Udara terasa berbeda hari itu lebih berat, lebih sunyi. Ia mengucapkan sebuah kalimat yang telah lama ia simpan, berharap waktu masih cukup untuk mendengarnya kembali.
Tak ada balasan.
Hanya diam yang terlalu lama untuk diabaikan.
Detik demi detik berlalu tanpa perubahan, seakan sesuatu telah bergeser tanpa bisa dikembalikan. Kata cinta itu menggantung, tidak jatuh, tidak pula sampai, meninggalkan pertanyaan yang tak terjawab.
Apakah kejujuran memang selalu datang terlambat?
Atau ada perasaan yang memang ditakdirkan untuk tak pernah didengar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
The Bruise of Truth
Pagi itu, suasana meja makan di White Rose Mansion terasa lebih mencekam daripada biasanya. Liora duduk dengan kepala menunduk, mencoba menyembunyikan lengannya di balik lengan panjang blusnya. Namun, saat ia merogoh cangkir teh, kain blusnya tersingkap, memperlihatkan bekas lebam kebiruan berbentuk jari-jari tangan yang sangat jelas di kulit putihnya.
Eleanor, yang selalu jeli, langsung meletakkan sendok peraknya dengan denting yang keras. "Liora, tanganmu... apa itu?"
Liora tersentak, segera menarik tangannya ke bawah meja. "Bukan apa-apa, Nyonya. Saya hanya... tidak sengaja terbentur pintu tadi malam."
Leo, yang duduk di seberang mereka, tetap tenang memotong omelette-nya. Ia tidak terlihat merasa bersalah, justru ada gurat keangkuhan yang dingin di wajahnya.
"Jangan berbohong, Liora," potong Leo dengan nada enteng, tanpa mengalihkan pandangan dari piringnya. "Dia mencoba melarikan diri tadi malam seperti pencuri. Aku hanya menahannya agar dia tidak tersesat di kegelapan. Itu adalah bekas peganganku agar dia sadar di mana tempatnya."
Eleanor terkesiap, matanya beralih dari Liora ke putranya dengan kilat amarah yang meledak. "Kau... kau melakukan ini pada seorang gadis, Leo? Kau mengasarinya?!"
"Aku melindunginya, Ibu," jawab Leo santai, ia menyesap kopinya sambil menatap Liora dengan tatapan meremehkan. "Jika aku tidak menahannya, mungkin saat ini dia sudah kembali mengemis di pinggir jalan. Aku hanya memastikan aset rumah ini tetap pada tempatnya."
PLAK!
Eleanor menggebrak meja hingga air di gelas berguncang. "Dia bukan aset! Dia manusia, Leo Alexander Caelum!"
Liora hanya bisa memejamkan mata, membiarkan air matanya jatuh satu per satu ke pangkuannya. Penghinaan Leo bahwa dia "hanya aset" atau "pencuri" terasa lebih sakit daripada lebam di lengannya.
"Leo," suara Eleanor mendadak melunak, namun nada suaranya mengandung beban yang sangat berat. "Ibu ingin bertanya satu hal padamu. Dan jawablah dengan sisa nurani yang mungkin masih kau miliki."
Leo mendongak, menantang tatapan ibunya.
"Kau bilang kau membencinya. Kau bilang dia sampah, parasit, dan tidak berguna bagi keluargamu," Eleanor menunjuk ke arah Liora yang masih terisak. "Jika kau memang begitu membencinya, kenapa kau tidak membiarkannya pergi tadi malam? Kenapa kau harus mengejarnya? Kenapa kau harus menyakiti tangan itu hanya untuk menahannya tetap di sini?"
Leo terdiam.
Mulutnya yang biasanya penuh dengan kata-kata tajam mendadak terkunci. Ia ingin menjawab bahwa ia hanya ingin menjaga perasaan ibunya, atau ia ingin menjaga nama baik keluarga. Namun, kata-kata itu terasa hambar dan bohong di tenggorokannya sendiri.
"Kenapa, Leo? Jika kau membenci sebuah noda, kau akan membuangnya, bukan menahannya agar tetap menempel di bajumu," lanjut Eleanor. "Kenapa kau menahannya jika kehadirannya hanya membuatmu marah?"
Leo menatap Liora. Gadis itu kini mendongak, matanya yang sembab menuntut jawaban yang sama. Keheningan di ruang makan itu begitu tebal hingga suara detak jam terdengar seperti dentuman meriam.
Leo tidak bisa menjawab. Untuk pertama kalinya, sang penguasa kata-kata kehilangan suaranya. Ia tidak bisa mengakui bahwa ia takut melihat kamar itu kosong. Ia tidak bisa mengakui bahwa ia membutuhkan amarah Liora untuk merasa hidup.
"Aku... aku hanya tidak suka ada orang yang meninggalkan rumah ini tanpa izinku," ucap Leo akhirnya, meski suaranya terdengar goyah dan tidak meyakinkan.
"Kau pembohong besar, Leo," bisik Eleanor kecewa. "Kau tidak membencinya. Kau hanya terlalu pengecut untuk mengakui bahwa kau membutuhkannya."
Leo berdiri dengan kasar, kursinya berderit nyaring di atas lantai. Tanpa sepatah kata pun, ia berbalik dan melangkah keluar, meninggalkan ruangan itu dengan perasaan kacau yang membakar dadanya. Ia benci Liora, namun ia jauh lebih benci pada kenyataan bahwa ia tidak lagi tahu bagaimana cara bernapas jika gadis itu benar-benar hilang dari pandangannya.
"Bagi Leo, mengakui kebutuhan adalah kelemahan, maka ia memilih untuk memeluk kebencian sebagai tameng agar tidak terlihat rapuh."
"Liora menyadari bahwa ia bukan tertahan oleh perintah Leo, melainkan oleh sebuah obsesi gila dari pria yang tidak tahu beda antara memiliki dan mencintai."
"Kebungkaman Leo adalah jawaban paling jujur bahwa di balik setiap hinaannya, ada ketakutan luar biasa akan sebuah kehilangan."