NovelToon NovelToon
What We Were Never Given

What We Were Never Given

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst
Popularitas:472
Nilai: 5
Nama Author: Oryelle

Nareya, anak sulung bermimpi meniti karir di dunia fashion, harus merelakannya demi menjadi tulang punggung keluarga. Terlahir untuk berjuang sejak dini membuat dia tidak tertarik soal pernikahan.

Tidak menikah, berkecukupan, dan bisa membahagiakan keluarganya adalah keinginan sederhana Nareya. Tapi siapa sangka, dia justru menyetujui perjanjian pernikahan dengan mantan Bosnya?

Kala terlahir berdarah campuran membuatnya dicap sebagai noda. Demi pengakuan para tetua, dia menyeret Nareya dalam sebuah perjanjian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oryelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

23. Kala Nareya dan Sabreena

Sejak Kala punya banyak waktu untuk Nareya, mereka jadi sering mengobrol. Sebelum tidur, menyiapkan sarapan, berangkat kerja, setiap kali ada momen bersama pasti Kala manfaatkan untuk membuat Nareya lebih terbuka. Demi menjalin kedekatan yang sudah setahun lamanya ditunda untuk memprioritaskan urusan di kantor utama. Mengembalikan posisinya yang sempat diambil alih saudara tirinya, Darma.

“Pokoknya nanti kamu harus minta maaf ke Sabreena. Supaya kalau kita sudah pisah, dia bisa mendapatkan posisi ini. Yang memang seharusnya menjadi istrimu ya Sabreena bukan aku,” ucap Nareya.

“Kamu itu masih saja menganggap saya yang salah. Sudah saya katakan itu Sabreena yang memutuskan”

Mereka sedang bersiap untuk makan malam bersama Sabreena. Sesuai keinginan Nareya, Kala akhirnya menghubungi Sabreena lewat kakaknya yang kebetulan kolega dekat. Sabreena menyetujui makan malam itu, memahami sebagai wanita memang memiliki banyak kekhawatiran. Bahkan Sabreena pun sudah berusaha menghubungi media untuk berhenti menyebarkan berita yang tidak benar mengenai hubunganya dengan Kala.

“Sabreena biasanya berpenampilan seperti apa?” tanya Nareya.”Aku harus pake baju yang lebih sederhana ini” lanjutnya sambil menunjukan dress biru muda dengan motif bunga-bunga kecil di tangan kanan. “Atau ini? Elegan dan tampak dewasa,” timpalnya menunjukan dress hitam di tangan kirinya.

“Keduanya cocok di kamu, style Sabreena juga tidak jauh berbeda dengan kamu.”

“Jangan bikin bingung dong. Yaudah aku pakai yang warna abu aja deh nyamain kamu.” ucap Nareya sambil kembali mengambil dress abu senada dengan Kala.

Kala langsung memotong maksud Nareya yang ingin menanyakan pendapatnya lagi “Sudah cukup, itu saja. Ini kamar saya sudah berantakan karena baju kamu di mana-mana.”ucapnya sambil membereskan meja rias Nareya yang tampak bak kapal pecah. Sedangkan Nareya hanya mengerucutkan bibirnya lalu berganti di kamar mandi.

“Gimana?”

“Sudah kamu sudah cantik sekali, ayo kita berangkat!” ajak Kala, mengingat waktu sudah mepet, khawatir justru Sabreena yang dibuat menunggu.

Nareya akhirnya menurut dan mereka segera berangkat. Sepanjang perjalanan yang Nareya bicarakan hanyalah rasa gugupnya dan bagaimana penampilanya apakah sudah pas. Lebih seperti seorang wanita yang akan nge-date untuk pertama kalinya.

“Ini kalau sampai di restoran kita sudah ditunggu Sabreena saya yang benar-benar malu.”

“Ih bener! Kenapa kamu nggak bilang dari tadi, kalau gitu tadi aku bersiap lebih cepat.” ucap Nareya.

Kala tidak merespon apapun dengan kata-kata, hanya helaan nafas yang terasa lebih keras dari biasanya.

***

“Apa kabar? Maaf karena sudah mengganggu waktu kamu.” ucap Kala ketika Sabreena datang.

Untunglah Kala dan Nareya masih lebih cepat dibanding Sabreena. Kalau tidak Nareya pasti tidak akan berhenti menyesali perbuatan dirinya sendiri seharian seperti saat itu.

“Baik mas, tidak mengganggu. Ada hal penting apa ya mas? Sampai mengajak makan malam.” ucap Sabreena dengan nada bicara khasnya. Lembut namun pasti dengan tempo lambat. Nareya yang baru pertama kali menyaksikan interaksi itu pun sempat mengerutkan dahinya.

“Lebih baik duduk dahulu.” ucap Kala membuka telapak tangan, mengarahkan Sabreena ke kursi di depanya.

Nareya duduk di sebelah Kala, sedangkan Sabreena duduk di depan Nareya. Saat pertama Nareya kaget dengan suaranya. Sekarang dia baru sempat memperhatikan penampilan Sabreena. Makeup tipis? Nareya spontan menyipitkan matanya.

Sepertinya Nareya sudah mulai merutuki dirinya yang memoleskan makeup on point bold ala diner mewah. Isi kepalanya semakin menyerukan suara bahwa Kala memang pantasnya berpasangan dengan Sabreena, bukan dirinya.

“Mbak,” sapa Sabreena dengan sopan namun tidak agresif melihat orang yang dia tuju seperti sedang memikirka banyak hal.

Kala menyentuh tangan Nareya di pangkuan dengan pelan, “Ah, iya halo, saya Nareya.” ucap Nareya seketika tersadar. Uluran tangan Nareya disambut dnegan ramah oleh Sabreena.

“Bagaimana dengan kuliah kamu, apakah lancar?” tanya Kala sebagai bentuk kesopanan.

“Lancar mas, ternyata keputusan ku untuk ke lanjut sekolah di Amerika sangat tepat.” jelas Sabreena.

“Syukurlah, silahkan. Ini steak kesukaan istri saya, mungkin kamu suka juga.”

“Oiya… ini pasti enak sekali.” ucap Sabreena sambil memotong kecil daging itu. “Hmm… selera istri kamu nggak salah, ini enak sekali.” ucap Sabreena setelah di gigitan kedua.

“Maksud saya mengajak kamu makan malam sebenarnya karena Nareya ada yang ingin ditanyakan dengan kamu.” ucap Kala yang langsung dihadiahi pelototan oleh Nareya.

Nareya sangat terkejut karena Kala langsung melempar kesempatan untuk bicara langsung dengan Sabreena.

“Ah eh um, saya hanya ingin tahu apakah kamu batal menikah dengan Kala karena saya? Atau karena Kala yang memaksakan kehendaknya secara sepihak?”

“Ah, kalian berantem ya?” tebak sabreena lalu melanjutkan bicara. “Aku waktu itu bicara dengan terbuka dengan mas Kala. Tidak ada paksaan atau apa untuk membatalkan, karena saya yang memutuskan untuk tidak melanjutkan ke jenjang pernikahan. Selain karena ada beberapa hal yang aku dan mas Kala kurang cocok.”

“Hah?”Nareya membulatkan matanya. “Jadi kamu yang memutuskanya?”

“Iya mbak, soalnya saya itu memilih untuk fokus lanjut S2 dahulu mbak, jangan khawatir. Heum aku sempat gak enak juga karena berita di media sosial memang sangat menyudutkan mbak ya.”

Kesalahpahaman Nareya akhirnya terkonfirmasi. Malam itu akhirnya mereka mengobrol singkat meski tak lama Sabreena berpamitan lebih dahulu. Nareya jadi sangat malu, karena kesan cemburu jadi melekat pada dirinya. Bahkan sepanjang perjalanan pulang Nareya beberapa kali melamun lalu tiba-tiba mengacak-acak rambutnya sendiri.

“Kamu sudah percaya kan?” sindir Kala dengan senyum tipisnya. “Ini nggak gratis, kamu harus membayar malu saya juga.”

“Ck, jangan ingatkan soal malu, argh” decak Narenya. “Bayar apaan lagi sih?”

“Haha, istri kecilku seperti benar-benar terlihat cemburu. Mantan tunangan saya saja sampai benar-benar percaya tuh, kamu menaruh perasaan yang besar ke saya.” ledek Kala.

“Stop ya!” geram Nareya

“Oke aku akan stop, tapi kamu harus temani aku perjalanan bisnis ke Amerika.”

“Oke, sekalian jalan-jalan paling tiga hari kan?”

“Nanti siapkan keperluan kamu yang akan dibawa untuk satu bulan kemungkinan. Kalau baju tidak perlu bawa banyak, kita beli di sana saja.”

“Bercanda banget, satu bulan.” ucap Nareya memutar bola matanya.

“Saya sangat serius.”

Nareya hanya mengaga, perjalanan bisnis apa yang satu bulan. Itu si udah terhitung domisili bukan lagi perjalanan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!