Follow fb : mumuyaa
ig : @tulisanmumu
Zaidan tidak tahu, apakah ini cinta pada pandangan pertama, atau hanya rasa kasihan hingga rasa ingin melindungi saja karena dirinya yang merupakan seorang polisi. Namun yang ia tahu, ia ingin melindungi wanita itu.
“Saya berjanji. Saya akan pastikan pria bajingan ini pasti akan menerima hukuman yang berat. Dia tidak akan pernah lolos, tidak akan pernah merasakan dunia luar lagi. Jadi… jangan buat hati ibumu patah lagi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mumu.ai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PPPL 34
Selesai makan, mereka berdua berjalan kembali menuju kamar rawat Bu Anti.
Mereka melangkah dengan pelan. Zahra lebih sering tertunduk, pikirannya masih sibuk mencerna semua yang baru saja terjadi di meja makan tadi.
Karena terlalu fokus pada pikirannya sendiri, ia hampir saja menabrak troli linen yang didorong petugas kebersihan.
“Eh, maaf…” Zahra tersadar dan buru-buru menepi.
Beberapa langkah kemudian, ia hampir menabrak seorang pengunjung yang keluar dari ruang farmasi.
Zaidan yang berjalan di sampingnya akhirnya tak tahan.
“Di bawah nggak ada duit,” tegurnya ringan. “Ngapain mandang bawah terus sih?”
Zahra menoleh, sedikit terkejut.
“Saya nggak—”
“Kalau kamu nyari jawaban juga bukan di lantai,” lanjut Zaidan, kali ini dengan nada lebih lembut.
Zahra spontan menahan senyum kecil. Meski matanya masih sembab, ada rona hangat yang perlahan kembali di wajahnya.
Mereka sampai di depan lift.
Tombol sudah menyala dan tak lama kemudian pintu terbuka dengan bunyi ting pelan.
Kebetulan lift itu kosong. Zaidan memberi isyarat kecil agar Zahra masuk lebih dulu. Setelah ia melangkah masuk, barulah Zaidan menyusul dan menekan tombol lantai tempat Bu Anti dirawat.
Pintu lift menutup perlahan. Ruang sempit itu mendadak terasa lebih sunyi dari sebelumnya. Hanya ada suara dengungan mesin dan napas mereka berdua.
Zahra kembali menunduk, kali ini bukan karena tidak fokus, tapi karena gugup sebab Zaidan terus saja meliriknya dari samping.
“Mas…” panggilnya pelan.
“Kenapa?” tanya pria itu.
“Jangan ngeliat kesini terus.”
“Kalau lurus aku cuma lihat pintu, kalau ngeliat ke samping ada bidadari. Mending aku lihat ke samping.”
Jawaban asal Zaidan tentu saja membuat Zahra semakin malu. Pipinya pun semakin memerah dan tentu saja Zaidan semakin semangat untuk menggodanya.
“Ciee… ada yang malu.”
“Mas… please udah dong.”
Zaidan tertawa semakin kencang. Sepertinya kini dirinya telah menemukan kebiasaan baru, menggoda Zahra.
Ting.
Pintu lift terbuka, dan Zahra langsung melangkah keluar lebih dulu, seolah ingin menyelamatkan diri dari godaan Zaidan yang makin menjadi.
Zaidan masih tertawa kecil di belakangnya.
“Ra… tungguin aku dong.”
Ia berlari kecil agar bisa menyamakan langkah. Baru saja ia sejajar dengan Zahra, sebuah suara dari arah belakang membuat keduanya berhenti.
“Zaidan…”
Suara itu terdengar tegas dan juga familiar di telinga Zaidan.
Zaidan menoleh ke belakang. Wajahnya sedikit terkejut, meski dalam hati ia tahu cepat atau lambat akan bertemu juga.
Tadi malam ia beruntung tidak bertemu dengan Arsyi di IGD. Namun kali ini ia tidak bisa menghindar. Seorang wanita berjas dokter berdiri beberapa langkah dari mereka. Rambutnya diikat rapi, ekspresinya tenang tapi tajam. Meski hanya memakai sandal karet rumah sakit, wibawanya tetap terasa.
“Kak Yumna ngapain di sini?” tanya Zaidan, berusaha santai.
Yumna melangkah mendekat dengan anggun. “Aku keliling rumah sakit itu wajar. Yang nggak wajar itu kamu ngapain di sini? Keliling rumah sakit pakai seragam begitu.”
“Emang ada salahnya aku ke rumah sakit pakai seragam?” Zaidan mengangkat bahu. “Kakak tuh ruangannya di lantai tujuh. Ngapain ke lantai empat?”
“Mau sidak,” jawab Yumna cepat. “Aku dapat kabar tadi malam kamu masukin cewek.”
Zaidan langsung membelalakkan mata. “Bisa diubah nggak ucapannya? Kedengarannya kayak aku masukin cewek ke kamar pribadi.”
Yumna mendelik. Baru kemudian ia menyadari ada seorang perempuan muda berdiri di samping Zaidan.
Tatapan Yumna beralih ke Zahra.
“Ini siapa?”
Zaidan justru diam. Ia hanya tersenyum kecil, menatap kakak sepupunya itu tanpa menjawab.
Yumna mengangkat alis. “Kamu pacarnya Zaidan?”
Zahra langsung menggeleng pelan. “Bukan, Dok. Saya bukan pacarnya Mas Zaidan.”
Zaidan menoleh cepat ke arah Zahra dengan matanya yang melotot.
“Bukannya kita mulai pacaran hari ini?” protesnya setengah berbisik tapi tetap terdengar jelas.
Yumna langsung tertawa. “Kasihan kamu nggak diakuin, Dan.”
Zahra pura-pura tidak melihat tatapan Zaidan yang kini menuntut penjelasan.
Yumna kembali menoleh pada Zahra. “Tadi saya sudah tanya ke perawat yang jaga. Ibu kamu yang di dalam, ya?”
Zahra mengangguk pelan. “Iya.”
“Nggak ada yang serius. Tekanan darahnya memang perlu dijaga. Katanya rutin minum obat hipertensi, kan? Itu dilanjut saja. Soal jatuh kemarin, aman. Cuma keseleo.”
Zahra mengembuskan napas lega. “Alhamdulillah…”
Yumna lalu menyodorkan tangannya. “Sampai lupa kenalan. Aku Yumna, kakak sepupunya Zaidan.”
Zahra menerima uluran tangan itu dengan sopan. “Saya Zahra.”
“Oke, Zahra.” Yumna tersenyum ramah. “Aku balik ke ruangan dulu, ya. Kalau ada apa-apa cari aku saja. Ruanganku di lantai tujuh.”
“Terima kasih banyak, Dok.”
“Nggak usah panggil dokter. Panggil aja Kakak, sama kayak Zaidan.” Yumna melirik sepupunya itu. “Cuma hati-hati ya sama dia. Kalau dia macam-macam, laporin ke aku.”
“Emang aku mau ngapain?” tanya Zaidan sewot.
“Kalau kamu nyakitin dia!” Yumna terkekeh. “Eh, dia aja nggak ngakuin kamu pacarnya.”
Ia kemudian melangkah masuk ke lift. Sebelum pintu tertutup, suara tawanya masih terdengar.
Lift kemudian menutup.
Zaidan menoleh pelan ke arah Zahra dengan wajah cemberut.
“Kan kita udah mulai pacaran.”
Zahra menahan senyum. “Siapa yang bilang?”
“Kamu tadi nggak nolak waktu aku bilang terima aku jadi masa depan kamu.”
“Itu beda,” jawab Zahra cepat, meski pipinya kembali memerah.
“Beda di mana? Aku sudah deklarasi resmi di kantin rumah sakit.”
Zahra akhirnya menatapnya. Ada malu, ada hangat, ada sesuatu yang tak lagi ia sembunyikan sepenuhnya.
“Kita… belum sepakat,” ujarnya pelan.
Zaidan mendekat satu langkah. Tidak terlalu dekat, tapi cukup membuat jantung Zahra berdegup lagi.
“Kalau gitu sekarang sepakat,” katanya santai. “Aku serius.”
Zahra terdiam beberapa detik. Lalu dengan suara pelan yang hampir seperti bisikan, ia berkata, “Kita coba dulu.”
Kalimat itu bukanlah sebuah penolakan. Bukan juga pengakuan penuh. Tapi cukup untuk membuat wajah Zaidan langsung berubah cerah.
“Berarti iya,” simpulnya cepat.
...****************...
Terima kasih sudah setia membaca ya, best. Gimana puasa pertamanya hari ini? Masih lancarkan? Nggak kerasa 29 hari lagi kita lebaran ya 😁 semoga puasa kita full yaaaa
Lagi dan lagi author ingin mengingatkan buat temans, jangan lupa ninggalin jejaknya ya ❤️
Selamat dobel Z.
Gk ada bonchap thor🤭
papa tadi said: gak usah lope lope an, gak lihat suaminya disini... 😤😤😤
🤣🤣🤣🤣🤣
Keluarga idola nih....orang kaya tapi gak pernah memandang status, baik hati dan tidak sombong.
Berbahagia kamu Zahra, bisa menjadi bagian dari keluarga ini