Dikhianati dan dipermalukan, Nafiza Azzahra, wanita bercadar yang lembut, mendapati pernikahannya hancur berantakan. Dipaksa memulai hidup baru, ia bertemu Zayn Al Malik, CEO muda yang dingin dan tak tersentuh, Namun, sesuatu dalam diri Nafiza menarik Zayn, membuatnya mempertanyakan keyakinannya. Di tengah luka masa lalu, benih-benih asmara mulai bersemi. Mampukah Zayn meluluhkan hati Nafiza yang sedang terluka? Dan bisakah mereka menemukan cinta sejati di tengah badai pengkhianatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Setelah menyantap sarapan dengan tenang, sambil menikmati pemandangan indah dari luar dinding kaca. Dengan view hamparan taman dengan aneka tanaman hias yang memanjakan mata.
Zayn dan Nafiza mulai bersiap-siap untuk menghabiskan hari dengan staycation di hotel. Nafiza masuk ke ruang ganti untuk memilih pakaian yang nyaman, sementara Zayn sigap merapikan ranjang mereka yang terlihat berantakan. Ia tidak ingin membiarkan istrinya kembali ke kamar yang berantakan setelah seharian bersenang-senang.
Zayn ingin merapikan ranjang itu sendiri sebagai bentuk perhatian dan kasih sayangnya kepada Nafiza. Ia mulai menarik sprei kotor itu, bermaksud menggantinya dengan yang baru. Namun, saat ia menarik sprei itu, pandangannya menangkap sesuatu yang membuatnya terkejut.
Di atas sprei itu, terlihat bercak darah yang sudah mengering. Zayn terdiam sejenak, mencerna apa yang dilihatnya. Ia tersenyum bangga dan bahagia. Ternyata, Nafiza masih perawan.
"Ternyata Nafiza masih perawan," gumam Zayn dengan senyum bahagia. Ia merasa sangat bersyukur dan terharu. Ia merasa semakin mencintai dan menghormati Nafiza.
Dengan hati-hati, Zayn mengumpulkan sprei kotor itu dan membuangnya ke tempat sampah. Ia kemudian mengambil sprei bersih dari lemari dan menggantinya dengan yang baru. Ia menyusun bantal-bantal dengan rapi, memastikan semuanya terlihat sempurna.
Tak lama kemudian, Nafiza keluar dari ruang ganti dengan gamis santai berwarna biru muda. Ia memilih mengenakan hijab instan berwarna senada agar lebih praktis dan nyaman. Ia terlihat cantik dan menawan dengan pakaiannya yang sederhana.
Nafiza mendekati Zayn yang masih berdiri di sisi ranjang. Ia melihat Zayn sedang menatap ranjang itu dengan senyum yang aneh.
"Mas, ngapain? Biar Naf aja yang rapikan kasur," ucap Nafiza merasa tidak enak karena Zayn yang merapikan tempat tidur sendiri. Ia merasa seharusnya ia yang melakukan pekerjaan itu sebagai seorang istri.
Zayn tidak menjawab pertanyaan Nafiza. Ia malah melangkah mendekat dan memeluk Nafiza dengan erat. Ia menyalurkan seluruh cinta dan kasih sayangnya melalui pelukan itu.
Setelah beberapa saat, Zayn melepaskan pelukannya dan menatap Nafiza dalam-dalam. "Sayang, kamu kenapa nggak bilang kalau kamu masih perawan?" tanya Zayn dengan suara lembut dan penuh kasih.
Nafiza menunduk, wajahnya merona merah padam. Ia merasa malu dan gugup karena pertanyaan Zayn.
"Mas kan nggak nanya," jawab Nafiza lirih. "Lagian, Naf malu, Mas," tambahnya dengan suara yang hampir tidak terdengar.
Oke, mari kita lanjutkan adegan ini dengan dialog yang menyentuh dan penuh emosi antara Zayn dan Nafiza, mengungkap perasaan mereka yang lebih dalam:
Zayn tertawa kecil mendengar jawaban Nafiza. "Iya sih, hehe. Tapi, kalau Mas tahu kamu nggak pernah disentuh sebelumnya, Mas bisa langsung nikahin kamu tanpa harus nunggu masa iddah," goda Zayn sambil mencubit hidung Nafiza dengan gemas.
Nafiza semakin merona mendengar godaan Zayn. Ia memukul pelan lengan Zayn, merasa malu namun juga bahagia. "Mas ih! Jangan ngomong gitu ah," protesnya dengan nada manja.
Zayn tersenyum lembut melihat tingkah Nafiza yang malu-malu. Ia meraih wajah Nafiza dengan kedua tangannya, menatapnya dengan tatapan yang penuh cinta dan kasih sayang. "Sayang, Mas mau bilang makasih sama kamu," ucap Zayn dengan suara yang tulus dan menyentuh.
Nafiza mengerutkan keningnya, bingung dengan perkataan Zayn. "Makasih buat apa, Mas?" tanyanya dengan nada penasaran.
Zayn menghela napas sejenak, mencoba merangkai kata-kata yang tepat untuk mengungkapkan perasaannya. "Makasih karena kamu udah menjaga diri kamu buat Mas. Makasih karena kamu udah mempercayakan kehormatan kamu sama Mas. Mas janji akan selalu menjaga kamu, mencintai kamu, dan menghormati kamu selamanya," ucap Zayn dengan penuh penghayatan.
Air mata haru mulai menggenang di pelupuk mata Nafiza. Ia merasa sangat tersentuh dengan perkataan Zayn. Ia tidak menyangka bahwa Zayn akan menghargai keperawanannya sedemikian rupa.
"Mas ..." panggil Nafiza lirih, suaranya bergetar karena menahan tangis. Ia tidak tahu harus berkata apa lagi.
Zayn mengusap air mata yang mulai membasahi pipi Nafiza dengan lembut. "Jangan nangis, Sayang. Mas nggak mau lihat kamu sedih," ucapnya sambil tersenyum. "Mas cuma mau kamu tahu, betapa beruntungnya Mas bisa nikah sama kamu. Kamu adalah anugerah terindah dalam hidup Mas," tambahnya dengan penuh cinta.
Nafiza tidak bisa lagi menahan air matanya. Ia menangis terharu, meluapkan semua perasaan bahagia, syukur, dan cinta yang memenuhi hatinya. Ia memeluk Zayn dengan erat, menyalurkan seluruh emosinya melalui pelukan itu.
"Aku juga beruntung bisa nikah sama Mas," bisik Nafiza di dada Zayn. "Mas adalah suami terbaik yang pernah ada. Aku janji akan selalu mencintai Mas, menghormati Mas, dan mendukung Mas dalam segala hal," tambahnya dengan suara yang tulus dan penuh komitmen.
Zayn membalas pelukan Nafiza dengan erat, membenamkan wajahnya di rambut Nafiza yang lembut. Ia merasa sangat bahagia dan damai dalam pelukan istrinya. Ia tahu, ia telah menemukan cinta sejatinya dalam diri Nafiza.
Setelah beberapa saat berpelukan, Zayn dan Nafiza melepaskan pelukan mereka. Mereka saling menatap dengan tatapan yang penuh cinta dan kasih sayang. Tanpa berkata apa-apa lagi, Zayn mendekatkan wajahnya ke arah Nafiza dan menciumnya dengan lembut di bibir. Ciuman itu terasa begitu manis, hangat, dan penuh dengan emosi.
Bersambung .....