NovelToon NovelToon
OFF SCRIPT LOVE

OFF SCRIPT LOVE

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen Angst / Teen School/College / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:17.8k
Nilai: 5
Nama Author: Net Profit

Tama datang dengan satu tujuan: menjaga Lengkara.
Bukan untuk dimiliki, apalagi diperebutkan—cukup memastikan gadis itu baik-baik saja.

Namun mendekati Lengkara tak sesederhana rencananya.
Saat Tama sibuk mencari cara supaya selalu ada di dekat Lengkara, justru Sasa muncul tanpa aba-aba. Terlalu berisik, terlalu berani, dan terlalu sering menyebut namanya seolah mereka sudah sedekat itu.

Ironisnya, Sasa adalah adik dari laki-laki yang terang-terangan disukai Lengkara.

“Bang, 831 gimana? Yes or no?” Sasa menatapnya penuh harap.

Tama mendengus, menahan senyum yang tak seharusnya ada. “Apaan sih, nggak jelas banget!”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Net Profit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

kakak ipar

Nice shoot!!

Teriakan histeris para siswa menggema saat Tama berhasil memasukan bola ke dalam ring. Lelaki itu berlari sambil melambaikan tangan pada para siswi. Dia bahkan melakukan kiss bye dengan kedua tangannya hingga membuat para siswi makin histeris. Bosan karena mencari Lengkara selepas pergi dengan Dirga tadi ia memutuskan untuk bermain basket. Sekalin memvalidasi dirinya sendiri, apakah dia tanpak tak menarik di mata para siswi? nyatanya tidak, sama seperti di sekolah lamanya, para siswi berteriak terpesona akan setiap hal yang ia lakukan.

“Ter Arhan Arhan udah gue nih.” Ucap salah satu siswi.

“Liat keringet dia ngucur kayak gitu, gue auto pengen jadi handuk biar bisa ngelap tubuh doi.” Sambung siswi lain.

Setelah keliling mencari Dirga dan mendapati lelaki itu sedang mengisi kegiatan MPLs dengan gadis lain membuatnya tak senang. Ia terseret arus Dila dan Selvia yang membawanya ke lapang basket. Tak disangka keramaian disana disebabkan oleh orang yang tadi pagi mengantarnya sekolah.

Kara hanya merinding mendengar ucapan teman-temannya, dia sama sekali tak berpikiran jauh segila itu.

“Jadi handuk? Ih ogah amat.” Cibirnya dalam hati.

Menyadari ada Kara di sisi lapangan membuat Tama tersenyum simpul kemudian segera mengoper bola pada pemain lain dan keluar dari lapang menghampiri Kara. “Break dulu deh.”

Kara bersikap biasa saja saat lelaki dengan stelan olahraga itu menghampirinya, berbeda dengan Dila yang langsung heboh sambil menyikut lengan Kara berulang kali.

“Dia kesini, Ra!”

“Nonton juga, Ra?” sapa Tama saat berdiri di depan Kara, tangan kanannya menyugar rambut basahnya kebelakang dan menyeka keringat dengan asal.

“Hm diajakin dia tuh.” Kara menunjuk Dila yang tiba-tiba memberikan botol air mineral padanya.

“Kasih minum, Ra.” Bisik Dila.

Ck! Kara berdecak namun tetap menerima botol air mineral itu.

“Minum gih!” Kara menyodorkan botol air mineral di tangannya.

Tama menerima air mineral itu dengan senang hati.

“Thanks yah. Udah perhatian sama gue.” Tama langsung membuka tutup air mineral itu dan meneguk sebagian isinya, sedang sisanya ia guyurkan ke rambut hingga tetesan-tetesan air itu berjatuhan dari rambutnya.

“Dila yang beli bukan gue.” Ucap Kara sambil menunjuk Dila dengan tatapannya.

“Udah gih balik lapang, main lagi. Nggak enak gue, anak-anak pada ngeliat kesini semua.” lanjutnya.

"Biarin aja lah. Emang kenapa?" Tama berbalik sebentar dan benar saja deretan semua siswi melihat ke arahnya. Dia tersenyum ramah seraya mengangguk membuat siswi-siswi makin histeris padanya.

"Rizz farming terus!" sindir Kara.

"Gue nggak rizz farming yah, mereka aja yang pada datang sendiri." balas Tama.

"Emang udah cakep dari lahir." lanjutnya.

"Cih pede banget jadi orang."

"Ya emang gue cakep kok. Kata mama gue nih cakepnya nurun dari papa. Secara papa gue dulu most wanted di sekolah yang dulu, so wajar kalo anaknya digilai banyak cewek."

"Nggak ngerti deh kenapa sih cewek-cewek pada histeris cuma gara-gara liat lo nyiram rambut pake air mineral?" Kara masih bergidig aneh melihat tatapan penuh pesona teman-temannya pada Tama.

"Ya karena gue keren lah." balas Tama penuh percaya diri sambil mengedipkan sebelah matanya.

Kara justru tersenyum ilfeel jadinya,

"Ck! kayak gitu doang dibilang keren? kalo menurut gue malah aneh." Kara menggelengkan kepalanya.

"Kalo mau keramas mending ke kamar mandi ngapain malah diguyur pake air mineral."

Tama mencubit pipi Lengkara sambil tersenyum.

"Lama-lama gue gemes deh sama lo, Ra!"

"Gue cuma ngeguyur air dikit biar seger, bukannya mau keramas."

Kara mengusap berulang kali bekas cubitan Tama.

"Jangan pegang-pegang gue deh. ngeselin!" gerutunya.

"Iya sorry deh ntar gue ulangin lagi." ucap Tama yang mendapat balasan tatapan tajam dari Kara.

"Maksud gue nggak akan gue ulangin lagi." ralatnya cepat.

"Ntar pulang bareng gue lagi nggak? gue anterin deh, dari pada lo naik ojeg, panas." lanjutnya.

“Tama ayo mulai lagi!” teriak pemain lain dari tengah lapang.

“Bentar, bro!” jawab Tama.

“Sana gih! Apa mau dikeluarin dari pertandingan? Yang lain udah mau main tuh.” Usir Kara.

“Nggak apa-apa kalo dikeluarin dari pertandingan asal jangan dikeluarin dari hati kamu aja, Ra!” ucap Tama dengan kedipan matanya.

“Gombal!” balas Kara.

“Layaknya ring basket, harus melompat tinggi dan butuh fokus untuk memasukan bola, begitu pun juga kamu.”

“An jir siapa yang lempar bola?” Tama langsung menengok ke belakang saat bola basket dengan cukup keras menghantam punggungnya, padahal dia belum selesai dengan rayuannya pada Kara.

“Nggak usah banyak omong. Lawan gue!” ucap lelaki yang berdiri tak jauh darinya dengan seragam putih abu yang rapi.

Tama mengambil bola yang baru mengenainyasambil menatap santai orang yang melemparnya, "ah siapa tadi namanya yang tadi pagi narik Kara dari gue?" batinnya.

Tama berjalan lebih dekat hingga name tag di baju lelaki yang berdiri tak jauh dari Lengkara terbaca, "Dirgantara." batinnya.

“Bentar yah, Ra. Gue beresin dulu tuh anak. Rese banget dah!” ucap Tama sebelum pergi.

“Tama, lo nggak usah lawan dia deh. Nggak bakalan menang.” Kara menarik tangan Tama yang hendak menjauh.

Melihat interaksi Tama dan Kara membuat Dirga makin kesal. Dia berjalan cepat menghampiri keduanya dan segera menepis tangan Kara dengan kasar.

“Susah banget sih lo dibilangin, Ra!” sentaknya.

“Woles... woles, bro. Jangan kasar sama cewek!” Tama berdiri di depan Kara.

“Gue bakal lawan lo!” ucapnya pada Dirga.

Tama menengok pada Kara sebelum beranjak.

“Kalo gue menang, lo harus setuju balik bareng gue, Ra!”

“Nggak usah banyak omong, gue pastiin lo nggak bakal bisa nganter Kara balik.” Ucap Dirga kemudian berlari lebih dulu ke lapang sambil mendribble bola di tangan kanannya.

“So, kita lihat aja nanti. Yang berhasil nyetak 3 poin duluan dia yang menang.” Balas Tama yang mulai mengincar bola dari tangan Dirga.

Suasana lapang basket itu kian memanas saat ketua OSIS most wanted kaum hawa bertanding dengan siswa baru.

“Sumpah demi apa gue bisa liat dua pangeran main basket. Ini gila sih...” ucap seorang siswi.

“Lo pilih mana, Pratama Arhan apa kak Dirgantara?”

“Nggak tau gue, dua-duanya cakep. Gue pilih yang menang aja.”

“Ah oleng lo. Katanya fans garis keras Kak Dirga.”

“Kak Dirgantara number one tapi Pratama Arhan juga oke.”

Kara hanya menggeleng mendengar ocehan-ocehan siswi yang terus mengomentari dua pemain di lapang sana. Mereka hanya menggunakan 1 ring basket saja untuk by one. Dirga tampak menguasai bola tapi setiap tembakan bolanya selalu berhasil ditepis oleh Tama.

“Kak Tama aku padamu!” teriakan beberapa siswa kompak saat Tama berhasil mencetak angka lebih dulu.

Tama balas tersenyum dan melambaikan tangan pada mereka, dia juga melayangkan kiss bye pada Kara yang hanya tersenyum sekenanya.

“Kayaknya Lengkara bakal bener-bener balik sama gue!” ucapnya pada Dirga.

“Baru 1 poin, belum apa-apa.” Jawab Dirga.

Ck! Dirga berdecak kesal melihat sikap Tama pada Kara, lagi-lagi udara terasa susah untuk dihirup menyisakan sesak di dadanya. Dirga menarik dasi yang ia kenakan dan melemparkannya asal, dia juga membuka dua kancing teratas bajunya, membuat siswi-siswi mendapatkan pemandangan menyejukkan mata siang itu.

“Kak Dirga kalo berantakan kayak gitu makin keren.” Puji salah satu siswi.

“Coba itu kancing di buka satu lagi dah auto ngiler gue.” Timpal siswi lainnya.

“Apa-apaan coba pake pamer buka-buka kancing segala!” Berbeda dengan siswi-siswi yang heboh memuji Dirga, Kara justru merutuki tindakan Dirga. Melihat lelaki itu menguasai bola pun jadi tak lagi menyenangkan. Bahkan saat Dirga berhasil mencetak 1 poin pun Kara tak bersorak seperti teman-temannya yang lain.

“Tama semangat!” teriak Kara.

“Go semangat Tama Go!!” teriaknya lagi yang langsung dihadiahi sikutan oleh Dila.

“Kok malah dukung Tama sih? Katanya calon istri Dirga.”

“Kesel gue.”

“Lah kenapa? Dirga keren banget. Gue baru tau kalo Dirga ternyata jago basket juga. Perasaan dari dulu dia biasa aja kalo pelajaran olahraga.” Ucap Dila.

“Eh gila dia nyetak poin lagi.”

“Dirgantara i love you...” teriak Dila.

“Calon suami gue ih!!” ucap Kara.

“Tama ayo semangat, lo pasti bisa menang!” teriak Kara.

“Lo aneh, Ra!” cibir Dila.

“Ngaku calon istri Dirga tapi malah dukung lawan.”

“Dibilang gue lagi kesel. Gue nggak suka yah orang-orang tau My Dirgantara jago basket, ntar makin banyak fans dia.” Ucap Kara.

“Terus itu apa-apaan coba dia pake buka-buka kancing baju, gue nggak suka orang-orang liat dada calon suami gue.”

Mendengar Kara yang terus menyemangati Tama membuat Dirga kian kesal.

“Gue end sekarang. Lo jangan deket-deket sama adek gue!” ucapnya yang langsung mengambil alih bola kemudian memasukannya dengan mudah.

“Oh jadi cuma adek? Gue kira lo cowoknya.” Ucap Tama, dia hanya tersenyum menerima kekalahannya.

Tama sedikit termenung mendengar kata adik, berdasarkan info dari mamanya Lengkara itu hanya mempunyai adik laki-laki bukan kakak. Apa mungkin Lengkara itu punya kembaran dan orang itu adalah Dirga? Kembar laki-laki dan perempuan kan banyak yang seperti itu, mengingat bagaimana kesalnya Dirga hanya karena ia menyentuh Kara sedikit. Atau mungkin lelaki dihadapannya ini saudara sepupunya Lengkara? batin Tama.

“Ya udah Bang, sorry karena tadi udah pegang-pegang adek lo. Gue bakal memantaskan diri buat jadi cowoknya Lengkara. Tolong jangan dipersulit yah bang, kasih gue restu aja. Beneran deh gue bakal jagain adek lo.” Lanjutnya.

"Adek gue dilarang pacaran!" ketus Dirga yang langsung berjalan ke pinggir lapang menghampiri Kara.

"An jir calon kakak ipar galak amat." batin Tama.

"Si tante ngasih info nggak lengkap nih. Kalo aja gue tau dari awal dia kakaknya Lengkara, nggak bakal gue lawan deh."

1
Rita
emang😂
Rita
awas hbs mkn tenaga lbh2 😂
Rita
😂😂😂😂😂😜
Rita
abang ktmu gede Kara k2😜😂😂😂
Dwisya Aurizra
si micin tuh biang rusuh, nyebelin tp ngangenin awas loh tam sebentar LG Lo bakal kecintaan sama si micin
Ummah Intan
boong banget si micin
Ummah Intan
cie cie ..jutek jutek perhatian
Ummah Intan
Dirga emang bucin brutal ma kara
Septi
cieee.. manis katanya 🤭
Septi
kalau inget Dirga inget di ledekin papa Rama, soal minum susu tiap hari. beda konsep yang diomongin papa mertua sama yang dialamin Dirga 😂😂🤭
Septi
siapa lagi yang nyuekin Sasa kalau bukan Tamarin🤣🤣
Septi
orang kayak Sasa nggak bakalan punya keruwetan hidup🤭
Septi
kok kita samaan Sa, cita-citanya 🤣🤣
👑yosha💣
semangat mengejar cinta y micin ......
aku jadi penasaran kayak apa ya Tama bucin sama Sasa🤔🤣🤣🤣
Defvi Vlog
bagus. ceritanya aku suka🥰👍
MACA
abang2 yg di tipu bocil🤭🤭
MACA
drama ini...turunan kaleng
MACA
tatap terus bang...tayap...
MACA
pokknya pepet terus cin...jangan kasih kendor si tamarin
MACA
kagetlah...g jualan bakso...koq tiba2 ada yg manggil abang🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!