NovelToon NovelToon
Perempuan Desa Yang Selalu Dihina

Perempuan Desa Yang Selalu Dihina

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Nikahmuda
Popularitas:672
Nilai: 5
Nama Author: Nur silawati

"Amelia kita sudah menikah, ingat perjanjian kita jika pernikahan ini hanya sementara. Aku menikahimu karena terpaksa.. jangan berharap banyak dari pernikahan ini. Aku pun tidak akan menyentuhnya."ucap Rudi.
Amelia gadis berasal dari desa kidul, bertemu dengan Rudi pria asal ibukota,ia seorang kontraktor yang sedang membangun jalanan di desa Amelia.
Amelia terpaksa menerima lamaran Rudi karena ingin melunasi hutang kedua orang tuanya.
Rudi terpaksa menikahi Amelia karena tunangannya Sarah hilang entah ke mana menjelang 1 minggu pernikahan mereka.
Sementara undangan sudah menyebar kemana-mana.
Untuk menutupi aib keluarga Rudi memilih Amelia untuk ia nikahi.
"Apapun persyaratannya aku terima yang terpenting uang yang kamu janjikan harus tepati..." jawab Amelia tegas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur silawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 14.huru hara di cafe

"Apa..! Statusmu sudah janda sekarang Mel? Cepat sekali berubah status, Aku saja belum berubah statusku,masih single dan jomblo." Asti kaget mendengar dari Amelia Jika ia sudah bercerai dengan Rudi.

Sementara Asih hanya diam dan menyimak pembicaraan dua sahabat itu.

" Iyaa..! Hampir 1 bulan aku menjanda, tidak apa-apa kan statusku janda? Kamu masih mau berteman denganku?"Amelia memang minder menyandang status keramat itu.

Statusnya sangat horor bagi ibu-ibu.. memang janda selalu dipandang sebelah mata, sugestinya para emak-emak janda itu identik akan merebut laki orang.

"No problem..! Status janda tidak mempengaruhi persahabatan kita. Bagaimana dengan  cerbung mu? Pembacanya aku lihat ramai? Ceritamu sangat menarik Lia.. berbeda dengan ceritaku sepi pembaca, aku sudah dua kali bikin novel  ceritaku tidak naik pembacanya sangat sepi, menurutku ceritaku sudah bagus, alurnya pun bagus bahasa yang aku pakai mudah dimengerti.. stuck pembaca hanya di 2000 setiap harinya. Apa mungkin sistem rekomendasinya terkendala Entahlah aku tidak tahu, aku pusing memikirkan ceritaku."keluh Asti.

Asti dan Amelia sama-sama terlahir, dari keluarga sederhana. Dan sama-sama anak sulung dan tulang punggung keluarga.

"Jangan putus asa..! Terus saja berkarya insya Allah dari kegagalan buku-bukumu, pasti akan ada bukumu yang naik pembacanya percaya deh. Usaha itu tidak akan menghianati hasil."Amelia memberikan support untuk sahabat kecilnya itu.

"Asih kegiatannya apa setiap harinya?"tanya Asti.

Asih yang hanya menyimak pembicaraan dua sahabatnya itu, kaget tiba-tiba ditanya oleh Asti.

"Pengangguran mbak ..! Hanya membantu ibu saja di kebun dan di sawah. Aku tidak memiliki keahlian apa-apa, selain bertani dan beres-beres rumah. Ijazahku saja hanya SMP."ucap Asih jujur.

"Miskin harta tidak apa-apa Asih..Asal jangan miskin iman. Kamu tidak berminat bekerja di kota? Seperti asisten rumah tangga atau office girs?"tanya Asti.

Ia memang diperintahkan oleh bosnya untuk mencari asisten rumah tangga atau office boy untuk kantor mereka.

Bosnya Farhan memerintahkan Astina rekrut karyawan dari kampung. Yang benar-benar membutuhkan pekerjaan.

"Memangnya bisa aku kerja jadi office  girls, dengan ijazah SMP ku ini?"tanya Asih penuh dengan semangat.

Amelia merengut  ia yang sangat membutuhkan pekerjaan tidak ditanya oleh Asti.

"Aku juga mau bekerja As?? Kamu hanya bertanya pada  Asih? Aku tidak ditanya?" Protes Amelia dengan wajah cemberut.

"Kamu sudah punya penghasilan dari menulis novel, dan menulis naskah. Jangan serakah jadi orang, kasih kesempatan yang lain yang membutuhkan pekerjaan seperti Asih. Sebenarnya bosku merekrut karyawan dalam berbagai jenis bidang. Dia juga butuh resepsionis, office boy, dan asisten rumah tangga."jelas  Asti.

"Menulis itu hobiku, bonusnya ya  gajian. Aku tidak mau hanya fokus dan menulis, Aku ingin punya pekerjaan tetap. Berinteraksi dengan banyak orang, supaya bisa menghasilkan ide-ide segar bahan untuk menulis." sekarang Amelia membutuhkan dunia luar, ia ingin memiliki banyak teman supaya menambah wawasannya, dan melahirkan inspirasi.

"Ya sudah kalian berdua coba saja melamar lusa di kantor bosku di daerah Gading. Mudah-mudahan kalian berdua diterima. Amelia jadi resepsionis, Asih office girl Andaikan aku bosnya pemilik perusahaan itu, kalian berdua tidak perlu melamar langsung ku suruh kerja hari itu juga."ucap Asti, imajinasinya sedang menghayal Ia seorang CEO sebuah perusahaan besar.

Mata Asti menatap ke depan ia tertegun melihat sosok laki-laki yang sangat ia kenal.

"Lia itu kan Rudi? Itu calon istrinya? Kok penampilannya aneh ya? Kayak orang-orangan sawah.." Asih dan Amelia menoleh mengikuti pandangan mata Asti.

"Ya itu Mas Rudi.! Bersama calon istrinya yang bernama Kamila. Mereka akan menikah bulan depan, aku tidak perduli dengan mereka berdua." Amelia tidak mungkin menceritakan siapa calon istri  Rudi.

Biarkan orang tahu dengan sendirinya... Saat ini yang Lia pikiran masa depannya, bukan masa lalu.

"Tinggi sekali ya pacarnya Rudi? Kutilang darat."ucap  Asti.

"Kutilang darat??"tanya Amelia.

"Iya..! Kurus tinggi langsing dada rata."Amelia dan Asih tertawa terpingkal-pingkal mendengar ucapan Asti.

"Iya bener kan?? Kurus lurus, dadanya rata. Ada sih jendolan sedikit. Tapi sedikit sekali, namanya orang cinta ya. Model ondel-ondel seperti itu bak bidadari turun dari taksi cantiknya. Bagi yang mencintainya." Asih sampai mengeluarkan air mata karena tertawa terpingkal-pingkal.

Asti memiliki wajah seriu saat berbicara  setiap ia mengucapkan kalimat membuat Asih dan Amelia tertawa...

"Mereka berjalan ke arah  kita.. apa  Mas Rudi melihatku di sini?"tanya Amelia.

"Jangan GR deh?? Kita ini nongkrong di sebuah cafe, di mana semua orang bisa nongkrong di sini. Mungkin mereka mau ngopi-ngopi cantik  Disni." Amelia tersipu malu. Apa yang dikatakan  Asti benar sekali.

Mereka sedang berada di sebuah cafe yang lumayan terkenal di ibukota..

Lia menutup wajahnya dengan menu yang sedang ia pegang. Saat Rudi dan Kamila melewati meja mereka.

" Asti..! Kita pindah saja yuk, aku tidak nyaman di sini? Takut terjadi huru-hara." Ucap Lia.

Entah mengapa perasaannya tidak enak tiba-tiba Ia takut   Kamila bikin ulah dengannya.

"Mana Bisa kita pergi begitu saja? Rugi dong..! Makanan dan minuman sudah diorder, udah dibayar pula.. biarkan saja mereka di dunianya dan kita di dunia kita."lagi-lagi Asih tertawa mendengar ucapan Asti..

"Aku tinggal ke toilet sebentar ya. Menenangkan hati dan pikiranku."Amelia merasa aneh Kenapa ia yang nervous saat bertemu mantan suami dan calon istrinya.

Karena terburu-buru ingin menghindari Kamila dan Rudi. Amelia tidak sengaja menabrak prabu saji yang sedang membawa minuman di atas nampan.

Tak ayal minuman itu tumpah dan mengenai seorang pria yang sedang berjalan dengan seorang wanita.

"Astaga.! Jalan itu pakai mata jangan pakai dengkul? Ucap si wanita,ia menghardik Amelia, perbuatan Amelia tidak hanya merugikan pria itu, tapi juga dirinya basah kuyup disiram oleh minuman. Begitupun pramusajinya ikut kena tumpahan minuman.

"Maaf Bu, pak..! Saya tidak sengaja, saya akan bersihkan kemeja bapak." Ucap Amelia dengan tangan gemetar.

Pria itu menepis tangan Amelia yang gemetaran saat membersihkan kemejanya dengan tisu.

"Lepaskan..! Jangan sentuh aku.."hardik pria tersebut. Dengan kasar ia menepis tangan Amelia saat ingin membersihkan kemeja dan jasnya.

"Ini pasti modus Pak! Biasa orang miskin cari kesempatan dalam kesempitan. Pura-pura menabrak orang, terus ia membersihkan kemeja Bapak tiba-tiba  dompet  bapak lenyap. Kamu tahu tidak harga kemeja yang dipakai oleh bosku? Harga makan kamu satu tahun bahkan lebih. Kamu tidak akan sanggup membayarnya, Makanya kalau jalan pakai mata." Asti geram Amelia dibentak dan dihina denga kasar oleh perempuan seksi dan laki-laki kaya itu.

Ia menghampiri  Amelia,suasana menjadi ramai sekali.. insiden itu menjadi perhatian Rudi dan Kamila.

"Mantan istrimu itu? Apa iya bekerja sebagai tukang cuci di resto ini?"Kamila menghampiri Amelia yang sedang dimaki-maki  oleh perempuan cantik.

Asti tentu membela sahabatnya, ia beradu mulut dengan perempuan cantik yang mukanya putih seperti habis pakai porselen. Rambutnya kuning menyala.

"Anda bicara hati-hati jangan terlalu sombong. Walaupun kami orang miskin, haram bagi kami mencuri. Cafe ini dikunjungi oleh kaum medang-mending, bukan menengah ke atas. Kalau anda berkunjung di kafe ini, berarti anda bukan golongan atas dan menengah sama seperti kami." Hardik Asti sambil telunjuknya menunjuk muka wanita berambut pirang itu.

"Amelia..! Kamu bekerja di sini?"tanya kamila dengan lembut.

Amelia menjawab dengan menggelengkan kepala, wajahnya pucat dan tangannya gemetaran..

"Kalau tidak biasa minum di cafe atau makan di cafe mendingan di rumah saja. Jangan sok-sokan makan dan minum di cafe." Ucap Mila.

Amelia sangat malu, semua mata menatapnya. Dunianya seperti akan kiamat hari ini.

"Tidak perlu ikut campur kutilang. Lebih baik kembali ke tempat dudukmu, ini bukan urusan kami."bentak  Asti.

Kamila ingin menjawab, tapi Asti mengancam akan menyiramnya dengan satu gelas minuman warna orange yang tersisa di nampan pramusaji.

Rudi menarik tangan Kamila untuk duduk dan memperingatkan kamila tidak ikut campur urusan Amelia dengan orang yang tidak mereka kenal.

"Tuan maunya damai atau ribut?"tanya Asti tegas.

"Lu nantangin kita?"tanya perempuan berambut mocca

"Lu diem..! Yang kutanya bos lu, lu jongosnya diam.. Mau lu,gue siram dengan minuman ini?"Asti seperti serigala siap menerkam Siapa saja yang kan menyakiti sahabatnya.

Bukan tanpa sebab Asti berani dengan kedua orang itu. Mereka menggunakan seragam perusahaan di mana bosnya sebagai CEO..

"Sudahlah tidak usah diperpanjang.. kasih tahu temanmu, kalau jalan hati-hati, pergunakan mata untuk melihat." Laki-laki yang belum mereka ketahui namanya berlalu meninggalkan Asti, wanita berambut mocca mengekor di belakangnya.

Asti mau minta maaf pada pramusaji, dengan gentlenya mereka menemui pemilik cafe. Dan menanyakan berapa kerugian cafe yang harus mereka bayar.

Setelah negoisasi dengan  owner cafe, Amelia mengganti minuman yang tumpah beserta gelas yang pecah. Sebesar lima ratus ribu.

Amelia merogoh uang di tasnya dan memberikan 5 lembar berwarna merah. Pada owner cafe tersebut.

Lalu ia memberikan satu lembar untuk pramusaji, Lia minta maaf Yang sebesar-besarnya karena seragam pramusaji basah kena tumpahan minuman..

Masalah clear.. mereka kembali duduk di meja mereka untuk menikmati minuman dan makanan yang telah  Asti pesan.

"Mereka itu pembuat sial..! Gara-gara kamu ingin menghindari mereka. Jadi kamu menabrak om- om dan tante-tante tadi."bisik Asti.

Kamila menatap Amelia dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.

Meja mereka hanya berjarak 2 meter, Jadi jika mereka bicara harus menurunkan intonasi supaya tidak didengar oleh Kamila dan Rudi.

"Hemmm..! Makanan dan minuman sebanyak itu? Apa sanggup bayar? Jangan pakai modus pura-pura makanan dan minumannya tidak enak ya? Supaya dikasih gratis..!" Ucap Kamila dengan nada mengejek.

"Ikut campur aja lu kutilang..! Nikmatin saja minuman di meja lu, tidak usah mengurus minuman gua."bentak Asti.

"Ayo.. Kita cepat-cepat habiskan makanan dan minuman, setelah itu kita pergi aku sudah tidak nyaman di sini." Bisik Amelia.ia merasa semua mata menatapnya sinis.

1
Sella Rahmantoni
selamat membaca buku baruku teman-teman semoga suka🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!