Pantanganya hanya satu, TIDAK BOLEH MENIKAH. Jika melanggar MATI MEMBUSUK
Putus asa dan hancur, Bianca Wolfe (25) memilih mengakhiri hidupnya dengan melompat dari apartement Le Manoir d'Argent yang mewahnya di pusat kota Paris, Perancis. Namun, maut menolaknya.
Bianca terbangun di ranjang mewahnya, dua tahun sebelum kematian menjemputnya. Di sebelahnya cermin, sesosok kuasa gelap bernama Lora menagih janji: Keajaiban tidaklah gratis.
Bianca kembali dengan satu tujuan. Ia bukan lagi gadis malang yang mengemis cinta. Dengan bimbingan Lora, ia menjelma menjadi wanita paling diinginkan, binal, dan materialistis. Ia akan menguras harta Hernan de Valoisme (40) yang mematahkan hatinya, dan sebelum pria itu sempat membuangnya, Bianca-lah yang membuangnya lebih dulu.
Kontrak dengan Lora memiliki syarat: Bianca harus terus menjalin gairah dengan pria-pria lainnya untuk menjaga api hidupnya tetap menyala dan TIDAK BOLEH MENIKAH.
Jika melanggar, MATI.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanilla Ice Creamm, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. Camile Terjepit Sepi
Brandon masuk dengan mantel musim dinginnya. Langkahnya mantap, namun tatapan matanya terasa teduh—atau lebih tepatnya, sendu. Bukan tajam seperti yang Bianca bayangkan.
Oh, jadi pria ini yang telah mengalihkan perhatian Aline hingga dia melupakan anak kandungnya sendiri, batin Bianca. Ada rasa iri dan dengki yang merayap di hatinya.
Memang bukan sepenuhnya salah Brandon, namun tetap saja rasanya sesak. Bianca bertanya-tanya, apakah Aline bertemu ayah Brandon, Julien Dubois setelah meninggalkan Adrien Wolfe, atau justru saat masih bersamanya ayahnya?
"Ah, ini dia Brandon Dubois, pemilik galeri seni ini, Nona."
Bianca menyunggingkan senyum saat Brandon melangkah mendekat.
"Ada apa, Paman Frank?" tanya Brandon tenang.
"Nona ini penasaran siapa pemilik galeri yang indah ini. Silakan, Nona..."
"Selamat siang, bonjour. Namaku Elizabeth Morgan. Maaf jika aku mengganggu waktumu."
"Tidak masalah, Nona Morgan"
"Panggil saja Lizbeth."
"Baiklah, Lizbeth. Maukah kau ikut denganku? Aku akan menunjukkan koleksi seni langka milikku di galeri ini."
Bianca menggangguk setuju dan dengan sopan Brandon memersilahkan Bianca berjalan beriringan dengan tangannya.
"Kalau boleh tahu, apakah Anda berasal dari Inggris?"
"Tidak, aku lahir dan besar di Étampes, sebelah selatan Paris. Memang kenapa?"
"Elizabeth Morgan terdengar seperti nama Inggris."
"Oh, itu..." Bianca tersenyum simpul. "Kakek buyutku seorang imigran Inggris yang dulu bekerja di perkebunan cressonnières (selada air) di Étampes. Di sanalah dia bertemu dengan nenekku yang asli orang Prancis."
Bianca sengaja tidak menggunakan Bianca Wolfe, namanya dan marganya, demi menjaga penyamaran saat bertemu Vivianne alias Aline Dubois nanti. Sementara itu, Elizabeth merupakan nama baptis yang dipilihkan sang ayah saat Bianca berusia 3 tahun dan Morgan lebih tepatnya Morgan Wolfe adalah kakek buyutnya.
"Sebagai kolektor muda, koleksimu cukup banyak, Brandon. Bagaimana kau bisa mendapatkan karya-karya langka seperti ini?" tanya Bianca sembari menatap sebuah patung kontemporer dari jalinan tembaga yang rumit, membentuk sepasang sepatu khas abad ke-17.
"Beberapa adalah warisan, sisanya hasil perburuan pribadi. Bagiku, setiap karya menyimpan rahasia masa lalu yang gagal terkubur. Itulah yang membuatnya terasa hidup, bukan begitu?" jawab Brandon dengan senyum tipis.
"Brandon benar, Bianca," bisik Lora, "Karya-karya ini sebagian adalah bukti dosa ibumu. Sepatu tembaga itu... itu adalah anyaman yang dibuat oleh ayahmu."
Lora tertawa rendah, sebuah bunyi yang hanya bisa didengar oleh Bianca. "Lucu, bukan? Dia membuang ayahmu, tapi memungut hasil karyanya untuk dipajang di sini. Sekarang, pancing dia tentang adiknya."
Dahi Bianca berkerut, ingin menanyakan sesuatu, namun sayangnya Lora tidak bisa mendengar suara hatinya. Akhirnya, Bianca menangguhkan niatnya itu.
"Brandon, bagaimana jika kita minum kopi di tengah udara dingin seperti ini?"
"Kopi? Kurasa itu bukan ide yang tepat, Lizbet."
"Lalu? Oh, jadi kau menolak?" Bianca mengangguk kecewa. "Baiklah, tidak apa—"
Dengan cepat Brandon memotong kalimatnya. "Hei, bukan ajakanmu yang kutolak, Lizbet. Hanya saja, wine kurasa jauh lebih cocok. Ayo ke ruanganku, di sana lebih hangat dan aku punya koleksi anggur yang sangat enak."
Di ruangan kerja Brandon yang bernuansa industrial minimalis, Bianca duduk di sofa. "Nyaman sekali," gumamnya sembari melirik bingkai foto kecil di meja. Di sana hanya ada Aline, Julien Dubois yang seorang diplomat ayah Brandon dan Brandon sendiri saat wisuda.
"Kau anak tunggal, ya?" Bianca mengamati bingkai itu. Aline tampak sangat bangga mendampingi putra tirinya. Padahal, seharusnya ada Camile di acara sepenting itu.
"Secara hukum, ya. Namun, sebenarnya aku memiliki seorang adik perempuan," jawab Brandon sembari menyerahkan gelas wine kepada Lizbet. "Sayangnya, dia lebih suka mengurung diri dan menjauh dari keramaian. Seolah dunia luar terlalu menyakitkan untuknya. Silakan, ini anggur terbaikku."
"Ibumu cantik sekali, Brandon," ucap Bianca sembari menatap kembali foto itu. "Siapa namanya?"
"Namanya Aline, tapi dia lebih suka dipanggil Vivianne. Dia wanita yang luar biasa tangguh, meski terkadang menyimpan banyak rahasia di balik senyumnya. Kurasa kau akan menyukainya jika bertemu nanti."
"Jadi, nama ibumu Aline atau Vivianne? Ataukah Aline itu nama tengahnya?" pancing Bianca. Sejauh yang ia tahu, Aline adalah nama depan, namun marga aslinya tetap menjadi misteri yang bahkan Lora pun tidak mengetahuinya.
"Bukan, itu nama baptis yang ia pilih sendiri saat memulai hidup baru di Paris. Baginya, nama Aline adalah masa lalu yang ingin ia kubur dalam-dalam. Entah apa alasannya."
"Ngomong-ngomong soal adikmu, bolehkah aku mengenalnya? Mungkin jika berbincang dengan sesama wanita, dia akan lebih terbuka dengan dunia luar. Siapa nama adikmu?"
"Namanya Camile. Dia rapuh dan suka penyendiri, Lizbet. Aku sangat menghargai tawaranmu, mungkin kehadiran orang baru sepertimu bisa memberinya sedikit cahaya. Mari, akan kuantar kau menemuinya di sayap bangunan sebelah."
"Bianca, jangan menatapku di cermin. Camile bisa merasakan kehadiranku. Bersikaplah seolah kau tidak tahu apa-apa."
Glek! Bianca menelan ludah dengan susah payah.
"Brandon, apa tidak apa-apa aku masuk ke sana?"
"Tentu saja, Lizbet. Camile kesepian, dia pasti senang. Kau adalah orang pertama yang baru kukenal dan begitu antusias ingin menemui adikku. Ayo..." Bianca yang awalnya ragu kini mengangguk mantap. Meski dirinya terikat oleh kuasa kegelapan, namun ruangan ini memancarkan aura yang berbeda.
Bianca melangkah perlahan melintasi ambang pintu. Suasana di dalam terasa menyesakkan, seolah setiap sudut ruangan ini menyimpan duka yang tebal. Ia mendekat, lalu berjongkok di samping gadis yang masih meringkuk itu.
"Halo, Camile..." sapa Bianca dengan suara yang sangat lembut.
Camile tidak bergerak, namun bahunya sedikit menegang mendengar suara asing itu.
"Namaku Lizbet. Aku teman Brandon, kakakmu" lanjut Bianca, mencoba menekan rasa gugupnya karena peringatan Lora. "Aku datang karena ingin menyapamu. Ruangan ini sangat tenang, ya?"
Bianca tidak menyentuhnya. Ia menatap ke arah depan, sangat berhati-hati agar sudut matanya tidak tidak sengaja melirik ke arah cermin besar yang berdiri di sudut ruangan, tempat ia tahu Lora sedang mengawasi mereka dengan lapar.
Camile perlahan mengangkat kepalanya, namun pandangannya kosong menghadap dinding.
"Suaramu..." suaranya parau seolah sudah lama berbicara "Ada sesuatu yang mengikutimu, Lizbet. Sesuatu yang sangat dingin."
Bianca tersentak, namun ia berusaha tetap tenang. Sementara itu, Brandon yang berdiri di ambang pintu menatap Lizbet dengan binar kagum yang tak tertutup. Ia terpesona melihat keberanian dan kelembutan Lizbet yang sanggup memancing reaksi dari adiknya secepat itu.
"Dia meresponsmu. Biasanya, butuh waktu berjam-jam bahkan hanya untuk membuatnya bicara sepatah kata pun. Kau luar biasa, Lizbet."
Tiba-tiba, langkah kaki terdengar bergema. "Brandon! Beraninya kau membawa orang asing ke sini tanpa izinku?"