Guno adalah seorang pria yang hidupnya berubah drastis dalam semalam. Istri tercintanya meninggal dunia akibat ledakan gas tragis di rumah mereka. Kejadian itu mengubah status Guno dari seorang suami menjadi duda dalam sekejap.
Sebagai seorang guru yang dikenal berdedikasi tinggi, Guno dikelilingi oleh siswa-siswi berprestasi yang baik dan simpatik. Saat kabar duka itu tersebar, seluruh penghuni sekolah memberikan simpati dan empati yang mendalam. Namun, di tengah masa berkabung itulah, muncul sebuah perasaan yang tidak biasa. Rasa peduli Guno yang semula hanya sebatas guru kepada murid, perlahan berubah menjadi obsesi terhadap seorang siswi bernama Tamara.
Awalnya, Tamara menganggap perhatian Guno hanyalah bentuk kasih sayang seorang guru kepada anak didiknya yang ingin menghibur. Namun, lama-kelamaan, sikap Guno mulai membuatnya risih. Teman-teman Tamara pun mulai menyadari gelagat aneh sang guru yang terus berusaha mendekati gadis itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silviriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
I love purple
Cuaca semakin sore ada saja gebrakannya yang tadinya panas tiba - tiba hujan disertai angin. Guno yang baru saja mengantar Tama pulang dengan jarak rumah yang cukup berjauhan tentu kena imbasnya. Mau berhenti sejenak rasanya tanggung dan buang waktu, akhirnya mau tak mau dia melanjutkan perjalanan kerumah dengan kondisi tubuh yang basah kuyup. Guno membuka pintu rumah lalu dia membungkukkan badan untuk melepas sepatu dan kaos kakinya.
" Bu, Guno pulang! " Ucap Guno sembari sesekali wajahnya melihat kedalam rumah namun yang dia dapatkan hanyalah keheningan yang perlahan semakin hari semakin terbiasa dengan suasana rumah.
Dulu ketika Guno basah kuyup seperti itu pasti Hana langsung menghampirinya sembari membawa handuk untuk mengeringkan badan Guno. Masuk kedalam rumah Hana sudah menyiapkan sayur SOP atau kalau tidak dia akan menawari Guno makan mie instan pakai bakso.
Kini keheningan yang lama - lama menyiksa Guno meski mulai terbiasa namun bayang Hana kadang masih melekat dipikiran Guno.
Setelah sepatu dan kaos kakinya terlepas Guno berdiri mematung matanya menyisir ke setiap sudut rumah, rumah itu gelap lampunya tidak dihidupkan ini sudah jam 05.00 sore waktunya lampu menerangi semua ruang rumah, dulu ketika Hana masih ada rumah ini terasa hangat. meski hanya diisi bertiga tapi rasanya ramai sekali, pun Guno dan Hana tidak memiliki anak tapi kesepian kesunyian itu tidak pernah hadir, justru malah hadir sekarang.
Dengan tetesan air hujan yang turun dari rambut Guno kesedihan itu mulai datang mungkin Guno merasakan kehilangan Hana itu sekarang! Hari pertama Hana meninggal dunia, Guno hanya merasa kalau Hana cuma pergi tapi sekarang ternyata Hana pergi untuk selamanya dan tidak akan kembali lagi, tidak akan pernah dia temui lagi sampai kapanpun.
perlahan air mata Guno turun, Guno menangis. Hari ini tidak ada yang menyakitinya, meskipun pagi tadi ada insiden tentang cctv namun ternyata itu bukan apa-apa! Hanya melatih detak jantungnya saja.
" Hana ... "
Guno memanggil nama perempuan yang memberinya gelar suami, nama yang pernah dia sebut dalam akad sakral yang mengharu birukan kehidupan Guno pada waktu itu.
" Saya terima Nikah dan kawinnya Hana bin Jaleludin dengan emas seberat sepuluh gram dan uang berjumlah lima belas juta dibayar tunai! "
" Sah? "
" Sah! "
Bayang pernikahan pun terlintas dibenak dan pikiran Guno. Makin deras saja air matanya jatuh kepipi, Isak tangis sesenggukkan seperti anak kecil pun kini Guno lakukan dan dia hanya bisa melakukan itu didepan pintu rumahnya tanpa bergerak sama sekali. Entah terdengar atau tidak oleh tetangga pasalnya suara Guno menggema didalam rumah.
" Harusnya waktu itu aku lepas regulatornya! Harusnya aku tidak mengabaikan sedikitpun dari pertanyaan kamu! kalau saja waktu itu aku ke dapur untuk mengecek semuanya, kayaknya sampai sekarang kamu masih ada untuk aku!!! "
Penyesalan demi penyesalan dia katakan sekeras mungkin pun hujan yang bergemuruh menutupi suara Guno yang sudah naik tujuh oktaf. Tubuh Guno lunglai, dia terduduk dan menyandarkan kepalanya ke kusen pintu.
Tangis itu tak langsung reda, dia banjirkan keseluruh permukaan wajahnya yang dimana air matanya menyatu dengan air hujan dan keheningan itu masih memekik suasana rumahnya.
*********************
Dia mandiri, dia berusaha tegar, dia anak lelaki yang tak mau memperlihatkan kelemahannya. Suara tangis yang bergemuruh menyaru dengan air hujan kini sudah reda bersamaan dengan hujan yang sedari tadi mengguyurnya dijalan.
Langkahnya masih lemah namun pasti, dia menuju ke kamarnya begitu sampai didepan pintu kamar samar - samar Guno mendengar suara perempuan bersenandung damai.
"La ... la... la... "
Guno terdiam mendengar suara itu perlahan tangannya menggenggam gagang pintu lalu dengan cepat dia membukanya.
Clek!!!!!
Dug!!!
Mata Guno langsung menyorot ke sumber suara yang sedang bersenandung itu!
" Astaga!! "
suara perempuan itu dan suara Guno serentak membentak mengucap satu kata yaitu ASTAGA!.
Ternyata perempuan itu adalah Ibu mertuanya sendiri, dia berada dalam kamar Guno menggunakan baju Hana yang dimana baju itu selalu dipakai Hana pada saat malam hari lebih tepatnya jika Hana harus melayani Guno diatas ranjang.
Sontak Guno langsung menutup mata dan merangkak kesisi lain agar dirinya tidak melihat langsung lekuk tubuh ibu mertuanya itu. Guno menyandarkan dirinya ke tembok sembari mengelus - elus dadanya.
Guno bergumam " Sialan! Beraninya masuk kamar gue " Guno mengatur nafasnya agar lebih tenang dan ibunya dengan terburu memakai pakaiannya sendiri kemudian langsung keluar kamar lalu berlari tanpa menyapa Guno yang terkejut bukan main dengan kelakuannya.
Begitu ibu mertuanya lenyap dari pandangan Guno, kini dia berdiri kemudian masuk kedalam kamarnya yang sudah berantakan karena ternyata baju Hana dikeluarkan satu persatu untuk dicoba oleh ibu mertuanya itu.
Guno menggelengkan kepalanya beberapa kali dia duduk dikursi meja rias dalam keadaan celana yang masih basah.
Guno menatap baju - baju itu, pikiran jelek Guno pun terbuat lalu terpatri dihatinya.
" Masa gue harus usir nenek tua itu? Tapi kalau enggak, ternyata dia sekurang ngajar ini kalau gue gak ada! kalau gue bunuh... bakalan dipenjara, males banget harus berurusan sama negara belum lagi ketemu para napi.. ah malas!!!! "
Guno mengacak - acak rambutnya itu lalu secara perlahan wajahnya bercermin ke kaca.
" Malang banget nasib gue! kalau bukan karena Hana, nenek sihir itu gue usir! Gak peduli warisan dibagi dua, enak saja! Gue yang nyari duit gue juga yang harus kehilangan setengahnya " Guno berbicara pada dirinya sendiri.
Tiba - tiba ditengah keruhnya pikiran Guno suara handphone-nya berbunyi.
Dertt!!!!!!!
Itu notifikasi pesan dari Tama!
" Hai pak, sore. selamat beristirahat dan jangan lupa makan ya "
Guno tersenyum sinis, umpannya telah termakan oleh ikan yang sedari lama dia incar.
" Jangan lupa makan? Gue segeragas ini ya gak mungkin lupa makan, dasar bocah! " ucap Guno sembari membaca kembali pesan dari Tama.
Guno menyimpan handphone-nya itu ke meja rias lalu pandangannya kembali beralih ke tumpukan baju milik Hana. Satu ide-pun tercetus di otaknya " Apa gue kasih aja ya beberapa baju Hana yang muat dibadan Tama? Dipakai nenek sihir gue gak rela tapi kalau dipakai Tama... kan.. bisa memancing gairah " bibir menyungging dan tubuhnya langsung berhambur menghampiri baju - baju itu. Dipilihnya satu persatu kemudian digantung memakai hanger lalu difoto dikirimkan ke Tama melalui pesan chat tadi.
" Sayang, kamu suka tidak baju ini? "
pesan itu dibaca Tama tanpa menunggu waktu kemudian berbalas sampai kesepakatan pun terjadi.
" Ya sayang, suka "
" Besok aku bawa beberapa dulu ya, kamu coba dirumah terus foto kirim ke saya! "
" Oke! Kayaknya yang ungu bagus "
Guno mengerenyitkan keningnya kemudian menatap baju ungu yang dimaksud Tama. Lagi -lagi mulutnya bergumam " Baju Dinas.... " kedua alisnya naik pun jantungnya terasa panas dan berdegup kencang.