawanya ke titik ini.
Ia tidak hanya menemukan tempat pulang. Ia membangunnya, dengan cinta, keberanian, dan pilihan-pilihan yang akhirnya ia ambil untuk dirinya sendiri.
Dan di sanalah Viera berdiri sekarang—seorang perempuan yang pernah patah, namun kini utuh. Dengan keluarga yang ia jaga, dan kehidupan baru yang tumbuh di dalam dirinya.
Kisah itu tidak berakhir.
Ia hanya berubah menjadi rumah.