Starla, putri kandung seorang pengusaha kaya yang tidak disayang memutuskan menerima tawaran seorang pria untuk dijadikan simpanan. Setelah empat tahun berlalu, Starla pun memutuskan untuk tidak memperpanjang kontrak diantara mereka lagi. Starla meninggalkan Nino begitu saja. Hingga pada akhirnya, Nino ternyata berhasil menemukannya dan mulai terus membayanginya dengan cara mendekati Kanaya, kakak tiri Starla. Nino, pria yang terbiasa dipuja-puja oleh banyak wanita, jelas tidak terima dengan perbuatan Starla. Seharusnya, dia yang meninggalkan wanita itu. Namun, justru malah Starla yang meninggalkannya.
Berbekal dendam itu, Nino awalnya berniat untuk mempersulit Starla. Siapa sangka, di tengah rencananya mendekati Kanaya, Nino menemukan sebuah fakta bahwa selama ini Starla tak pernah merasakan bahagia. Sedari kecil, hidupnya selalu dirundung kesusahan. Hak-haknya bahkan direbut.
Berawal dari rasa penasaran, Nino justru mendapati bahwa perasaannya terhadap Starla ternyata sudah berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sugar Daddy Starla
Arlo menghela napas berkali-kali. Otaknya sudah merangkai berbagai macam alasan untuk menjawab pertanyaan putrinya itu.
Sayangnya, lidah Arlo selalu terasa kelu untuk menjawab.
"Ulangtahun Papa sebentar lagi. Papa harap, kamu bisa hadir," kata Arlo pada akhirnya.
Dia memilih mengganti topik pembicaraan. Tak mau lagi memikirkan hal yang lain.
"Baiklah!" angguk Starla. "Akan aku pikir-pikir dulu."
"Papa benar-benar berharap kamu bisa datang, Starla."
Arlo menatap Starla dengan mata memerah. Sebelum dia menangis, maka lebih baik dia segera meninggalkan tempat itu.
"Papa pergi dulu! Masih banyak pekerjaan yang harus Papa selesaikan di kantor," pamit Arlo kemudian.
"Ehm," angguk Starla. "Cepatlah pulang! Aku juga harus segera berangkat untuk cari kerja lagi."
Degh!
Langkah Arlo kembali terhenti. Dia menoleh sambil menggertakkan rahangnya.
"Kamu mau cari kerja?" tanya Arlo dengan suara mencicit.
"Tentu saja," jawab Starla. "Semua tabunganku sudah terkuras habis untuk membuka kembali restoran milik Mama-ku. Dan, sekarang restoran itu sudah ditutup gara-gara fitnah tak berdasar dari orang-orang yang tidak bertanggungjawab. Jadi, aku dapat pemasukan darimana untuk bisa makan bersama Bibi Wirda jika tidak bekerja?"
"Tapi, opini publik terhadapmu masih sangat sensitif. Bagaimana kalau kamu diamuk massa saat berada di luar sana, Starla? Lebih baik kamu tinggal di rumah saja. Lebih aman."
"Sudah resiko," jawab Starla. "Toh, ini bukan pertama kalinya aku harus berjuang sendirian hanya demi sesuap nasi. Sebelumnya, aku sudah pernah melakukan hal ini di luar negeri."
Kepala Arlo reflek mendongak ke atas. Ah, hidup putrinya benar-benar menyedihkan.
"Ayah macam apa aku ini?" teriak Arlo dalam hati.
"Soal makan, jangan khawatir! Papa akan segera mentransfer uang ke rekening mu."
Setelah menyampaikan kalimat itu, Arlo segera pamit untuk pergi. Jika tetap di sana, takutnya, Starla akan menolak menerima uang darinya dan kembali memperkeruh suasana.
Melihat punggung sang Ayah yang kian menjauh, Starla langsung tersenyum senang. Ya, dia hanya pura-pura akan cari kerja demi membuat sang Ayah jadi kasihan. Dengan begitu, dia bisa memeras uang sang Ayah sesuka hati.
Bukankah... uang Ayahnya memang hak Starla seorang? Apa salahnya jika menghabiskan sebanyak yang dia bisa?
Tidak perlu berpikir dua kali untuk berfoya-foya. Toh, kalau Arlo bangkrut, Starla juga tak akan peduli. Memang itu tujuannya.
****
Sementara itu, di rumah besar kediaman Arlo Alexander, Kanaya sedang sibuk memamerkan semua koleksi barang mewahnya kepada tiga orang teman yang sedari dulu selalu penasaran ingin bermain ke rumah Ayah sambungnya itu.
Kanaya memamerkan perhiasan berlian, tas bermerk, sepatu, dan pakaian edisi terbatasnya kepada teman-temannya.
"Barang-barang mu sangat mewah, Kanaya. Kamu beruntung memiliki Ayah sambung sebaik Tuan Arlo."
"Ya, begitulah. Bukankah, sedari dulu hidupku memang selalu beruntung?" balas Kanaya sambil tersenyum jumawa.
"Ya, kamu benar. Dari dulu, kamu memang selalu jadi yang paling beruntung diantara kita."
"Ngomong-ngomong, apa ini foto saudari tirimu?" tanya seorang teman sambil menunjuk wajah seorang gadis cantik pada sebuah bingkai foto yang tergantung cantik di ruang tamu.
"Ya," angguk Kanaya dengan ekspresi tak suka.
"Cantik sekali."
Kanaya tak menanggapi. Sudah payah dia memamerkan semua barang-barang mahalnya kepada teman-temannya. Namun, tetap saja mereka malah beralih fokus pada Starla.
"Tunggu sebentar!" kata salah satu teman Kanaya yang lain.
Dia melangkah mendekat. Menatap dengan begitu teliti pada potret gadis cantik yang tampak tidak tersenyum dalam foto itu.
"Sepertinya, aku mengenal dia," lanjutnya bermonolog. "Namanya, Starla Abigail, kan?"
"Bagaimana kamu bisa tahu?" tanya Kanaya heran.
"Kanaya, apa kamu lupa? Aku pernah kuliah selama dua tahun di negara A. Dan, kebetulan... Starla ini adalah juniorku di universitas."
"Oh, ya?" tanya Kanaya antusias. Dia perlu mengorek sesuatu dari temannya itu.
"Kalau begitu, ceritakan padaku soal Starla selama kuliah di negara A! Apa dia pintar atau malah bodoh?"
"Dia sangat pintar, Kanaya. Banyak orang yang memuji kejeniusannya. Ditambah lagi, dia itu sangat cantik. Hampir semua pria tampan dan kaya yang ada di kampus kami, pasti pernah berusaha mengejarnya. Tapi, sayangnya ada rumor yang sedikit kurang baik tentangnya."
"Apa?" tanya Kanaya dengan pupil mata yang melebar.
"Dia menjadi simpanan seorang pengusaha kaya raya," jawab teman Kanaya.
"Benarkah?"
"Ehm," angguk perempuan dengan rambut keriting alami itu.
"Kau pernah melihat pria itu secara langsung?" tanya Kanaya lagi.
Temannya itu menggeleng. "Tentu saja tidak. Aku hanya pernah melihatnya dari belakang saja. Itupun dari kejauhan. Dia pria yang tinggi dengan bahu yang lebar serta pinggang yang ramping. Menurutku, dia tidak terlihat seperti sosok laki-laki paruh baya sama sekali."
Buang laki² yang demi gengsi & ego tinggi hanya untuk merendahkan dirimu😠
Nino pikir di dunia hanya ada dia saja tanpa ada orang lain yang masih baik untuk menolongmu Starla 💪
Starla bangkit & cari kebahagianmu tanpa Arlo & Nino, masih banyak orang yang baik padamu Starla 💪