NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Tabib Jenius

Reinkarnasi Tabib Jenius

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter Ajaib / Fantasi Timur / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Reinkarnasi / Fantasi Wanita
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: MomSaa

Aruna, dokter bedah jenius dari masa depan, terbangun di tubuh Lin Xi, seorang putri terbuang yang dihukum mati karena fitnah. Di dunia yang memuja kekuatan kultivasi, Lin Xi dianggap "sampah" karena jalur energinya hancur.

Namun, bagi Aruna, tak ada yang tak bisa disembuhkan oleh pisau bedahnya. Menggunakan ilmu medis modern, ia memperbaiki tubuhnya sendiri dan bangkit dari liang lahat untuk menuntut balas dendam.Takdir mempertemukannya dengan Kaisar Yan, penguasa kejam yang sekarat karena kutukan darah. Dengan satu tusukan jarum, Aruna menyelamatkannya dan memulai kontrak berbahaya: Aruna menjadi tabib pribadinya, dan sang Kaisar menjadi tameng bagi balas dendamnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MomSaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21 RTJ

Suasana di Paviliun Teratai seolah membeku setelah keberangkatan burung gagak bermata merah itu. Pelukan Long Chen masih terasa erat, sebuah perlindungan yang nyata namun juga terasa menyesakkan bagi Lin Xi. Di dalam dadanya, sesuatu berdenyut—sebuah rasa dingin yang tajam yang muncul sejak Guru Wu menyentuh nadinya.

Lin Xi perlahan melepaskan diri dari dekapan Long Chen. Ia berjalan menuju jendela, menatap kolam yang airnya tampak hitam pekat di bawah sinar rembulan yang pucat.

"Guru Wu itu... dia tidak hanya memeriksa nadiku," bisik Lin Xi, suaranya nyaris hilang ditiup angin malam.

Long Chen segera mendekat, wajahnya penuh kecemasan. "Apa maksudmu? Dia mengatakan kau bersih. Apakah dia melakukan sesuatu yang tidak kami sadari?"

Lin Xi mengangkat pergelangan tangan kanannya. Di bawah kulitnya yang putih porselen, kini tampak garis tipis berwarna keunguan yang merambat dari titik nadi menuju lengan atas. "Dia meninggalkan 'pelacak'. Saat dia melepaskan tangannya, dia menyuntikkan sedikit energi Yin yang sangat murni. Dia tahu aku menyembunyikan sesuatu, Chen. Dia hanya tidak ingin mengatakannya di depan Kaisar."

"Biksu sialan itu!" Long Chen menghantamkan tinjunya ke bingkai jendela kayu. "Aku akan menyeretnya kembali dan memaksanya mencabut ini!"

"Jangan!" Lin Xi memegang lengan Long Chen. "Jika kau melakukannya, itu sama saja dengan mengakui bahwa kita menipu Kaisar. Saat ini, posisi kita seperti berjalan di atas tali tipis di atas jurang. Satu langkah salah, dan kita semua akan jatuh."

Long Chen menarik napas panjang, mencoba menenangkan amarah yang membakar dadanya. Ia menatap garis ungu di lengan Lin Xi dengan rasa bersalah yang mendalam. "Lalu apa yang harus kita lakukan? Kita berangkat ke Utara dalam tiga hari. Perjalanan itu akan memakan waktu berminggu-minggu di bawah cuaca ekstrem. Bagaimana kau bisa bertahan jika energi Yin ini terus menggerogotimu?"

"Kakek Bai," panggil Lin Xi dalam hati.

“Anak muda itu benar,” suara Kakek Bai terdengar parau dan lelah di dalam kesadaran Lin Xi. “Biksu itu adalah ahli racun jiwa. Garis ungu itu disebut 'Lilitan Arwah'. Ia tidak akan membunuhmu dengan cepat, tapi ia akan bertindak sebagai kompas bagi musuh. Ke mana pun kau pergi, mereka akan tahu koordinat pastimu. Dan yang lebih buruk... ia akan perlahan melumpuhkan sisa kekuatan fisikmu.”

Lin Xi menyampaikan penjelasan Kakek Bai kepada Long Chen. Ruangan itu kembali hening, hanya terdengar suara jangkrik di kejauhan.

"Jika begitu," ucap Long Chen dengan mata yang berkilat tajam, "kita tidak akan pergi melalui jalur resmi. Aku akan mengirimkan seribu Garda Bayangan melalui jalur utama sebagai pengalih perhatian. Kita berdua, bersama Satu, akan menempuh jalur rahasia melalui Lembah Kematian."

"Itu terlalu berbahaya untukmu, Pangeran," Satu tiba-tiba muncul dari balik bayangan di sudut ruangan. "Lembah Kematian adalah wilayah tak bertuan. Banyak kultivator sesat dan binatang buas yang bersembunyi di sana."

"Justru karena itu tidak ada yang akan menyangka kita lewat sana," balas Long Chen tegas. "Satu, siapkan segala keperluan. Kita akan berangkat besok malam, dua hari lebih awal dari perintah resmi. Kita akan meninggalkan 'pengganti' di kereta kencana untuk mengelabui mata-mata Guru Wu."

Satu membungkuk hormat. "Hamba laksanakan."

Setelah Satu menghilang, Long Chen menuntun Lin Xi untuk duduk di kursi panjang. Ia mengambil sebuah kotak kayu kecil dari lemari dan mengeluarkan minyak obat beraroma hangat. Dengan sangat lembut, ia mulai memijat lengan Lin Xi yang terdapat garis ungu tersebut.

"Kenapa kau selalu melakukan ini, Chen?" tanya Lin Xi pelan.

Long Chen tidak mendongak, ia fokus pada jemarinya yang bergerak ritmis. "Melakukan apa?"

"Menempatkan dirimu dalam bahaya demi aku. Kau adalah Pangeran Kedua. Kau punya peluang besar untuk menjadi Kaisar. Jika kau tertangkap melanggar perintah jalur perjalanan atau jika terjadi sesuatu padamu di Lembah Kematian, semua ambisimu akan hancur."

Long Chen berhenti memijat. Ia menatap mata Lin Xi dengan intensitas yang membuat gadis itu terpaku. "Ambisi tanpa dirimu di sampingku hanyalah sebuah singgasana kosong yang dingin, Xi'er. Sejak kecil, saat kita berlatih pedang bersama, kau adalah satu-satunya orang yang melihatku sebagai 'Chen', bukan sebagai 'Pangeran Kedua'. Kekaisaran ini bisa terbakar habis, asalkan kau tetap ada di sisiku untuk membangunnya kembali."

Lin Xi merasakan sesuatu yang hangat menjalar di hatinya, sesuatu yang asing bagi seorang Jenderal yang dididik untuk tidak memiliki perasaan. "Kau terlalu romantis untuk seorang pria yang dikenal dingin di pengadilan."

Long Chen tersenyum tipis, sebuah senyuman yang hanya diperuntukkan bagi Lin Xi. "Hanya untukmu. Sekarang, cobalah untuk tidur. Aku akan menjagamu di sini."

Keesokan harinya, persiapan dilakukan dengan sangat rahasia. Lin Xi menghabiskan waktunya di perpustakaan pribadinya, mencari catatan kuno tentang Lembah Kematian. Ia tahu bahwa perjalanannya kali ini bukan sekadar tugas diplomatik, melainkan perlombaan melawan waktu sebelum "benih" kegelapan di dalam dirinya mekar sepenuhnya.

Saat ia sedang membaca, pintu perpustakaan terbuka sedikit. Pangeran Pertama, Long Jian, masuk dengan langkah angkuh.

"Masih sibuk dengan buku-bukumu, Jenderal?" sapa Long Jian dengan nada meremehkan.

Lin Xi berdiri dan memberi hormat sekedarnya. "Pangeran Pertama. Ada apa gerangan Anda mengunjungi tempat rendah ini?"

Long Jian berjalan berkeliling, jarinya menyentuh rak-rak buku dengan jijik. "Aku hanya ingin memperingatkanmu. Perjalanan ke Utara ini... jangan berharap untuk kembali dengan kemenangan yang sama seperti dulu. Ayahanda sudah mulai ragu padamu. Dan saudaraku, Long Chen... dia terlalu lemah karena perasaannya padamu. Jika dia jatuh, itu karena kau."

Lin Xi menatap Long Jian dengan mata dingin. "Pangeran Pertama sepertinya sangat mengkhawatirkan keselamatan Pangeran Kedua. Bukankah itu sebuah kemajuan dalam hubungan persaudaraan kalian?"

Wajah Long Jian memerah. "Kau! Jaga bicaramu! Ingat, kau hanyalah seorang Jenderal yang sudah kehilangan Qi-nya. Kau tidak lebih dari sekadar perisai yang sudah retak."

"Perisai yang retak tetap bisa melukai tangan yang mencoba menghancurkannya," balas Lin Xi tenang.

Long Jian mendengus dan berbalik pergi. Namun sebelum ia keluar, ia berhenti. "Oh, aku lupa memberitahumu. Guru Wu mengirimkan pesan. Dia berkata, 'Hati-hati dengan angin malam di Utara, karena ia bisa membawa suara orang-orang yang sudah kau bunuh'."

Setelah kepergian Long Jian, Lin Xi terduduk lemas. Kata-kata itu... Guru Wu jelas tahu tentang hubungannya dengan energi Arwah di perbatasan.

"Nak," suara Kakek Bai muncul kembali. "Pangeran Pertama itu... ada aroma 'Merah' di jubahnya. Dia sudah bersentuhan dengan mereka."

Lin Xi mengepalkan tangannya. "Jadi benar. Musuh yang sebenarnya bukan hanya di Utara, tapi di dalam garis keturunan kerajaan ini sendiri."

Malam yang ditentukan tiba. Sesuai rencana, sebuah kereta kencana mewah berangkat dari gerbang depan dengan pengawalan ketat, membawa dua orang yang menyamar sebagai Long Chen dan Lin Xi. Sementara itu, tiga sosok berpakaian hitam pekat menyelinap melalui saluran air rahasia di bawah istana, keluar di hutan belakang yang menuju arah Barat Laut—jalur menuju Lembah Kematian.

Lin Xi merasa tubuhnya sangat berat. Udara malam yang lembap membuat garis ungu di lengannya berdenyut menyakitkan.

"Bisa bertahan?" bisik Long Chen di sampingnya. Ia memegang pinggang Lin Xi untuk membantunya melompati akar pohon yang besar.

"Aku bisa," jawab Lin Xi singkat, meski napasnya mulai memburu.

Mereka terus bergerak dalam diam selama berjam-jam hingga tiba di mulut sebuah lembah yang tertutup kabut tebal berwarna abu-abu. Bau busuk bangkai dan aura kematian tercium sangat kuat dari sana.

"Ini adalah pintu masuknya," Satu memberi isyarat agar mereka berhenti. Ia mengeluarkan sejenis bubuk dari kantongnya dan menaburkannya di sekitar mereka. "Ini akan menutupi aroma manusia kita dari binatang buas, tapi tidak dari kultivator sesat."

Saat mereka mulai memasuki lembah, suara tawa melengking terdengar dari atas pohon-pohon mati yang menjulang tinggi.

"Lihat siapa yang datang... mangsa kecil yang harum," sebuah suara parau bergema.

Tiba-tiba, selusin sosok dengan topeng kayu bermunculan dari balik kabut. Mereka membawa sabit besar yang dialiri energi gelap.

Long Chen langsung menghunus pedang Bintang Jatuh-nya. Cahaya biru keputihan memancar dari pedang itu, menerangi kabut di sekitar mereka. "Satu, jaga Lin Xi. Jangan biarkan satu pun dari mereka menyentuhnya!"

Pertempuran pecah dalam sekejap. Long Chen bergerak seperti kilat, setiap tebasan pedangnya memutus energi gelap para penyerang. Namun, jumlah mereka seolah tidak ada habisnya.

Lin Xi mencoba menarik pedang pendeknya, namun rasa dingin di nadinya tiba-tiba meledak. Ia jatuh berlutut, memegangi dadanya yang sesak. Garis ungu di lengannya kini bercahaya redup.

"Xi'er!" teriak Long Chen saat melihat seorang penyerang melompat ke arah Lin Xi.

Satu mencoba menghalangi, namun ia tertahan oleh tiga orang lainnya. Di saat yang kritis itu, Lin Xi merasakan dorongan energi yang sangat besar dari dalam dirinya. Bukan Qi murni miliknya, melainkan energi hitam yang dingin dan liar.

"TIDAK! JANGAN SEKARANG!" teriak Kakek Bai dalam pikiran Lin Xi.

Tapi terlambat. Benih kegelapan itu bereaksi terhadap ancaman maut. Mata Lin Xi tiba-tiba berubah menjadi hitam pekat tanpa selaput putih. Sebuah gelombang energi gelap meledak dari tubuhnya, menghantam semua penyerang hingga terpental dan hancur menjadi debu dalam sekejap.

Hening.

Long Chen terpaku menatap Lin Xi. Kabut di sekitar gadis itu tersingkap, memperlihatkan Lin Xi yang masih berlutut dengan uap hitam keluar dari pori-pori kulitnya.

Lin Xi mendongak, menatap Long Chen dengan mata hitamnya yang kosong. Untuk pertama kalinya, Long Chen merasakan rasa takut—bukan takut akan nyawanya, tapi takut akan sosok yang kini berada di depannya.

"Chen..." suara Lin Xi terdengar ganda, seperti ada suara lain yang berbicara bersamanya.

Lalu, ia pingsan di atas tanah yang tandus.

Long Chen segera berlari dan menangkap tubuhnya. Ia tidak peduli dengan energi gelap yang masih menyengat kulit tangannya. Ia mendekap Lin Xi erat-erat.

"Kita tidak akan kembali, Xi'er," bisik Long Chen dengan suara pecah. "Apapun yang ada di dalam dirimu, kita akan menghadapinya bersama. Aku berjanji."

Di kejauhan, di puncak tebing lembah, sesosok pria berpakaian merah berdiri memperhatikan mereka. Ia menurunkan busur besarnya dan tersenyum tipis.

"Bunga itu... akhirnya mekar," ucapnya pelan sebelum menghilang menjadi sekumpulan kelopak bunga Manjusaka yang terbang ditiup angin.

1
Dewiendahsetiowati
hadir thor
MomSaa: Siap kak🤗
total 1 replies
Amazing Grace
Lo gue anjay🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!