NovelToon NovelToon
Diam-diam Hamil Anak Mantan

Diam-diam Hamil Anak Mantan

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Hamil di luar nikah / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Mantan / Romansa / Cintapertama
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Puji170

Karena cinta tak direstui orang tuanya, Sonya merelakan keperawanannya untuk Yudha, lelaki yang sangat ia cintai. Namun hubungan itu harus berakhir karena Sonya akan segera dijodohkan dengan Reza.

Setelah malam panas itu, Sonya justru diusir dari rumah dan berakhir hamil anak Yudha. Ia ingin kembali pada Yudha, tetapi lelaki itu sudah pergi ke luar negeri.

Saat Sonya bertekad membesarkan anak itu seorang diri, takdir kembali mempermainkannya. Anak tersebut menderita kanker darah dan membutuhkan donor sumsum tulang belakang dari ayah kandungnya.

Apa yang akan dilakukan Sonya. Kembali pada Yudha demi kesembuhan sang anak, atau pergi ketika Yudha kembali ke Indonesia dengan seorang anak laki laki dan calon istrinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Di kantin perusahaan yang mulai lengang menjelang siang, Sonya masih terduduk di salah satu sudut meja, daftar menu di tangannya seperti benda asing yang tak menarik. Namun pikirannya bukan pada menu itu melainkan pada seseorang di balik pintu kaca besar ruangan direktur. Meskipun perubahan Yudha dadakan Sonya sama sekali tidak peduli, yang ia tanamkan dibenaknya mendekati Yudha lalu meminta tolong agar menolong anaknya.

"Apa yang dia suka?" gumamnya pelan, jemarinya memainkan ujung kertas daftar menu. Ia tahu, jawabannya sudah ada di ingatannya. Ayam panggang saus madu. Itu adalah favorit Yudha. Bukan hanya karena rasanya, tapi karena masakan itu pernah menjadi bagian dari kenangan mereka yang dulu, sebelum semuanya berubah.

Namun, ingatan itu juga menyelinapkan keraguan. Apa ini hanya tentang makanan? Atau ada perasaan tersembunyi yang mencoba mencari jalannya ke dalam hubungan yang rapuh dan penuh luka?

"Sudahlah aku masak itu saja," putus Sonya mulai bergulat dengan alat-alat masak.

Jam istirahat tiba, dan Sonya memutuskan untuk melangkah maju, meski hati kecilnya masih bergemuruh. Dengan hati-hati, ia membawa nampan berisi ayam panggang saus madu ke ruangan Yudha. Aroma masakan yang ia siapkan sepenuh hati memenuhi udara, seolah mengumumkan kehadirannya bahkan sebelum pintu diketuk.

Tok. Tok.

"Masuk."

Sonya membuka pintu perlahan, mendapati Yudha tengah membenamkan dirinya dalam tumpukan dokumen. Mata tajam pria itu terangkat begitu ia masuk, dan untuk sesaat, ada jeda. Tatapan Yudha melembut, hanya sedikit, tetapi cukup untuk membuat Sonya merasa bahwa kehadirannya tidak sepenuhnya tak diinginkan.

"Aku bawakan makan siang," kata Sonya dengan suara yang sedikit gemetar. Ia menaruh nampan itu di meja kecil di sudut ruangan.

"Kamu masak sendiri?" tanya Yudha, nadanya terdengar biasa, tapi matanya tidak melepaskan Sonya.

Sonya mengangguk, mencoba terlihat percaya diri meski hatinya masih berdebar. "Aku ingat kamu suka ayam panggang saus madu, jadi aku buatkan."

Yudha berdiri dari kursinya, melangkah mendekat. Tangannya menyentuh sandaran kursi di meja kecil itu, tetapi tatapannya tetap fokus pada Sonya. "Kamu masih ingat, ya?" tanyanya, suaranya lebih lembut dari biasanya.

"Tentu saja," jawab Sonya dengan senyuman kecil. "Hal seperti itu... sulit untuk dilupakan."

Yudha duduk dan mengambil potongan pertama. Saat rasa ayam itu menyentuh lidahnya, ia menghela napas kecil, menutup mata sejenak. "Masih seperti dulu," gumamnya. "Mungkin bahkan lebih enak."

Sonya tersenyum tipis, merasa lega. "Aku senang kamu suka."

Yudha mengangkat tatapannya, memandang Sonya dengan intensitas yang membuatnya merasa terperangkap. "Kamu tahu, Sonya," katanya pelan. "Aku gak pernah menemukan rasa seperti ini di tempat lain. Mungkin... karena cuma kamu yang tahu gimana cara masak makanan yang pas buat aku."

Pipi Sonya memanas mendengar kata-kata itu. Meski sederhana, ada sesuatu yang tulus dalam nada suara Yudha, sesuatu yang membuat hatinya berdesir.

Keheningan kembali menyelimuti mereka, tetapi keheningan itu tidak canggung. Itu keheningan yang dipenuhi rasa yang tak terucapkan. Yudha melanjutkan makannya, sementara Sonya duduk di kursi seberang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang tak teratur.

"Sonya," panggil Yudha tiba-tiba.

"Hm?"

"Terima kasih," ucapnya, suaranya nyaris berbisik. Matanya menatap Sonya, kali ini tanpa topeng dingin yang biasa ia kenakan.

Sonya menatap balik, merasa tenggelam dalam tatapan Yudha. "Sama-sama, Yud," jawabnya lembut. Dalam sekejap, ia merasa bahwa jarak yang selama ini memisahkan mereka mulai mengecil, meski hanya sedikit. Dan itu sudah cukup baginya untuk hari ini.

Namun, Yudha tiba-tiba memecah keheningan. "Kamu belum makan kan? Aku suapin," katanya, dengan senyum yang sulit dibaca. Tanpa memberi kesempatan bagi Sonya untuk menjawab, ia sudah mengangkat satu sendok makanan dan mengarahkannya ke mulut Sonya. "Ayo, buka mulutmu."

Sonya tertegun sejenak, mulutnya terkatup rapat. "Tapi ini, tidak benar. Aku—"

"Kamu karyawan sekaligus kekasihku," potong Yudha, nada suaranya berubah menjadi lebih tegas, tapi ada sesuatu yang aneh di balik kata-katanya. "Kenapa tidak? Lagi pula, tidak ada yang tahu kan?"

Mendengar bujukan itu, Sonya merasa hatinya berdebar. Dia ragu, tetapi akhirnya mengangguk perlahan dan membuka mulutnya. Sendok itu masuk, dan sejenak, ia terdiam, menikmati rasa ayam panggang yang ia masak dengan hati-hati.

Namun, sebelum ia sempat merespons, Yudha menatapnya dengan tajam, dan sebuah pertanyaan terlintas di matanya.

"Sonya," kata Yudha dengan suara yang lebih rendah, hampir seperti sebuah perintah, "Apa kamu benar-benar tahu apa yang kita jalani sekarang ini?"

Sonya tertegun, makanan di dalam mulutnya ia telan secara kasar. Jawaban yang sudah ia persiapkan terasa tak cukup lagi untuk menjelaskan perasaan yang membingungkannya.

Yudha menunggu, namun ekspresinya tetap terkendali, seperti pria yang menyembunyikan sesuatu yang lebih dalam. Dan dalam keheningan itu, Sonya merasa seperti berada di persimpangan jalan, tak tahu apakah ia harus melangkah maju, atau justru mundur dari semuanya.

"Sonya," suara Yudha kembali terdengar, lebih lembut namun penuh makna, "Kamu yakin, kan, ini yang kamu inginkan?"

Akhirnya Sonya mengangguk mantap, "Tentu saja, aku tidak akan ragu lagi."

Yudha tersenyum, tetapi senyum itu tak sepenuhnya mencerminkan kebenaran. Dengan kepekaan telinganya, ia bisa mendengar langkah seseorang yang mulai mendekat ke ruangannya. Seketika, ekspresinya berubah senyum itu melengkung dengan cara yang sulit dibaca. "Kalau begitu, kamu nggak mau kembali menyuapiku?"

"Ka-kamu yakin?" Sonya bertanya, suaranya sedikit gemetar.

"Bukankah sepasang kekasih akan terlihat romantis jika bisa saling memberi dan menerima?" jawab Yudha dengan nada menggoda, namun ada sesuatu yang tajam di balik kata-katanya.

Meski ragu, Sonya bertekad untuk meyakinkan Yudha, ia akhirnya mengikuti permintaan Yudha. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia menyendokkan nasi dan sepotong ayam, lalu dengan hati-hati menyuapkannya pada Yudha. Seketika, pintu ruangannya terbuka.

Sonya terhenti. Wajahnya memucat saat sosok lelaki berdiri di ambang pintu, menatapnya mereka dengan pandangan nanar. Tidak ada suara yang keluar, hanya tatapan tajam yang mengandung ribuan pertanyaan.

"Reza."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!